Ummul Masakin – Ibu Orang-orang Miskin Zainab Binti Khuzaimah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

zainab-binti-khuzaimah-bewaramulia

Zainab binti Khuzaimah radiallahu anha adalah istri kelima Rasulullahsaw yang terkenal karena suka memberi dan menolong orang-orang miskin yang dilakukan bahkan sebelum masuk Islam, karenai itu beliau dijuluki Ummul Masakin – ibu orang-orang miskin.

Awal Kehidupan Zainab binti Khuzaimah

Nama lengkap Zainab adalah Zainab binti Khuzaimah bin Haris bin Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah al-Hilaliyah. Beliau berasal dari Banu Hilal.

Berdasarkan asal usul keturunannya, beliaurha termasuk keluarga yang dihormati dan disegani. Tanggal lahirnya tidak diketahui dengan pasti, namun ada riwayat yang rnenyebutkan bahwa beliau lahir sebelum tahun ketiga belas kenabian.

Zainab binti Khuzaimahrha termasuk kelompok orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan wanita.

Yang mendorongnya masuk Islam adalah akal dan pikirannya yang baik, menolak syirik dan penyembahan berhala, dan selalu menjauhkan diri dari perbuatan jahiliah.

Baca juga: Hafsah Binti Umar, Sang Penjaga Al Quran

Lahir dari Seorang Ibu yang Mulia

Ibunda beliau bernama Hindun binti Auf bin Harits bin Hamathah dikenal sebagai “ibu mertua yang paling mulia di bumi”. Ini disebabkan oleh fakta bahwa beliau adalah ibu dari beberapa sahabat Nabisaw. Lima putri Hindun binti Auf menikah dengan sahabat-sahabat ternama.

Setelah Zainabrha wafat, saudara tiri dan putri Hind binti Auf, Hazrat Maimunah ra juga menikah dengan Nabi saw. Jadi, dua putri Hind termasuk di antara Ummahatul Muminin yaitu para ibu orang beriman.

Salah satu putrinya, Hazrat Lubaba ra binti Al-Haris menikah dengan Abbas bin Abdul Mutalibra, paman Nabi. Putra mereka termasuk seorang sahabat Nabisaw, Abdullah bin Abbasra.

Hind juga ibu dari Asma binti Umais. Hazrat Asmarha menikah dengan Jafar bin Abi Thalibra setelah Jafar wafat, Asma kemudian menikah dengan Abu Bakar ra dan memiliki seorang putra, yaitu Muhammad bin Abu Bakarra. Kemudian, beliau juga menikah dengan Ali bin Abi Thalibra.

Putri lainnya, Salma binti Umaisrha menikah dengan Hamza bin Abdul Mutalib, paman Nabisaw dan salah satu syuahda paling terkemuka dalam sejarah Islam. Mereka memiliki seorang putri bernama Umamara yang juga merupakan sahabat Nabisaw.

Lubaba al-Sughrha juga salah satu putri Hind dan ibu dari salah satu komandan terbesar dalam sejarah Islam, Khalid bin Walidra.

Jadi, Hindun binti Auf bukan hanya ibu mertua Nabisaw, beliau juga nenek dari Ibnu Abbasra, Khalid bin Walidra, Muhammad bin Abu Bakarra dan Umamara juag beberapa sahabat Nabisaw lainnya, karena itu mendapatkan gelar “ibu mertua yang paling mulai di bumi.”

Begitulah keluarga terhormat dan mulia dari Hadhrat Zainab binti Khuzaimahrha berasal.

Baca juga: Ummul Mu’minin Saudah bint Zam’ah, Pendamping Rasulullah Yang Paling Banyak Bersedekah

Pernikahan Zainab Binti Khuzaimah

Para perawi berbeda pendapat tentang nama-nama suami pertama dan kedua sebelum beliau menikah dengan Rasulullahsaw. Sebagian perawi mengatakan bahwa suami pertama Zainab binti Khuzaimahrha adalah Thufail bin Harits bin Abdil-Muththalib, yang kemudian menceraikannya.

Kemudian suami kedua beliau adalah Abdullah bin Jahsy. Ada juga keterangan yang menyebutkan bahawa suami kedua beliau adalah Ubaidah bin Harits (saudara laki-laki Thufail).

Ubaidah bin Harits adalah salah seorang prajurit penunggang kuda yang paling perkasa setelah Hamzah bin Abdul Muthalib dan Ali bin Abi Thalib. Mereka bertiga ikut melawan orang-orang Quraisy dalam Perang Badar, dan akhirnya Ubaidah syahid dalam perang tersebut.

Mirza Bashir Ahmad dalam bukunya, The Life and Character of the Seal of Prophets menyebutkan:

“Nabisaw memiliki sepupu dari pihak ayah yang bernama Abdullah bin Jahsy, dan beliau menjadi syahid dalam pertempuran Uhud, meninggalkan istrinya Zainab binti Khuzaimahrha tanpa dukungan.”

Baca juga: Ummul Mu’minin Ummu Salamah, Teladan Dalam Cinta Dan Kesetiaan

Dinikahi Rasulullah

Nabisaw, yang merupakan model perlakuan baik yang tak tertandingi terhadap kerabat dekat, mengirim lamaran kepada Zainab binti Khuzaimahrha sendiri dan atas persetujuannya, membawanya ke dalam ikatan perkawinan. Saat itu, Zainabrha berusia sekitar 30 tahun, kurang lebih.”

Rasulullahsaw menikahi Zainab binti Khuzaimahrha karena beliausaw ingin melindungi dan meringankan beban kehidupan yang dialaminya. Hati dia menjadi luluh melihat Zainab hidup menjanda, sementara sejak kecil beliau sudah dikenal lemah lembut terhadap orang- orang miskin.

Sebagai Rasul yang membawa rahmat bagi alam semesta, beliausaw rela mendahulukan kepentingan kaum muslimin, termasuk kepentingan Zainab. Nabisaw memohon kepada Allah agar hidup miskin dan mati dalam keadaan miskin dan dikumpulkan di Padang Mahsyar bersama orang-orang miskin.

Ath-Thabary, dalam kitab As-Samthus-Samin fi Manaqibi Ummahatil Mu’minin menerangkan bahwa Rasulullahsaw menikahinya sebelum beliausaw menikah dengan Maimunah binti al-Haritsrha.

Sayangnya beberapa bulan setelah menikah, Ummul Mu’minin Zainab binti Khuzaimah  meninggal. Selain Hadhrat Khadijahrha, beliau adalah satu-satunya istri Nabi yang wafat selama beliausaw masih hidup.

Diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyahrha bahwa Nabisaw menubuatkan tentang istri-istri beliausaw: “Di antara kamu, dia akan menemuiku lebih dulu di akhirat yang tangannya paling panjang.” ( Sahih al-Bukhari, Hadits 1420)

Tangan yang panjang adalah simbol dari melakukan amal. Meskipun beliau meninggal selama masa hidup Nabisaw, beberapa orang telah menunjukkan bahwa hadits ini mungkin telah terpenuhi dalam dirinya. Hal itu telah banyak diperdebatkan dan banyak yang setuju bahwa hadits itu untuk Hadhrat Zainab binti Jahasyrha, istri Nabisaw yang meninggal pertama setelah Nabisaw wafat.

Ibu Orang-orang Miskin

Sebelum masuk Islam, Ummul Mu’minin Zainab binti Khuzaimahrha sudah dikenal sebagai Ummul Masakin (ibu orang-orang beriman) karena kemurahan hati dan simpatinya kepada yang membutuhkan.

Dalam banyak kesempatan, Alquran dan hadits telah menekankan pada perlakuan penuh kasih kepada yang membutuhkan. Faktanya, perintah yang berkaitan dengan orang lemah dan miskin telah dikaitkan dengan orang tua dan kerabat yang menandakan pentingnya mereka di mata Islam seperti yang dinyatakan Alquran dalam ayat 84 Surah al-Baqarah:

“Dan berbuatlah kebaikan terhadap ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin.”

Nabisaw juga memberikan perhatian khusus kepada orang miskin dan kurang beruntung di masyarakat. Bahkan, dia berdoa kepada Tuhan semoga dia dibangkitkan di antara orang miskin. Abu Said Al Khudrira dilaporkan pernah berkata:

“Cintailah orang miskin, karena aku mendengar Rasulullahsaw dalam permohonannya berkata, ‘Ya Allah, buat aku hidup miskin dan menyebabkan aku mati miskin, dan mengumpulkanku di antara orang miskin (pada Hari Kebangkitan).’” (Ibnu Majah, Hadits 4264)

Sayyidah Zainab binti Khuzaimahrha terkenal karena kemurahan hati yang tidak ada tandingannya dalam memberi dan menolong orang lain. Suatu kali, beliau didatangi oleh seorang pria miskin yang meminta makanan di rumah beliau. beliau pun memberikan potongan terakhirnya, sementara beliau sendiri malam itu tidak makan.

Rasululahsaw tergerak dan memberi tahu para istri beliau yang lain dan para sahabat tentang isyarat tersebut, dengan menyatakan:

“Jika Anda memiliki keyakinan penuh kepada Allah, yang berhak untuk-Nya, Dia akan menyediakan rezeki Anda seperti yang dilakukan-Nya untuk burung-burung; mereka meninggalkan sarang mereka dalam keadaan lapar di pagi hari tetapi kembali kenyang di malam hari.” (Tirmidzi, Hadits 2344)

Selain dikenal sebagai wanita yang belas kasih, Zainabrha juga dikenal sebagai istri Rasulullahsaw yang senang meringankan beban saudara-saudaranya.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Atha bin Yasir yang mengisahkan, bahwa Zainab mempunyai seorang budak hitam dari Habasyah. Beliau sangat menyayangi budak itu, beliau memperlakukannya seperti kerabat dekatnya sendiri.

Dalam salah satu haditsnya, Rasulullahsaw pernah menyatakan pujian kepada Ummul Mukminin Zainab binti Khuzaimahrha dengan sabdanya, Ia benar-benar menjadi ibunda bagi orang-orang miskin, karena selalu memberikan makan dan bersedekah kepada mereka.

Baca juga: Duka Yang Sangat Dalam Dirasakan Kaum Muslimin Saat Wafatnya Rasulullah

Akhir Kehidupan Zainab binti Khuzaimah

Tidak diketahui dengan pasti penyebab wafatnya Zainab binti Khuzaimahrha yang jelas beliau wafat beberapa bulan setelah menikah dengan Rasulullahsaw, diusia beliau sekitar 30 tahun.

Beliau wafat pada bulan Rabiul Awwal tahun 4 hijriyah atau 626 Masehi. Dia adalah istri Rasulullah Saw kedua yang wafat setelah Khadijah r.a.

Untuk memuliakan dan mengagungkannya, Rasulullahsaw mengurus mayat Zainab dengan tangan dia sendiri.

Karena semasa hidup Sayyidah Khadijahrha, bentuk sholat Janaza saat ini belum ditentukan, Sayyidah Zainab binti Khuzaimahrha mendapat kehormatan menjadi satu-satunya istri yang shalat pemakamannya dipimpin oleh Rasulullahsaw sendiri.

Ummul Mu’mini Zainab binti Khuzaimahrha kemudian dimakamkan di Jannatul Baqi, Madinah.

Baca juga: Pernikahan Rasulullah dengan Zainab Binti Jashy, Janda Putra Angkat Beliau


0 Komentar

Tinggalkan Balasan