Shalat merupakan salah satu ibadah utama yang wajib dilaksanakan oleh kaum Muslimin. Tentus saja di dalamnya banya terkndung maksud dan tujuan yang mulia.

Berikut ini penjelasan singkat tentang makna dan hikmah shalat yang dikutip dari buku Tuntunan Ibdah Shalat karya Muhammad Sadiq HA bin Barakatullah dan sumber lainnya.

Kewajiban Medirikan Shalat

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya shalat itu adalah suatu kewajiban bagi orang-orang mukmin yang ditetapkan waktu-waktunya” (An-Nisa: 103)

Ayat ini menyatakan dua perkara: Pertama, bahwa shalat itu wajib atau perlu dikerjakan. Kedua, bahwa waktu shalat itu telah ditetapkan, jadi shalat itu perlu dikerjakan pada waktunya.

Firman Allah Ta’ala:

“Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (Ar-Ruum: 31)

Firman Allah itu menyatakan bahwa shalat itu perlu dan siapa yang tidak mengerjakannya, dia bukan orang mukmin yang sejati.

Baca juga: Panduan Dan Tata Cara Wudhu yang Benar

Sabda-sabada Rasulullah Tentang Shalat

Nabi Muhammad saw bersabda: “Perjanjian (perbedaan) di antara kita dengan mereka (non muslim) itu ialah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkan shalat, menjadi kafirlah ia” (HR Ahmad, Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah)

Hadits ini menyatakan bahwa orang-orang yang tidak mengerjakan shalat, bukanlah orang mukmin yang sempurna imannya.

Pernah orang bertanya kepada Rasulullah saw: “Amalan manakah yang sangat dicintai oleh Allah? Beliau saw menjawab: “Mengerjakan shalat pada waktunya.” (HR Bukhari &Muslim)

Nabi Muhammad saw bersabda: “Allah Ta’ala sudah mewajibkan shalat lima waktu. Barangsiapa yang berwudhu baik-baik dan mengerjakannya pada waktu-waktunya dan menyempurnakan ruku dan khusyunya, maka Allah berjanji akan mengampuni dosanya.”

Terdapat dalam surah Al-Muddatsir bahwa akan ditanyakan kepada para penghuni neraka ‘Apa penyebab terbesar kalian masuk neraka?’ Mereka akan menjawab, ‘lam naku minal musolliin’ yakni ‘Kami tidak biasa mendirikan shalat.’ ”

Shalat menyelamatkan manusia dari syirik dan kekufuran, juga pun memperbaiki akhlak dan kebiasaan. Dan sarana terbaik untuk memohon pertolongan dan bantuan kepada Allah adalah shalat.

Hamba Allah Yang Maha Pemurah adalah mereka yang mendirikan shalat dengan teratur. Suatu perdagangan dan jual-beli duniawi tidak membuat mereka lalai dari mendirikan shalat. Allah Ta’ala telah menetapkan perlakuan malas dan ria dalam shalat sebagai ciri-ciri orang munafik. Dia berfirman, “Kebinasaanlah bagi orang-orang yang berlaku malas dalam shalat”.

Sesuai perintah dan petunjuk Allah Ta’ala, teladan Rasulullah saw adalah beliau begitu mencintai shalat. Beliau senantiasa bersabda, “Penyejuk mataku ada dalam shalat.” Selama hidup, beliau patuh mendirikan shalat dengan sungguh-sungguh. Sampai-sampai pada saat sakit yang membuat beliau wafat, beliau terus hadir ke masjid dengan memegang pundak orang lain sebagai tumpuan.

Adalah keinginan keras beliau yakni hendaknya umat beliau patuh mendirikan shalat. Pondasi Islam terletak diatas lima rukun dimana rukun yang kedua adalah Shalat.

Beliau saw bersabda bahwa meninggalkan shalat akan mendekatkan manusia kepada syirik dan kekufuran. Beliau bersabda juga, “Pada hari kiamat, hal yang pertama kali akan dihisab dari seorang hamba adalah shalat. Jika hisab ini baik maka ia telah berhasil dan memperoleh keselamatan. Jika hisab ini buruk maka ia telah gagal dan akan tinggal di dalam kerugian.”

Rasulullah saw bersabda, “Sebagaimana debu tidak akan tersisa pada tubuh orang yang mandi lima kali sehari. Seperti itu pula shalat lima waktu adalah penjamin kebersihan ruhani.”

Baca juga: Panduan Dan Tata Cara Tayamum

Manfaat dan Hikmah Shalat

Pertama, bersyukur kepada Allah Ta’ala atau nikmat-nikmat-Nya yang dikaruniakan kepada kita dan memuji-muji kepadaNya. Itulah sebabnya kita diwajibkan membaca Al-Fatihah yang didalamnya tercantum kalimat.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. (Al-Fatihah: 2)

Kedua, manusia mempunyai kelemahan dan kekurangan-kekurangan dalam segala hal dan berkehendak kepada pertolongan dari yang lain. Siapakah penolong yang sebenarnya? Tidak ada penolong terbaik selain Allah Ta’ala. Jadi kita disuruh meminta pertolongan kepada-Nya. Oleh karena itulah kita ucakan dalam shalat:

Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan. (Al-Fatihah: 5)

Jadi guna yang kedua shalat ialah kita minta pertolongan dari Allah Ta’ala

Ketiga, di dunia ini manusia menghadapi bermacam-macam bahaya dan kesulitan, sedang dia tidak tahu jalan untuk lepas dari bahaya dan kesulitan itu. Orang-orang lain pun tidak sanggup memberi petunjuk apa-apa kepadanya. Maka di waktu itu Allah Ta’ala saja yang dapat memberi petunjuk kepada manusia dan dapat melepaskannya dari bahya dan kesulitan-kesulitannya. Oleh karena itulah kita disuruh mengucapkan dalam shalat:

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (Al-Fatihah: 6)

Makna guna ketiga shalat ialah meminta petunjuk kepada Allah Ta’ala dari segala bahaya dan kesulitan-kesulitan yang kita hadapi.

Diperlukan Jasmani dan Ruhani

Mengapa shalat perlu dikerjakan dengan tubuh (jasmani) juga? Islam menyuruh kita mengerjakan shalat (ibadah) itu bukan saja dengan hati, bahkan dengan tubuh juga, karena:

  1. Nikmat-nikmat Allah bukanlah untuk ruh saja, bahkan untuk tubuh juga. Maka sebaiknya ruh (hati) perlu bersyukur kepada Allah Ta’ala begitu juga badan perlu bersykur kepadaNya.
  2. Manusia (ruh dan badan) mempunyai kelemahan-kelemahan. Maka sebagaimana ruh menghendaki pertolongan Allah, maka badan jasmani manusia lebih-lebih lagi memerlukan pertolonganNya. Oleh karena itulah badan jasmani manusia pun perlu beribadah.
  3. Pengaruh ruh (hati) selalu ada pada tubuh. Kalau hati senang, maka kesenangan tersebut kelihatan pada wajah manusia dan waktu hati sedih (susah) maka kesedihan itu pun tampak di wajahnya. Jadi, jika hati beribadah dengan sebenar-benarnya, tentu badan jasmani pun harus turut beribadah.
  4. Shalat yang dikerjakan hanya dengan hati (ruh) saja sudah tentu anak-cucu kita tidak dapat melihat dan mengikutinya. Untuk mendidik dan mengikutkan mereka, maka perlu shalat itu dikerjakan dengan tubuh lahiriah.

Tentu saja tulisan yang sederhana dan singkat  ini belum memadai untuk menguraikan tentang luasnya makna dan hikmah shalat. Semoga kita, utamanya penulis bisa meningkatkan kualitas shalatnya. Aamiin.


MTA Indonesia

Baca juga:

  1. Tata Cara Shalat Dan Khutbah Idul Fitri
  2. Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq-Khalifatu Rasyiddin I
  3. 7 Tempat Paling Bersejarah Di Yerusalem

3 Komentar

Andi Suhendra · 1 Juni 2020 pada 12:36 am

Keren-keren nih

    admin · 6 Juni 2020 pada 3:10 pm

    Terima kasih Mas…

Panduan Dan Tata Cara Tayamum - Bewaramulia.com · 28 Mei 2020 pada 9:54 am

[…] Baca juga: Wajib Diketahui, Dasar-dasar Kewajiban Medirikan Shalat […]

Tinggalkan Balasan