Ummu Habibah Ramlah Binti Abu Sufyan, Sangat Memuliakan Rasulullah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

Ummu Habibah Ramlah radiallahu anha adalah putri Abu Sufyan, termasuk orang yang pertama bai’at dan ikut hijrah ke Habsyah, begitu besar ujian dan perjuangan beliau dalam mempertahankan keimanannya, kemudian dinikahi oleh Rasulullahsaw.

Awal Kehidupan Ramlah

Ramlah binti Abu Sufyan, dalam lain riwayat beliau disebut juga sebagai Hindun. Beliau lahir di Makkah, terdapat perbedaan mengenai kapan beliau dilahirkan, diperkirakan sekitar tahun 35 Sebelum H/589 M. Beliau dilahirkan 25 tahun sebelum hijrah atau kurang lebih 17 tahun sebelum bi’tsah (kenabian).

Beliau kemudian dikenal sebagai Ummu Habibah karena beliau memiliki seorang putri bernama Habibah, karenanya mendapat julukan Ummu Habibah (ibu dari Habibah).

Ramlah adalah putri dari kepala suku Quraisy yang terkenal, Shakhr bin Harb bin Umayyah yang dikenal sebagai Abu Sufyan bin Harb.

Sementara itu ibunda beliau, Shafiyyah binti Abi al-‘Ash. Shafiyyah adalah bibi dari Khalifah Utsman bin Affanra.

Termasuk Yang Pertama Beriman

Setelah dewasa Ramlah binti Abu Sufyan kemudian menikah dengan Ubaydillah bin Jahsy, pemuda bangsawan Quraisy yang tekun mempelajari ajaran Nabi Isasaw dan selalu menyertai Waraqah bin Naufal, seorang pendeta nasrani.

Kemudian pada saat Rasulullahsaw mendakwakan diri sebagai utusan Allah Ta’ala maka Ubaydillah menyambut seruan beliausaw dan menyatakan keimanannya. Ramlah pun mengikuti jejak suaminya, memeluk Islam.

Saat Ramlah sedang mengandung, Rasulullah menyerukan kaum Muslimin untuk hijrah ke Habasyah (Absenia, Etiopia saat ini). Maka berangkatlah Ramlah dan suaminya menuju Habasyah. Sehingga beliau termasuk wanita pertama yang hijrah ke Habasyah.

Ramlah binti Abu Sufyan melahirkan Habibah di Habasyah. Karena itulah beliau kemudian dikenal sebagai Ummu Habibah.

Sayangnya suami beliau, Ubayidillah bin Jahsy ketika di Habsyah keluar dari Islam dan memeluk agama Nasrani hingga ia wafat di sana.

Sementara itu Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan tetap teguh dalam keimanannya, meskipun menghadapi cobana yang berat, ditinggalkan suami sementara beliau telah memiliki anak dan jauh dari kampung halaman.

Baca juga: Juwairiyah Binti Harits Tekun Beribadah Dan Mematuhi Perintah Rasulullah

Menikah Dengan Rasulullah

Nasib malang yang dialami oleh Ummu Habibah diketahui oleh Rasulullahsaw. Maka demi untuk tujuan melindungi dan menyelamatkan umatnya yang tidak memiliki pelindung itu, beliausaw kemudian mengirimkan lamaran kepada Ummu Habiba Ramlah binti Abu Sufyanrha.  

Satu tujuan mulia lainnya adalah Rasulullahsaw ingin menghilangkan permusuhan kaum Quraisy terhadap Rasulullahsaw dan kaum Muslimin. Karena itu beliausaw memutuskan untuk menikahi Ramlahrha karena beliau adalah putri pempimpin besar kaum Qurayis, Abu Sufyan.

Pernikahan itu terjadi sekitar tahun ketujuh Hijriyah. Ummu Habibah Ramlah binti Abu sufyan saat itu tinggal di Habsyah sedangkan Rasulullahsaw di Madinah. Pernikahan itu terjadi di Abyssinia.

Setelah kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Khaibar, rombongan muhajirin dari Habasyah hijrah ke Madinah, mereka mengikuti junjungan mereka, baginda Nabisaw.

Termasuk juga Ummul Mu’minin Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyanrha bersama putrinya ikut hijrah ke Madinah dan masuk kedalam rumah tangga Rasulullahsaw.

Baca juga: Ummul Masakin – Ibu Orang-orang Miskin Zainab Binti Khuzaimah

Menjadi Teladan Dan Sumber Pengetahuan

Ummul Mu’minin Ramlah binti Abu Sufyanrha telah beriman kepada Rasulullahsaw sejak di Madinah, berhasil melewati berbagia cobaan berat hingga akhirnya beliau dinikahi oleh Rasulullahsaw

Setelah beliau menikah dengan Rasulullahsaw, beliau mengabdikan hidupnya untuk melayani Rasulullahsaw

Karena kecerdasannya beliau dapat menyerap pengetahuan-pengetahuan penting dari Rasulullahsaw. Beliaurha meriwayatkan sekitar 65 hadits dari Rasulullahsaw.

Ummu Habibahrha membimbing dan mengajari kaum wanita hal-hal penting dalam Islam. Misalnya, diceritakan dalam catatan Humaid bin Nafi bahwa Zainab binti Abu Salama berkata:

“Saya pergi kepada Ummu Habibah, istri Nabi, ketika ayahnya, Abu Sufyan bin Harb meninggal. Beliau meminta parfum yang mengandung aroma kuning atau aroma lain, dan pertama-tama beliau mengharumkan salah satu gadis dengan itu dan kemudian mengusap pipinya dengan itu dan berkata, ‘Demi Allah, aku tidak membutuhkan parfum, tetapi aku telah mendengar Utusan Allah berkata,

لاَ يَحِلُّ لاِمْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَنْ تُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ ، إِلاَّ عَلَى زَوْجٍ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

“Tidak halal bagi seorang wanita yang percaya kepada Allah dan Hari Akhir untuk meratapi orang mati selama lebih dari tiga hari kecuali dia adalah suaminya, untuk siapa dia harus berduka selama empat bulan dan sepuluh hari.” (Sahih al-Bukhari , Hadits 5334)

Baca juga: Hafsah Binti Umar, Sang Penjaga Al Quran

Kesalehan Ummu Habibah

Nabi saw benar-benar telah mempersembahkan seluruh hidupnya untuk kepenting Agama (baca Islam) dan demi mencari ridha Allah Ta’ala. Beliausaw mengharapkan hal yang sama dari semua istri-istrinya.

Tak perlu dikatakan bahwa semua ibu umat beriman akan berdoa dengan sungguh-sungguh di hadapan Tuhan untuk keberhasilan misi yang telah dibawa oleh Nabi saw dan juga memberi mereka keberanian untuk tetap teguh.

Hadhrat Ummu Habibahrha memegang posisi unik di antara mereka. Beliaurha sangat mematuhi perintah dan ajaran Rasulullahsaw,  misalnya, Beliaurha menceritakan:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ

“Sebuah rumah akan dibangun di surga bagi siapa saja yang shalat dalam siang dan malam dua belas rakaat.”

Beliaurha menambahkan, “Saya tidak pernah meninggalkannya sejak saya mendengarnya dari Rasulullahsaw. (Sahih Muslim , Hadits 728)

Beberapa tahun setelah berkumpul dengan Ummu Habibahrha, Rasulullahsaw wafat. Sepeninggal Rasulullah, beliaurha benar-benar menyibukkan diri dengan beribadah dan berbuat kebaikan. Beliaurha berpegang teguh pada ajaran dan nasihat Rasulullahsaw.

Baca juga: Ummul Mu’minin Saudah bint Zam’ah, Pendamping Rasulullah Yang Paling Banyak Bersedekah

Memuliakan Nabi Lebih Dari Siapapun

Terlepas dari permusuhan ayahnya, Abu Sufyan terhadap Islam, saatitu belum beriman, Nabisaw selalu memerintahkan kepada Ummu Habibahrha untuk bersikap baik dan tetap menghormati ayahnya itu.

Namun, suatu ketika, ketika Abu Sufyan mengunjungi Ummu Habibah di rumahnya di Madinah, saat Abu Sufyan akan duduk, Ummu Habibah segera melipat alas duduknya, Beliaurha tidak mau alas duduk itu digunakan oleh Abu Sufyan, ayahnya sendiri.

Kenapa Ummu Habiab berlaku demikian terhadap ayahnya sendiri? Beliau menyatakan bahwa alas duduk itu adalah tempat duduk Rasulullahsaw.

Beliau tidak terima orang yang selalu memusui Baginda Nabisaw meskipun itu ayahnya sendiri untuk duduk di tempat duduk Rasulullahsaw.

Selain itu, Ummu Habibah sadar bahwa tingkat kesucian dan kebersihan yang ditetapkan Islam bagi seorang mukmin dan dijaga oleh Nabisaw tidak akan diperhatikan oleh ayahnya.

Bagaimanapun, pengabdian dan cinta yang beliau miliki untuk Nabisaw tidak ada bandingannya. Tentu saja hal ini terjadi pada semua istri Nabisaw.

Nabisaw akan menunjukkan kasih sayang dan perhatian yang sedemikian besar kepada mereka sehingga mereka semua akan menganggap diri mereka yang paling diistimewakan.

Baca juga: Ummul Mu’minin Aisyah Binti Abu Bakar, Paling Disayangi Rasulullah

Menyayangi Saudaranya

Islam sangat menekankan pada menjaga hubungan baik dengan kerabat. Ummu Habibah juga memperhatikan ikatan ini dan memperlakukannya sebagai mana mestinya.

Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad dalam bukunya Muhammad: The Great Exemplar menyebutkan sebuah peristiwa yang terjadi pada Ummu Habibahrha tentang kasih sayangnya kepada saudaranya. Muawiyahra.

Pada suatu hari, Nabisaw memasuki kamar istri beliau, Ummu Habibahrha dan melihatnya dalam pelukan lembut dengan adik laki-lakinya, Muawiyahra yang kelak menjadi seorang penguasa Islam yang hebat.

Alih-alih tidak senang, Nabisaw tergerak oleh tampilan cinta antara saudara ini. Beliausaw duduk di sampingnya dan bertanya apakah Ummu Habibah mencintai Muawiyahra .

Tentu saja Ummu Habibah mencintainya. Kemudian Rasulullahsaw bersabda: “Jika kamu mencintainya, maka aku juga mencintainya.”

Betapa bahagianya Ummu Habibah atas kata-kata ini dan saat melihat Nabisaw memandang saudaranya, bukan sebagai orang asing tetapi beliausaw melihatnya dengan penuh kasih sayang, yang dengannya beliausaw menyayangi orang-orang yang Ummu Habiabh Ramlah binti Abu Sufyanrha sayangi.

Kewafatan Ummu Habibah

Ummul Mu’mini Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan hidup hingga masa pemerintaha adik beliau, Amir Muawiyahra.

Beliau wafat sekitar tahun 44 H/664 M, pada usia sekitar 74 tahun dan dimakamkan di Jannatul Baqi, Madinah.

Baca juga: Ummul Mu’minin Khadijah Binti Khuwailid, Yang Paling Mulia Diantara Para Pendamping Nabi


0 Komentar

Tinggalkan Balasan