Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Muhammad

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-muhammad

Surah Muhammad adalah surah ke-47 setelah Surah Al Ahqaf, terdiri dari 39 ayat dan 4 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Muhammad yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Muhammad dan Hubungannya dengan Surah Sebelumnya

Surah Muhammad dikenal juga sebagai Qital (perang), sebab Surah Muhammad mempersembahkan bagian besar ayat-ayatnya untuk membahas masalah perang, penyebab-penyebabnya, tatakramanya, dan akibat-akibatnya.

Baidhawi, Zamakhsyari, Sayuthi dan lain-lain menganggap, bahwa Surah Muhammad ini diturunkan sesudah hijrah yang sebagian besarnya telah diturunkan mungkin sebelum Perang Badr, pada masa awal hidup Rasulullahsaw di Madinah.

Menjelang akhir surah-terakhir dinyatakan dengan tegas dan tandas bahwa perlawanan terhadap Amanat Ilahi, betapapun kuat, terorganisasi, dan gigihnya, tidak akan dapat berhasil dan bahwa pada akhirnya kebenaran pasti menang.

Masalah itu mengambil bentuk yang pasti dalam Surah Muhammad ini, dan orang-orang kafir diberitahu bahwa perjuangan Islam akan unggul sesudah mengatasi semua kesulitan dan segala rintangan.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Muhammad

Surah Muhammad dimulai dengan pernyataan bernadakan tantangan bahwa, semua daya upaya orang-orang kafir untuk menghalangi dan menghentikan derap kemajuan Islam akan sia-sia belaka.

Sementara itu, keadaan para pengikut Rasulullahsaw dari hari ke hari akan kian bertambah baik, dan seterusnya mengatakan, bahwa karena orang-orang kafir telah menghunus pedang melawan Rasulullahsaw, mereka akan binasa dengan perantaraan pedang pula.

Aturan Perang dalam Islam

Sesudah kepada orang-orang Muslim memberikan janji yang pasti akan kemenangan terhadap musuh-musuh mereka, secara ringkas Surah Muhammad menetapkan peraturan-peraturan yang penting tentang peperangan.

Ayat ini  ringkas menetapkan beberapa hukum penting mengenai tatakrama peperangan dan aturannya, dan dengan sekaligus memberikan pukulan maut kepada perbudakan. Ringkasnya, hukum itu ialah;

(a) Apabila mereka terlibat dalam peperangan sungguh demi mempertahankan kepercayaan, agama, kehormatan, jiwa atau harta mereka, kaum Muslimin diperintahkan supaya bertempur dengan gagah berani dan pantang mundur (Surah Al Anfal, 8: 12-17),

(b) Bila sekali peperangan sudah mulai dilancarkan, maka perang itu harus dilanjutkan hingga keamanan tegak kembali dan kebebasan kata hati terjamin (Surah Al Anfal, 8: 40).

(c) Tawanan-tawanan perang harus diambil dari musuh hanya sesudah terjadi peperangan sungguh dan sengit, dan musuh telah dikalahkan secara muthlak dan pasti. Oleh karena itu peperangan-sungguh dinyatakan sebagai satu-satunya alasan untuk mengambil tawanan perang; sebab, tidak ada alasan lain bagi orang merdeka kemerdekaannya dapat dirampas.

(d) Apabila peperangna sudah selesai, para tawanan harus dibebaskan, baik sebagai tindak belas kasihan atau dengan mengambil uang tebusan dari mereka, atau atas dasar tawanan untuk selama-lamanya atau diperlakukan sebagai budak.

Rasulullahsaw telah memerdekakan kira-kira seratus keluarga dari Banu Mushthaliq dan beberapa ribu tawanan dari suku Hawazin, setelah dua kabilah itu secara muthlak dikalahkan dalam peperangan.

Sesudah Perang Badar, uang tebusan bagi tawanan perang diterima dan mereka yang tidak dapat membayar tebusan dalam bentuk uang, akan menulis.

Sesudah peperangan selesai, mereka harus dibebaskan kembali sebagai tindak belas kasihan, atau sesudah menerima uang tebusan yang layak.

Dengan demikian Surah Muhammad ini dalam ayat yang pendek, dengan jitu sekali telah melenyapkan kebiasaan buruk perbudakan.

Kemudian, dinyatakan bahwa akhirnya kepalsuan pasti mengalami kekalahan. Inilah suatu ajaran yang banyak tercantum dalam lembaran sejarah; dan nasib naas kaum-kaum terdekat seperti kaum Ad dan Tsamud, Midian, dan kaum Nabi Luthas, seharusnya membuka mata orang-orang Makkah.

Janji Kemenangan bagi Rasulullah dan Orang-orang Beriman

Selanjutnya, Surah Muhammad ini menyampaikan beberapa kata penawar dan pembesarkan hati kepada Rasulullahsaw dengan mengatakan bahwa walaupun beliau diusir dari negeri tumpah darah beliau, tanpa teman dan nampak tidak berdaya, mencari perlindungan di tempat jauh di tengah lingkungan orang-orang asing, namun perjuangan beliau akan memperoleh kemenangan.

Orang-orang yang beriman telah lebih dahulu merasai nikmat surgawi di dunai ini juga, dalam arti bahwa mereka menikmati rahmat dan berkat keruhanian dalam  bentuk lahir yang disebutkan dalam Al Quran telah dijanjikan kepada mereka kelak di akhirat.

Atau orang-orang mukmin telah merasakan nikmat surgawi secara ruhani sebab mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri janji yang telah diberikan kepada mereka dalam Al Quran tentang surga telah menjadi menyataan dalam kehidupan di alam dunia ini juga.

Kepada orang-orang yang beriman dijanjikan, di dunia ini dan di akhirat, sungai-sungai (anhar) yang airnya murni, sungai-sungai susu yang rasanya tidak akan berubah, sungai-sungai arak yang memberikan perasaan gembira dan sungai-sungai madu yang telah dijernihkan.

Kata anhar (sungaki-sungai) yang telah dipergunakan sebanyak empat kali dalam ayat 16, selain diartikan seperti di atas, bisa juga diartikan sebagai cahaya dan berlimpah-limpah; dan kata ‘asal (madu) antara lain berarti amal baik atau amal shaleh yan merebut kecintaan dan penghargaan manusia terhadap si pelakunya.

Mengingat akan arti yang terkandung di dalam kedua kata tadi, maka ayat 16 ini dapat juga berarti, bahwa empat hal yang disebutkan itu akan dianugerahkan kepada orang-orang mutaqqi dengan berlimpah-limpah.

Air adalah sumber segala kehidupan (Surah Al Anbiya, 21: 31); susu memberikan kesehatan dan kekuatan kepada badan; anggur memberikan rasa senang dan kelupaan akan segala kesusahan, dan madu menyembuhkan banyak macam penyakit.

Jika difahamkan dalam pengertian jasmani, maka ayat ini akan berarti, bahwa dalam kehidupan di dunia ini orang-orang mukmin akan memperoleh semua barang itu dengan berlimpah-limpah sehinga membuat kehidupan jadi senang, nikmat dan bermanfaat.

Dan bila diartikan secara kiasan dan dalam pengertian ruhani, maka hal itu akan berarti bahwa orang-orang mukmin akan mendapatkan kehidupan yang penuh kepuasan – dianugerahi ilmu keruhanian, akan minum anggur kecintaan Ilahi dan akan mengamalkan perbuatan-perbuatan yang akan merebut kecintaan dan penghargaan manusia terhadap diri mereka.

Tujuan Peperangan dalam Islam

Kemudian, Surah Muhammad ini secara ringkas menyebutkan maksud-maksud dan tujuan-tujuan peperangan menurut Islam.

Dianjurkan kepada kaum Muslimin untuk bersiap sedia membelanjakan apa pun yang mereka miliki demi kepentingan perjuangan yang dijunjung tinggi oleh mereka, sebab dengan tidak membelanjakan harta, ketika perjuangan menghendaki para pengikutnya berkorban dengan rela, bukan saja akan merugikan perjuangan bersama, tetapi merugikan pula diri mereka sendiri.

Karena umat Islam telah diperintahkan berjuang di jalan Allah, mereka diwajibkan memikul segala perongkosan perang, dan untuk maksud itu mereka harus memberikan pengorbanan uang. Akan tetapi, Allahswt tidak menghajatkan uang mereka.

Bagi faedah mereka sendirilah makanya dituntut dari mereka pengorbanan jiwa dan harta sebab tiada sukses dapat dicapai tanpa pengorbanan demikian. Ornag-orang mukmin hakiki seyogianya mengerti dan menghayati pelajaran agung lagi luhur ini.

“Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang dipanggil supaya membelanjakan di jalan Allah, tetapi di antara kamu ada orang yang bakhil. Dan barangsiapa yang bakhil, maka Sesungguhnya ia bakhil terhadap dirinya sendiri. Dan, Alalh Yang Maha Kaya; dan kamulah orang-orang fakir, [a] dan jika kamu berpaling, Dia akan menggantikan dengan suatu kaum selain kamu, kemudian mereka tidak akan menjadi seperti kamu.” (Surah Muhammad, 47: 39)

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan