Duka yang sangat dalam dirasakan oleh kaum Muslimin saat mengetahui wafatnya Rasulullahsaw, peristiwa duka itu begitu mencekam, banyak dari para Sahabat yang tidak memepercayai kepergian Rasulullahsaw untuk selama-lamanya. Seperti apa kejadiannya, berikut ini kisahnya.

Sepulang Dari Melaksanakan Haji

Pada tahun kesembilan atau kesepuluh Hijrah atau 632 Masehi. Rasulullahsaw disertai puluhan ribu umat Islam berangkat ke Makkah guna melaksanakan ibadah Haji.

Ibadah haji itu dilaksanakan oleh Rasulullahsaw untuk pertama kali sekaligus yang terkahir. Sehingga ibadah haji beliausaw dikenal sebagai Haji Wada atau Haji Perpisahan.

Setelah melaksanakan Haji Wada, Rasulullahsaw tenggelam dalam kesibukannya memberi tarbiyat dan talim kepada Umat. Beliausaw berusaha keras meningkatkan akhlak dan mengubah serta menghaluskan perilaku mereka.

Isyarat Akan Wafatnya Rasulullah

Pada masa-masa damai itu, Rasulullahsaw sering menyampaikan isyarat akan tibanya kewafatan beliausaw. Beliausaw menyiapkan kaum mulsimin untuk menghadapi kenyataan itu.

Misalnya pada suatu hari, beliau menyampaikan khutbah di hadapan para sahabat, “Hari ini aku telah menerima wahyu:

“Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau melihat manusia akan masuk ke dalam agama Allah berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhan engkau, dan mohonlah ampunan-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat“ (An-Nashr, 110: 2-4).

Maksudnya, saat akan tiba ketika, dengan pertolongan Ilahi, rombongan demi rombongan manusia akan masuk Islam, karena itu seyogyanya Rasulullahsaw dan para pengikut beliau menyanjung puji Tuhan dan mendoa kepada-Nya untuk melenyapkan segala rintangan yang menghalangi upaya penegakan agama.

Rasulullahsaw mempergunakan suatu perumpamaan pada peristiwa itu. Tuhan bersabda kepada manusia, “Jika kamu suka, kamu boleh pulang kepada-Ku, atau kamu boleh bekerja barang sebentar lagi guna mengadakan islah di dunia.” Orang itu menjawab, bahwa ia memilih pulang kepada Tuhan-nya.

Abu Bakarra ada di antara para pendengar. Ia telah mendengar khutbah terakhir Rasulullahsaw dengan hati bergelora dan cemas – gelora hati seorang muminbesar dan kecemasan seorang sahabat, dan pengikut yang di dalam khutbah itu dapat melihat tanda-tanda akan wafatnya Rasulullahsaw.

Setelah mendengar perumpamaan itu, Abu Bakar tidak dapat menguasai diri lagi. Ia menangis sedu-sedan. Para Sahabat lainnya yang hanya melihat segi permukaan dari apa yang mereka dengar, terheran-heran ketika Abu Bakar menangis.

“Apakah yang terjadi dengan Abu Bakar?” mereka bertanya-tanya. Rasulullahsaw sedang menggambarkan kemenangan Islam yang akan datang, tetapi ia malah menangis. Terutama Umar merasa kesal hati terhadap Abu Bakar.

Rasulullahsaw memberikan khabar-suka, tetapi orang tua itu menangis. Hanya Rasulullahsaw yang menangkap arti dari apa yang terjadi. Hanya Abu Bakar yang mengerti maksud beliau – begitu dalam pikiran beliau. Hanya dia yang dapat melihat bahwa ayat-ayat yang menjanjikan kemenangan itu meramalkan pula mendekatnya wafat Rasulullahsaw.

Baca juga: Biografi Nabi Muhammad, Nabi Paling Mulia Dan Pembawa Syariat Terakhir

Abu Bakar Sebagai Pengganti Rasulullah

Rasulullahsaw selanjutnya bersabda, “Abu Bakar sangat kucintai. Jika diizinkan mencintai seseorang lebih dari yang lain-nya, aku akan mencintai Abu Bakar. Tetapi, kecintaan semacam itu hanyalah hak Allah. Wahai kaumku, semua pintu yang menuju ke mesjid hendaknya ditutup mulai hari ini, kecuali pintu Abu Bakar.”

Sayidina Abu Bakarra telah ditunjuk oleh Rasulullahsaw untuk memimpin kaum muslimin dalam shalat, saat Rasulullahsaw berhalangan. Abu Bakarra harus datang lima kali sehari ke mesjid dan untuk itu beliau harus membiarkan pintu rumahnya ke mesjid terbuka.

Tidak ada diragukan lagi bahwa perintah terakhir ini menyiratkan khabar ghaib bahwa, sesudah Rasulullahsaw tiada, Abu Bakarra akan menjadi pengganti beliausaw mempimpin umat Islam. Kelak hal itu menjadi terbukti kebenarannya, setelah Rasulullahsaw wafat, Abu Bakar terpilih sebagai Khalifah Pertama.

Dikenang Umar Bin Khattab

Beberapa tahun kemudian, dimasa Umar Bin Khattabra menjadi khalifah, dalam satu pertemuan beliaura bertanya kepada orang-orang arti ayat, “Apabila datang pertolongan dari Allah dan kemenangan.” (Surat An-Nashr) Beliau ingat akan keadaan ketika Rasulullahsaw mengajarkan ayat itu kepada para sahabat. Beliau tentu ingat juga bahwa pada saat itu hanya Abu Bakar yang mengerti arti ayat-ayat itu.

Khalifah Umar Bin Khattab ingin mengetahui pengetahuan kaum Muslimin tentang ayat-ayat itu. Mereka tidak mampu menangkap kandungan ayat-ayat itu pada waktu diturunkan, apakah mereka sekarang mengetahui akan artinya?

lbnu Abbas, yang kira-kira berumur sepuluh atau sebelas tahun pada waktu turun wahyu itu dan yang sekarang berumur tujuh belas atau delapan belas, memberikan jawaban. Ia berkata, “Ya, Amirul Mukminin, ayat-ayat itu mengandung khabar ghaib tentang wafatnya Rasulullahsaw.

Karena pekerjaan Rasulullahsaw sudah selesai, beliausaw tak ingin lama-lama lagi tinggal di alam dunia ini. Kemenangan itu mempunyai segi yang menyedihkan, ialah, sudah dekatnya keberangkatan Rasulullahsaw dari alam dunia ini.” Umar memuji Ibnu Abbas dan mengatakan bahwa ketika ayat-ayat itu diturunkan, hanya Abu Bakar-lah yang dapat menangkap artinya.

Baca juga: Rasulullah Tabligh Ke Taif Dengan Penuh Keberanian Dan Keagungan

Hari-Hari Terakhir Kehldupan Rasulullah

Akhirnya, makin mendekatlah hari yang harus dihadapi oleh tiap-tiap manusia. Tidak ada orang yang dapat mengelakkannya, tidak ada seorang pun yang dapa hidup abadi, pasti ia akan mengalami kepunahan, bahakan Rasulullahsaw, manusia terbaik yang pernah Tuhan ciptakan, tidak luput dari ketentuan itu.

Pekerjaan Rasulullahsaw telah selesai. Semua yang diwahyukan Tuhan kepada beliau untuk kesejahteraan manusia telah diwahyukan. Suatu bangsa baru telah timbul dengan pandangan hidup baru dan pranata-pranata baru; ringkasnya, telah lahir langit baru dan bumi baru.

Dasar-dasar tertib baru telah diletakkan. Tanah telah dibajak serta diairi dan benih disemai menjelang musim panen baru. Dan sekarang musim panen itu sendiri berangsur mulai nampak. Tetapi bukan beliausaw yang akan menuainya.

Kewajiban beliausaw hanya membajak, menanam, dan mengairi. Beliausaw datang sebagai pekerja, beliausaw tetap sebagai pekerja dan sekarang telah datang saatnya untuk berangkat sebagai pekerja.

Beliau meraih ganjaran bukan dalam bentuk benda-benda duniawi, tetapi dalam bentuk keridhaan Ilahi, Khaliqdan Majikan beliau. Ketika saat musim panen tiba, beliausaw lebih menyukai pergi kepada Dia, membiarkan orang-orang lain memungutnya.

Rasulullah Sakit

Rasulullahsaw jatuh sakit. Beberapa hari beliau masih tetap datang ke mesjid dan memimpin shalat. Kemudian beliau merasa terlalu lemah untuk melakukannya.

Para Sahabat telah begitu biasa dengan kehadiran beliau di tengah-tengah keseharian mereka, sehingga mereka sukar dapat mempercayai beliau akan wafat.

Baca juga: Ekspedisi Tabuk, Kegagalan Kaum Munafik Dan Keberhasilan Islam

Memenuhi Tuntutan Ukkasyah Bin Mihshan

Pada suatu hari Rasulullahsaw menyinggung lagi akan tibanya kepergian beliau. Beliau bersabda:

“Jika seseorang membuat suatu kesalahan, lebih baik ia memperbaikinya di alam dunia ini juga sehingga ia tidak akan menyesal di akhirat kelak. Oleh karena itu, aku katakan jika aku mempunyai suatu kesalahan terhadap seseorang dari antara kamu, walaupun tidak dengan disengaja, baiklah ia tampil ke muka dan mintalah supaya aku memperbaikinya. Jika aku, tanpa setahuku sekalipun, telah menyakiti seseorang di antara kamu, tampillah ke muka dan lakukanlah pembalasan. Aku tidak ingin dipermalukan jika aku menghadap Tuhan di akhirat.”

Hati para Sahabat tersentuh. Mereka mencucurkan air mata. Jerih payah apa yang tidak dialami oleh beliausaw, dan penderitaan-penderitaan apa yang tidak dipikul oleh beliausaw untuk kepentingan mereka?

Rasulullahsaw menderita lapar dan dahaga supaya mereka mendapat cukup makan dan minum. Beliausaw menjahit sendiri pakaian beliau dan beliau memperbaiki sendiri sepatu beliau supaya orang-orang lain berpakaian baik.

Sekarang beliau ingin sekali memperbaiki kesalahan-kesalahan khayali yang mungkin dilakukan beliau terhadap orang-orang lain; sejauh itulah beliau menjaga serta menghormati hak-hak orang lain.

Semua sahabat menerima tawaran Rasulullahsaw itu dengan hening. Tetapi, seorang Sahabat tampil ke muka dan berkata, “Ya Rasulullah, aku pernah sekali mendapat sakit dari Anda. Kami sedang bergerak menuju medan pertempuran, ketika Anda jalan ke barisan kami sambil lalu, Anda telah menyikut rusukku. Itu dilakukan dengan tidak disengaja, tetapi anda mengatakan bahwa kami boleh membalas kesalahan-kesalahan sekalipun tak disengaja. Aku ingin membalas kesalahan ini.”

Para Sahabat yang telah menerima tawaran Rasulullahsaw dengan hening menjadi berang. Mereka marah atas kekurangajaran dan ketololan orang yang sama sekali tidak mengerti akan jiwa tawaran Rasulullahsaw dan kekhidmatan peristiwa itu.

Tetapi, agaknya Sahabat itu berkeras kepala dan bertekad berpegang kepada perkataan Rasulullahsaw. Beliausaw bersabda, “Silakan engkau menuntut balasan.”

Beliau membalikkan punggung beliausaw kepadanya dan bersabda, “Biarlah, pukullah seperti aku telah memukulmu.” “Tetapi,” kata orang itu, “ketika Anda memukulku, sisiku telanjang, karena aku pada saat itu tidak memakai kemeja.” “Tarik ke atas kemejaku,” sabda Rasulullahsaw, “dan biarkan dia sikut sisiku dengan sikunya.”

Kemeja Rasulullahsaw pun diangkat sehingga terlihat bagian tubuh beliau. Ternyata, sahabat itu tidak memukul tubuh suci sisi Rasulullahsaw, melainkan ia membungkuk kemudian mengecup tubuh Rasulullahsaw yang terbuka.

“Apa ini?” tanya Rasulullahsaw. “Bukankah Anda katakan bahwa hari-hari Anda bersama kami tinggal sedikit lagi? Masih berapa kali lagi kami akan menyentuh Anda untuk mengungkap rasa cinta dan rindu kami kepada Anda? Memang betul Anda pernah menyikutku, tetapi siapakah orangnya yang berniat menuntut balas. Saya mempunyai pikiran itu sekarang, dengan tiba-tiba Anda menawarkan untuk mengadakan pembalasan. Saya berkata kepada diri sendiri: Biarlah saya mengecup Anda dengan berpura-pura hendak menuntut balas.”

Para Sahabat tadinya penuh keberangan, sekarang mulai menginginkan pikiran itu timbul dalam benak mereka. Sahabat yang beruntung itu bernama Ukkasyah Bin Mihshanra, untuk kisah lengkapnya bisa dibaca di sini.

Rasulullah Wafat

Sakit Rasulullahsaw tampak bertambah parah. Kematian nampaknya semakin mendekat, dan kecemasan serta kemurungan mencekam hati para Sahabat. Matahari memancar ke Madinah dengan cerah seperti biasa, tetapi untuk para Sahabat seolah-olah dari hari ke hari sinarnya makin pucat.

Matahari terbit seperti sebelum itu, tetapi seolah-olah membawa kegelapan, dan bukan sinar terang. Akhirnya, datanglah saat roh Rasulullahsaw akan meninggalkan raga jasmaninya dan menghadap Khalik-nya. Nafas beliau makin lama makin berat.

Rasulullahsaw, yang menghabiskan hari-hari terakhirnya di kamar Siti Aisyah, bersabda kepadanya, “Angkat kepalaku sedikit dan dekatkan ke sampingmu. Aku tak dapat bernafas dengan baik.” Aisyah berbuat seperti yang dikatakan beliau. Beliau duduk dan memegang kepala Rasulullahsaw. Sakaratul maut telah nampak.

Dengan gelisah Rasulullahsaw memandang ke sana dan ke mari. Berkali-kali beliau bersabda, “Celaka umat-umat Yahudi dan Kristen. Mereka menganjurkan menyembah kuburan nabi-nabi mereka.” Itulah yang dapat kita katakan; amanat terakhir beliau untuk para pengikut beliau.

Tengah beliau menghadapi maut, seolah-olah beliau mengatakan kepada para pengikut beliau, “ kamu sekalian kelak akan memandang diriku lebih tinggi di atas semua nabi lainnya dan lebih berhasil dari salah seorang di antara mereka. Tetapi ingatlah, janganlah kamu menjadikan kuburanku satu barang pujaan. Biarkanlah kuburanku tetap suatu kuburan. Orang-orang lain biar memuja-muja kuburan nabi-nabi mereka dan menjadikan mereka pusat-pusat ziarah, tempat-tempat yang mereka tuju dan tempat mereka bertapa, menyerahkan korbanan dan bersyukur. Orang-orang lain boleh berbuat demikian, tetapi kamu jangan. Kamu senantiasa harus ingat satu-satunya tujuanmu ialah, beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.”

Sesudah memberi nasihat demikian kepada kaum Muslimintentang kewajiban mereka menjaga Tauhiddan tentang perbedaan antara Tuhan dan manusia, kelopak mata beliau menjadi lemah dan mata beliau terkatup.

Apa yang beliau katakan kemudian ialah, “Kepada Sahabatku Yang Maha Tinggi dari segala yang tinggi.” Maksud ucapan itu jelas dan nyata bahwa beliau tengah bertolak, menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Dengan perkataan-perkataan itulah beliau menghembuskan nafas yang penghabisan.

Raswulullahsaw wafatnya pada hari Senin, 8 Juni 632 atau 12 Rabiul Awwal 10 H di kamar ummul muminin, Aisyahrah dan di kamar itu pula Rasulullahsaw kemudian dimakamkan. Beliausaw mencapai usia 63 tahun.

Kabar Duka

Kabar yang teramat menyedihkan itu sampai kepada para Sahabat yang ada di masjid. Di sana terdapat banyak Sahabat berkumpul seusai meninggalkan pekerjaan masing-masing. Mereka mengharap-harap khabar yang baik, tetapi sebaliknya, mereka mendengar bahwa Rasulullahsaw telah berpulang ke rahmatullah. Datangnya kabar itu laksana halilintar di siang bolong.

Hadhrat Abu Bakarra sedang keluar kota. Sementara itu, Umar ada di masjid, tetapi telah kehilangan asa dan kesadaran karena sedih. Kemarahan timbul jika didengarnya seseorang berkata bahwa Rasulullahsaw telah wafat.

Beliau menghunus pedangnya dan mengancam akan membunuh orang yang berani mengatakan bahwa Rasulullahsaw telah wafat.

Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Rasulullahsaw, jadi tidak mungkin Rasulullahsaw wafat. Benar, roh beliau telah berpisah dari jasad beliau, tetapi hanya untuk menghadap kepada Khaliknya.

Persis seperti Nabi Musaas telah berangkat, untuk sementara waktu, menghadap kepada Khalik-nya dan kemudian kembali, begitu pula Rasulullahsaw akan kembali untuk mengerjakan apa-apa yang belum terkerjakan.

Umpamanya, masih ada orang-orang munafik dan harus diambil tindakan terhadap mereka. Umar mondar-mandir dengan pedang di tangan, nampak hampir seperti orang yang kurang ingatan. Sambil berjalan ia berkata, “Siapa mengatakan bahwa Rasulullah telah wafat, ia sendiri akan mati di tangan Umar.”

Para Sahabat salah tingkah dan mereka agak setengah percaya akan perkataan-perkataan Umar. Rasulullahsaw tak mungkin wafat. Itu suatu kekeliruan.

Baca juga: Kenangan Abadi, Cinta Suci Maimunah untuk Rasulullah

Kepastian Dari Abu Bakar

Pada waktu itu beberapa Sahabat mencari Abu Bakar, menjumpainya dan menceritakannya apa yang telah terjadi. Abu Bakar langsung masuk ke dalam masjid, dan tanpa sepatah kata pun masuk ke kamar Siti Aisyah dan bertanya, “Apakah Rasulullahsaw telah wafat?” “Benar,” jawab Siti Aisyah.

Maka Abu Bakar langsung pergi ke tempat Rasulullahsaw terbujur, dibukanya penutup wajah beliau, membungkuk dan mengecup dahi beliau. Air mata kasih dan kesedihan menetes dari matanya dan ia berkata, “Demi Allah. Kematian tidak akan datang kepada Anda dua kali.”

Kata-kata itu penuh arti. Itulah jawaban Abu Bakar sebagai bantahan terhadap perkataan Umar yang tenggelam dalam kesedihannya.

Rasulullahsaw telah wafat satu kali. Itulah kematian jasmaniah, kematian yang tiap-tiap manusia pasti akan mengalami. Tetapi, beliau tidak akan wafat untuk kedua kalinya. Tidak ada kematian rohani, tidak ada kematian tiba atas keimanan yang ditanam dan ditegakkan oleh beliau dalam hati para pengikut beliau yang dalam upaya penegakan keimanan itu beliau telah memikul sekian banyak derita.

Salah salah satu dari kepercayaan-kepercayaan yang paling penting yang diajarkan beliau itu ialah, nabi-nabi pun manusia biasa dan mereka pun harus mati. Kaum Musliminhendaknya jangan begitu cepat melupakan hal itu sesudah Rasulullahsaw sendiri wafat.

Pengumuman Abu Bakar

Setelah mengucapkan kalimat yang agung itu di dekat jenazah Rasulullahsaw, Abu Bakar keluar, dan sambil menerobos barisan kaum Muslimin, dengan tenang beliau berjalan ke mimbar. Ketika beliau berhenti, Umar berdiri di sampingnya, pedangnya masih terhunus seperti tadi, dan tekadnya telah bulat bahwa jika Abu Bakar mengatakan bahwa Rasulullahsaw telah wafat, Abu Bakar harus dan akan dipenggal lehernya.

Ketika Abu Bakar mulai bicara, Umar menarik kemejanya untuk mencegah berbicara, tetapi Abu Bakar merenggut kembali kemejanya dan tidak urung berhenti, tidak mau ditahan. Kemudian dibacanya ayat Al-Qur’an:

“Dan, Muhammad tidak lain melainkan seorang rasul. Sesungguhnya telah berlalu rasul-rasul sebelumnya. Jadi, jika ia mati atau terbunuh, akan berpalingkah kamu atas tumitmu?” (Ali Imran, 3: 145).

Nabi Muhammadsaw adalah seorang manusia dengan mengemban Amanat dari Tuhan. Telah banyak orang-orang lain membawa Amanat dari Tuhan dan mereka semuanya telah wafat.

Jika Muhammadsaw meninggal, apakah kamu akan berpaling dari segala ajaran yang kamu telah mendapatkannya dan telah kamu pelajari sendiri?

Ayat itu untuk pertama kali turun di masa Uhud. Desas-desus pada waktu itu telah tersiar bahwa Rasulullahsaw telah terbunuh oleh musuh. Banyak orang Muslim yang kehilangan akal dan meninggalkan medan pertempuran. Ayat itu turun dari langit untuk meneguhkan hati mereka. Pada saat ini pun dampak ayat itu sama.

Setelah membaca ayat itu Abu Bakar memberi penjelasan, katanya, “Siapa dari antara kamu yang menyembah Tuhan, mereka hendaknya tahu bahwa Tuhan masih hidup dan akan hidup untuk selama-lamanya. Tetapi mereka yang menyembah Muhammad, mereka harus tahu dari aku bahwa Muhammad telah wafat.”

Para Sahabat menemukan kembali keseimbangan rasa dan pikiran mereka karena pidato yang tepat pada waktunya itu. Umar telah berubah sama sekali ketika didengarnya Abu Bakar membacakan ayat tersebut.

Kesadarannya timbul lagi dan pikiran sehatnya telah pulih kembali. Pada saat Abu Bakar selesai membacakan ayat itu, mata rohani Umar telah terbuka lebar. Ia mengerti bahwa Rasulullahsaw telah wafat.

Tetapi, begitu kesadarannya timbul, kakinya mulai gemetar lalu beliau rebah. Beliau jatuh tak berdaya. Orang yang akan menteror Abu Bakar dengan pedang terhunus telah ditundukkan oleh pidato Abu Bakar.

Para Sahabat merasakan seolah-olah ayat itu baru diturunkan untuk pertama kali pada hari itu, dampak imbauannya begitu kuat lagi baru. Dalam tindihan kesedihan yang dahsyat itu mereka lupa bahwa ayat itu tercantum di dalam Al-Qur’an.

Baca juga: Perang Khaibar: Penaklukan Kaum Yahudi yang Selalu Membahayakan Islam

Duka Yang Mendalam

Banyak yang mengungkapkan kesedihan yang menimpa kaum Muslimin pada waktu wafat Rasulullahsaw, tetapi ungkapan yang diungkap Hassan, ahli syair di masa permulaan Islam, dalam bait-bait syairnya adalah paling mengena lagi mendalam kesannya, dan sampai hari ini tetap merupakan ungkapan yang terindah lagi abadi.

Ia mengatakan, “Engkau adalah biji mataku. Sekarang, setelah engkau mati, mataku telah menjadi buta. Sekarang aku tak memperdulikan lagi siapa yang mati. Sebab, hanya tibanya kematian engkau j18uga yang kukhawatiri. “

Bait ini menyambung rasa tiap-tiap kaum Muslimin. Berbulan-bulan lamanya di lorong-lorong Madinah, pria, wanita, maupun anak-anak, menyenandungkan syair Hassan bin Tsabit ini sambil mengayunkan langkah mereka.

Sumber: Riwayat Hidup Rasulullah saw, karya Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad


2 Komentar

Farid Ridwan · 27 Juli 2020 pada 6:00 am

Jazaakumullah…

    Muhammad Akram · 27 Juli 2020 pada 6:03 am

    Sama-sama Pak, jazakumullah atas kunjungannya

Tinggalkan Balasan