Ummul Mu’minin Saudah bint Zam’ah, Pendamping Rasulullah Yang Paling Banyak Bersedekah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

saudah-binti-jamah-bewaramulia

Ummul Mu’minin Saudah binti Zam’ah radiallahu anha adalah wanita yang pertama dinikahi Rasulullahsaw setelah wafatnya Sayyidah Khadijahrha. Beliau dikenal sebagai istri yang patuh dan taat pada Rasulullahsaw, juga banyak bersedekah selama hidupnya.

Awal Kehidupan Saudah Binti Zam’ah

Sayyidah Saudah binti Zam’ah bin Qais bin Abdul Wad. Ibu Saudah bernama Syumus binti Qais bin Zaid bin ‘Uday bin Najjar al-Anshari.

Ayahanda beliaurha merupakan salah satu orang pertama yang memeluk Islam pada awal masa kenabian. Nasabnya bertemu Rasulullahsaw pada Luay bin Ghalib, salah satu nenek moyang dari Rasulullahsaw.

Istri Dari Sakran Bin Amr

Sayyidah Saudahrha pertama kali menikah dengan anak paman beliau,  yaitu Sakran bin Amr Al-Qarshira. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai seorang putra bernama Abdurrahman.

Dikarenakan Saudah masuk Islam dan memberikan baiatnya kepada Rasulullahsaw, suaminya yang bernama Sakran bin Umar juga masuk Islam.

Ia memeluk Islam bersama sekelompok orang dari Bani Qais bin Abdu Wad.

Saat umat Islam yang masih sedikit dan lemah mendapat penganiayaan dari kaum kufar Makkah, maka Rasulullahsaw memerintahkan mereka untuk hijrah ke negeri Absenia atau Habasyahdan.

Hadhrat Saudahrha dan suami beliau, Hadharat Sakran bin Amrra juga saudaa beliau Malik bin Zam’ahra menyambut seruan Rasulullahsaw, turut hijrah ke Habasyah pada hijrah yang kedua. Sekembalinya dari Habasyah ke Mekah, Sakran wafat.

Baca juga: Ummul Mu’minin Aisyah Binti Abu Bakar, Paling Disayangi Rasulullah

Menikah Dengan Rasulullah

Setelah ditinggal wafat oleh Abu Thalib disusul kemudian Ummul Mu’mini Khadijahrha, Rasulullahsaw dilanda kesedihan mendalam. Keduanya merupakan orang yang sangat di cintai beliausaw, mereka pelindung dan pendukung  setia Rasulullahsaw.

Setelah Khadijahrha wafat, Rasulullahsaw hidup sendiri tanpa seorang pendamping selama satu tahun lamanya. Melihat keadaan itu seorang sahabiyah, Khulah binti Hakimrha, istri dari sahabat Utsman bin Maz’unra memberanikan diri menemui Rasulullahsaw.

Khulah menanyakan kepada baginda Nabisaw alasan belum menikah lagi. “Wahai Rasulullah, mengapa Anda tidak menikah?” “Siapa yang harus saya nikahi?” jawab Nabisaw.

Ia menjawab, “Jika Anda berharap ada seorang gadis yang belum menikah dan juga seorang janda.” Nabisaw bertanya, “Siapa?”

Khaulah menjawab, “Gadis yang belum menikah itu adalah putri dari sahabat Anda, Abu Bakar bernama Aisyahrha, dan janda itu Saudah binti Zam’ahrha, yang menikah dengan almarhum hambamu Syakran bin Amrra.”

Nabisaw menjawab, “Baiklah, buatlah tawaran untuk mereka berdua.” (Kehidupan & Karakter Meterai Para Nabi , Vol. 1, hlm. 241-242. Mirza Bashir Ahmad)

Setelah itu, Khaulahrha sesuai perintah Rasulullahsaw mendatangi Saudah binti Zam’ahrha dan pihak keluarganya. Mereka pun menyetujui kehendak dari Rasulullahsaw.

Pernikahan Nabisaw dengan Saudah binti Zam’ahrha dilaksanakan pada bulan Ramadhan atau Syawal tahun kesepuluh kenabian. Nabisaw memberi mahar sekitar 400 dirham.

Dengan demikian, Ummul Mu’mini Saudah binti Zam’ahrha menjadi menjadi istri pertama baginda Nabisaw setelah wafatnya Sayyidah Khadijahrha dan sebelum pernikahan Nabisaw dengan Sayyidah Aisyahrha.

Pada satu kesempatan Hadhrat Saudahrha melihat sebuah bulan jatuh padanya di salah satu mimpinya. Ketika dia mengungkapkannya kepada suaminya, Hadhrat Sakranra menafsirkan mimpinya berarti bahwa setelah kematiannya, Saudahrha akan menikah dengan Nabisaw.

Baca juga: Ummul Mu’minin Khadijah Binti Khuwailid, Yang Paling Mulia Diantara Para Pendamping Nabi

Patuh Sepenuhnya Kepada Rasulullah

Hadhrat Saudah binti Zam’ahrha melaksanakan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya peran sebagai istri Rasulullahsaw. Beliaurha segera melanjutkan perannya sebagai pengurus rumah tangga dan anak-anaknya. Beliaurha sangat berdedikasi untuk perjuangannya dan terkenal karena rasa kepatuhannya.

Suatu ketika, setelah mendengar dari Nabi saw tentang ziarah ke Mekah bahwa ini mungkin ziarah terakhir dan rintangan akan menghalanginya dari melakukan ziarah lain di masa depan, dia bersumpah untuk tidak pernah berangkat untuk tujuan ini lagi.

Sewaktu melaksanakan Haji Wadah, Rasulullahsaw membawa serta semua istri beliausaw. Rasulullahsaw bersabda kepada istri-istri beliausaw, “Ini adalah saat haji bagi kalian kemudian setelah ini hendaknya kalian menahan diri di rumah-rumah kalian.” (Sunan Abu Dawud)

Kemudian setelah Rasulullahsaw wafat, semua istri-istri Nabisaw tetap melaksanakan haji pada tahun-tahun berikutnya. Akan tetapi, Sayyidah Saudahrha setelah wafatnya Rasulullahsaw, tidak pernah lagi melaksanakan ibadah haji.

Hadhrat Saudahrha berkata, “Hajiku adalah tidak keluar rumah. Sebagaimana yang difirmankan Allahswt dalam Al-Qur’an, “

 وَقَرْنَ فِی بُیوتِکنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِیةِ الْأُولَیٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِینَ الزَّکاةَ وَأَطِعْنَ اللَّـهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا یرِیدُ اللَّـهُ لِیذْهِبَ عَنکمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَیتِ وَیطَهِّرَکمْ تَطْهِیر

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Qs. Al-Ahzab: 33).

Begitu taatnya beliau terhadap perintah Rasulullahsaw, sehingga sampai akhir hayatnya Hadhrat Shaudah binti Zam’ahrha tidak pernah keluar meninggalkan rumahnya.

Hubungan dengan Istri Nabi Lainnya

Karena sifatnya yang rendah hati dan wataknya yang bersemangat, Saudahrha memiliki hubungan yang dekat dengan para putri dan istri Rasulullahsaw lainnya.

Beliau sangat dekat dengan Ummahatul Mu’minin Aisyahrha, Hafsarha dan Safiyahrha. Rasulullahsaw pun sangat menghargai sifatnya yang periang dan suka menghibur.

Suatu ketika, Hadhrat Saudahrha mengunjungi Nabisaw di rumah Hadhrat Aisyahrha. Beliau menawarkan hidangan manis yang beliau masak sebelumnya. Meskipun Saudahrha menolak, Hadhrat Aisyahha bersikeras dan mengatakan kepadanya bahwa beliau akan mengoleskan di wajahnya jika beliau pergi tanpa mencicipinya; dengan demikian, Saudha terpaksa melakukannya.

Ketika Nabisaw melihat Saudahrha dalam kesulitan, beliausaw tidak bisa menahan tawanya. Kemudian, beliausaw memintanya untuk melakukan hal yang sama pada Aisyahrha, sehingga menjadi adil. Hadhrat Saudahrha lalu mengolesi wajah Aisyahrha dengan itu.

Peristiwa itu mencerminkan suasana santai dan menghibur di mana keluarga Nabisaw diliputi oleh keharmonisan.

Baca juga: Ummul Mu’minin Ummu Salamah, Teladan Dalam Cinta Dan Kesetiaan

Sikap Mulia Hadhrat Saudah

Ummahatul Mu’mini, para istri Nabisaw sangat menghormati dan mencintai beliausaw. Bagi mereka, bukan hanya sekedar sebagai suami biasa, tetapi mereka memandangnya sebagai teladan agung yang memperkenalkan dan meninggikan hak-hak perempuan dan status mereka di masyarakat.

Mereka sangat mencintainya dan bersumpah untuk melayani dan melakukan tugas-tugas rumah tangga mereka. Nabisaw sangat menghormati pengabdian mereka, beliau membagi waktunya untuk masing-masing mereka dengan penuh rasa adil.

Ketika Hadhrat Saudahrha menjadi tambah berumur, beliau menyadari bahwa usia lanjutnya mungkin menghalangi beliau untuk melakukan tugas sebagai seorang istri. Beliau memahami tentang cinta yang Nabisaw miliki untuk Aisyahrha untuk itu beliau menyerahkan gilirannya demi kepentingan Nabisaw.

Sayyidah Aisyah berkata, “Aku tidak pernah melihat wanita yang paling aku ingin sekali menjadi dia daripada Saudah binti Zam’ah, ketika dia tua dia berikan gilirannya dari Rasulullahsaw kepadaku.” (Shahih Muslim)

Ummul Mu’minin Saudahrha sendiri mengatakan bahwa satu-satunya harapannya adalah berharap dibangkitkan di antara istri-istri Nabisaw pada Hari Pengadilan nanti.

Penghidmatan Saudah Binti Zam’ah

Selain bertugas sebagai seorang istri yang melayani Rasulullahsaw dengan sebaik-baiknya, Saudahrha

Ia turut hadir dalam Perang Khaibar dan meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw.

Rasulullahsaw di Khaibar menyerahkan kepada Saudah 80 wasaq (1 wasaq sekitar 180 kg) kurma dan 20 wasaq gandum untuk disajikan sebagai makanan. Hal ini mennjukan beliau ikut berperan dalam peristiwa Perang Khaibar.

Sewaktu Zainabrha binti Nabisaw wafat, Saudahrha bersama sejumlah muslimah lainnya memandikan jenazah putri Rasullahsaw itu.

Baca juga: Duka Yang Sangat Dalam Dirasakan Kaum Muslimin Saat Wafatnya Rasulullah

Paling Banyak Bersedekah

Ummul Mu’minin Saudah binti Zam’ahrha dikenal sebagai pribadi yang suka bersedekah. Hadhrat Umar bin Khattabra pernah mengirim sekantung penuh uang dirham kepada beliaurha.

Kemudian uang dirham pemberian Khalifah Umar itu beliau bagi-bagikan kepada orang-orang yang lebih membutuhkan.

Pada suatu kesempatan Sayyidah Aisyahrha bertanya kepada Rasulullahsaw, “Wahai Rasulullah, siapa di antara kami yang paling cepat menyusulmu?”

Rasulullahsaw pun menjawab bahwa istri beliausaw yang akan menyusulnya ialah yang paling panjang tangannya di antara mereka. karena itu, para istri Rasulullahsaw kemudian mulai sibuk mengukur panjang tangan mereka.

Setelah Rasulullahsaw wafat, kemudian ternyata dari antara para istri beliausaw yang belih dulu wafat adalah Hadhrat Saudahrha. Dari dapat dipaham bahwa maksud Rasulullahsaw tentang maskud “yang paling panjang tangannya” adalah yang paling banyak bersedakah.

Hal itu terbukti dari kenyataan bahwa, Hadhrat Saudahrha selama hidupnya paling banyak bersedekah, banyak memberi dan menolong orang lain, dari harta yang dimilikinya.

Saudah sangat mencintai Aisyah. Ia bahkan ikut merawat perempuan itu. Kebaikan Saudah membuat kagum Aisyah. Ia pernah berkata, “Tiada seorang pun yang lebih aku kagumi tentang perilakunya selain Saudah binti Zam’ah yang sungguh hebat.”

Akhir Kehidupan

Hadhrat Saudahrha wafat pada tahun ke-22 Hijrah atau 643 Masehi di Madinah pada masa akhir Khilafah Umar bin Khattabra . beliau kemudian dimakamkan di Jannat-ul-Baqi.

Hadhrat Aisyahrha sangat dekat dengan Hadhrat Saudahrha dan menghargai persahabatannya, beliau berkata:

“Saya tidak pernah berharap bahwa saya seperti wanita lain kecuali seperti Saudah. Saya ingin memiliki caranya yang sederhana dan bersahaja dan saya berharap saya bisa menjadi seperti dia dan bahwa saya dapat memiliki hati yang murni dan bersih seperti miliknya dan caranya yang sederhana. “

Ummul Mu’minin Saudah binti Zam’ahrha menjalani kehidupan yang sederhana dan salehah. Beliau selalu tepat waktu dalam melaksanakan shalat, baik yang wajib maupun shalat nafal. Juga beliau banyak bersedekah dari rizki yang diperolehnya.

Baca juga: Pernikahan Rasulullah dengan Zainab Binti Jashy, Janda Putra Angkat Beliau


0 Komentar

Tinggalkan Balasan