Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Ha Mim As Sajdah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-al-fath

Surah Ha Mim As Sajdah adalah surah ke-41 setelah Surah Al Mumin, terdiri dari 55 ayat dan 6 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Hamim As Sajdah/Fussilat yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Hamim As Sajadah dan Hubungannya dengan Surah Lain

Surah ini bernama Ha Mim As Sajdah dan dikenal juga dengan nama Fussilat. Sebagai surah kedua dari kelompok tujuh surah Hā Mīm.

Surah Ha Mim As Sajdah atau Surah Fussilat mempunyai persamaan yang sangat dekat dengan surah sebelumnya dan surah-surah berikutnya dalam gaya bahasa dan pokok bahasan, dan seperti surah-surah lainnya Surah Fussilat ini pun diturunkan di Makkah ketika perlawanan terhadap Islam kian bertambah sengit, nekad, lagi gencar.

Jika menjelang akhir surah terdahulu orang-orang kafir diperingatkan bahwa bila azab Ilahi menimpa mereka, pernyataan iman dan taubat mereka tak ada gunanya lagi, maka Surah Ha Mim As Sajdah ini dimulai dengan pernyataan, bahwa orang-orang yang menutup hati mereka dan dengan gigih menolak mendengarkan Al Quran, mereka itulah yang pantas menerima azab.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Ha Mim As Sajdah

Sama seperti surah sebelumnya (Surah Al Mumin), Surah Ha Mim As Sajdah dimulai dengan ayat huruf Muqattat, Haa Miim.

Huruf-huruf singkatan haa mim  adalah alih-alih sifat-sifat Tuhan, Hamid  dan Majid  (Maha Terpuji dan Maha Mulia) atau Hayyi  dan Qayyum  (Maha Hidup dan Berdiri Sendiri serta Pemelihara segala sesuatu).

Kedua kelompok sifat Ilahi itu mempunyai sangkut paut yang erat sekali dengan kandungan Surah Ha Mim As Sajdah.

Surah Ha Mim As Sajdah berulang-ulang mengisyaratkan kepada keagungan, kedaulatan, dan kekuasaan Allahswt. Seperti ditampakkan oleh kata arasy, yang mengandung arti sifat-sifat itu dan yang dua kali telah disebut dalam beberapa ayat permulaan.

Pokok pembahasan kedua ialah, kebangkitan kaum yang secara ruhani telah mati, mendapatkan kehidupan baru. Kedua sifat, Hayyi  (Maha Hidup) dan Qayyum  (Berdiri Sendiri dan Pemelihara segala sesuatu) mempunyai suatu perhubungan yang nyata dengan masalah ini.

Kenyataan itu menjelaskan tentang mengapa huruf-huruf singkatan haa miim telah ditempatkan pada permulaannya. Hal itu perlu mendapat perhatian istimewa, bahwa Surah Ha Mim As Sajdah ini dan keenam Surah berikutnya merupakan kelompok tersendiri, masing-masing di awali dengan huruf-huruf singkatan yang sama.

Hal demikian menunjukkan bahwa ada perhubungan yang mendalam antara pokok pembahasan semuanya itu.

Berikut ini tafsir singkat dan beberapa isi kandungan Surah Ha Mim As Sajdah/Fussilat:

Al Quran Mengandung Segala yang Diperlukan

Surah Ha Mim As Sajdah menyatakan, bahwa Al Quran mengandung segala yang diperlukan untuk pengembangan akhlak manusia, dan selanjutnya menjelaskan lagi selengkapnya segala akidah, ajaran, dan asas pokoknya dalam bahasa yang terang, tegas, dan mudah dipahami.

Orang-orang yang ingkar mengatakan secara menyindir kepada Rasulullahsaw, “Ajaran anda terlalu baik untuk diterima kami, orang-orang berdosa; dan cita-cita anda terlalu mulia untuk dimengerti dan dilaksanakan oleh kami.”

Bila kata-kata itu dianggap telah diucapkan dengan kesungguhan hati, maka kata-kata itu berarti, “Kami telah bertekad bulat tidak menerima ajaran anda. Kami telah menutup semua jalan hati, mata, dan telinga kami terhadap ajaran itu.”

Penciptaan Alam Semesta

Dikutipnya pula, peristiwa penciptaan alam semesta dalam jangka enam masa atau tahap, sebagai dalil untuk membuktikan kebenaran Tauhid Ilahi; dan lebih lanjut dikatakannya, bahwa semua nabi membawa amanat yang sama, yakni Tauhid Ilahi.

Teramasuk para nabi di masa lalu, seperti Nabi Hudas dan Nabi Salehas, sama-sama mengajarkan juga amanat itu.

Segala sesuatu di dalam alam semesta ini tunduk kepada dan bekerja sesuai dengan hukum-hukum tertentu. Segala sesuatu tidak mempunyai kebebasan berbuat.

Hanya manusialah yang dianugrahi kehendak atau pikiran menuruti ataupun menentang hukum Ilahi, dan bukan tidak jarang ia mempergunakan pikirannya yang membawa kerugian kepada dirina sendiri.

Musuh Para Nabi

Surah Ha Mim As Sajdah kemudian menyatakan, bahwa bila seorang nabi baru datang ke dunia, para pemimpin kekafiran berusaha membungkam suara kebenaran dan mengumandangkan berbagai-bagai teriakan keras untuk melawannya.

Mereka berusaha mengacaukan alam pikiran manusia dengan menggunakan segala macam tipuan dan dalih, tetapi kepalsuan tidak pernah berhasil meredam suara kebenaran.

Kawan-kawan buruk orang-orang ingkar mengagumi dan memuji perbuatan-perbuatan buruk mereka, dengan demikian membuat perbuatan- perbuatan itu bagi mereka nampak terpuji.

Sekutu-sekutu yang buruk itu kelak akan memperoleh porsi hukuman, bersama orang-orang yang terpedaya dan tertipu oleh mereka. Kata-kata, “apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka,” dapat berarti, perbuatan-perbuatan yang dilakukan mereka meniru perbuatan-perbuatan buruk bapak-bapak mereka.

Pemuja-pemuja kegelapan senantiasa berusaha membungkam suara Kebenaran dengan menimbulkan hiruk-pikuk terhadapnya dan telah berusaha mengacaukan alam pikiran orang-orang dengan menggunakan segala macam tipu muslihat dan dalih.

Dengan cara yang sama, segala daya upaya para penentang Rasulullahsaw pun akan menjumpai kegagalan. Para malaikat Allah akan turun kepada orang-orang yang mengimani beliau serta terus mendampingi beliau dalam segala kesukaran.

Sambil menghibur dan menenangkan hati mereka, merahmati upaya-upaya mereka, dan mengabarkan kepada mereka, bahwa mereka akan mewarisi rahmat Ilahi di bumi ini dan akan menjadi tamu-tamu Ilahi di akhirat.

Dalam kehidupan di sinilah malaikat-malaikat turun kepada orang yang beriman untuk memberi mereka kata-kata penghibur dan pelipur lara, bila mereka menampakkan keteguhan dan ketabahan di tengah-tengah cobaan dan kemalangan ang berat.

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami Allah,’ kemudian mereka istiqamah, turun kepada mereka malaikat-malaikat, ‘Janganlah kamu takut, dan jangan pula bersedih; dan berilah khabar suka tentang surga yang telah di janjikan kepadamu.’” (Surah Ha Mim As Sajdah/Fussilat, 41: 31).

Kemenangan Islam

Surah Ha Mim As Sajdah selanjutnya mengatakan, bahwa malam yang bergelimang dosa dan kejahatan akan berlalu dan matahari ketakwaan dan Tauhid Ilahi akan menyinari tanah Arabia.

Suatu kaum yang berabad-abad lamanya merangkak-rangkak dalam kegelapan dan kejahilan, akan memperoleh hidup baru; dan Islam, setelah membenamkan akar dengan dalamnya di tanah Arabia, akan menyebar dan meluas ke pelosok-pelosok terjauh bumi ini.

Perubahan dahsyat dan gemilang itu akan menjadi kenyataan, berkat ajaran luhur Kitab Suci Al Quran yang menakjubkan ini.

Hanya Allahswt sendirilah yang mengetahui betapa dan kapan benih kebenaran yang telah disemaikan oleh Rasulullahsaw di tanah Arabia akan berkembang dan tumbuh menjadi sebatang pohon raksasa. Namun pertumbuhan itu merupakan suatu keharusan, dan di bawah naungannya yang sejuk lagi nyaman itu, bangsa-bangsa besar akan berteduh.

Islam akan tersebar bukan saja ke daerah berdekatan dengan tanah tumpah darah bangsa Arab, melainkan juga ke bagian-bagian terjauh di dunia ini.

“Camkanlah, Sesungguhnya mereka itu ada dalam keragu-raguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Sadarilah, Sesungguhnya Dia meliputi segala sesuatu.” (Surah Ha Mim As Sajdah/Fussilat, 41: 55).

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan