Tafsir Singkta Dan Isi Kandungan Surah Al Jatsiyah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-al-jatsiyah

Surah Al Jatsiyah adalah surah ke-45 setelah Surah Ad Dukhan, terdiri dari 38 ayat dan 4 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Al Jatsiyah yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Al Jatsiyah dan Hubungan dengan Surah-surah Lainnya

Seperti surah-surah lainnya dari kelompok Hā Mīm, Surah ini diturunkan di Makkah. Akan tetapi, tidak dapat ditetapkan secara pasti kapan turunnya.

Surah Al Jatsiyah dimulai dengan pernyataan bahwa seperti halnya hujan yang turun tepat pada waktunya memberi kehidupan baru kepada tanah yang mati, seperti itu pula seorang rasul Allah dibangkitkan ketika orang-orang telah rusak akhlaknya.

Karena akhlak manusia telah rusak binasa, Allahswt membangkitkan Nabi Muhammadsaw pada waktu tersebut untuk menghidupkan mereka kembali.

Tafsir Singkta Dan Isi Kandungan Surah Al Jatsiyah

Tafsir singkat dan beberapa isi kandungan Surah Al Jatsiyah:

Al Quran dan Tauhid Ilahi

Seperti halnya kelima surah sebelumnya, Surah Al Jatsiyah pun mulai dengan masalah wahyu Al Quran dan Tauhid Ilahi, yang merupakan pembahasan utamanya, dan mengemukakan kejadian manusia dan seluruh kehidupan hewani dan nabati (binatang dan tumbuh-tumbuhan) di atas bumi ini.

Turunnya hujan pada waktu yang tepat dari awan menghidupkan tanah yang telah mati, penciptaan ajaib alam semesta dan rencana dan penataan sempurna lagi lengkap yang meliputinya sebagai tanda-tanda agung untuk membuktikan adanya suatu Wujud yang tidak pernah keliru dan Mahakuasa di belakang semuanya itu.

Pemeliharaan Jasmani dan Rohani

Selanjutnya Surah Al Jatsiyah menyerukan kepada orang-orang kafir agar memperhatikan, bahwa betapa mungkin Wujud Maha Bijaksana yang telah menyediakan perlengkapan yang begitu ajaib untuk kehidupan manusia yang singkat dan bersifat sementara di atas bumi ini tidak dapat mengadakan perlengkapan serupa itu untuk kehidupannya yang kekal abadi.

Perlengkapan bagi pemeliharaan rohani manusia ini telah disediakan dalam wahyu yang turun kepada utusan-utusan Allah guna membimbing manusia untuk mencapai tujuan hidupnya yang agung itu.

Kemudian, Surah Al Jatsiyah ini mengatakan bahwa Allahswt tidak akan membiarkan pengaturan yang telah diselenggarakanNya untuk kehidupan-kembali akhlak dan rohani manusia terganggu; dan oleh karena itu, Dia tidak membiarkan berhasil seorang pembuat kedustaan. Cepat atau lambat sang penipu akan berdukacita.

Akan tetapi, tugas Rasulullahsaw ialah memeratakan kemajuan manusia. Ini merupakan bukti nyata mengenai kenyataan bahwa beliausaw bukanlah seorang pendusta melainkan seorang nabi Allah yang sejati.

Kemudian, Surah Al Jatsiyah memberikan sebuah dalil lagi untuk membuktikan kebenaran pengakuan Rasulullahsaw, yaitu, bahwa semua kekuatan alam sedang bekerja mendukung dan memperlancar perjuangan beliau. Oleh karena itu, perjuangan beliau pasti berhasil.

Nubuwatan Kedatangan Rasulullah dalam Alkitab

Lebih lanjut, Surah Al Jatsiyah menyebutkan tentang syariat Nabi Musaas yang disinggung secara ringkas dan dinyatakan bahwa Al Quran itu diturunkan sebab Kitab Taurat sudah tidak mampu lagi memenuhi keperluan rohani manusia.

Al Quran pun menggenapi nubuatan-nubuatan yang termaktub dalam kitab Taurat tentang kebangkitan seorang nabi dari antara saudara-saudara Bani Israil (Ulangan 18: 18).

Kitab Nabi Musaas mengandung banyak sekali nubuatan yang jelas tentang kedatangan Rasulullahsaw dan bahwa kaum Bani Israil mengingkari beliausaw bukan oleh adanya kekurangan adlil dan kekurangan tanda atau kekurangan nubuatan Ilahi yang membuktikan kebenaran da’wa beliausaw.

Melainkan disebabkan oleh “kedengkian di antara mereka” yakni, mereka sekali-kali tidak menyukai adanya seorang nabi akan daang dari antara kaum yang bukan Bani Israil.

Perhitungan Hari Akhir

Surah Al Jatsiyah lebih lanjut mengatakan kepada orang-orang kafir bahwa Allahswt telah menciptakan manusia untuk mencapai tujuan agung lagi mulia; oleh karena itu, suatu kehidupan yang lebih baik dan berkelimpahan dan tidak berakhir, menantikannya di akhirat. Hanya dengan jalan inilah dapat dibuktikan bahwa kejadian manusia itu memiliki arti.

Saat orang-orang kufur diberitahu bahwa mereka kelak harus menyerahkan pertanggungjawaban atas amal perbuatan mereka kepada hadirat Ilahi di akhirat, mereka menolak mempercayai, bahwa ada atau tidak ada seseuatu kehidupan semacam itu.

Kebalikannya malahan mereka menyangka bahwa suatu kaum mati dan kaum lain menggantikannya, dan peristiwa itu terus berlaku hingga dengan berlalunya masa segala zat menjadi lebur dan dengan demikian sama sekali menjadi binasa.

Inilah yang menjadi maksud dan tujuan akhir kejadian manusia dan tidak ada kehidupan di hari kemudian.

“Dan, engkau akan melihat tiap-tiap umat bertekuk lutut, tiap-tiap umat akan dipanggil kepada Kitabnya. Pada hari itu kamu akan dibalas atas apa yang telah kamu kerjakan.” (Surah Al jatsiyah, 45: 29)

Kata-kata “Tiap-tiap umat akan dipanggil kepada Kitabnya,” mengisyaratkan, bahwa “Saat” yang disinggung dalam ayat sebelumnnya berarti saat perhitungan bagi suatu kaum di dunia ini juga, sebab dalam kehidupan ini pun bangsa-bangsa diadili menurut amal-perbuatan mereka dan dihukum atau diganjar sesuai dengan itu.

Hari Perhitungan

Surah Al Jatsiyah berakhir dengan suatu gambaran singkat tetapi sangat jitu mengenai Hari Peradilan. Akan tetapi, sebelum hari itu tiba, orang-orang kafir harus memberikan penjelasan di alam ini juga, mengapa mereka mendurhakai dan menentang nabi-nabi Allah.

Mereka diperingatkan bahwa bila tidak bertobat dan mengubah cara hidup mereka, mereka akan dilaknat dengan dipaksa mengalami kehidupan yang berwarnakan kegagalan dan kekecewaan.

“Dan, dikatakan kepada mereka, ‘Pada hari ini Kami akan melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan pada harimu ini, dan tempat tinggalmu adalah Api, dan tidak ada bagimu penolong.’” (Surah Al Jatsiyah, 45: 36)

“Hal itu disebabkan kamu telah menjadikan Tanda-tanda Allah perolokan, dan kamu telah diperdayakan oleh kehidupan dunia ini, maka pada hari itu mereka tidak akan dikeluarkan darinya, dan tidak akan diterima alasan mereka.” (Surah Al Jatsiyah, 45: 37)

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan