Menanti Datangnya Imam Mahdi Penumpah Darah, Ajaran Sadis dari ISIS

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

Imam Mahdi – Pada tahun 1999, Abu Musab al-Zarqawi, seorang salafi radikal Yordania, membentuk Jamāʻat al-Tawḥīd wa-al-Jihād (Organisasi Tauhid dan Jihad/JTJ). Melakukan pemberontakan di Irak, membom mesjid dan badan-badan pemerintahan Irak, menyerang warga sipil juga tentara.

Tahun 2004, al-Zarqawi bergabung dengan Osama bin Laden dan mengganti nama kelompoknya menjadi Tanẓīm Qāʻidat al-Jihād fī Bilād al-Rāfidayn, (Organisasi Pangkalan Jihad di Mesopotamia) lebih dikenal dengan nama al-Qaeda di Irak (AQI).

Januari 2006, AQI bersama para pemberontak Irak dan membentuk Dewan Syura Mujahidin. Karena serangan udara AS menewaskan al-Zarqawi; maka Dewan Syura Mujahidin bergabung dengan beberapa faksi pemberontak membentuk ad-Dawlah al-ʻIraq al-Islāmiyah (Negara Islam Irak/NII). Pemimpin kelompok ini adalah Abu Abdullah al-Rashid al-Baghdadi dan Abu Ayyub al-Masri. Setelah keduanya tewas dalam operasi gabungan Amerika Serikat dan Irak bulan April 2010, maka diangkatlah Abu Bakr al-Baghdadi sebagai pemimpin kelompok tersebut.

Al-Baghdadi kemudian mengganti para pemimpin yang tewas atau ditangkap dengan mengangkat mantan pejabat militer dan intelijen Ba’athis era Saddam Hussein. Hampir semuanya pernah ditahan oleh militer Amerika Serikat.

Bulan Agustus 2011, al-Baghdadi mulai mengirimkan anggota ke Suriah. Di bawah pimpinan Abu Muhammad al-Julani asal Suriah, dan nama kelompoknya Jabhat al-Nusra li Ahl as-Sham—Jabhat al-Nusra—biasa dikenal dengan nama Front al-Nusra.

Setelah memperluas wilayahnya ke Suriah, kelompok ini mulai menggunakan nama ad-Dawlah al-Islāmīyah fī-l-ʻIrāq wa-sy-Syām, orang Arab menyingkatnya menjadi Da’isy atau Dahes.  Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) atau Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Satu tahun berikutnya kelompok ini mengganti namanya menjadi ad-Dawlah al-Islāmiyah, Negara Islam (NI)) dan menyatakan dirinya sebagai kekhalifahan dunia.

Kemudian mereka mendirikan cabang-cabang resminya di Libya, Mesir (Semenanjung Sinai), Arab Saudi, Yaman, Aljazair, Afghanistan, Pakistan, Nigeria, dan Kaukasus Utara. Mereka juga memiliki anggota di Maroko, Lebanon, Yordania, Turki, dan Israel.

Termasuk Abu Sayyaf di Filipina, Boko Haram di Afrika dan yang kelompok-kelompok teroris lainnya termasuk yang ada di Indoesia menyatakan bergabung dengan ISIS.

Baca juga: 7 Negara Paling Terdampak Terorisme

Target dan Sasaran

Dalam perjalanannya, ISIS sangat kejam dan biadab dalam melakukan aksi-aksi terornya. Mereka menculik, memancung atau memenggal sejumlah sandera kemudian videonya mereka posting di media sosial.

Mereka melakukan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, hingga genosida. Praktik-praktik kekejaman ISIS seperti eksekusi brutal dan hukuman keji untuk setiap pelanggaran, kemudian praktik pembantaian dan perbudakan seks.

Melakukan serangkaian serangan bom mobil, bom bunuh diri dan pemberontakan.  Mereka meneror, memecah belah, dan mengintimidasi warga sipil. Mereka menculik dan membunuh setiap orang yang berpotensi menjadi pemimpin atau oposisi mereka.

Mereka memotivasi, membujuk atau menipu banyak orang untuk bergabung dan pindah ke wilayah kekuasaan mereka, terutama orang-orang yang masih berusia muda termasuk kaum wanita.

Berbagai maca cara kejahatan mereka lakukan, seperti yang terjadi pada April 2014, mereka menutup bendungan Nuaimiyah di Fallujah, hal itu mengakibatkan banjir di wilayah sekitarnya sekaligus memutus aliran air ke Irak selatan yang didominasi penduduk Syi’ah. Sekitar 12.000 keluarga kehilangan tempat tinggal dan 200 km² desa dan lahan pertanian banjir atau mengering. Ekonomi wilayah tersebut juga terdampak oleh gagal panen dan terputusnya aliran listrik.

Baca juga: 3 Kelompok Teroris Paling Berbahaya di Dunia

Catatan Panjang Dosa-dosa ISIS

ISIS merupakan kelompok teroris paling berbahaya di dunia. Selama keberadaanya hingga kini telah menewaskan 27.947 orang. 80 % diantaranya di Irak dan 17 % di Suriah.  

Perlakuan ISIS sangat kejam terhadap etnik dan pemeluk agama minoritas, seperti kepada warga Yazidi, ISIS membantai mereka dan kaum wanitanya mereka jadikan budak sex dan diperjul belikan. 

Mereka menjadikan atau memaksa kaum wanita dan anak-anak menjadi pelaku bom bunuh diri.

Kota-kota di Irak dan Suriah hancur lebur bahakan mesjid-mesjid pun tidak segan mereka runtuhkan, apalagi tempat ibadah agama-agama lain, seperti gereja, mereka hancurkan.

Mereka menghancurkan situs-situs bersejarah yang ada di Irak dan Suriah atau menjualnya untuk membiayai operasi-operasi mereka.

Tahun 2019, kelompok ini akhirnya dapat ditumpas dan dihancurkan. Banyak dari mereka yang tewas atau pun ditangkap, termasuk kaum wanita dan anak-anak anggota ISIS.

Setelah mereka dikalahakan, di Irak ditemukan ratusan kuburan masal, diperkirakan mencapai 12.000 orang atau bahkan lebih banyak lagi. Kuburan-kuburan ini ditemukan di Nineveh, Kirkuk, Salahuddin, dan Anbar di Irak utara dan barat.

Mereka yang dikubur secara massal ini berasal dari berbagai latar belakang dan profesi, ada tukang cukur dan staf salon kecantikan. Mungkin ada pula calon anggota parlemen, doktor, dan pengacara, para orang tua, penyandang cacat, pekerja asing, dan anggota tentara pemerintah Irak.

Meskipun jumlah dan aktivitas ISIS menuru drastis, akan tetapi jumlah mereka di luar Irak dan Suriah terus meningkat dan menguat.

ISIS diyakini masih menjadi ancaman dunia meski dinyatakan kalah total setelah markas terakhir mereka di Baghouz, Suriah direbut Pasukan Demokratik Suriah (SDF).

ISIS masih menjadi ancaman berbahaya dan perang melawan mereka belum berakhir.

Baca juga: Rasulullah Mengizinkan Nasrani Kebaktian di Mesjid

Imam Mahdi Penumpah Darah

Tujuan utama kelompok teroris ini adalah pembentukan negara Islam. Lebih tepatnya ingin mendirikan sebuah kekhalifahan dan menguasai dunia.

Seandainya itu terjadi maka segala organisasi atau pemerintahan di negara-negara Islam akan dihapuskan dan harus tunduk kepada mereka.

Semua yang tidak percaya dan sepaham dengan penafsiran Quran menurut versi mereka akan dibunuh.

Menurut sejumlah pengamat, ISIS terbentuk dari ideologi Ikhwanul Muslimin. ISIS mengikuti prinsip jihad keras al-Qaeda dan kelompok teroris lainnya. Namun demikian, sumber-sumber lain menyebutkan bahwa kelompok ini berakar dari Salafi atau Wahhabisme.

Mereka mengikuti penafsiran Islam ekstrem, mendukung kekerasan agama, dan menganggap Muslim yang tidak sepakat dengan penafsirannya sebagai kafir atau murtad.

ISIS mempropagandakan akan segera tibanya hari kiamat dan datangnya sang Imam Mahdi. Tujuan kedatangannya adalah untuk memaksa orang beriman, jika tidak menerima maka wajib bagi mereka untuk dimusnahkan.

Apa yang ISIS lakukan adalah meratakan jalan bagi Imam Mahdi penumpah darah itu melaksanak tugasnya, jika Mahdi hayalan mereka itu nantinya datang.

Apakah ajaran tentang Imam Mahdi penumpah darah ini hanya diyakini dan diamalkan oleh ISIS? Sayangnya tidak, banyak sekali organisasi atau kelompok yang juga sama, memahami Imam Mahdi nanti akan datang di penghujung kehidupan ini untuk memberi pilihan terakhir kepada manusia, beriman atau dibinasakan.

Suatu ajaran yang mengerikan dan tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiann. Dan Tuhan tidak mungkin melakukan itu, karena hal itu tidak sejalan dengan SunahNya.

Sebenarnya keyakinan tentang datangnya Imam Mahdi itu sesuatu yang benar adanya, akan tetapi kedatangannya itu bukan seperti apa yang dihayalkan oleh ISIS.

Imam Mahdi yang kedatangannya dijanjikan oleh Rasulullah saw akan datang seperti para utusan Tuhan yang telah datang sebelumnya, mereka mengajak kepada Tauhid, kepada jalan kebenaran dengan jalan yang sebaik-baiknya, tidak dengan cara memakasa dan berbuat kekejian. (madj)


0 Komentar

Tinggalkan Balasan