Ummul Mu’minin Aisyah Binti Abu Bakar, Paling Disayangi Rasulullah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

aisyah-bewaramulia

Seorang wanita mulia lagi cerdas, selama hidupnya dipenuhi oleh limpahan berkat dan karunia, putri Abu Bakar As-Siddikra dan pendamping setia Rasulullahsaw, itulah Ummul Mum’minin Aisyah radiallahu anha.

Seperti apa perjalanan hidup Ummul Mu’minin Aisyahrha selama mendampingi Rasulullahsaw dan juga setelah kewafatan beliausaw, berikut ini kisah singkatnya:

Latar Belakang

Ummul Mu’minin Aisyahrha adalah putri dari Abdullah bin Abu Quhafah atau yang lebih dikenal sebagai Abu Bakarra, hasil dari pernikahan dengan isteri keduanya yaitu Ummi Ruman Zainab binti Amir atau Ummu Abdullah yang telah melahirkan Abdur Rahman dan Aisyah.

 “Aisyah” secara bahasa arti “Hidup dan Sehat”. Hidupnya adalah bukti sikap progresif Islam terhadap perempuan. Beliaurha seorang tokoh terkemuka yang menantang stereotip dan tabu masyarakat.

Sayyidah Aisyahrha merupakan bukti bahwa wanita memiliki hak egaliter dalam Islam. Hidupnya memastikan bahwa Islam tidak membeda-bedakan jenis kelamin, juga tidak mengamanatkan marginalisasi perempuan.

Beliau seorang istri, cendekiawan dan pemikir tercerahkan; beliau seorang wanita yang cerdas yang menunjukkan kualitas moral yang patut dicontoh dan menjadi salah satu orang paling berpengaruh dalam sejarah Islam.

Baca juga: Ummul Mu’minin Khadijah Binti Khuwailid, Yang Paling Mulia Diantara Para Pendamping Nabi

Pertunangan Yang Batal

Sayyidah Aisyah dari sejak dini telah dijodohkan dengan Jubair bin Mu’tim  putra dari Mu’tim bin Adi.

Karena dirasa sudah cukup umurnya, Abu Bakarra kemudian menanyakan  Mu’tim perihal perjodohan putrinya dengan Jubair. Namun ternyata keluarga Mu’tim membatalkan perjodohan itu.

Adapun alasan dari pembatalan perjodohan itu dikarenakan Abu Bakar telah masuk Islam.

Orang tua Jubair tidak mau keluarganya mempunyai hubungan dengan kaum muslimin, mereka takut Jubair masuk Islam.

Dengan batalnya perjodohan tersebut, maka Aisyahrha bebas dan tidak memiliki ikatan pertunangan dengan siapapun.

Menikah Dengan Rasulullah

Setelah wafat Khadijahrha, Nabisaw sibuk dalam menjalankan misinya dan tidak mengejar untuk menikahi siapa pun untuk sementara waktu.

Namun, Rasulullahsaw bermimpi bahwa seorang malaikat telah memberikan sesuatu kepadanya yang dibungkus dengan sutra. Dia diberitahu bahwa itu adalah istrinya dalam kehidupan ini dan di akhirat. Ketika Rasulullahsaw membuka penutup sutra itu, beliau melihat Aisyahrha. Rasulullahsaw kemudian menceritakan mimipi itu kepada Aisyah setelah mereka menikah.

رأيتُك في المنام ثلاث ليال ، جاء بك الملك في سرقة من حرير، فيقول : هذه امرأتك فأكشف عن وجهك فإذا أنت فيه، فأقول : إن يك هذا من عند الله يُمضه

“Aku melihatmu (Aisyah) dalam mimpiku selama tiga malam. Malaikat datang membawamu dengan mengenakan pakaian sutra putih. Malaikat itu berkata, ‘Ini adalah istrimu’. Lalu kusingkapkan penutup wajahmu, ternyata itu adalah dirimu. Aku bergumam, ‘Seandainya mimpi ini datangnya dari Allah, pasti Dia akan menjadikannya nyata.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemudian, datanglah Khaulah binti Hakimrah mengusulkan kepada Rasulullahsaw agar beliau kembali menikah. Khaulah menawarkan nama Aisyah, Rasulullahsaw setuju dengan usulan itu.

Beliausaw pun kemudian meminta Khaulah menyampaikan pesan kepada Abu Bakar mengenai usulannya itu.

Pihak keluarga Aisyah pun akhirnya menyetujui keinginan Rasulullahsaw. pernikahan antara Rasulullahsaw dengan Sayyidah Aisharha kemudian dilaksanakan, meskipun beliau berdua baru tingga bersama setelah beberapa tahun kemudian.

Salah satu hikmah dari pernikahan Rasulullahsaw dengan Aisyahrha adalah menghapus anggapan orang-orang terdahulu yang menjadi norma yang berlaku di antara mereka yaitu ketika seseorang sudah bersahabat dekat, maka status mereka layaknya saudara kandung dan berlaku hukum-hukum saudara kandung.

Ketika Rasulullah hendak menikahi Aisyah, Abu Bakar sempat mempertanyakannya, karena ia merasa apakah yang demikian dihalalkan.

عن عروة أن النبي صلى الله عليه وسلم خطب عائشة إلى أبي بكر فقال له أبو بكر: إنما أنا أخوك، فقال: أنت أخي في دين الله وكتابه وهي لي حلال.

Dari Aurah, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada Abu Bakar untuk melamar Aisyah. Lalu Abu Bakar berkata, ‘Sesungguhnya aku ini saudaramu’. Nabi menjawab, ‘Iya, engkau saudaraku dalam agama Allah dan Kitab-Nya dan ia (anak perempuanmu) itu halal bagiku’.” (HR. Bukhari).

Rasulullah hendak memutus kesalahpahaman ini dan mengajarkan hukum yang benar yang berlaku hingga hari kiamat kelak.

Baca juga: Ummul Mu’minin Ummu Salamah, Teladan Dalam Cinta Dan Kesetiaan

Usia Sayyidah Aisyah Saat Menikah

Usia Sayyidah Aisyahrha saat menikah dengan Rasulullahsaw telah menjadi topik perdebatan yang kontroversial. Hanya ada satu hadits yang diriwayatkan oleh Hisyam yang menunjukkan bahwa Aisyahrha berusia sembilan tahun.

تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ ، وبنى بي وأنا بنت تسع سنين

“Nabisaw menikahiku ketika aku berusia 6 tahun. Dan beliau kumpul bersamaku ketika aku berusia 9 tahun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pertama, tidak ada bukti bahwa Nabisaw  yang menyatakan hal ini, juga tidak ada wahyu mengenai hal ini, juga tidak didukung oleh riwayat  yang mutawatir (diriwayatkan oleh banyak perawi) bahwa beliau jelas berusia sembilan tahun. Itu hanya diambil dari satu perawi. (Sumber dari Nur-ul-Quran, No. 2, Ruhani Khazain, Vol. 9, hlm. 377-378)

Peneliti modern telah memperdebatkan kebenaran dari Hadits itu dan menyimpulkan bahwa beliaurha jauh lebih berumur saat menikah dengan Rasulullahsaw.

Selain itu, diriwayatkan oleh Anasra bahwa dalam Pertempuran Uhud, Aisharha dan Ummu Salamahrha bertugas membawa air dan merawat yang terluka. Sementara itu Nabisaw secara khusus melarang anak laki-laki atau perempuan ambil bagian dalam pertempuran.

Pertempuran Uhud terjadi pada 3 H, dan Aisyahrha mengucapkan selamat tinggal pada rumah orangtuanya di tahun kedua Hijrah. Jika dianggap bahwa beliau baru berusia 11 tahun di Pertempuran Uhud, itu tidak sesuai dengan perintah Nabisaw.

Faktanya adalah, Nabisaw tidak menikahi Aisyahrha karena nafsu birahi atau nafsu duniawi seperti yang dituduhkan oleh orang-orang orientalis.

Rasulullahsaw melihat pada diri Aisyahrha potensi yang besar, beliaurha akan menjadi seorang sarjana agama masa depan yang, karena usianya yang masih muda, akan menerima kesempatan yang lebih lama untuk mendidik dan melatih pria dan wanita Muslim. Dan hal itu menjadi kenyataan, Aisyahrha menjadi salah satu tokoh Islam awalin yang paling produktif di masanya.

Sayyidah Aisyah Sebagai Sumber Berkah

Tempat tinggalnya adalah rumah harta karun. Nabisaw biasa mengatakan bahwa di antara semua istrinya, hanya di kediamannya beliau menerima wahyu. ( Sahih Bukhari , Hadis no. 3775)

Persatuan mereka adalah hasil dari dari wahyu ilahi dan para malaikat turun ke atasnya dan menyampaikan salam mereka kepadanya.

Sahabat Abu Salamahra meriwayatkan, Nabisaw bersabda kepada Aisyahrha: “Aisyah, Jibril menyampaikan salamnya kepadamu” dimana beliau membalas salamnya. (Sahih Bukhari, Hadis no. 3217)

Suatu ketika Aisharha kehilangan kalungnya dan pasukan Muslim harus berkemah di tempat yang tidak ada air. Saat ini, Allah Ta’ala memberikan keringanan kepada umat Islam untuk tayammum. Hadhrat Uzair bin Huzairra memberitahunya:

“Setiap kali Anda menghadapi kesulitan, Allah membawa Anda keluar dari itu dan membawa berkah bagi umat Islam.” ( Sahih Bukhari, Hadis no. 3773)

Menemani Rasulullah Hingga Akhir Hayat

Keistimewaan yang dimiliki Ummul Mu’minin Aisyahrha dibandingkan dengan istri-istri Nabi yang lain adalah bahwa Nabisaw menghabiskan hari-hari dan jam-jam terakhirnya di rumah beliaurha. Para istri Rasulullahsaw yang lain sepakat bahwa dengan mempertimbangkan penyakitnya, adalah yang terbaik bagi Rasulullahsaw untuk menjalani sisa hari-harinya di rumah Aisyahrha.

Kata-kata terakhirnya adalah, “Allah, Sahabat yang Paling Mulia” ketika kepalanya bersandar di dada istri tercintanya, Sayyidah Aisyahrha. ( Sahih Bukhari, Hadis no. 4463)

Baca juga: Duka Yang Sangat Dalam Dirasakan Kaum Muslimin Saat Wafatnya Rasulullah

Sumber Pengetahuan

Setelah Rasulullahsaw wafat, Aisyahrha memainkan peran penting dalam menyampaikan pengetahuan yang beliau peroleh dari Rasulullahsaw. Beliau menyampaikan lebih dari 2.200 hadits, yang hari ini membentuk tradisi hukum Islam.

Sayyidah Aisyahrha adalah salah satu tokoh paling menarik dalam arus utama sejarah intelektual Islam. Beliau membantu para sahabat Nabisaw dalam menyelesaikan masalah yang rumit dan Nabisaw memerintahkan kaum Muslimin untuk belajar pengetahuan agama dari beliaurha.

Keponakannya, Urwa bin Zubairra membuktikan pengetahuannya dengan kata-kata berikut: “Aku belum pernah bertemu orang yang pengetahuannya melebihi Aisyah. Ia adalah orang yang paling terpelajar di masanya dalam Quran, dasar-dasar agama, fiqh, puisi, kedokteran, sejarah Arab dan silsilah. “

Para ahli percaya bahwa seperempat dari yurisprudensi Islam didasarkan pada akunnya. Begitulah pengetahuannya, yang diteruskannya ke dunia Muslim.

Sesudah wafatnya Rasulullah SAW, di Madinah dan Makkah marak bermunculan majelis-majelis keilmuan. Ada yang diselenggarakan para sahabat dari kalangan pria, semisal Abu Hurairah, Ibnu Abbas, atau Zaid bin Tsabit. Bagaimanapun, majelis ilmu yang bisa dibilang paling besar ialah yang diadakan Siti ‘Aisyah RA. Bahkan, dialah yang menjadi poros utama dalam transmisi keilmuan Islam pada fase sahabat dan tabiin.

Akhir Kehidupan

Ummul Mu’minin Sayyidah Aisyahrha wafat di Madinah pada 17 Ramadhan 58 H atau 16 Juli 678 Masehi. Aisyah wafat pada usia 66 tahun (riwayat lain menyebut usia 85 tahun).

Sesuai dengan keinginannya, beliau kemudian dimakamkan di Jannat-ul-Baqi bersama para istri Nabisaw lainnya. Sahabat nabi, Abu Hurairahra memimpin pemakamannya.

Penutup

Amr bin Al ‘Asra menceritakan: “Aku datang ke hadapan Nabisaw dan bertanya, ‘Siapa yang paling Anda sayangi?’ Beliau menjawab, ‘Aisyah.’ “Dan siapa di antara laki-laki?” Saya bertanya. Beliau menjawab, ‘Ayahnya.'(Abu Bakar As-Siddiqra).” ( Sahih Bukhari, Hadits no. 3662)

Rasulullahsaw juga pernah bersabda, “Orang yang mulia dari kalangan laki-laki banyak, tetapi yang mulia dari kalangan perempuan hanyalah Maryam binti Imran; dan Asiyah (istri Fir’aun). Dan keutamaan Aisyah atas semua wanita seperti keutamaan tsarid atas segala makanan” (HR Bukhari).

Ummul Mu’minin Aisyahrha sebagai seorang wanita terpelajar, yang tanpa lelah meriwayatkan hadits tentang kehidupan Rasulullahsaw.

Beliau merupakan salah seorang dari cendekiawan Islam awal di mana para sejarawan menghitung sampai seperempat dari Hukum Islam berasal dari Aisyahrha. Beliaurha adalah istri Rasulullahsaw yang menonjol dan menjadi teladan bagi jutaan wanita.

Sumber:

  • The Age of Hazrat A’ishahra at the Time of Her Marriage to the Holy Prophet Muhammadsaw, Reviewofreligions.org
  • Hazrat Aisha bint Abi Bakr r.a. Awais Rabbani, Alhakm.org

Baca juga: Biografi Nabi Muhammad, Nabi Paling Mulia Dan Pembawa Syariat Terakhir


0 Komentar

Tinggalkan Balasan