Ummul Mu’minin Khadijah Binti Khuwailid, Yang Paling Mulia Diantara Para Pendamping Nabi

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

khadijah-bewaramulia

Hadhrat Khadijah radiallahu anha adalah seorang wanita terhormat dan mulia. Beliau seorang janda kaya berusia 40 tahun yang menikah dengan Rasulullahsaw ketika berusia 25 tahun. Pernikahannya diliputi oleh cinta, kesetiaan, dan persahabatan yang mendalam.

Seperti apakah kehidupan Khadijah, utamanya saat mendampingi Rasulullah salallahu alaihi wassalam? berikut ini kisahnya.

Latar Belakang

Hadhrat Khadijah Binti Khuwailidrha lahir sekitar tahun 68 Sebelum Hijrah atau bertepatan dengan tahun 555 Masehi. Beliau bersasal dari kabilah Bani Asad, suku Quraisy. Ayahanda beliau, Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai dan ibundanya Fatima binti Zaidah berasal dari suku Luay. 

Beliau lahir dari keluarga bangsawan dan kaya. Ayahandanya, Khuwailid bin Asad, adalah seorang pedagang. Setelah kewafatannya, Khadijah mengambil alih bisnis keluarga. Khadijah kemudian menjalankan usahanya dengan adil dan jujur, sehingga beliau kemudian dikenal sebagai “At-Tahirah” yang artinya suci/bersih.

Suami pertama Khadijah adalah Atiq Bin Aidh Bin Abdullah Bin Umar, seorang tokoh terhormat dari suku Makhzum. Bersamanya lahir seorang putri bernama Hind. Setelah Atiq meninggal, Khadijah kemudian menikah dengan Abu Hala bin al-Nabbash. Dia memberinya dua anak, Hind dan Hala. Abu Hala juga tidak berumur panjang, sehingga Khadijah kembali menjadi janda.

Beliau juga kemudian terkenal sebagai Khadijah Al-Kubra, seorang janda kaya dan terhormat yang dermawan. Beliau banyak menolong kaum papa dan membelanjakan hartanya untuk mereka yang membutuhkan. Beliau memberi maskawin atau biaya nikah untuk pernikahan kaum wanita yang miskin.

Tidak seperti keyakinan kaum dan bangsanya pada masa itu yang menyembah banyak berhala, Khadijah tidak pernah percaya, atau menyembah berhala.

Terkesan Dengan Rasulullah

Khadijah adalah seorang pengusaha wanita terhormat yang berdagang melalui pusat perdagangan utama pada waktu itu. Beliau sendiri tidak bepergian dengan kafilah dagangnya, beliau mengandalkan orang-orang suruhanya untuk berdagang atas namanya.

Karenanya, beliau mencari orang-orang yang jujur dan cakap dalam membawa barang dagangannya ke Suriah.

Paman Nabisaw, Abu Thalib menyarankan agar Khadijah mempekerjakan Muhammad (saat itu belum menjadi nabi) yang sudah terkenal akan kejujuran dan kehormatannya. Berdasarkan saran Abu Thalib, beliau mengirim pesan kepada Muhammad memintanya untuk berdagang atas namanya di Suriah, dengan imbalan dua kali lipat, yaitu empat unta.

Muhammad setuju untuk berdagang di Suriah atas nama Khadijah dan salah seorang budak Khadijah, Maisroh dikirim bersamanya.

Diluar dugaan, Muhammadsaw sukses besar dalam perniagaanya di Suriah. Integritas dan kejujuran Muhammad membawa berkah sedemikian rupa sehingga beliau kembali dengan keuntungan empat kali lipat dari keuntungan biasanya.

Menikah Dengan Rasulullah

Setelah Muhammad kembali dari Suriah dengan membawa keuntung besar, Maisaroh melaporkan kepada Khadijah tentang integritas dan kejujuran Muhammad.

Selain itu, Khadijah menerima kabar gembira dari pertemuan dengan seorang pendeta Kristen bernama Rahib Nastur, kepercayaan dan rasa hormatnya terhadap Muhammad terus meningkat.

Terkesan dengan kepribadian Muhammad yang jujur dan berintegritas, Khadijah kemudian mengirim teman dan orang kepercayaannya, Nafisa. Ia diutus untuk menyampaikan pesan Khadijah tentang pernikahan kepada Muhammad.

Muhammad dengan senang hati menerima tawaran pernikahan itu. Karena ayah Khadijah telah terbunuh dalam pertempuran Fajar, proses pernikahan diawasi oleh Abu Thalib dan paman Khadijah, Umro.

Sepupu Khadijah, Warqah bin Naufal, menyatakan kesediaannya untuk menerima nikah atas nama Khadijah dengan jumlah 400 dinar.

Beberapa hadits menyebutkan bahwa maskawin dari Nabi Muhammadsaw adalah dua puluh unta dan 12 ons perak.

Nabi Muhammad berumur dua puluh lima tahun, sedangkan Khadijah saat itu berumur empat puluh tahun. Terlepas dari perbedaan usia yang signifikan, pernikahan itu terbukti sangat sukses.

Baca juga: Ummul Mu’minin Ummu Salamah, Teladan Dalam Cinta Dan Kesetiaan

Mendukung Dan Yang Pertama Beriman

Setelah Nabi Muhammadsaw menerima wahyu pertama di gua Hira, beliaupulang ke rumahnya dengan rasa takut dan penuh kecemasan.

Sesampainya di rumah beliausaw meminta istrinya untuk menutupinya dengan selimut. Beliausaw menceritakan kepada Khadijahrah apa yang dialaminya di gua Hira.

Pada saat yang genting itu, Khadijahrha memberi suaminya keberanian dan penghiburan; dengan wataknya yang mulia dan berbudi luhur, beliau memberi dukungan kepada Rasulullahsaw, katanya:

“Hidup dan wujudmu tidak akan pernah mengalami ketakutan atau bahaya apa pun. Sebagai gantinya, kabar gembira tentang pesan mulia dan agung datang kepada Anda. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan Anda karena Anda memperlakukan kerabat Anda dengan baik, Anda mengatakan kebenaran, Anda meringankan beban orang lain, Anda menawarkan mereka keramahtamahan dan membantu mereka yang tertimpa bencana dan yang membutuhkan. Apa yang bisa ditakuti seorang pria yang memiliki sifat saleh seperti itu? ”

Selain kata-kata yang meyakinkan itu, beliau juga membawa Rasulullahsaw ke hadapan  sepupunya Warqah bin Naufal, seorang Kristen yang fasih dalam bahasa Ibrani, dan yang memiliki pengetahuan luas tentang Taurat dan Injil.

Khadijah berbicara kepada sepupunya dan memintanya untuk mendengarkan apa yang dikatakan Nabisaw. Setelah mendengarkan Nabi Muhammadsaw, Warqah bin Naufal berkata:

“Ini adalah malaikat yang sama yang dikirim ke Musa. Sayang! Saya berharap saya masih muda dan sehat di usia ini, ketika kaum engkau akan mengusir Anda dari tanah ini. “

Rasulullahsaw bertanya dengan heran, “Apakah umatku akan mengusir orang seperti aku?” Warqah berkata, “Memang! Selalu begitu di masa lalu.” (HR. Bukhari)

Khadijah Meraih Hadiah Surga Dari Allah

Dalam satu peristiwa, diriwayatkan bahwa Khadijah berangkat menuju bagian utara Makkah dengan tujuan mencari Nabi Muhammadsaw. Dalam perjalanan itu, malaikat Jibril dengan berwujud seorang manusia muncul di hadapannya dan bertanya tentang Nabisaw.

Khadijahrah menjadi cemas karena seorang pria tak dikenal bertanya tentang suaminya. Setelah bertemu Nabisaw, beliau menceritakan pertemuan dengan orang itu, Rasulullahsaw menjawab:

“Itu adalah Jibril dan ia berkata untuk memberikan Salam kepadamu. Dia membawakan kabar gembira tentang tempat peristirahatan di surga bagimu, tempat di mana tidak akan ada keletihan, keributan, maupun desakan. ”

Keterangan lain menceritakan bahwa Jibril berkata, “Salam kepada Khadijah dari Tuhannya.”[9] Keindahan responsnya terhadap kata-kata ini menjadi saksi kebijaksanaan dan kecerdasannya. Beliau menjawab:

“Allah Yang Mahakuasa adalah ‘Salam’ dan Salam juga kepada Jibril.” (Al-Tabrani Al Kabir, Vol.23, hal.25)

Kabar gembira tentang tempat tinggal Khadijah di Surga merupakan penghormatan penting bagi karakternya. Beliau terus memberikan dorongan dan dukungan kepada Nabisaw. Beliau juga melakukan tugas secara pribadi untuk memenuhi setiap kebutuhan Nabi, meskipun berasal dari keluarga kaya yang bisa memberinya pelayan.

Allah telah menentukan sebuah rumah kaca dari mutiara dan permata untuk Khadijahrah, sebuah rumah yang mencerminkan hatinya yang murni dan tulus. Beliau memenuhi rumahnya dengan damai dan menjadikannya surga bagi Nabisaw selama masa hidupnya. Allahswt mengirimkan kabar gembira tentang tempat tinggalnya yang abadi di surga.

Baca juga: Biografi Nabi Muhammad, Nabi Paling Mulia Dan Pembawa Syariat Terakhir

Kecintaan Dan Penghargaan Rasulullah Kepada Khadijah

Abdul-Aas. Saat perang Badar, Abdul-Aas suami dari putri Nabisaw, Zainabrha yang saat itu belum beriman ditangkap bersama dengan kaum kufar Makkah.

Pada saat itu, Zainab masih tinggal di Makkah. Sebagai ganti kebebasan suaminya, beliau menawarkan kalung yang diberikan ibudanya, Khadijahrha pada saat pernikahannya. Setelah melihat kalung itu Rasulullahsaw langsung mengenalinya, itu milik Khadijahrha, istri yang sangat dicintai dan dimuliakannya itu.

Melihat kalung itu Rasulullahsaw tidak kuasa menahan air matanya, beliau menangis, beliau mengingat akan kebaikan pemilik kalung itu.

Sungguh pun begitu, beliausaw tetap berkonsultasi dengan para Sahabatnya tentang pemberian kebebasan kepada Abdul-Aas tanpa pembayaran. Tentu saja para sahabat menyetujuinya, sebenarnya tanpa meminta persetujuan mereka pun Rasulullahsaw bisa melakukannya.

Kalung itu dikembalikan kepada Zainab, dan tetap menjadi kenangan akan ibunya yang mulia, Khadijahrha.

Abdul-Aas dibebaskan dengan syarat bahwa sekembalinya ke Makkah, ia akan mengatur perjalanan yang aman bagi istrinya, Zainabrha ke Madinah.

Abdul-Aas, terbukti jujur dan setia pada kata-katanya; sekembalinya ke Makkah, sesuai janjinya, ia mengatur agar Zainab diberangkatkan ke Madinah. Nabisaw tidak pernah melupakan perbuatan baik yang dilakukan oleh menantunya itu.

Beliausaw biasa berkata, “Abu-ul-Aas adalah orang yang benar karena dia memenuhi janji yang dia buat padaku.” Kebenaran inilah yang memungkinkan Abu-ul-Aas untuk menerima Islam pada akhirnya.

Ditingal Wafat Putra-putranya

Allah memberkati Khadijah dengan anak-anak dari Rasulullahsaw – empat putra, Qasim, Tahir, Tayyab dan Abdullah, dan empat putri, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kulsum dan Fatimah Az-Zahrah.

Semua anak laki-laki yang dilahirkan oleh Khadijahrha meninggal selama masa hidupnya. Mengikuti teladan suci Nabi Muhammadsaw, beliaurha juga menanggung dengan sangat sabar cobaan dan kesulitan kehilangan putra-putranya. Qasim belum disapih ketika ia meninggal, namun Khadijah menunjukkan contoh besar kesabaran. Hanya sekali dia berkata kepada Rasulullahsaw:

“Wahai Nabi Allah! Hari-hari menyusui Qasim belum berakhir. Andai saja Allah mengizinkannya beberapa hari lagi, ia akan menyelesaikan masa menyusuinya selama dua tahun. Bukankah itu luar biasa dan kita akan menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak kita.”

Nabi Muhammadsaw menjawab, “Dia akan menyelesaikan hari-hari menyusui di surga.” Khadijahrha menjawab, “Jika itu bisa dipercaya, itu akan meringankan kesedihan yang saya tanggung untuk Qasim.”

Nabi Muhammadsaw bersabda: “Jika engkau mau, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia membiarkan engkau mendengar suara Qasim sehingga engkau percaya bahwa ia memang akan menyelesaikan hari-hari yang menyusuinya di surga. Dengan demikian engkau akan merasa yakin. ”

Khadijahrha dengan sigap menjawab, “Ya Nabi Allah! Saya percaya apa yang dikatakan Allah dan utusan-Nya dan menerimanya sebagai kebenaran.” (Sunan Ibni Majah Kitabul Janaa’iz bab ma jaa fisalaati al-ibni rasulillah)

Menanggung Cobaan-cobaan Berat

Setelah menerima Islam, Khadijahrha menghadapi cobaan dan kesulitan sehubungan dengan putusnya pernikahan putri-putri beliaurha.

Ruqayyahrha bersuamikan Utbah dan Ummu Kulsumrha dengan Utaibah, keduanya adalah putra dari paman Rasulullahsaw, Abu Lahab, tokoh Quraisy yang sangat membenci Rasulullahsaw dan Islam.

Setelah mendakwakan kenabian, tumbuh pertentangan di Makkah, selama waktu itu orang Quraisy menghasut Utbah dan Utaibah untuk menceraikan putri-putri Nabi Muhammadsaw. Akibatnya, kedua pernikahan mereka dibubarkan.

Khadijahrha menanggung rasa sakit putrinya dengan ketabahan yang besar. Tidak ada kata ketidaksabaran atau ketidaksenangan melintasi bibirnya. Reaksi Khadijah terhadap cobaan-cobaan semacam itu memberikan kesaksian atas kesabarannya dan betapa besar imannya.

Kekuatan iman dan keyakinannya memungkinkannya untuk menanggung kesulitan yang meningkat bersama Nabi Muhammadsaw dengan ketabahan yang luar biasa.

Dari tanggal 7 Nabawi, Khadijahrha menghabiskan tiga tahun dalam kondisi yang sangat sulit dengan Rasulullahsaw, karena mereka dikepung dan diboikot di Syib Abi Talib.

Meskipun Khadijahrha berasal dari keluarga bangsawan dan kaya, beliau memilih untuk menanggung kesedihan dan rasa sakit untuk tujuan Allah dan Rasul-Nya. Dia memilih jalan yang benar dan tetap bersama Nabi Muhammadsaw sampai hari kematiannya.

Kesaksian Aisyahrha

Rasulullahsaw sangat menghormati kebaikan Khadijahrha. Aisyahrha menceritakan bahwa setiap kali seekor hewan akan disembelih, Nabisaw akan menyebut semua teman Khadijah dan bersabda:

“Kirim sebagian ke rumah itu, karena dia sangat mencintai Khadijah. Kirim sebagian ke rumah itu, karena dia adalah teman Khadijah.”

Aisyahrha mengatakan bahwa beliau pernah menanyakan alasannya, yang dijawab oleh Nabisaw, “Mereka yang sangat mencintai Khadijah juga menyayangi aku.” (Al-Tabarani Al-Kabir , Vol.23, hal.13)

Aisyahrha menceritakan bahwa suatu kali seorang wanita tua datang ke rumah Nabisaw. Nabisaw bertanya kepadanya, “Anda siapa?” Ia berkata, “Saya dari keluarga kabilah Muzina.”

Setelah itu, setiap kali dia datang berkunjung, Nabisaw akan memuliakannya dan mengungkapkan kebahagiaan atas kunjungannya. Beliausaw akan bertanya, “Bagaimana kabarmu? Bagaimana semuanya? Bagaimana kabarmu sejak terakhir kali kita bertemu? “

Aisyahrha mengatakan bahwa beliau pernah bertanya kepada Nabisaw, “Wahai Nabi Allah! Mengapa Anda memberikan perhatian dan penghormatan yang besar pada wanita tua ini? ”

Nabisaw menjawab: “Wanita tua ini biasa datang ke rumah kami di masa Khadijah, dan kesetiaan juga merupakan bagian dari iman. Melalui wanita tua ini, aku mengenang waktu yang aku habiskan bersama Khadijah.” (Al Mustadrak lil-Hakim, Vol.1, hal.15)

Aisyahrha menceritakan bahwa Khadijahrha wafat tiga tahun sebelum pernikahannya. Setiap kali, sebelum meninggalkan rumah, Nabi Muhammadsaw akan mengenang dengan penuh kasih tentang Khadijahrha:

Akhir Kehidupan

Ummul Mu’minin Khadijah Binti Khuwailid telah hidup mendampingi Rasulullahsaw selama 24 tahun. Beliau mengalami sakit-sakitaan dan terus melemah akibat lama menahan rasa lapar pada masa pemboikotan yang dialukan oleh kaum Quraisy Makkah selama 3 tahun.

Akhirnya Khadijahrha pun wafat di bukit Hujun, dalam usia 64 tahun 6 bulan, tiga tahun sebelum peristiwa hijrah ke Madinah. Beliau kemudian dimakamkan di pemakaman dekat Makkah. Tahun kewafatannya kemudian dikenal sebagai Amul Huzni (Tahun Dukacita).

Kewafatanya menyebabkan kesedihan yang sangat mendalam dialami oleh Rasulullahsaw, karena beliausaw telah kehilangan seorang pendukung dan mitra hidupnya yang paling utama.

Pada saat kematiannya, upacara pemakaman dilaksanakan dengan sangat sederhana namun khidmat. Rasulullahsaw sendiri yang turun ke kuburannya.

Rasulullahsaw sangat memuji karakter Khadijah, beliausaw bersabda, “Khadijah lebih baik di atas semua wanita lain.” (Musnad Ahmad, Vol.1, hal.293)

Rasulullahsaw bersabda, “Ia percaya kepadaku ketika seluruh dunia menolak aku dan ia membuktikan kebenaranku ketika seluruh dunia menuduh aku melakukan kebohongan. Ia menawari aku belas kasih dan kesetiaan dengan kekayaannya ketika semua orang telah meninggalkan aku.” (Musnad Ahmad , Vol.6, hal.117)

Rasulullahsaw juga bersabda, “Dari semua wanita di Firdaus, yang paling mulia adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah Zahra (Putri Rasulullahsaw), Mariam binti Imran dan Asiya (istri Piraun). ” (Musnad Ahmad, Vol.1, hal.293, 316)

Demikianlah riwayat singkat tentang seorang wanita mulia, Ummul Mu’mini Khadijah binti Khuwailidrah yang mengabdikan hidupnya untuk melayani dan mendukung suaminya, Rasulullahsaw, sehingga beliau meraih kemuliaan dan derajat yang tinggi.

Sumber:

Baca juga: Duka Yang Sangat Dalam Dirasakan Kaum Muslimin Saat Wafatnya Rasulullah


0 Komentar

Tinggalkan Balasan