Ummul Mu’minin Ummu Salamah, Teladan Dalam Cinta Dan Kesetiaan

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

Ummul Mu’minin Ummu Salamah radiallahu anha sebelumnya adalah istri dari Abdullah bin Abdul Asad, yang lebih dikelan sebagi Abu Salamah. Setelah suami beliau wafat, Ummu Salamah kemudian dinikahi oleh Rasulullahsaw.

Latar Belakang

Nama asli beliau ialah Hind atau Hindun Binti Abi Umaiyah, juga dikenali sebagai Hind al-Makhzumiyah, Hindun binti Suhail. Beliau kemudian lebih dikenal sebagai Ummu Salamah sebagai nama kunyah karena beliau memilik putra yang bernam Salamah.

Ayahanda beliau, Abu Umaiyah ibn Al-Mughirah ibn Abdullah ibn Umar ibn Makhzum ibn Yaqazah yang turut dikenali sebagai Suhail. Ia adalah anggota terkemuka sukunya yang dikenal karena kemurahan hatinya, yang membuatnya mendapatkan gelar ” Zad al-Rakib ” yaitu, orang yang banyak menolong para musafir.

Sementara itu ibunda beliau pula ialah Atikah Binti Amir ibn Rabi’ah, dari suku Firas ibn Ghanam Bani Kinanah.

Ummu Salamahrah adalah wanita yang bijaksana dan mampu dari keluarga yang mulia dan terhormat. Beliau termasuk yang pertama menerima Islam dan yang pertama di antara para wanita yang hijrah ke Madinah.

Istri Abu Salamah

Abu Salamah yang nama asli beliau adalah Abudullah bin Abdul Asad, merupakan sahabat awalin dari kalangan terpandang Makkah, setelah sepuluh orang pertama baiat, selanjutnya adalah beliau. Beliau Sahabat yang sangat mukhlis dan banyak pengabdiannya untuk Islam.

Beliau berasal dari Banu Makhzum. Ayahabda beliau bernama Abdul Asad dan ibunda beliau, Barah binti Abdul Muthallib.

Abu Salamah merupakan saudara sepupu Rasulullahsaw. Beliau juga merupakan saudara sepesusuan Rasulullahsaw dan Hamzahra. Beliau disusui oleh hamba sahaya Abu Lahab yang bernama Tsuwaibah. Untuk lebih lengkapnya mengenai Abu Salamahra bisa dibaca di sini.

Abu Salamah ini lah yang kemudian menikahi Ummu Salamah. Kehidupan rumah tangga mereka diliputi oleh keharmonisan. Mereka dikaruniai empat orang anak: Salamah, Umar, Zaynab dan Ruqayyah.

Ikut Hijrah Ke Habsyah

Ketika penderitaan umat Muslim sudah sampai pada puncaknya dan Quraisy semakin menjadi-jadi dalam penganiayaan, Rasulullahsaw memerintahkan kaum Muslimin untuk hijrah.

Rasulullahsaw bersabda: “Jika kalian keluar untuk hijrah ke Habsyah, niscaya kalian temui di sana seorang Raja adil dan menyukai keadilan. Dalam pemerintahannya tidak ada kezaliman kepada siapapun.”

Negeri Habasyah (atau Habsyah, Abesinia, Etiophia) letaknya berada di sebelah timur laut benua Afrika. Berhadapan dengan Arabia bagian selatan. Di tengah-tengah keduanya selain Laut Merah, tidak ada lagi.

Pada masa itu di Habsyah berdiri sebuah pemerintahan Kristen yang kuat dan rajanya disebut dengan gelar Najasyi (Negus), bahkan sampai saat ini penguasanya disebut dengan nama tersebut.

Habasyah dan Arabia memiliki hubungan dagang. Habasyah, ibukotanya Aksum yang saat ini letaknya berdekatan dengan kota Adowa dan sampai saat ini didiami dan dianggap sebagai kota suci. Aksum pada saat itu merupakan pusat satu pemerintahan yang sangat tangguh.

Najasyi yang memimpin saat itu bernama Ashamah yang merupakan seorang raja yang adil, bijak dan amat berkuasa.

Ketika penderitaan umat Muslim sampai pada puncaknya, Rasulullah bersabda kepada mereka bahwa bagi mereka yang mampu silahkan hijrah ke Habasyah. Mendengar sabda Rasul tersebut pada bulan Rajab 5 Nabawi (sekitar 615 Masehi) telah hijrah 11 pria dan 4 perempuan ke Habasyah.

Diantara mereka sahabat yang terkenal adalah Utsman Bin Affan beserta istrinya Ruqayyah putri Rasulullah, Abdur Rahman Bin Auf, Zubair Bin Al Awam, Abu Huzaifah Bin Utbah, Utsman bin Maz’un, Mush’ab Bin Umair, Abu Salamah Bin Abdul Asad beserta istrinya, Ummu Salamah.

Ketika kaum Quraisy mengetahui kabar hijrah tersebut, mereka sangat marah karena incaran mereka telah lepas lalu mereka membuntuti supaya jangan sampai mereka berhasil meninggalkan, namun mereka telah pergi.

Atas hal itu mereka mengejar para muhajirin, namun ketika pasukan Quraisy sampai di pantai, kapal laut telah berangkat. Akhirnya mereka kembali pulang dengan tangan kosong.

Sesampainya di Habsyah, para muhajirin dapat hidup dengan sangat damai dan bersyukur atas terlepasnya mereka dari tangan Quraisy.

Kemudian, mereka mendengar kabar bahwa kaum kuffar Makkah telah masuk Islam, sehingga mereka memutuskan kembali ke Makkah. Termasuk Abu Salamah dan istri beliau Ummu Salamah.

Ternyata kabar itu merupakan tipu muslihat kaum kufar Qurayis untuk memikat kaum Muslimin kembali ke Makkah. Namun Abu Salamah dan istri beliau terlanjur kembali, sehingga beliau memutuskan tetap tinggal di Makkah.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Abu Salamah Gugur Saat Tugas Di Jalan Allah

Peristiwa Hijrah Ke Madinah

Saa Rasulullahsaw memerintahkan agar kaum Muslimin hijrah ke Madinah, maka Abu Salama dan Ummu Salamah segera mempersiapkan diri untuk berangkat memenuhi seruan Rasulullahsaw.

Ummu Salamahrah menceritakan perjalanan hijrah mereka, katanya, “Ketika suami saya Abu Salamah berniat untuk pergi ke Madinah, beliau mempersiapkan unta kami lalu memberangkatkan saya dan putra saya bernama Salamah yang berada dalam pangkuan. Ketika di perjalanan kami dikepung beberapa orang Banu Mughirah (keluarga besar Ummu Salamah). Mereka berkata [kepada suami Abu Salamah], ‘Ummu Salamah adalah putri kami. Kami tidak akan membiarkan dia pergi bersamamu pergi dari kota ke kota.’ Mereka memisahkan saya dari suami saya.”

Ummu Salamah dan putranya direnggut dan dibawa paksa keluarga besarnya, Banu Mughirah. Mengetahui hal itu keluarga besar Abu Salamah – Kabliah Banu Abdul Asad – marah, kemudian mereka merampas Salamah dari ibunya.

Sementara itu Abu Salamahra seorang diri tanpa anak dan istrinya tetap pergi ke Madinah menaati perintah hijrah dari Rasulullahsaw.

Ummu Salamah mengatakan, “Saya benar-benar tinggal sendiri. Selama satu tahun saya terperangkap dalam musibah ini. Saya setiap hari pergi ke daerah Abtah untuk menangis. Suatu hari salah seorang dari antara anak paman (sepupu) melihat saya menangis di sana. Dia merasa kasihan lalu pergi menuju kabilah saya, Banu Mughirah dan mengatakan, ‘Kenapa kalian menyakiti perempuan tidak berdaya ini? Kalian telah memisahkannya dari anak dan suaminya, lepaskan dia.’ Atas hal itu mereka berkata kepada saya, ‘Pergilah kepada suamimu!’”

Setelah dibebaskan, Ummu Salamah pun segera mempersiapkan diri untuk berangkat ke Madinah.

Beliau mengatakan, “Setelah itu Bani Abdul Asad mengembalikan anak saya. Kemudian, saya siapkan unta dan membawa anak lalu berangkat. Setelah berangkat ke Madinah, tidak ada yang menolong saya. Ketika sampai di daerah Tan’im saya berjumpa dengan Utsman Bin Thalhah bin Abu Thalhah – saat itu belum masuk Islam, karena beliau baiat pada tahun 6 Hijriyah.

Beliau berkata, ‘Wahai putri Abi Umayyah (Ummu Salamah)! Hendak kemana Anda pergi?’

Saya katakan, ‘Saya akan pergi ke Madinah menjumpai suami saya.’

Utsman bertanya, “Apakah ada yang menyertai Anda?”

Saya katakan, “Demi Allah, tidak ada yang menemani, hanya anak saya ini dan Tuhan yang menemani.”

Usman berkata, “Demi Allah! Saya tidak biarkan Anda pergi sendiri, saya akan temani Anda.”

Ummu Salamah dan putranya berangkat ke Madinah dengan diantar oleh Utsman Bin Abu Thalha. Beliau sendiri menceritakan perjalannya itu:

“Demi Allah! Saya belum pernah melihat seorang laki-laki Arab yang mulia sepertinya. Jika tiba waktunya istirahat, ia merendahkan unta di dekat sebuah pohon dan menjauh, sehingga saya bisa turun dengan mudah. Setelah akan berangkat lagi, ia merendahkan unta sampai saya naik, dan memegang lagi kendalinya ke arah Madinah.”

“Sesampainya di tempat istirahat, beliau mendudukkan unta, memisahkan diri lalu memasang kemah di suatu tempat. Ketika saya telah turun dari unta, beliau turunkan perbekalannya lalu mengikat unta ke pohon. Beliau istirahat tidur menjauhkan diri dari kami di bawah sebuah pohon.”

“Ketika akan mulai berangkat lagi, ia menyiapkan unta lalu saya menaikinya dan berangkat sementara ia sambil memegang tali kendali. Sehingga kami sampai di Madinah. Usman Bin Abu Talha melihat kampung Banu Amru Bin Auf di Quba, mengatakan pada saya, ‘Wahai Ummu Salamah! Suami Anda Abu Salamah tinggal di sini, masuklah ke rumah tersebut dengan keberkatan Allah’, lalu Utsman kembali ke Makkah.”

Ummu Salamah dan putranya akhirnya sampai di Madinah dengan selamat dan dapat berkumpul kembali dengan suaminya, Abu Salamah.

Baca juga: Perang Uhud, Bukti Ketabahan dan Keberanian Pasukan Islam

Kehilangan Suami

Pada bulan Muharram tahun ke-4 Hijriyah, Rasulullahsaw mendapatkan kabar bahwa pemimpin kabilah Asad, Thalhah Bin Khuwailid dan saudaranya Salamah Bin Khuwailid tengah mempersiapkan orang-orang di daerahnya untuk menyerang Madinah.

Mendengar kabar tersebut Rasulullahsaw langsung menyiapkan 150 pasukan yang tangkas dan menetapkan Abu Salamah sebagai komandan untuk memimpinnya.

Beliausaw menekankan untuk melakukan serangan tiba-tiba. Sebelum Banu Asad melampiaskan kebencian ini, pecahkanlah kekuatan mereka. Lalu dengan cepat dan diam-diam Abu Salamah bergerak dan sampai di daerah pertengahan Arab, Qatan, tapi tidak terjadi pertempuran.

Ketika melihat pasukan Muslim penduduk Banu Asad berhamburan. Setelah beberapa hari tidak tampak, Abu Salamahra kembali ke Madinah.

Disebabkan perjalanan yang berat tersebut, luka yang Abu Salamah alami pada perang Uhud yang tampaknya sudah hampir sembuh, kembali memburuk. Meskipun diobati, kondisinya semakin memburuk. Disebabkan keadaan itu Abu Salamah pun wafat.

Dengan demikian Ummu Salamah menjadi janda, beliau ditinggal wafat oleh suami yang sangat dicintainya.

Baca juga: Suami, Anak dan Adik Hindun binti Amru Syahid di Uhud

Teladan Dalam Cinta Dan Kesetiaan

Putra Ummu Salamah menuturkan bahwa Abu Salamah datang kepada Ummu Salamah dan mengatakan, “Saya telah mendengar sabda Rasulullahsaw sebagai berikut: ‘Seorang hamba yang mendapatkan musibah dan mengucapkan doa;

 إنا لله و إنا إليه راجعون-  اللّهُمَ آجرِني في مصيبتي و اخلف لي خيرا منها

‘Sesungguhnya semua kami adalah milik Allah dan sesungguhnya semuanya akan kembali kepada Allah – Ya Allah! Berikanlah kepada hamba pahala dari musibah hamba ini dan anugerahkanlah pengganti yang lebih baik kepada hamba setelahnya.’

Maka Allah akan menggantikan musibahnya dengan pahala dan memberinya yang lebih baik.” (Al-Jaami li Syi’bil Iman, Imam Abu Bakr Ahmad bin al-Husain Baihaqi, Jilid 12, Hal. 182)

Ummu Salamahrha mengatakan: “Ketika Abu Salamah syahid, saya memanjatkan doa seperti itu, padahal hati saya enggan untuk berdoa, ‘Ya Allah! Anugerahkanlah hamba pengganti Abu Salamah.’”

Lalu saya mengatakan dalam hati, ‘Siapa yang lebih baik dari Abu Salamah? Bukankah beliau tidak begini dan tidak begitu – Maksudnya beliau memiliki banyak keistimewaan dan sifat-sifat mulia – Namun demikian, saya terus panjatkan doa tersebut.”

Abu Salamah dan Ummu Salamah ialah pasangan suami-istri yang sangat saling menyintai. Ummu Salamah sampai-sampai meminta janji agar satu sama lain tidak menikah lagi bila salah satu meninggal lebih dulu. Abu Salamah tidak menyetujuinya dan bahkan meminta istrinya untuk menaatinya dengan membiasakan membaca doa diatas bila beliaura meninggal lebih dulu.

Baca juga: Kenangan Abadi, Cinta Suci Maimunah untuk Rasulullah

Dinikahi Rasulullah

Ummu Salamah berasal dari keluarga pembesar Quraisy. Sebelum itu beliau adalah istri dari Abu Salamah Bin Abdul Asad yang sangat mukhlis dan sahabat awalin dan pada tahun itu jugalah suami beliau wafat.

Setelah masa iddah Ummu Salamah berakhir, karena Ummu Salamah adalah seorang perempuan yang cerdas dan luar biasa, untuk itu Abu Bakr pun punya keinginan untuk melamarnya, namun Ummu Salamah menolaknya.

Akhirnya, Rasulullahsaw sendiri berpikir untuk melamarnya dan yang menjadi salah satu sebabnya adalah selain memiliki keistimewaan yang dengannya sesuai untuk menjadi istri seorang Nabi, Ummu Salamah juga adalah mantan istri dari seorang sahabat yang sangat istimewa dan juga memiliki anak sehingga perlu untuk ada yang mengurusi.

Selain itu, karena Abu Salamah Bin Abdul Asad adalah saudara sepesusuan Rasulullahsaw maka beliausaw lebih merasa bertanggung jawab untuk mengurusi keluarga yang ditinggalkannya. Oleh karena itu, Rasulullahsaw mengirimkan pesan lamaran kepada Ummu Salamahrah.

Awalnya, disebabkan beberapa hal, Ummu Salamah menyampaikan keengganannya dan menyampaikan alasan bahwa umur beliau semakin bertambah sehingga tidak subur lagi. Namun karena tujuan lamaran Rasulullahsaw adalah untuk hal lain, akhirnya Ummu Salamah menerima lamaran Rasulullahsaw.

Rasulullahsaw menikahi Ummu Salamah pada bulan Syawal tahun 4 Hijriyah. Dalam hal ini, putra Ummu Salamah bertindak sebagai wali ibunya dan menikahkan beliau.

Baca juga: Biografi Nabi Muhammad, Nabi Paling Mulia Dan Pembawa Syariat Terakhir

Penutup

Ummul Mu’minin Ummu Salamah adalah seorang perempuan yang istimewa. Beliau memiliki kecerdasan, memiliki derajat tinggi dalam keikhlasan dan keimanan.

Beliau juga merupakan salah seorang diantara kaum Muslimin yang hijrah ke Habasyah atas perintah Rasulullahsaw. Begitu juga ketika hijrah ke Madinah, beliau yang paling awal hijrah dari antara kaum perempuan Muslim.

Ummu Salamah mempunyai kemampuan dapat membaca dan memiliki andil memberikan talim dan tarbiyat kepada kaum Muslimah.

Banyak sekali riwayat dan hadits yang diriwayatkan oleh beliau sehingga dari segi periwayatan Hadits – diantara para istri Nabi Muhammadsaw – beliau menempati posisi kedua setelah Siti Aisyahrha dan Ummu Salamah juga menempati posisi ke-12 diantara para sahabat pria.

Demikianlah kisah teladan dari seorang wanita mulia, Ummul Mu’minin Ummu Salamarha. Semoga Allah Ta’ala terus meninggikan derajat luhur beliaurha dan Ummahatul Mu’mini para istri Rasulullahsaw. Aamiin.

Baca juga: Haji Wada Dan Pesan Terakhir Rasulullah


0 Komentar

Tinggalkan Balasan