Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Sad

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-sad

Surah Sad adalah surah ke-38 setelah Surah Ash Shaffat, terdiri dari 89 ayat dan 6 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Shad yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Sad dan Hubungannya dengan Surah-surah Lain

Surah Sad diturunkan pada tahun-tahun permulaan masa kenabian, saat Rasulullahsaw di Makkah. Ibnu Abbas, mendukung pandangan itu sebagaimana diriwayatkan oleh Baihaqi dan Ibnu Mardawaih. Para ulama lainnya pun sepakat dengan beliau.

Dari segi isi dan pokok pembahasannya, Surah Sad mempunyai persamaan yang sangat erat dengan Surah Ash Shaffat, yang berakhir dengan pernyataan Ilahi yang bernadakan tantangan: pasukan-pasukan Tuhan akan menang dan hari itu akan merupakan hari naas bagi orang-orang ingkar, yaitu bila kelak azab Ilahi menimpa mereka.

Surah Sad dimulai dengan pernyataan yang sama tegasnya, bahwa orang-orang beriman akan memperoleh kekayaan, kekuasaan, dan kemuliaan, sedang orang-orang ingkar akan menjumpai kehinaan dan kebinasaan. Hal itu merupakan takdir Ilahi yang tak dapat diubah.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Sad

Huruf sad  dapat berarti, “Tuhan Yang Maha Benar berpegang pada kebenaran.” atau “Aku AllahYang Maha Benar berpegang pada kebenaran.”

Berikut ini tafsir  singkat dan beberapa isi kandungan Surah Sad:

Kejayaan dan Kemuliaan Orang-orang Beriman

Surah Sad dimulai dengan pernyataan tegas yang pada hakikatnya Allahswt bersumpah dengan Al Quran bahwa dengan mengamalkan ajaran Al Quran dan dengan menjadikannya peraturan hidup mereka, orang-orang mukmin akan mencapai kejayaan dan kemuliaan dan akan menduduki tempat sangat mulia di tengah masyarakat bangsa-bangsa yang gagah perkasa.

Allah Yang Maha Benar berpegang pada kebenaran, bersumpah dengan Al Quran bahwa dengan mengamalkan ajaran Al Quran dan menjadikannya peraturan hidup mereka.

Para pengikut Rasulullahsaw akan mencapai kemuliaan dan akan dapat menduduki tempat terhormat di antara masyarakat bangsa-bangsa besar, karena dzikir  berarti pula kemuliaan.

Selanjutnya Surah Sad mengatakan bahwa orang-orang kafir Makkah, bagaikan seekor burung beo, mengulangi teriakan-teriakan bahwa mereka tidak akan berhenti menyembah berhala-berhala mereka atas perintah seseorang yang hanyalah salah seorang dari antara mereka sendiri, yaitu Rasulullahsaw.

Orang-orang ingkar mengumpulkan segala sarana dan sumber daya mereka menentang Rasulullahsaw dan mereka melipatgandakannya sedapat mungkin, lalu menggunakannya melawan beliausaw.

“Mereka itu suatu lasykar golongan-golongan perserikatan yang akan  dikalahkan di sini.” (Surah Sad, 38: 12). Ayat ini mengandung nubuatan dan tantangan.

Tantangan itu ditujukan kepada kekuatan-kekuatan kejahatan supaya mengerahkan segala sumber daya mereka dan membentuk diri mereka menjadi suatu persekutuan yang kuat untuk menghentikan derap maju Islam.

Dan nubuatan itu ialah, bahwa seluruh kekuatan keingkaran itu akan dihancur-luluhkan, bila mereka berani menentang Islam. Nubuatan agaung ini telah menjadi sempurna kata demi kata dapam Pertempuran Khandak.

Sebagai jawaban atas pernyataan yang dungu itu, dikatakan kepada mereka, “Sejak kapankah mereka mulai membanggakan diri memiliki khazanah kemurahan dan kasih sayang Tuhan?”

Adalah hak mutlak Tuhan Sendiri bahwa Dia memilih siapapun yang dianggap-Nya layak untuk menyampaikan kehendak Tuhan kepada makhluk-Nya; dan bahwa sekarang Dia telah memilih Nabi Muhammadsaw untuk tujuan mulia itu.

Kejayaan Bani Israil

Sesudah membuat ramalan tegas, bahwa kekuatan-kekuatan keburukan akan menderita kekalahan dan kehinaan, dan para pendukung Tauhid Ilahi akan diberi kekuasaan, kekayaan, dan kehormatan, sebagai pengantar.

Surah Sad memberikan pelukisan agak terinci mengenai kejayaan dan kemakmuran besar yang telah diperoleh kaum Bani Israil di masa pemerintahan dua raja yang juga nabi mereka, yaitu Nabi Daudas dan Nabi Sulaimanas.

Surah Sad mengisyaratkan pula kepada persekongkolan-persekongkolan yang terjadi di zaman keemasan pemerintahan Nabi Daudas yang bertujuan untuk melemahkan kekuasaan dan pengaruh keduanya.

Dan mengisyaratkan kepada benih-benih kehancuran dan perpecahan yang telah tersebar di masa Nabi Sulaimanas, ketika orang-orang Bani Israil berkecimpung dalam kekayaan dan berada di puncak kemakmuran duniawi.

Nampak dari sejarah bahwa meskipun kekuasaan Bani Israil telah mencapai puncaknya selama masa Nabi Daudas dan Nabi Sulaimanas memegang kekuasaan namun para pengacau giat menimbulkan huru-hara dan perpecahan.

Tuduhan- tuduhan palsu ke alamat beliau-beliau dengan gencar dilancarkan dan disebarkan bahkan beberapa orang jahat pikiran berusaha membunuh Nabi Daudas.

Dua orang musuh beliau memanjat dinding kamar pribadi beliau dengan niat menyergap beliau, tetapi ketika mereka melihat beliau berada dalam keadaan siap-siaga dan menyadari bahwa rencana mereka telah gagal.

Mereka berusaha menenangkan Nabi Daudas dan berpura-pura hanya dua orang bersengketa dan telah datang meminta keputusan beliau dalam sengketa itu.

Tetapi Nabi Daudas mengerti benar akan niat jahat mereka, dan oleh karena itu wajarlah kalai beliau merasa takut terhadap mereka.

Kepada Rasulullahsaw dengan sendirinya diberitahukan bahwa musuh-musuh beliau pun karena terbakar rasa iri hati oleh kekuasaan beliau yang kian tumbuh akan membuat persekongkolan-persekongkolan untuk merenggut nyawa beliausaw.

Dan mereka berusaha mematahkan pohon Islam yang masih lemah di masa tunasnya itu; tetapi mereka gagal dalam melakukan rencana-rencana jahat mereka, dan Islam akan terus meraih kekuasaan dan kekuatan.

Tetapi, bila kaum Muslimin tidak berjaga-jaga dengan sebaik-baiknya, mereka akan menjumpai kenyataan yang akibatnya harus dipikul mereka, yaitu, pada masa memuncaknya kemegahan mereka sendiri, kekuatan-kekuatan kegelapan akan berusaha menggerogoti kesetiakawanan dan kemapanan Islam.

Nabi Ayub dan Nabi Ibrahim

Sesudah itu dengan ringkas disebutnya keadaan Nabi Ayubas yang terpaksa harus menderita cobaan-cobaan berat.

Tetapi masa kemalangan beliau yang bersifat sementara itu segera berlalu dan keadaan beliau menjadi pulih kembali, dan kerugian beliau pun mendapat ganti dua kali lipat.

Nabi Ayyubas diperintahkan mencambuk dan memacu binatang tunggangannya agar lekas sampai ke tempat aman.

Karena dalam perjalanan yang jauh dan melelahkan itu beliau menjadi sangat menderita haus dan letih, beliau terhibur oleh keterangan bahwa nun di hadapan beliau ada mata air dengan airnya tawar lagi sejuk, di sana beliau dapat melepaskan dahaga dan membasuh diri.

Disebabkan Nabi Ayyubas menderita sakit kulit, beliau diperintahkan Tuhan supaya mandi di suatu sumber air tertentu yang airnya mengandung mineral dan dapat menyembuhkan penyakit kulit beliau.

Sepertinya daerah yang dilalui oleh Nabi Ayyubas banyak sekali terdapat sumber-sumber dan mata-mata air.

Karena Nabi Ayyubas telah terpisah dari kaumnya disebabkan kelalaian mereka, setelah beliau bersatu kembali dengan mereka.

Tetapi, ketika beliau telah bersatu kembali dengan mereka, beliau diperintahkan oleh Allahswt supaya jangan memperlakukan mereka dengan kekerasan pada suasana gembira dan bersyukur, dan supaya memenuhi sumpah beliau dengan menempuh cara yang sedikit pun jangan menyebabkan mereka berdukacita.

Singgungan tentang Nabi Ayubas itu diikuti oleh isyarat sepintas lalu tentang Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, Nabi Yakub, Nabi Ismail, Alyasa’, dan Zulkifli alaihimus salam, dan ditambahkan, bahwa orang-orang baik yang meniru contoh-contoh mereka dan mengikuti jejak mereka, akan menerima karunia Tuhan yang tidak akan berkurang atau susut.

Utusan Allah

Surah Sad berakhir dengan keterangan bahwa bila manusia tersesat dari jalan lurus, dan mulai menyembah tuhan-tuhan palsu, maka seorang utusan Tuhan dibangkitkan di antara mereka untuk membawa mereka kembali menyembah satu-satunya Tuhan Yang Hakiki.

Anak-anak kegelapan berusaha meletakkan pelbagai halangan dan rintangan di jalan rasul itu dan menipu serta membohongi orang-orang supaya mereka itu jauh dari Tuhan. Tetapi, kebenaran mengatasi segala rintangan dan akhirnya mencapai kemenangan serta keunggulan.

“Tidaklah Al Quran  itu melainkan suatu peringatan untuk semesta alam. Dan sesungguhnya kamu pasti akan mengetahui beritanya sesudah suatu masa.” (Surah Sad, 38: 88-89).

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan