Zubair Bin Awwam, Seorang Pemberani Yang Dijamin Masuk

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

zubair-bin-awwam

Zubair Bin Awwam adalah seorang Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang termasuk as-Sabiqun al-Awwalun, generasi pertama Islam, beliau baiat setelah Abu Bakrra, pada urutan ke empat atau kelima.

Beliau baiat diusia muda, kemudian mengabdikan hidupnya untuk membela Islam, dengan penuh keberanian dan kegagahan. Beliau termasuk sepuluh orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullahsaw

Latar Belakang

Zubair bin Awwam lahir di Makkah dari pasangan Awwam bin Khuwailid dan Shafiyah binti Abdul Muththalib yang merupakan bibi Rasulullahsaw.

Silsilah garis leluhur Zubair bin Awwam bertemu dengan Rasulullahsaw pada Qushay Bin Kilab. Beliau juga adalah keponakan Khadijahrha.

Ketika ayah beliau, Awwam Bin Khuwailid wafat, maka Zubair bin Awwam diurusi oleh paman beliau, Naufal Bin Khuwailid.

Zubair menikahi putri Abu Bakrra, Asma, dan Rasulullahsaw juga menikahi putri Abu Bakr, Aisyahrha. Karena itu, Rasulullahsaw dan Zubair adalah sama-sama menantu Abu Bakrra. Seperti itulah kekerabatan yang diraih oleh Zubair dengan Rasulullahsaw.

Ibunda beliau, Safiyah menggelari beliau dengan nama panggilan saudara beliau Zubair Bin Abdul Muththalib, yaitu “Abu Tahir”. Namun Zubair menggelari diri sendiri dengan nama putranya Abdullah yang mana di kemudian hari sebutan tersebut lebih terkenal yaitu Abu Abdullah.

Zubair bin Awwamra mempunyai istri-istri sebagai berikut, pertama, Asma binti Abu Bakr yang melahirkan anak Abdullah, Urwah, al-Mundzir, Ashim, al-Muhajiru Daraja, Khadijah al-Kubra, Ummul Hasan dan Aisyah.

Kedua, Ummu Khalid Amah binti Khalid bin Sa’id bin al-Ash bin Umayyah yang melahirkan Khalid, Amru, Habibah, Saudah dan Hindun.

Ketiga, ar-Rabbaab binti Anif bin ‘Ubaid yang melahirkan Mush’ab, Hamzah dan Ramlah. Keempat, Zainab Ummu Ja’far binti Martsad bin Amru yang melahirkan Ubaidah dan Ja’far.

Kelima, Ummu Kultsum binti ‘Uqbah bin Abi Mu’aith yang melahirkan Zainab. Keenam, al-Halaal binti Qais bin Naufal bin jabir dari Bani Asad yang melahirkan Khadijah ash-Shughra. Semua anak sejumlah 11 putra dan 9 putri.

Zubair bin Awwam memberi nama anak-anaknya dengan nama-nama para syuhada supaya barangkali Allah Taala mengarunia mereka kesyahidan. Nama Abdullah dari Abdullah bin Jahsy, nama Mundzir dari Mundzir bin Amru, nama Urwah dari Urwah bin Mas’ud, nama Hamzah dari Hamzah bin Abdul Muththalib, nama Ja’far dari Ja’far bin Abi Thalib, nama Mush’ab dari Mush’ab bin Umair, nama Ubaidah dari Ubaidah bin Harits, nama Khalid dari Khalid bin Sa’id, nama Amru dan Amru bin Sa’id bin al-‘Ash.

Baca juga: Zaid Bin Haritsah, Putra Angkat Kesayangan Rasulullah

Keberanian Zubair Bin Awwam

Ibnuda beliau, Safiyah telah mendidiknya dengan keras. Walau demikian tidak ada dampak negatif dari didikan keras yang ibunda beliau berikan pada masa kanak-kanaknya.

Hisham Bin Urwah bin Zubair meriwayatkan dari ayahnya bahwa ketika Zubair masih anak-anak di Makkah ada orang yang berkelahi dengan beliau. Mungkin orang itu bersikap kasar pada beliau. Saat itu Zubair masih kecil, sedangkan pria itu sudah dewasa. Dalam perkelahian tersebut, Zubair mematahkan tangan pemuda itu dan menimpakan luka-luka juga. Orang tersebut dimuat diatas kendaraan lalu dibawa kepada ibunda beliau, Safiyah.

Orang-orang mengatakan, “Coba lihat apa yang telah dilakukan oleh anak anda?” Safiyah bertanya, “Apa yang terjadi dengan orang ini?”

Orang-orang berkata bahwa Zubair telah berkelahi dengan orang ini. Tidak dijelaskan siapa yang salah dalam kasus tersebut.

Setelah melihat keberanian putranya, Shafiyah membacakan syair berikut:

كَيْفَ وَجَدتَ زَبْرَا … أَأَقِطًا أَوْ تَمْرَا … أَمْ مُشْمَعِلاًّ صَقْرَا ؟

Kaifa wajadta Zabran?! A aqiththan au tamran?! Am musyma’illan shaqra?!

“Bagaimana kalian mendapati Zubair, apakah kalian menganggapnya seperti paneer (sejenis tahu) atau kurma yang mana kalian dapat memakannya dengan mudah, memperlakukan sesuka kalian. Ia layaknya elang yang cepat menyambar. Kalian pasti mendapatinya seperti elang yang cepat menyambar.”

Zubair Bin Awwam kemudian tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah dan pemberani. Beliau memiliki postur tubuh yang tinggi, sehingga jika beliau diatas tunggangannya maka kaki beliau bisa menyentuh tanah.

Kelak setelah beriman, Zubair bin Awwamra gunakan keberanian dan kekuatannya untuk membela Islam, sehingga beliau dikenal sebagai salah satu jenderal atau komandan pasukan Islam yang gagah perkasa, disegani kawan dan ditakuti lawan.

Baiat Menerima Kebenaran Islam

Zubair bin Awwamra masuk Islam setelah Abu Bakrra. Diantara yang masuk Islam beliau adalah urutan yang ke empat atau kelima. Beliau baiat pada usia 12 tahun, dalam riwayat lain beliau baiat pada usia 8 atau 16 tahun.

Ketika Zubair bin Awwam menerima Islam, paman beliau, Naufal bin Khuwailid  menghukum beliau dengan menggulung beliau di dalam tikar lalu diberikan asap supaya beliau mau meninggalkan Islam dan kembali pada kekafiran.

Naufal mengatakan, “Apakah sekarang pun kamu masih belum mau tobat dari Islam?” Namun beliau tetap bersabar menghadapi penyiksaan itu dan menanggapi dengan berkata, “Saya tidak dapat mengingkari kebenaran yang telah saya kenali.”

Zubair bin Awwam ikut serta pada kedua hijrah. Ketika beliau hijrah dan tiba di Madinah, beliau tinggal di rumah Mundzir bin Muhammad bin ‘Uqbahra.

Kemudian, ketika Rasulullahsaw menjadikan kaum Muhajirin di Makkah saling bersaudara, maka beliausaw menjadikan Zubair bin Awwamra dan Abdullah bin Mas’udra sebagai saudara. Setelah hijrah ke Madinah ketika beliausaw menjadikan kaum Muhajirin dan kaum Anshar saling bersaudara maka beliau menjadikan Salma bin Salamahra sebagai saudara ruhani Zubair bin Awwamra.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Hamzah bin Abdul Muthalib Sang Singa Allah

Yang Pertama Menghunus Pedang Di Jalan Allah

Setelah beriman dan tumbuh menjadi dewasa, Zubair bin Awwam menjadi seorang yang gagah dan

Said bin Musayyab meriwayatkan, bahwa Zubair bin Awwam adalah orang pertama yang menghunus pedangnya di jalan Allah. Suatu kali Zubair sedang istirahat di sebuah lembah di daerah Mathabikh, nama tempat di Makkah.

Tiba-tiba beliau mendengar suara bahwa Rasulullahsaw dibunuh. Beliaura segera keluar dari rumahnya dengan pedang terhunus – yakni beliau keluar dari tempat beliau istirahat tadi.

Di jalan beliau melihat Rasulullahsaw. Rasulullahsaw bersabda, مَا لَكَ يَا زُبَيْرُ ‘Zubair, berhenti! Berhenti! Ada apa?’

Zubair berkata, “Saya mendengar sebuah suara bahwa Rasulullahsaw disyahidkan.” Rasulullahsaw bersabda, “Apa yang bisa kamu lakukan jika saya disyahidkan.”

Beliaura berkata, “Demi Tuhan, saya sudah berniat untuk membunuh seluruh rakyat Makkah.”

Saat itu Rasulullahsaw memanjatkan doa khusus untuk beliau. Dalam riwayat lain, Rasulullahsaw juga berdoa untuk pedang beliau.

Kemudian, selama hidupnya Zubair bin Awwamra ikut serta dalam perang Perang Badr, Perang Uhud dan seluruh perang bersama Rasulullahsaw.

Kehebatan Zubair Bin Awwam Pada Perang Badr

Pada perang Badr, Zubair bin Awwamra bertempur dengan penuh keberanian. Pada perang Badr itu hanya ada dua kuda, satu ditunggangi Rasulullahsaw dan satunnya lagi ditunggangi oleh Zubair.

Cucu beliau, Hisyam bin Urwah meriwayatkan dari ayahnya (Urwah bin Zubair) bahwa Zubair berkata, “Di perang Badr aku berhadapan dengan Ubaidah bin Said. Dia memakai baju perang sampai ke atas sehingga hanya matanya saja yang kelihatan. Dia bergelar Abu Dzatul Qarsy.

Dia berkata, ‘Aku Abu Dzatul Qarsy.’ Begitu mendengar itu aku pun langsung menyerangnya dengan tombak dan melukai matanya. Dia pun mati di situ. Aku meletakkan kakiku di atasnya dengan sangat kuat dan dengan sangat sulit saya menarik keluar tombak itu sehinga kedua sudutnya bengkok – demikian kuatnya saya menombaknya.”

Urwah berkata, “Rasulullahsaw meminta tombak itu pada Zubair dan beliaura memberikannya kepada Rasulullahsaw. Ketika Rasulullahsaw wafat, Zubair mengambilnya kembali. Kemudian Abu Bakrra meminta tombak itu dan Zubair memberikannya pada beliaura.

Ketika Abu Bakr wafat, Umar meminta tombak itu kepada Zubair dan beliau pun memberikannya pada Umar. Ketika Umar wafat, Zubair mengambil kembali tombak itu. Kemudian Usmanra meminta tombak itu kepada beliaura dan beliau memberikannya pada Utsman.

Ketika Utsmanra syahid maka tombak itu dipegang oleh keturunan Alira. Pada akhirnya Abdullah bin Zubair mengambil tombak itu dari mereka dan tombak itu bersama beliau sampai Abdullah bin Zubair disyahidkan.”

Musa bin Muhammad meriwayatkan dari ayahnya, “Zubairra dikenal karena sorban kuningnya. Beliau memakai sorban kuning. Di perang Badr Zubair memakai sorban kuning dan ketika Rasulullahsaw melihatnya lalu beliau bersabda, ‘Para malaikat turun seperti Zubair.’” Artinya, para malaikat yang Allah Taala kirim untuk membantu umat Muslim juga memakai sorban kuning itu ketika berperang.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Anas Bin Malik Pelayan Setia Rasulullah

Keberanian Zubair Bin Awwam Pada Perang Hunain

Pada saat Perang Hunain, disebabkan oleh serangan anak-anak panah yang tidak diduga dari kabilah Hawazin, dan hal itu juga di karenakan ikut sertanya 2.000 orang Muslim baru yang baru masuk Islam sehingga tiba saatnya Rasulullahsaw ditinggalkan di medan perang. Hadhrat Abbas memegang ikatan kendaraan Rasulullahsaw.

Serangan anak-anak panah musuh dari Kabilah Banu Hawazin menyebabkan gentarnya pasukan Muslim yang baru masuk Islam tersebut. Ketika mereka cerai-berai, unta-unta dan kuda-kuda pasukan Muslim lainnya terpengaruh dan mengikuti unta-unta dan kuda-kuda pasukan yang meninggalkan tempat.

Ketua pasukan kafir yang bernama Malik Bin Auf berdiri di suatu bukit bersama dengan pasukan berkendaranya mencari tahu apa yang dapat disaksikan. Ia melihat datang beberapa pengendara, Malik Bin Auf bertanya, “Apa yang kamu lihat?”

Kawan-kawannya berkata, “Ada beberapa orang yang meletakkan tombak-tombaknya diantara telinga kuda-kuda mereka.”

Ia berkata, “Berarti mereka adalah Banu Sulaim. Mereka tidak akan membahayakan kalian.”

Mereka datang dan berangkat menuju lembah. Tampak lagi datang satu pasukan berkendara. Malik bertanya: apa yang kalian lihat?

Mereka berkata: ada beberapa orang yang memegang tombak. Ia berkata, “Mereka dari kabilah Aus dan Khazraj. Mereka tidak akan membahayakan bagi kalian.”

Ketika mereka tiba di dekat bukit, mereka berangkat menuju permukiman seperti banu Salim. Tampak lagi seorang pengendara. Malik bertanya kepada kawan-kawannya, “Apa yang kalian lihat?”

Mereka berkata, “Ada seorang pengendara kuda bertubuh tinggi membawa tombak di pundak, mengenakan sorban merah di kepala.”

Malik berkata, “Ia adalah Zubair Bin Awwam. Demi Tuhan kalian akan bertempur dengannya, kuatkan langkahmu.”

Ketika Zubair tiba di bukit, pasukan musuh melihatnya, Zubair bin Awwamra tetap tangguh seperti bukit di hadapan mereka, kemudian begitu rupa beliau menyerang dengan tombak sehingga mengosongkan bukit itu pasukan musuh.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Ubadah Bin Shamit Dipercaya Mengajarkan Al-Quran

Kehebatan Zubair Bin Awwam Pada Masa Khalifah Umar

Setelah menaklukan Syam (Suriah dan negeri-negeri sekitarnya), kaum Muslim dibawah komando Amru bin al-‘Ashra melakukan penaklukan ke Mesir.

Sang penakluk Mesir, Amru bin al-Ashra, bermaksud untuk menyerang Iskandariyah (Alexandria), beliau mendirikan perkemahan di sebelah selatan Iskandariyah di tepi sungai Nil sehingga karena itu kawasan tersebut disebut Fustaat.

Tempat itulah yang di kemudian hari menjadi kota. Bagian terbaru dari kota tersebut pada saat ini disebut dengan Kairo. Kota tersebut dikepung. Melihat kekokohan benteng musuh dan kurangnya jumlah pasukan umat Muslim, Amru Bin al-‘Ash memohon kepada pasukan tambahan kepada Khalifah Umarra.

Khalifah Umar kemudian mengirimkan 10 ribu pasukan dan 4 komandan. Zubair bin Awwamra adalah salah satu dari empat Komandan itu.

Sesampainya pasukan bantuan di sana, Panglima Amru Bin al-‘Ash menyerahkan pengaturan pengepungan Iskandariyah kepada Zubair.

Zubair bin Awwamra kemudian mengendarai kuda dan mengelilingi benteng, mengatur pasukan, menetapkan tempat berbeda untuk pengendara dan pejalan kaki. Para pelontar batu mulai melontarkan batu ke arah benteng. Pengepungan berlangsung sampai 7 bulan. Belum ada keputusan kemenangan dan kekalahan.

Akhirnya pada suatau hari Zubair berkata, “Pada hari ini saya rela berkorban bagi umat Muslim.” Setelah mengatakan demikian beliau mengangkat pedang lalu memasang tangga dan menaiki benteng.

Beberapa sahabat menyertai beliau. Sesampainya diatas kesemuanya serta-merta meneriakkan takbir. Bersamaan dengan itu seluruh pasukan meneriakkan takbir dengan keras sehingga tanah dan dinding benteng bergetar.

Orang-orang Kristen [pihak Mesir yang merupakan vassal Romawi saat itu] beranggapan, pasukan Muslim menerobos ke dalam dinding sehingga mereka lari pontang-panting. Setelah turun dari benteng Zubair membuka pintung gerbang sehingga seluruh pasukan Muslim dapat memasukinya.

Kehati-hatian Zubair Bin Awwam

Selain kegahan dan kehebatannya di medan tempur, Zubair bin Awwam juga dikenal sangat hati-hati dalam meriwayatkan hadits dari Rasulullahsaw.

Mengenai hal ini diriwayatkan oleh putra beliau, Abdullah bin Zubair, bahwa pada suatu hari beliau bertanya kepada ayahanda beliau, Zubair bin Awwam:

 مَا لَكَ لَا تُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Ayah! Kenapa Ayah tidak banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullahsaw sebagaiman banyak para Sahabat Nabi lainnya?”

Zubair bin Awwamra pun menjawab:

 مَا فَارَقْتُهُ مُنْذُ أَسْلَمْتُ وَلَكِنِّي سَمِعْتُ مِنْهُ كَلِمَةً سَمِعْتُهُ يَقُولُ

“Ayah tidak berpisah dari beliausaw sejak masuk Islam, Ayah banyak menyertai Nabisaw dan banyak mendengar sabda-sabda beliausaw. Ayah juga punya banyak Hadits beliausaw tetapi Ayah takut peringatan beliausaw. Ayah mendengar secara langsung dari beliausaw satu kalimat:

 مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Siapa berdusta atas namaku maka hendaklah mempersiapkan tempat duduknya di Neraka.” (Musnad Ahmad, No. 1353)

Ini tidak berarti para Sahabat yang lain menyampaikan kebohongan atas nama Rasulullahsaw, tetapi beliaura menganggap yang terbaik untuk diri beliau sendiri adalah berhati-hati – jangan sampai melakukan kesalahan.

Maksud dari sabda Rasulullahsaw diatas adalah orang yang sengaja melakukannya. Zubairra begitu berhati-hati supaya jangan sampai secara tidak sengaja menyampaikan sesuatu yang bukan dari Rasulullahsaw, sehingga membuatnya temasuk dalam orang-orang yang mendapat hukuman. Inilah kehati-hatian beliau.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Muadz Bin al-Harits Pemuda Yang Ikut Menewaskan Abu Jahal

Syahidnya Zubair Bin Awwam

Hadhrat Zubair Bin Awwam termasuk as-Sabiqun al-Awwalun, generasi pertama Islam, beliau baiat setelah Abu Bakrra pada urutan ke empat atau kelima. Beliau baiat pada usia 12 tahun. Dalam riwayat lain beliau baiat pada usia 8 atau 16 tahun.

Selama hidupnya beliau telah banyak menghidmati Islam dan berperang di samping Rasulullahsaw. Urwah bin Zubairra meriwayatkan, “Di tubuh Zubairra ada dua luka pedang yang dalam dan saya biasa memasukkan jari-jari saya ke dalamnya. Dua luka itu adalah luka yang dalam. Dua luka perang Badr dan satunya lagi luka perang Yarmuk.”

Beliaura termasuk salah satu diantara 10 sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullahsaw. Beliau juga termasuk diantara 6 ashabus syura (komite pemilihan Khalifah selanjutnya), yang dibentuk oleh Khalifh Umarra sebelum wafat.

Beliaura hidup hingga masa khalifah Ali bin Abi Thalibra, beliaura mencapai usia sekitar 66 atau 67 tahun.

Pada peristiwa Perang Jamal, Zubair bin Awwamra dibunuh oleh seorang yang bernama Amru bin Jurmuz, peristiwa itu terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun 36 H.

Khalifah Alira mengatakan, “Nerakalah bagi pembunuh putra Shafiyyah ini.” Pada saat pemakamannya Khalifah Ali mengatakan, “Sungguh kedua telingaku ini mendengar Rasulullahsaw bersabda, “Thalhah dan Zubair berjalan di surga.”

Demikianlah sepenggal kisah tentang Zubair bin Awwam, seorang pejuang hebat yang banyak mengabdikan hidupnya di jalan Allah Taala.


4 Komentar

Arif · 4 September 2020 pada 7:10 am

Alhamdulillah jazakallah pak Muballigh tulisan tulisan nya

    Muhammad Akram · 4 September 2020 pada 6:13 am

    Jazakumullah ahsanal jaza, semoga berkenan pak

Warsono Daryo · 4 September 2020 pada 6:24 am

Semoga makin bànyak pembaca yg singgah. Aamiin

    Muhammad Akram · 4 September 2020 pada 6:32 am

    Aamiin pak, jazakumullah atas kunjungannya, selamat beraktifitas

Tinggalkan Balasan