Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Tha Ha

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-tha-ha

Surah Tha Ha adalah surah kedua puluh setelah Surah Maryam, terdiri dari 136 ayat dan 8 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Tha Ha yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Waktu Diturunkan dan Hubungannya dengan Surah Lainnya

Surah Tha Ha diturunkan di masa permulaan sekali, di Makkah. Itulah pendapat Abdullah bin Mas’udra, salah seorang dari sahabat Rasulullahsaw yang paling awal menerima Islam.

Surah Tha Ha lebih lanjut membahas kepercayaan dan ajaran-ajaran Kristen yang merupakan pokok pembahasan utama surah yang mendahuluinya.

Salah satu dari kepercayaan-kepercayaan dasar agama Kristen ialah bahwa hukum syariat itu laknat. Surah Tha Ha mulai dengan mengemukakan bantahan keras terhadap faham Kristen itu.

Hukum syariat, demikian dinyatakan oleh Surah Tha Ha ini, bukanlah merupakan laknat, melainkan secara positif merupakan karunia dan rahmat Ilahi yang besar, dan kebailikan dari menjadi beban dan rintangan, tujuannya ialah memberi penghiburan dan kepuasan rohani manusia.

Inilah salah satu tujuan pokok Al-Qur’an, yang dipenuhinya dengan sebaik-baiknya Rasulullahsaw dihibur dengan amanat, bahwa Tuhan telah menurunkan Al-Qur’an untuk meringankan beban-beban manusia dan bukan untuk menambah kesusahan-kesusahannya. Al-Qur’an memenuhi segala kepentingan dan keperluan yang utama bagi manusia.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Tha Ha

Kisah Nabi Musa

Surah Tha Ha mulai dengan memberitahukan kepada orang-orang Kristen, bahwa untuk mengerti dan menyelami kebenaran-kebenaran yang dikandung oleh Al Quran, mereka harus merenungkan keadaan-keadaan dan kondisi-kondisi yang harus dilalui oleh Nabi Musaas.

Dikemukakan, bahwa setelah perkembangan rohani beliau mencapai titik kesempurnaan, dan ternyata beliau sudah mampu menerima tanggung jawab sebagai seorang nabi, Nabi Musaas di perintahkan pergi menemui Fir‘aun dan menyampaikan kepadanya amanat Allah. Fir‘aun menampik, bersikap sombong, dan berusaha membunuh Nabi Musaas.

Kemudian Nabi Musaas diperintahkan oleh Allahswt untuk memimpin Bani Israil keluar dari Mesir dan membawa mereka ke Kanaan. Fir‘aun mengejar mereka dengan balatentaranya yang kuat, tetapi hukuman Allah menimpa dirinya dan ia mati tenggelam di laut, di hadapan mata Bani Israil sendiri.

Orang-orang Bani Israil telah lama tinggal dalam perbudakan di bawah kezaliman para Firaun yang melampaui batas perikemanusiaan; maka sebagai akibatnya, mereka telah kehilangan semua sifat kejantanan yang membuat seuatu bangsa menjadi ulet, berani, dan gagah perkasa.

Menurut rencana Ilahi, mereka ditakdirkan akan menaklukkan dan menguasai Kanaan. Sebab itu setelah Musaas membawa mereka keluar dari Mesir, mereka disuruh tinggal di daerah Sinai yang kering gersang, agar menjadi terbiasa dengan suatu kehidupan yang sukar di alam terbuaka, dan dengan demikian memperoleh serta mengembangkan sifat-sifat yang amat penting untuk menghadapi masa depan yang besar dinanti-nantikan mereka.

Tetapi karena lamanya tinggal di dalam perbudakan, mereka telah kehilangan segala prakarsa dan telah terbiasa hidup bermalas-malasan tanpa kemauan. Maka ketika mereka melihat, bahwa mereka harus tinggal di padang belantara di mana tidak ada kesenangan hidup yang tersedia, bahkan makanan pun kurang, sama sekali mereka berputus-asa, kesal, dan marah serta bertangkar mulut dengan Nabi Musaas.

Sesudah itu Nabi Musaas menaiki “Gunung” di mana hukum syariat di wahyukan kepada beliau.

Bani Israil tinggal di Mesir dalam perbudakan untuk masa yang panjang, dan dalam masa perbudakan itu mereka meniru banyak adat-istiadat cara hidup, dan upacara-upacara keagamaan orang-orang Mesir, para penguasa mereka, yaitu biasa menyembah sapi.

Dengan jalan ini, kaum Bani Israil berangsur-angsur memupuk sangat kecintaan terhadap sapi, dan ketika mereka ditinggalkan Nabi Musaas, orang Samiri mendapat peluang mengajak mereka itu menyembah sapi.

Anak sapi sebagai sembahan telah dicela dan dikutuk, sebab anak sapi tidak dapat berbicara kepada para penyembahnya. Faedah apakah dapat diperoleh dari tuhan yang tidak menjawab doa-doa para penyembahnya (21: 66 – 67) ? Tuhan semacam itu mati dan tak ubahnya seperti sebatang kayu mati belaka.

Perbendaan antara Tuhan Yang Hidup dengan tuhan yang mati ialah, bahwa Tuhan Yang Esa itu berbicara dengan para penyembah –Nya, dan mendengar permohonan-permohonan mereka, sedang yang satu lagi, tidak dapat berbuat demikian.

Allahswt adalah Tuhan yang sejati, tidak berhenti bicara dengan para penyembah-Nya. Dia masih berbicara dengan mereka seperti dahulu kala, dengan Adamas, Ibrahumas, Musaas, Isaas, dan Rasulullahsaw, dan akan terus menerus berbuat demikian sepanjang masa.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Kahfi

Syariat Agama Kristen

Surah Tha Ha kemudian mengemukakan kecaman halus kepada umat Kristen. Mereka diberitahu bahwa jikalau sebelum kebangkitan Nabi Isaas Bani Israil berpegang pada faham bahwa Tuhan itu Maha Esa, dan sesudah masa itupun dalam Al Quran diberikan tekanan khusus pada tauhid Ilahi dan pentingnya hukum syariat.

Maka betapa suatu ajaran yang menganggap hukum syariat sebagai laknat serta berpegang pada kemusyrikan dan mengajarkan faham demikian dapat muncul di antara dua agama yang sangat kuat berpegang pada tauhid itu.

Hukuman Bagi Bangsa-bangsa Kristen

Selanjutnya disebutkan mengenai hukuman Tuhan yang akan menimpa bangsa-bangsa Kristen oleh karena dosa-dosa dan keburukan keburukan mereka, setelah mereka menikmati kesejahteraan duniawi selama seribu tahun. Tiga abad terakhir masa itu akan ditandai oleh kemajuan yang merata dan kesejahteraan yang amat tinggi tarafnya. Hal itu akan membuat mereka bersikap mencemoohkan dan mengabaikan peringatan Tuhan, yaitu nasib malang yang amat dahsyat telah tersedia bagi mereka.

Surah Tha Ha ini menyatakan dengan tegas, bahwa hal itu pasti akan terjadi, dan bangsa-bangsa Kristen barat akan dihukum dengan siksaan yang mengerikan; gunung-gunung tinggi akan hancur demikian rupa sehingga akan nampak seperti debu yang bertebaran. Allahswt berfirman:

“Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai gunung-gunung. Maka katakanlah, ‘Tuhan-ku akan menghancurkannya berkeping-keping. Maka Dia akan meninggalkannya sebagai tanah datar yang gersang.’” (Surah Tha Ha, 20: 106-107)

Isyarat dalam kata al-jibal (gunung-gunung) di sini, ditujukan kepada bangsa-bangsa Kristen dari barat yang gagah perkasa itu. Nubuatan dalam ayat-ayat di atas bertalian dengan kehancuran mereka secara total. Kehancuran Barat telah mulai berjalan sejak beberapa lama. Dua perang dunia terakhir telah sangat melemahkannya.

Hal ini juga didukung oleh firman Allah, “Dan sesungguhnya akan Kami jadikan segala yang ada di atasnya menjadi  tanah rata yang tandus.” (QS Al Kahfi, 18: 9)

Ayat ini mengandung suatu khabar gaib, bahwa bangsa-bangsa Kristen dari Barat, sesudah memperoleh kekayaan, kekuatan, kekuasaan, dan sesudah mendapat penemuan-penemuan besar, akhirnya akan membuat bumi Allah ini penuh dengan kedosaan dan keburukan, seperti yang dituturkan oleh Bible sendiri.

Kemurkaan Allahswt akan bangkit, dan sesuai dengan nubuatan-nubuatan yang diucapkan oleh mulut para Nabi Allah di dalam Perjanjian Lama maupun di dalam Perjanjian Baru, Al Quran, dan hadist, bencana-bencana akan menimpa bumi secara meluas, serta segala kemajuan yang tadinya telah dicapai oleh mereka dan semua buah tangan mereka, gedung-gedung mereka yang tinggi megah, keindahan negeri mereka, serta segala kemuliaan, kemegahan, dan keagungan mereka sama sekali akan menjadi hancur berantakan.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Bani Israil

Keutamaan Al Quran

Kemudian dalam Surah Tha Ha ini diulang kembali pokok pembahasan yang mula-mula telah dibukakan pada awal Surah Tha Ha ini, ialah, bahwa Al Quran mudah dipahami, sebab telah di wahyukan dalam bahasa bangsa yang menjadi tujuan pertamanya.

Berbeda dengan kitab-kitab suci Kristen, Al Quran, pada umumnya, tidak berbicara dengan tamsil-tamsil dan kiasan-kiasan.

Sebab dengan memakai bahasa tamsilan dan kiasan, masalahnya jadi kacau serta kurang jelas. Tetapi, Al Quran menguraikan ajarannya dalam bahasa yang mudah dipahami. Pentingnya hukum syatiat dijelaskan dengan dalil-dalil yang kuat lagi tegas, dan syariat terbukti bukan laknat, melainkan merupakan karunia dan rahmat Tuhan yang besar.

Kisah Nabi Adam

Surah Tha Ha kemudian membicarakan mengenai terusirnya Adamas dari “faham penebusan dosa itu, disalahartikan atau dengan sengaja disalah tafsirkan serta diberi penjelasan yang salah oleh umat Kristen.

Hakikat yang sebenarnya ialah, kelahiran Adamas telah terjadi sesuai dengan rencana Tuhan yang telah ditentukan terlebih dahulu, dan rencana-rencana Tuhan tidak pernah meleset atau gagal dalam mencapai tujuannya.

Di mana menurut Bibel, Tuhan menjadikan Adamas “atas petanya” (Kejadian 1:27), dan kemudian terbujuk oleh Hawa, beliau terjerumus ke lembah dosa, maka Al Quran menyatakan, bahwa oleh karena telah dijadikan bagai cermin dan bayangan Tuhan, Adamas tidak mungkin melakukan dosa semacam itu; Al Quran menggambarkan, bahwa beliau hanya tergelincir dalam kesalahan kecil (ijtihad) tanpa disengaja, sebagaimana Allahswt berfirman:

“Dan, sesungguhnya telah Kami adakan perjanjian dengan Adam sebelum ini, tetapi ia telah lupa dan Kami tidak mendapatkan padanya tekad untuk berbuat dosa.” (QS Tha Ha, 20: 116)

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah An Nahl

Peringatan Keras Bagi Orang-orang Kafir

Surah Tha Ha berakhir dengan memberikan peringatan keras kepada orang-orang kafir, bahwa kepada mereka tidak akan diperlihatkan tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat yang tunduk kepada keinginan mereka sendiri; dan bila mereka masih gigih juga menolak amanat Allah meskipun telah melihat tanda-tanda samawi, maka mereka tentu akan dihukum, seperti telah dialami orang-orang kafir di masa rasul-rasul yang terdahulu.

“Katakanlah, ‘Setiap orang sedang menunggu, maka kamu tungguhlah, dan segara kamu akan mengetahui siapakah yang ada pada jalan yang lurus dan siapa yang mengikuti petunjuk.’” (QS Tha Ha, 20: 136)

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Hijr


0 Komentar

Tinggalkan Balasan