Talhah bin Ubaidullah Tangannya Buntung Karena Melindungi Rasulullah di Perang Uhud

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

Talhah bin Ubaidullah radhiyAllahu ‘anhu seorang Sahabat Nabi yang baiat dimasa awal. Beliau dikena sebagai orang kaya yang dermawan. Dalam Perang Uhud, beliau setia melindungi Rasulullah saw sehingga tangan beliau terluka parah hingga cacat. 

Biografi Talhah bin Ubaidullah

Talhah Bin Ubaidullah biasa dipanggil Abu Muhammad. Beliau dari kalangan Anshar, berasal dari kabilah Banu Taim Bin Murrah. Ayahanda beliau bernama Ubaidullah Bin Utsman dan Ibunda beliau bernama Sha’bah, putri Abdullah Bin Imad al-Hadhrami.

Ubaidullah, Ayah beliau tidak mendapati zaman Islam namun ibunda beliau berumur panjang, sementara ibunda beliau beriman kepada Rasulullah yang baiat sebelum Hijrah.

Silsilah mata rantai leluhur Talhah Bin Ubaidullah dan Rasulullah saw bertemu pada generasi ketujuh yang bernama Murrah Bin Ka’b [yang juga menurunkan Kilab, ayah Qushay].

Sementara itu, pertemuan jalur kakek moyang dengan Abu Bakr ialah pada generasi urutan yang keempat [yaitu bertemu pada Amru bin Ka’b bin Sa’d bin Taim].

Baca juga: Haram bin Milhan: 1 dari 70 Sahabat Nabi yang Disyahidkan di Bir Maunah

Baiatnya Talhah bin Ubaidullah

Yazid Bin Ruman meriwayatkan: “Suatu ketika Usman bin Affan, Talhah bin Ubaidullah keduanya berangkat di belakang Zubair bin Awwam dan hadir di hadapan Rasulullah saw. Beliau saw menyampaikan pesan Islam kepada mereka berdua, memperdengarkan Al-Qur’an dan menjelaskan kepada mereka perihal hak-hak dan kewajiban-kewajiban dalam Islam. Rasul juga menjanjikan kepada mereka berdua kemuliaan yang akan didapatkan dari Allah Ta’ala. Keduanya lalu baiat dan membenarkan Rasulullah saw.”

Talhah Bin Ubaidullah sendiri meriwayatkan: “Pada suatu ketika saya tengah berada di pasar Boshra” (atau Bushra, sebuah kota besar di negeri Syam). Ada seorang Rahib di tempat ibadah Yahudi mengatakan, ‘Wahai para pedagang, adakah di antara tuan-tuan yang berasal dari kota Makkah?’ “Ya, saya penduduk Makkah,” sahut saya (Talhah). “Sudah munculkah orang di antara kalian orang bernama Ahmad?” tanyanya. “Ahmad yang mana?” 

Pendeta itu berkata: “Ia putra Abdullah bin Abdul Muthalib. Bulan ini pasti muncul sebagai Nabi terakhir. Kelak ia akan hijrah dari negerimu ke negeri berbatu-batu hitam yang banyak pohon kurmanya. Negeri itu subur makmur, memancarkan air dan garam. Sebaiknya engkau segera menemuinya dan jangan mengabaikannya, wahai anak muda!” sambung pendeta itu.

Ucapan pendeta itu begitu membekas di hati beliau hingga tanpa menghiraukan kafilah dagang di pasar beliau langsung pulang ke Mekkah. Setibanya di Makkah, beliau langsung bertanya kepada keluarganya, “Ada peristiwa apa sepeninggalku?”

Keluarganya menjawab, “Ada Muhammad bin Abdullah Al-Amin mendakwakan dirinya Nabi. Ibnu Abu Qahafah (panggilan untuk Abu Bakar) telah mempercayai dan mengikuti apa yang dikatakannya,” jawab mereka.

Setelah itu Talhah langsung mencari Abu Bakr dan bertanya, “Benarkah Muhammad bin Abdullah telah menjadi Nabi dan engkau mengikutinya?” Abu Bakr berkata, ‘Betul. Kamu pun silahkan jumpai beliau dan berimanlah karena beliau menyeru pada kebenaran.”

Talhah ganti bercerita tentang pertemuannya dengan seorang Rahib di Boshra. Abu Bakr lalu ia mengajak Talhah untuk menemui Rasulullah saw. Talhah baiat masuk Islam dan menceritakan apa yang dikatakan oleh pendeta tadi. Mendengar itu Rasulullah saw merasa bahagia. (At-Thabaqah Al-Kubra, karya Muhammad ibnu Sa’d).

Ketika Naufal bin Khuwailid Al-Adawiyah penentang Nabi mengetahui Talhah masuk Islam, dengan segera dia mengambil tali dan mengikat Talhah dan Abu Bakr dalam satu ikatan. Keduanya dijuluki Qarinain (dua orang yang bersahabat).

Saudara Thalhah yang bernama Utsman Bin Ubaidullah termasuk diantara yang mengikat. Mereka diikat supaya tidak dapat pergi menemui Rasulullah dan juga supaya keluar dari Islam.

Di dalam riwayat Al-Baihaqi disebutkan pula Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam berdoa, “Ya Allah, lindungilah mereka dari kejahatan Naufal al-Adawiyah.” 

Ketika Talhah dan Zubair menerima Islam, Rasulullah saw menjalinkan persaudaraan antara keduanya. Ketika umat Islam hijrah ke Madinah, Rasulullah saw menjalinkan persaudaraan antara Talhah dengan Abu Ayyub Anshari.

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Rasulullah saw menjalinkan persaudaraan antara Talhah dengan Sa’id Bin Zaid. Berdasarkan riwayat lainnya lagi ialah dengan Ubay Bin Kaab.

Baca juga: Abbad bin Bishr: Sahabat Nabi yang Sangat Istiqomah Tahajjud

Penghidmatan dalam Islam

Talhah Bin Ubaidullah tidak ikut Perang Badar namun Rasulullah saw menetapkan beliau ahli Badar dan mendapat bagian harta ghanimah-rampasan perangnya.

Sebab beliau tidak ikut Perang Badar karena Rasulullah saw menugaskan Talhah Bin Ubaidullah dan Said Bin Zaid untuk tujuan mencari informasi berkenaan dengan kafilah Quraisy dari Syam.

Ketika mereka kembali ke Madinah untuk melapor, Rasulullah saw dan pasukan Islam telah berangkat menuju medan tempur. Oleh karena itu keduanya ditetapkan ikut serta pada perang Badar. 

Talhah bin Ubaidullah ikut serta pada Perang Uhud dan seluruh peperangan lainnya. Begitu pun beliau ikut serta pada saat Perjanjian Hudaibiyah.

Beliau termasuk 8 orang yang paling pertama menerima Islam, juga termasuk 5 orang yang menerima Islam dengan perantaraan Abu Bakr, termasuk 10 orang yang diberi kabar suka ketika hidupnya bahwa mereka calon ahli surga dan salah seorang yang diridhai oleh Rasulullah ketika wafatnya. Beliau juga termasuk salah satu anggota komite syura yang dibentuk oleh Khalifah Umar ra.

Ali ra meriwayatkan, “Dua telinga saya sendiri mendengar Rasulullah saw bersabda ‘Talhah dan Zubair akan menjadi dua tetangga saya di surga.’” 

Jabir Bin Abdullah meriwayatkan Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang ingin melihat seorang syahid yang berjalan di muka bumi, maka lihatlah Talhah bin Ubaidullah.”  

Baca juga: Usamah bin Zaid: Sahabat yang Sangat Dicintai Nabi

Talhah pada Perang Uhud

Perang Uhud terjadi pada tanggal 7 Syawal 3 H atau 22 Maret 625 M. Terjadi kurang lebih setahun lebih seminggu setelah Perang Badr. Disebut Perang Uhud karena terjadi di dekat bukit Uhud yang terletak 4 mil dari Masjid Nabawi dan mempunyai ketinggian 1000 kaki dari permukaan tanah dengan panjang 5 mil.

Pasukan Islam berjumlah 700 orang sedangkan pasukan kafir Qurayis berjumlah 3.000 orang. Rasulullah saw menempatkan 50 pemanah di bukit Ainain, yang dipimpin oleh Abdullah bin Zubair ra. Rasulullah sw memerintahkan pasukan pemanah itu menyerang musuh dengan anak panah mereka, dan apapun yang terjadi mereka tidak boleh meninggalkan pos mereka.

Ketika paruh pertama peperangan nampak dimenangkan oleh pasukan Islam, pasukan musuh berlarian menyelamatkan diri. Melihat kemenangan itu pasukan Islam yang ada di atas bukit Ainain sebagian besar mereka turun dan bergabung dengan pasukan yang tempur yang ada di bawah.

Melihat banyak pasukan dari pihak Islam yang meninggalkan pos di atas bukit, Khalid bin Walid yang saat itu memimpin pasukan kafir memerintahkan pasukannya yang tersisa untuk berbalik kembali dan menyerang pasukan Islam.

Pos di atas bukit direbut oleh mereka dan pasukan Islam yang tersisa di sana dibunuh, termasuk Hamzah ra, paman Rasulullah saw.

Serangan yang tiba-tiba dari arah belakang itu membuat pasukan Islam terdesak dan cerai berai.

Sekelompok kecil pasukan Islam membuat formasi lingkaran di sekeliling Rasulullah saw. Salah satunya adalah Talha bin Ubaidullah. Seluruhnya tak lebih dan dua puluh orang. Lasykar Mekkah menggempur lingkaran itu dengan ganasnya. Satu demi satu orang-orang Muslim dalam lingkaran itu rebah karena tebasan pedang para prajurit Mekkah.

Sementara itu dari atas bukit para pemanah musuh melepaskan panah-panah mereka. Mereka mengincar wajah suci Rasulullah saw, mengetahu hal itu Talha segera mengangkat tanganya untuk melindungi wajah Rasulullah saw. Anak panah satu demi satu menghantam tangan  Talha, beliau sama sekali tidak bersuara apalagi menggeser tangannya.

Baca juga: Shuhaib bin Sinan: Sahabat Nabi yang Meninggalkan Harta demi Hijrah

Tangannya Buntung

Akibat tusukan anak panah yang bertubi-tubi, tangan Talhah menjadi hancur dan terpotong. Beliau kehilangan tangan seumur hidupnya, beliau menjadi orang buntung.

Lama sesudah Perang Uhud sahabat-sahabat beliau bertanya kepadanya, “Apakah tanganmu tidak sakit saat jadi sasaran panah-panah itu dan sakitnya tidak menyebabkan engkau memekik?” Talha menjawab, “Sangat pedih dan hampir membuat aku menjerit, tetapi aku tahan, sebab aku tahu bahwa apabila tanganku bergerak sedikit, wajah Rasulullah ssa akan menjadi bulan-bulanan panah musuh.”

Kemudian di zaman Khalifah ke empat, Ali bin Abi Thalib, ketika keretakan di dalam tubuh Islam mulai tampak, Talha diejek oleh seorang musuh dengan menyebutnya Talha si Buntung.

Sahabat Talhah menjawab, “Buntung, memang, tetapi tahukah kamu di mana ia kehilangan tangannya? Di dalam Perang Uhud, saat ia mengangkat tangannya memerisai wajah Rasulullah saw dari panah-panah musuh.”

Malik Bin Zuhair (dari pihak musuh) melontarkan panah ke arah Rasulullah, Talhah melindungi wajah Rasulullah dengan tangannya. Anak panah mengenai kelingking beliau yang menyebabkan kelumpuhan. Ketika panah mengenai jari tersebut, beliau mengeluarkan sedikit suara karena sakitnya. Rasul bersabda, “Seandainya ia mengucapkan bismillah, maka ia akan masuk surga dalam keadaan orang-orang tengah menyaksikannya.”

Riwayat lain berkenaan dengan kejadian serupa itu tertulis dalam as-Sirah al-Halbiyah bahwa Qais Bin Abu Hazim menuturkan, “Saya melihat keadaan tangan Talhah bin Ubaidullah pada saat perang Uhud yang kemudian lumpuh karena digunakan untuk melindungi wajah Rasulullah saw dari tembakan anak-anak panah.”

Aisyah dan Ummu Ishaq, keduanya putri Talhah meriwayatkan, “Pada perang Uhud ayah kami memperoleh 24 luka yang diantaranya luka yang terdapat pada kepala beliau, urat kaki juga terputus, jari beliau lumpuh dan luka-luka tubuh lainnya yang mengakibatkan beliau pingsan. Gigi bagian depan Nabi saw patah dan wajah beliau pun terluka. Nabi saw pun sempat pingsan. Talhah menaikkan Nabi saw ke atas punggungnya sambil meletakkan kaki kiri ke belakang, dengan tujuan supaya jika mendapati musuh dapat menghadapinya. Berkat sandaran tersebut Rasul dapat menaiki bukit.” (Tabaqatul Kubra) 

Baca juga: Sa’id bin Zaid: Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga

Diriwayatkan dari Qais Bin Abu Hazim, “Marwan Bin Hakam pada perang Jamal memanah lutut Talhah maka darah mengalir dari nadi beliau. Ketika beliau memegangnya dengan tangan maka darahnya berhenti, dan ketika dilepaskan mengalir kembali.

Talhah berkata, “Demi Allah! Setelah ini tidak akan pernah lagi mengalami anak-anak panah orang-orang tersebut.” Kemudian berkata, “Abaikanlah luka ini karena panah ini Allah Ta’ala Yang telah mengirimkannya.” 

Talhah bin Ubaidullah syahid pada perang Jamal, pada masa Khalifah Ali, pada tanggal 10 Jumadits Tsaani 36 Hijriah. Pada saat beliau berusia sekitar 62 atau 64 tahun.

Talhah bin Ubaidullah by Inspira Studio

0 Komentar

Tinggalkan Balasan