Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Bani Israil

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-dan-isi-kandungan-surah-bani-israil

Surah Bani Israil atau Isra adalah surah ketujuh belas setelah surah An Nahl terdiri dari 112 ayat dan 12 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat dan isi kandungan surah Bani Israil yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Pendahuluan

Surah ini dikenal dengan sebutan Bani Israil, oleh karena membahas beberapa kejadian penting dalam sejarah Bani Israil dan pengalaman-pengalaman serta hal-hal yang mereka hayati.

Surah ini disebut pula Isra , sebab permulaannya membahas kasyaf agung Rasulullahsaw mengenai perjalanan rohani beliau di waktu malam ke Yerusalem, yang merupakan salah satu pokok paling menonjol pada surah ini.

Menurut Ibn Mas’udra, surah ini diturunkan seluruhnya di antara tahun keempat dan kesebelas nabawi.

Menjelang akhir surah An Nahl, orang-orang Islam telah diberi peringatan, bahwa tidak lama lagi mereka akan menghadapi perlawanan dari pihak Ahlikitab yang sama hebatnya seperti yang pernah mereka alami dari orang-orang musyrik Makkah, tetapi mereka harus menanggungnya dengan kesabaran dan ketabahan, hingga Allahswt memberi mereka kemenangan terhadap lawan-lawan mereka.

Dalam surah ini perhatian mereka ditarik kepada kenyataan, bahwa perlawanan itu akan mulai di Madinah, dan akan berkesudahan dengan kekalahan dan kegagalan mutlak di pihak Ahlikitab, sehingga tempat-tempat suci mereka akan jatuh ke tangan umat Islam.

Tafsir Singkat Surah Bani Israil

Surah ini, seperti nampak dari namanya, membahas sejarah orang-orang Yahudi, dengan memberi penunjukan yang khas kepada dua kejadian yang amat menonjol, ketika mereka secara terang-terangan mendurhakakan dan menentang dua wujud nabi Allahswt, yaitu, Nabi Daudas dan Nabi Isaas. Sebagai akibat perlawanan itu, mereka mengalami kehancuran dalam kehidupan nasional mereka, pertama-tama di tangan Nebukadnezar dari Babil, dan kedua kalinya di tangan Titus, Kaisar Romawi.

Disebutkan kedua kehancuran orang-orang Yahudi dengan cara yang khas, mengandung suatu peringatan kepada umat Islam, bahwa kesalahan-kesalahan dan pelanggaran-pelanggaran umat Islam pun akan mengakibatkan dua kali “gerhana” dalam kehidupan nasional mereka. Tetapi peringatan itu disertai pula dengan ucapan yang penuh harapan dan hiburan bagi mereka, ialah: bahwa oleh karena Rasulullahsaw itu nabi pembawa syariat yang terakhir, maka berbeda dengan agama Yahudi, agama beliau tidak akan mengalami kehancuran total, tetapi sesudah menderita kekalahan-kekalahan pada permulaan, akan keluar sebagai pemenang dengan semarak dan kecemerlangan yang lebih besar lagi.

Di samping itu, beberapa masalah yang dalam surah terdahulu hanya disinggung secara sambil lalu, telah dibahas dengan agak panjang lebar dalam surah ini.

Surah ini mulai dengan Isra (perjalanan rohani Rasulullahsaw di waktu malam) untuk menunjukkan, bahwa dalam kedudukan beliau sebagai pelanjut dan matsil (yang serupa) Nabi Musaas, para pengikut beliau akan menaklukan negeri-negeri yang telah dijanjikan kepada Nabi Musaas dan bahwa seperti Nabi Musaas, beliau akan terpaksa meninggalkan tanah tunpah darah beliau.

Tetapi hijrah beliau akan membawa  kemajuan dan kelajuan amat pesat bagi tujuan mulia baliau. Selanjutnya disinggung dengan singkat, bahwa pengikut Nabi Harunas memperoleh kekuasaan dan pengaruh besar melalui Nabi mereka, meskipun akhirnya mereka mengalami nasib malang, karena menentang dan mengabaikan peringatan Tuhan.

Tetapi, Al Quran yang merupakan hukum syariat yang jauh lebih sempurna, mampu mendatangkan perubahan yang lebih besar, dan lebih sempurna dalam kehidupan para pengikutnya daripada yang telah dibuat oleh kitab Nabi Musaas.

Singgungan yang singkat mengenai maju dan mundurnya orang-orang Yahudi ini telah disertai oleh peringatan kepada umat Islam, bahwa Tuhan akan menganugerakan kepada mereka karunia-Nya, dan bahwa mereka pun seperti orang-orang Yahudi akan mencapai puncak-puncak kebesaran dan kemuliaan madiah  (kebendaan) yang tinggi, tetapi bahwa sesudah mereka memperoleh kekayaan, kekuasaan, dan pengaruh, hendaknya mereka jangan lupa kepada Tuhan.

Selanjutnya disebut beberapa peraturan perilaku yang dengan mengamalkannya, suatu kaum dapat mencapai segala martabat kerohanian yang amat tinggi. Tetapi, daripada mengabil faedah dari peraturan-peraturan tersebut, orang-orang kafir berpaling dari peraturan-peraturan itu dengan takabur, serta sedikit pun tidak memberi perhatian kepada kesudahan mengerikan yang dapat diakibatkan oleh kesombongan dan keangkuhan mereka.

Mereka diperingatkan, bahwa penolakan terhadap kebenaran tidak pernah menimbulkan hasil-hasil baik, dan bahwa mereka akan ditimpa oleh azab Ilahi yang sangat keras, terutama pada akhir zaman, ketika dunia akan menyaksikan suatu pertarungan maut di antara kekuatan-kekuatan nur dan kegelapan, dan pada akhirnya kekuatan-kekuatan syaitan akan mengalami kehancuran mutlak.

Kemudian surah ini mencela orang-orang kafir dengan keras atas usaha mereka untuk membinasakan Rasulullahsaw, tetapi Allahswt telah menakdirkan bagi beliau suatu tujuan yang amat besar lagi agung; dan suatu nasib yang penuh kehebatan menantikan beliau.

Nama beliausaw akan menjadi masyhur sampai ke penjuru dunia yang jauh, dan akan dihormati sampai saat-saat terakhir umur dunia. Dunia akan mengenal beliausaw sebagai haadi (penunjuk jalan) dan pemimpin terbesar untuk umat manusia, dan akan mengenal Al Quran sebagai gudang ilmu rohani yang tidak berhingga.

Surah ini berakhir dengan menyebut secara singkat pertanda-pertanda akhir zaman, dan keburukan yang merajalela di dunia, serta menyatakan bahwa hanya doa dan hubungan sejati dengan Allahswt saja, yang dapat menyelamatkan manusia dari dosa.

Isi Kandungan Surah Bani Israil

Berikut ini isi kandungan tiap ruku dari surah Bani Israil ini:

Isi Kandungan Surah Bani Israil Ruku Ke-1, Ayat 1-11

Pembahasan diruku pertama surah Al Isra diantaranya yaitu, berkenaan dengan suatu kasyaf Rasulullahsaw yang telah dianggap oleh sebagian ahli tafsir Al Quran menunjuk kepada Mi’raj (kenaikan rohani) beliausaw. Berlawanan dengan pendapat umum, kami cenderung kepada pendapat, bahwa ayat ini membahas masalah Isra (perjalanan rohani di waktu malam) Rasulullahsaw dari Makkah ke Yerusalem dalam kasyaf, sedang Mi’raj beliau telah dibahas agak terperinci dalam Surah An-Najm.

Semua kejadian yang disebut dalam Surah An-Najm (ayat-ayat 8 – 18) yang telah diwahyukan tidak lama sesudah hijrah ke Abessinia, yang telah terjadi di bulan Rajab tahun ke 5 nabawi, diceriterakan secara terperinci dalam buku-buku hadist yang membahas Miraj Rasulullahsaw, sedan Isra Rasulullahsaw dari Makkah ke Yerusalem, yang dibahas di surah ini, menurut Zurqani terjadi pada tahun ke-11 nabawi. Tetapi menurut Mardawaih dan Ibn Sa’d, perintiwa Isra terjadi pada 17 Rabiul-awal, setahun sebelum hijrah (Al-Khashaish al-Kubra). Baihaqi pun menceriterakan, bahwa Isra itu terjadi setahun atau enam bulan sebelum hijrah.

Dengan demikian semua hadist yang bersangkutan dengan persoalan ini menunjukkan, bahwa Isra itu terjadi setahun atau enam bulan sebelum hijrah, yaitu kira-kita pada tahun ke-12 nabawi, setelah Siti Khadijah wafat, yang terjadi pada tahun ke-10 nabawi, ketika Rasulullahsaw tinggal bersama-sama dengan Ummi Hani, saudari sepupu beliau. Tetapi Mi’raj, menurut pendapat sebagian terbesar ulama, terjadi kira-kita pada tahun ke-5 nabawi.

Dengan demikian dua kejadian itu dipisahkan satu dengan yang lain oleh jarak waktu enam atau tujuh tahun, dan oleh karenanya kedua kejadian itu tidak mungkin sama; yang satu harus dianggap berbeda dan terpisah dari yang lain.

Baca juga: Biografi Imam Abu Hanifah, Pendiri Mazhab Hanafi

Isi Kandungan Surah Bani Israil Ruku Ke-2, Ayat 12-23

Isi kandungan surah Al Isra ruku kedua diantaranya yaitu, manakala bangsa-bangsa dan orang-orang secara perorangan memperoleh kekayaan dunia dan menaiki jenjang kekuasaan dan pengaruh, mereka cenderung melalaikan kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab mereka, dan dengan demikian justru di saat-saat lagi berkuasa dan berjaya itulah mereka meletakkan dasar-dasar kehancuran dan kematian mereka di masa kemudian.

Manusia mengundang keburukan datang kepadanya dengan semangat dan kegigihan yang sama seperti Tuhan memanggilnya kepada kebaikan. Dalam keadaan demikian, perbuatan memanggil kepada kebaikan hendaknya dianggap sebagai dinisbahkan kepada Tuhan.

Baik malam maupun siang kedua-duanya mengandung kemanfaatan-kemanfaatan bagi manusia; tetapi di mana kemanfaatan-kemanfaatan malam sifatnya halus dan tersembunyi, maka kemanfaatan-kemanfaatan siang jelas dan nyata.

Pergantian malam dan siang yang diatur oleh alam, menolong manusia menentukan tanggal-tanggal tahun, dan dengan demikian membuat kalender-kalender. Gejala ini telah pula membawa kepada perkembangan dan kemajuan ilmu pasti.

Azab bukan sesuatu yang datang dari luar, melainkan terbit dan timbul dari dalam diri manusia sendiri. Pada hakikatnya, siksaan-siksaan neraka dan ganjaran-ganjaran surga akan hanya merupakan sekian banyak perwukudan dan penjelmaan perbuatan manusia – baik atau buruk – yang pernah dilakukannya dalam kehidupan ini. Jadi, dalam kehidupan ini manusia menjadi perancang nasibnya sendiri, dan seolah-olah pada kehidupan yang akan datang ia sendiri akan menjadi pengganjar dan penghukum terhadap dirinya sendiri.

Tiap orang harus memikul tanggung-jawab perbuatannya sendiri. Pengorbanan dan penebusan dari siapa pun, tidak dapat mendatangkan faedah apa pun kepada orang lain. Ayat ini mematahkan kepercayaan tentang penebusan dosa sampai ke akar-akarnya.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah An Nahl

Isi Kandungan Surah Bani Israil Ruku Ke-3, Ayat 24-31

Isi kandungan surah Bani Israil ruku ketiga diantaranya yaitu, membahasa asas-asas dan peraturan-peraturan perilaku, yang dengan mengamalkan suatu kaum dapat mempertahankan kekokohan dan kekompakan organisasi mereka, serta menjadikannya terpelihara dan selamat dari perpecahan dan kemunduran.

Kedudukan yang pertama dan utama diberikan kepada I’tikad tauhid Ilahi, dan celaan utama diberikan terhadap kemusyrikan, sebab keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan benih yang darinya tumbuh semua sifat terpuji, serta tiadanya iman kepada tauhid merupakan akar semua dosa. Inilah yang merupakan dasar dan asas untuk hukum alam dan peraturan syariat.

Bahwa seluruh peraturan syariat adalah berdasarkan pada keyakinan akan keesaan Tuhan, merupakan kenyataan yang sangat jelas, sehingga tidak lagi memerlukan suatu penjelasan apa pun; tetapi hukum alam dan semua kemajuan ilmu pengetahuan pun bersandar pada itu. Sebab, seandainya ada anggapan, bahwa masih banyak tuhan yang lain di samping Tuhan Yang Maha Esa, maka tidak boleh tidak harus diambil kesumpulan, bahwa hukum alam itu lebih dari satu.

Tetapi tanpa satu hukum yang tertentu dan seragam, seluruh kemajuan ilmu pengetahuan akan berakhir, sebab semua penemuan yang dibuat oleh ilmu pengetahuan itu disebabkan adanya keyakinan, bahwa memang ada suatu tata tertib yang teratur, terarah, dan tak dapat berubah, meliputi seluruh alam semesta.

Perintah penting kedua yang telah dikemukakan dalam ayat ini adalah bertalian dengan perilaku manusia dalam segi akhlak. Kewajibannya terhadap orangtuanya merupakan bagian terpenting, sebab orangtualah yang pertama-tama menjadi sebab terarahnya perhatian manusia kepada Tuhan, dan orangtualah yang bagaikan cermin membayangkan sifat-sifat Tuhan, dan pada diri mereka sifat-sifat itu mendapatkan perwujudan praktis dalam ukuran kecil berupa manusia.

Tetapi di mana perintah yang bertalian dengan Tuhan kalimatnya negatip, maka dalam hubungan dengan orangtua perintah itu kalimatnya positip. Manusia diberitahu bahwa, oleh karena tidak mungkin bagi dia membalas karunia-karunia Tuhan, ia sekurang-kurangnya harus menjauhi syirik, tetapi oleh karena dalam hubungan dengan orangtuanya ia mempunyai kemampuan cinta dan kasih-sayang mereka – sekalipun dalam ukuran yang sangat tidak berimbang – ia diberi perintah yang positip untuk berbuat baik dan penuh kasih-sayang terhadap mereka.

Isi Kandungan Surah Bani Israil Ruku Ke-4, Ayat 32-41

Isi kandungan surah Bani Israil diantaranya yaitu, ibu-bapak yang bakhil – yang tidak memberikan pendidikan atau tidak memberi makan dan pakaian yang pantas kepada anak-anak mereka – sebenarnya membantu datangnya kematian jasmani dan akhlak mereka.

Allahswt dengan keras mencela “pembunuhan” yang dilakukan terhadap anak-anak tak berdosa semacam itu; padahal jika anak-anak itu diberi pendidikan yang layak serta diberikan kesempatan-kesempatan yang tepat untuk membuat mereka dapat berkembang dengan sempurna, besar kemungkinan mereka akan menjadi anggota masyarakat yang sangat berguna. “Pembunuhan terhadap anak-anak” dapat pula berarti praktek yang diragukan tentang pembatasan kelahiran tanpa guna dan maksud seperti dianjurkan dalam masyarakat modern.

Perintah yang melarang “pembunuhan terhadap anak-anak” disusul oleh suatu perintah yang sama beratnya, yaitu, yang mengenai pelarangan terhadap perzinahan, sebab perzinahan pun menjadi sebab matinya sejumlah anak-anak yang tak terhitung banyaknya dalam berbagai bentuk.

Berbeda dengan perintah Bible, “Engkau tidak boleh melakukan perzinahan “ Al Quran mengatakan “Janganlah kamu mendekati perzinahan“ yang jelas merupakan perintah yang mempunyai jangkauan lebih luas, yang lebih efektif dan yang lebih dapat di terima oleh akal. Al Quran bukan hanya melarang dan mencela perbuatan zinah sendiri, melainkan berusaha pula menutup semua pintu dan celah yang menjurus kepadanya.

Selanjutnya, membicarakan pembunuhan secara langsung. Setelah si pembunuh dijatuhi hukuman oleh pengadilan yang sah, ahli waris orang yang terbunuh mempunyai hak membuat si pembunuh itu menjalani humuman mati menurut cara yang sah atau menerima yang darah sebagai pengganti rugi atas kematian orang yang terbunuh itu.

Tetapi jika dengan memberi izin membayar uang darah kepada ahli waris akan merugikan kepentingan keamanan umum atau merugikan akhlak, atau jika tuntutan para ahli waris ternyata tidak jujur, maka pengadilan dapat menolak hak pilihan ahli waris itu, dan memerintahkan untuk melaksanakan hukuman mati terhadap si pembunuh.

Pada hakikatnya baik ahli waris si pembunuh maupun negara, sama-sama berhak memberi maaf atau menghukum yang bersalah. Hak negara yang tersebut di atas mengenai hukuman terhadap orang yang bersalah, berlaku untuk semua hal yang bertalian dengan peraturan mengenai penebusan.

Bagian pertama ayat 34, hak-hak pihak yang dirugikan telah terjamin, maka kata-kata, “Janganlah ia melampui batas dalam pembunuhan,” mengandung anjuran untuk kepentingan si pembunuh. Kata-kata ini menunjukkan, bahwa meskipun “jiwa dibayar jiwa” adalah hukum bersifar umum, tetapi ahli waris si terbunuh jangan selamanya mendesak agar perintah itu dilaksanakan secara harfiah.

Si pembunuh harus menerima hukuman yang terberat sesuai dengan peraturan, hanya bila pertimbangan-pertimbangan keadilan, keamanan umum atau akhlak menghendaki demikian. Jiwanya dapat diselamatkan dan uang darahnya diterima, jika perbuatan baik itu dapat diharapkan dapat menjurus kepada perbaikan akhlaknya.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Hijr

Isi Kandungan Surah Bani Israil Ruku Ke-5, Ayat 42-53

Isi kandungan surah Bani Israil ruku kelima diantaranya yaitu, untuk suatu Kitab suci yang harus memecahkan segala masalah dan persoalan yang penting-penting, adalah wajar dan menjadi keharusan, supaya Kitab itu berulang kali mengupas kembali hal-hal yang bertalian erat dengan suatu masalah pokok.

Bila pengulangan itu dimaksudkan untuk mengupas suatu masalah dari sudut yang baru atau unutk membantah suatu tuduhan baru, maka tiada orang yang waras otaknya lagi cerdas pikirannya dapat mengemukakan keberatan terhadap hal demikian.

Jika kata-kata, Kepada-Nya bertasbih ketujuh langit dan bumi dan apa yang ada di dalam nya, menunjuk kepada kesaksian bersama yang dikandung oleh seluruh alam mengenai keasaan Tuhan, maka kata-kata, dan tiada suatu benda pun, malainkan bertasbih dengan puji-pujian-Nya menunjuk kepada kesaksian yang diberikan oleh segala sesuatu secara perorangan dan secara terpisah mengenai keesaan Dzat Ilahi.

Kata-kata yang pertama berarti, bahwa pengaturan dan tatanan indah yang ada di alam semesta, tak ayal lagi menunjukkan, bahwa penciptanya adalah Wujud Tunggal; sedang kata-kata yang tersebut belakangan berarti, bahwa segala sesuatu di alam semesta ini, dalam ruangannya sendiri yang terbatas itu, dan dengan caranya sendiri yang tidak dapat ditiru itu, menampakkan berbagai macam sifat Tuhan.

Adalah tutupan dengki dan cemburu, atau tutupan perasaan hormat yang palsu dan rasa kebanggaan atas kebangsaan, atau tutupan yang timbul dari kekhawatiran akan kehilangan kedudukan dalam masyarakat, atau berkurangnya penghasilan ataupun tutupan sebagai akibat adat kebiasaan an kepercayaan lama yang dipegang dengan erat dan asyiknyalah yang menjadi penghalang bagi orang-orang kafir untuk menerima kebenaran. Tutupan- tutupan itulah yang sungguh tidak disadari oleh orang-orang kafir sendiri.

Isi Kandungan Surah Bani Israil Ruku Ke-6, Ayat 54-61

Isi kandungan surah Bani Israil ruku keenam diantaranya yaitu, mereka yang diseru dalam ayat 58, dapat ditujukan kepada para malaikat, nabi-nabi atau para wali yang oleh sebagian orang disembah sebagai tuhan.

“Dan tiada suatu negeri pun melainkan Kami menghancurkannya sebelum Hari Kiamat, atau mengazabnya dengan azab yang sangat keras. Adalah hal itu telah tertulis dalam Kitab.” (QS. Bani Israil: 59).

Isyarat ini tertuju kepada azab yang akan mendahului suatu malapetaka, yang meliputi seluruh jagat atau suatu rentetan malapetaka, seperti dinubuatkan oleh para nabi dan juga dalam Alquran.

Atau artinya mungkin begini; Apakah kenyataan, bahwa bangsa-bangsa dahulu kala menolak nabi-nabi, dapat menjadi alasan supaya Tanda-tanda selanjutnya jangan dikirim lagi yaitu, penolakan orang-orang dahulu tidak dapat menjadi alasan untuk menahan penampakan Tanda-tanda samawi.

Kemudian, isyarat di ayat 61 tertuju kepada kasyaf yang disebut dalam ayat kedua dalam surah ini. Dalam kasyaf itu Rasulullahsaw melihat diri beliau mengimami semua nabi lainnya dalam shalat yang dilakukan di Baitul-mukadas di Yerusalem, yang merupakan kiblat orang-orang Yahudi.

Kasyaf itu mengandung arti bahwa pada suatu ketika di masa yang akan datang, para pengikut nabi-nabi tersebut akan masuk ke haribaan Islam. Inilah yang dimaksud oleh kata-kata “Tuhan engkau telah mengepung orang-orang ini dengan kebinasaan.” Penyebaran Islam secara meluas akan datang sesudah terjadi bencana-bencana yang akan melanda seluruh dunia seperti telah disinggung dalam ayat 59.

Agaknya “pohon terkutuk“ itu adalah kaum Yahudi yang telah berulang kali disebut dalam Al Quran dikutuk oleh Tuhan (5: 14, 61, 79). Kutukan Tuhan telah mengejar-ngejar kaum yang malang ini semenjak Nabi Daudas sampai zaman kita ini. Penafsiran tentang ungkapan ini ditunjang oleh kenyataan, bahwa surah ini secara istimewa membahas hal ihwal kaum Bani Israil, seperti diisyaratkan oleh nama Surah ini sendiri, ialah, Nabi Israil.

Kenyataan bahwa ayat ini mulai dengan menyebut kasyaf Rasulullahsaw, dan di dalam kasyaf itu beliau lihat diri beliau mengimami nabi-nabi Bani Israil dalam shalat di Yerusalem – pusat agama Yahudi –memberi dukungan lebih lanjut kepada anggapan, bahwa yang dimaksud oleh “pohon terkutuk” itu adalah kaum Yahudi; Kata syajarah  mengandung pula arti suku bangsa.

Ayat ini membahas kasyaf itu, dan juga membahas kaum Yahudi (pohon terkutuk) yang oleh kasyaf ini disinggung secara khusus sebagai “cobaan bagi manusia “ Orang-orang Yahudi pada tiap qurun zaman telah menjadi sumber kesengsaraan dan penderitaan bagi umat manusia, terutama bagi umat Islam.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Ibrahim

Isi Kandungan Surah Bani Israil Ruku Ke-7, Ayat 62-71

Isi kandungan surah Bani Israil ruku ketujuh diantaranya yaitu, bahwa apakah syaitan telah berhasil atau tidak, dalam melaksanakan ancamannya untuk menyesatkan sejumlah besar umat manusia, merupakan soal yang penting dan perlu menda pat jawaban.

Satu pendangan yang tergesa-gesa dan tanpa disertai pikiran yang matang mengenai keadaan baik dan buruk di dunia ini, dapat membawa kita kepada kesimpulan yang salah, bahwa keburukan itu mengungguli kebaikan di dunia ini. Tetapi hakikat yang sebenarnya adalah kebalikannya.

Seandainya, sebagai misal, semua ucapan pendusta-pendusta terbesar diselidiki secara kritis, maka ucapan-ucapannya yang mengandung kebenaran, jumlahnya akan nampak jauh melebihi ucapan-ucapannya yang dusta.

Demikian pula jumlah orang-orang buruk di dunia ini jauh di bawah jumlah orang-orang baik. Kenyataan bahwa keburukan itu mendapat perhatian begitu besar, justru menjadi bukti bahwa fitrat manusia pada dasarnya baik dan menjadi cemas menyaksikan keburukan bagaimanapun kecilnya. Oleh sebab itu tidak benar untuk beranggapan, bahwa syaitan telah berhasil dalam melaksanakan ancamannya dalam bentuk kenyataan.

Kemudian, Ayat 65 menguraikan tiga macam daya-upaya yang dilakukan oleh putra-purta kegelapan untuk membujuk manusia supaya menjauhi jalan kebenaran: Pertama, mereka berusaha menakut-nakuti orang-orang miskin dan lemah dengan ancaman akan mempergunakan kekerasan terhadap mereka.

Kedua, mereka mempergunakan tindakan-tindakan yang lebih keras terhadap mereka yang tidak dapat ditakuti-takuti dengan cara gertak sambal, ialah, dengan mengadakan persekutuan-persekutuan untuk tujuan melawan mereka dan mengadakan serangan bersama terhadap mereka dengan segala cara.

Ketiga, mereka mencoba membujuk orang-orang kuat dan yang lebih berpengaruh dengan tawaran akan menjadikannya pemimpin mereka, asalkan mereka tidak akan membantu lagi pihak kebenaran.

Manusia dapat terkena oleh bujukan-bujukan syaitan selama dia belum “dibangkitkan,” yaitu selama keimanannya belum mencapai taraf yang sempurna.

Kemudian, Allahswt telah memberikan kemuliaan yang sama kepada seluruh anak cucu Adam, dan tidak menganak-emaskan suatu bangsa atau suku bangsa tertentu. Ayat 71, melenyapkan segala anggapan bodoh mengenai perasaan lebih mulia atas dasar warna kulit, paham, darah, atau kebangsaan. Lebih lanjut ayat ini mengemukakan, bahwa semua saluran untuk kemajuan dan kesehjahteraan tetap terbuka untuk semua orang, dan bahwa saluran-saluran itu tidak ter batas kepada perjalanan darat, tetapi terbuka pula untuk perjalanan laut.

Isi Kandungan Surah Bani Israil Ruku Ke-8, Ayat 72-78

Isi kandungan surah Bani Israil ruku kedelapan diantaranya yaitu, bahwa tangan kanan adalah lambang keberkatan, sedang tangan kiri lambang hukuman. Pada badan manusia, yang sebelah kanan mempunyai semacam keunggulan terhadap yang kiri, oleh karena otot-otot di sebelah kanan pada umumnya lebih kuat dari yang sebelah kiri.

Diserahkan catatan mengenai perbuatan seseorang ke tangan kanannya seperti disebutkan dalam ayat 72 mengandung arti, bahwa catatan itu akan membawa keuntungan dan berkat baginya. Lagi pula tangan kanan menunjukkan kekuatan dan kekuasaan (69: 46).

Dipegang oleh orang-orang mukmin catatan mereka di tangan kanan mereka mengandung arti, bahwa di masa hidup di dunia, mereka telah berpegang pada ketakwaan dengan kuat dan kemauan keras, sedang dipegang oleh orang-orang kafir catatan mereka di tangan kiri mengandung arti, bahwa mereka tidak berjuang untuk mencapai ketakwaan dengan kuat, tekun, dan semangat yang diperlukan untuk itu.

Mereka yang tidak mempergunakan mata rohani mereka dengan cara yang wajar di dunia, akan tetap mahrum dari penglihatan rohani di akhirat. Al Quran menyebut mereka, yang tidak merenungkan Tanda-tanda Tuhan serta tidak memperoleh manfaat darinya, “buta”. Orang-orang seperti itu di alam akhirat pun akan tetap dalam keadaan buta.

Orang-orang kafir telah bertekad mendatangkan kesengsaraan besar kepada Rasulullahsaw disebabkan oleh ajaran yang telah diwahyukan kepada beliau, agar mereka dapat memaksa beliau mengubahnya dan mendatangkan ajaran yang lain dari yang terkandung dalam Al Quran. Rencana-rencana buruk orang kafir, serta kegagalan mereka yang mutlak dalam melaksanakan rencana-rencana itulah yang diisyaratkan ayat ini.

Kemudian, musuh-musuh Rasulullahsaw mau mengusir dan mencap beliau secara resmi sebagai orang buangan, dengan tujuan supaya beliau akan kehilangan segala kehormatan beliau di mata kaum beliau, tetapi Allahswt sendiri memerintahkan beliau meninggalkan kota Makkah, dan dengan demikian menyelamatkan beliau dari noda yang akan mengakibatkan hilangnya hak beliau sebagai warga kota itu.

Baca juga: Surah Ar Ra’d, Tafsir Singkat Dan Isi Kandungannya

Isi Kandungan Surah Bani Israil Ruku Ke-9, Ayat 79-85

Isi kandungan surah Bani Israil ruku kesembilan diantaranya yaitu membahas tentang perintah shalat, membaca Al Quran diwaktu subuh dan shalat tahajud sebagai ibadah naafilah (tambahan). Selain artinya tambahan, naafilah  berarti juga karunia yang khas, dan mengandung arti, bahwa shalat-shalat itu bukan suatu beban yang hanya meletihkan badan, melainkan suatu kesempatan istimewa dan karunia khas dari Tuhan.

Barangkali tiada orang yang pernah begitu dibenci dan dimaki seperti Rasulullahsaw, dan sungguh tiada wujud lain yang menerima begitu banyak pujian Tuhan dan menjadi penadah begitu banyak rahmat dan berkat Ilahi seperti beliau.

Shalat Tahajjud paling cocok untuk orang mukmin guna mencapai kemajuan rohaninya, oleh karena dalam kesunyian malam, dalam keadaan menyendiri di hadapan Sang Khalik-nya, ia menikmati perhubungan khas dengan Tuhan.

Sebagai kemakbulan doa-doa dan permohonan-permohonan beliau, Rasulullahsaw dalam ayat ini diberi khabar suka, bahwa untuk menggenapi nubuatan dalam kata-kata “Maha Suci Dia Yang telah memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam hari dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha.“ (17:2), beliau akan dibawa ke Madinah. Untuk mendahului dan menyambut penyempurnaan nubuatan ini, beliau diperintahkan mendoa supaya masuk beliau ke Madinah dan begitu pula keberangkatan beliau dari kota Makkah, di mana beliau tinggal pada saat itu, akan dianugerahi keberkatan yang berlimpah-limpah.

Kemudian, inilah salah satu mukjizat gaya bahasa Al Quran (ayat 82), bahwa untuk menyampaikan pengertian tertentu dipilihnya kata tertentu yang mengisyaratkan kepada suatu rentetan kejadian yang panjang. Dalam contoh khusus yang kita hadapi sekarang ini pun, pengertian mengenai lenyapnya kepalsuan dapat pula dinyatakan dengan suatu kata lain, halaka (menjadi binasa), dan bathala  (menjadi tak berguna), tetapi tiada satu pun kata ini dapat menyampaikan perngerian, bahwa kepalsuan itu akan berangsur-angsur menjadi lemah dan akhirnya akan lenyap, pengertian itu dinyatakan dengan kata zahaqa.

Ayat 82 ini mengadung isyarat, bahwa dengan masuknya Rasulullahsaw ke Madina, kekuasaan beliau akan terus bertambah, sedang kekuasaan musuh beliau akan terus berkurang, sehingga akhirnya akan patah sama sekali.

Lagi pula, ini pun merupakan mukjizat gaya bahasa Al Quran juga, bahwa sekalipun Al Quran tidak berbentuk sajak, namun ayat-ayatnya mempunyai irama dan alunan sajak, yang tanpa itu tidaklah mungkin mengungkapkan sepenuhnya perasaan yang ditimbulkan oleh gejolak kegembiraan. Ayat ini mengemukakan salah sati misal semacam itu. Sesudah takluknya kota Makkah, ketika Rasulullahsaw selagi membersihkan Ka’bah dari berhala-berhala yang telah mengotorinya, beliau berulang-ulang mengucapkan ayat tersebut sementara beliau memukuli berhala-berhala.

Isi Kandungan Surah Bani Israil Ruku Ke-10, Ayat 86-94

Isi kandungan surah Bani Israil ruku kesepuluh diantaranya yaitu, dalam masa kemunduran dan kejatuhan rohani mereka, nampaknya orang-orang Yahudi asyik berkecimpung dalam kebiasaan-kebiasaan ilmu klenik (occult), seperti halnya banyak ahli kebatinan modern, para pengikut gerakan teosofi dan yogi-yogi Hindu.

Nampaknya di masa Rasulullahsaw pun beberapa orang Yahudi di Madinah telah menempuh cara-cara kebiasaan semacam itu. Itulah sebabnya mengapa ketika orang-orang musyrik Makkah mencari bantuan orang-orang Yahudi untuk membungkam Rasulullahsaw, mereka memberi saran supaya orang-orang musyrik Makkah itu menanyakan kepada kepada Rasulullahsaw hakikat ruh manusia.

Al Quran menjawab pertanyaan mereka dengan mengatakan, bahwa ruh memperoleh saya kekuatannya dari perintah Ilahi; dan apa pun yang menurut kepercayaan orang dapat diperoleh dengan perantaraan apa yang dikatakan latihan-latihan batin dan ilmu sihir, adalah semata-mata tipuan dan omong-kosong belaka.

Menurut riwayat, pertanyaan-pertanyaan mengenai sifat ruh manusia pertama-tama diajukan kepada Rasulullahsaw di kota Makkah oleh orang-orang Quraisy dan kemudian menurut Abdullah bin Mas’udra – oleh orang-orang Yahudi di Madinah. Di sini ruh disebut sesuatu yang diciptakan atas perintah langsung dari Allah. Menurut Al Quran semua penciptaan terdiri dari dua jenis :

Pertama, kejadian permulaan yang dilaksanakan tanpa mempergunakan zat atau benda yang telah diciptakan sebelumnya. Kedua, kejadian selanjutnya yang dilaksanakan dengan mempergunakan sarana dan benda yang telah diciptakan sebelumnya. Ketiga, kejadian macam perama termasuk jenis amr (arti harfiahnya ialah menjadikan). Ruh manusia termasuk jenis penciptaan pertama. Kata ruh itu berarti wahyu Ilahi (Lane). Letaknya kata ini di sini agaknya mendukung arti demikian.

Kemudian, ayat 87 nampaknya mengandung nubuatan, bahwa akan datang suatu saat, bila ilmu Alquran akan lenyap dari bumi. Nubuatan Rasulullahsaw serupa itu telah diriwayatkan oleh Mardawaih, Baihaqi, dan Ibn Majah, ketika ruh dan jiwa ajaran Al Quran akan hilang lenyap dari bumi, dan semua orang yang dikenal sebagai ahli-ahli mistik dan para sufi, yang mengakui memiliki kekuatan batin istimewa – seperti pula diakui oleh segolongan orang-orang Yahudi dahulu kala yang sifatnya serupa dengan mereka tidak akan berhasil mengembalikan jiwa ajaran Al Quran dengan usaha mereka bersama-sama.

“Seandainya berhimpun manusia dan jin untuk mendatangkan yang semisal Alquran ini, tidaklah mereka akan sanggup mendatangkan yang sama seperti ini, walaupun sebagian mereka kepada sebagian yang lain sebagai penolong.” (Bani Israil: 89)

Tantangan ini pertama-tama diajukan kepada mereka yang berkecimpung dalam kebiasaan-kebiasaan klenik, supaya mereka meminta pertolongan ruh-ruh gaib, yang darinya orang-orang ahli kebatinan itu menurut pengakuannya sendiri – menerima ilmu rohani. Tantangan ini berlaku pula untuk semua orang yang menolak Alquran bersumber pada Tuhan dan untuk sepanjang masa.

Kemudian, karena kemampuan-kemampuan manusia terbatas, paling-paling orang dapat menghadapi masalah-masalah yang jumlahnya terbatas saja. Tetapi Al Quran telah membagas dengan selengkap-lengkapnya semua masalah dan persoalan yang bertalian dengan kemajuan akhlak dan ruhani manusia.

Baca juga: Tasir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Yusuf

Isi Kandungan Surah Bani Israil Ruku Ke-11, Ayat 95-100

Isi kandungan surah Bani Israil ruku kesebelas diantaranya yaitu bahwa hanya wujud dari jenis yang sama dapat dijadikan contoh dan teladan bagi satu sama lain. Jadi hanya menusia yang dapat memikul amanat Tuhan bagi umat manusia, sebab hanya manusialah yang dapat menjadi contoh bagi manusia lainnya.

Kemudian, bila pun indera-rasa, orang kafir akan menjadi tumpul disebabkan lamanya terbakar di dalam api. Tuhan akan menajamkan indera rasa itu kembali, dan mereka sekali lagi akan mulai merasakan siksaan api, sama tajamnya seperti sediakala. Itulah sebabnya mengapa Al Quran telah memberikan tekanan begitu keras kepada kehidupan sesudah mati, serta berulang-ulang mambahas masalah yang amat penting ini.

Segala pengingkaran terhadap agama dan kebenaran, pada hakikatnya, merupakan akibat dari mengingkari adanya alam ukhrawi (akhirat). Itulah sebabnya Al Quran demikian menekankannya kehidupan sesudah mati dan menyebutkan masalah yang sangat penting ini berulang kali.

Ayat ke-100 mengadung satu dalil yang tak dapat dipatahkan untuk membuktikan kehidupan sesudah mati. Ayat ini tidak mengatakan secara langsung kepada orang-orang kafir, bahwa mereka akan dihidupkan kembali sesudah mati disebabkan Tuhan mempunyai kekuatan untuk memberi hidup baru. Pertanyaan semacam itu akan merupakan satu da’wah yang kosong.

Sebaliknya, ayat ini menyatakan kepada mereka, bahwa jika mereka tidak mempercayai adanya kehidupan sesudah mati, mereka tidak akan percaya jika mereka diberitahu, bahwa mereka akan terpaksa menyerahkan kekuasaan dan kehormatan mereka kepada orang-orang Muslim yang lemah dan miskin, yang oleh orang-orang kafir dianggap pada waktu itu tidak berguna dan tidak berharga sedikit pun.

Jika nubuatan mengenai kehancuran mereka sendiri yang nampaknya tidak mungkin ini, dan mengenai majunya orang-orang Islam yang miskin itu, akan terbukti menjadi sempurna, maka kebenaran adanya kehidupan sesudah mati dengan sendirinya akan terbukti.

Isi Kandungan Surah Bani Israil Ruku Ke-12, Ayat 101-112

Isi kandungan surah Bani Israil ruku kedua belas diantaranya yaitu, bahwa Al Quran harus memenuhi keperluan dua macam golongan manusia:

Pertama, Quran harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat sementara yang akan datang dari mukhatabin (orang-orang yang menjadi tujuan seruannya) pertama-tama, dan harus pula memenuhi keperluan ruhani langsung dari orang-orang yang pertama-tama masuk Islam.

Kedua, Al Quran harus menyediakan petunjuk bagi masalah-masalah manusia yang besar jumlahnya dan yang beraneka ragam itu untuk sepanjang masa.

Ayat yang membahas keberatan-keberatan orang-orang musyrik Makkah dan perkembangan ruhani orang-orang Islam pertama, dengan sendirinya harus diwahyukan terlebih dahulu; dan ayat-ayat yang membahas keperluan-keperluan ruhani manusia yang kekal-abadi diwahyukan belakangan. Dengan demikian ayat-ayat Al Quran diturunkan sedikit demi sedikut dan berangsur-angsur.

Manakala ada suatu keberatan tertentu dikemukakan oleh orang-orang kafir, maka diturunkanlah ayat yang berisikan jawaban terhadap keberatan itu. Begitu pula, bila orang-orang Islam di masa permulaan memerlukan petunjuk pada saat tertentu, maka diturunkanlah ayat-ayat yang bersangkutan dengan itu untuk memenuhi keperluan pada saat itu. Itulah urutan asli mengenai turunnya ayat-ayat Al Quran.

Tetapi oleh karena keperluan-keperluan sementara bagi mukhatabin beda dengan keperluan-keperluan tetap bagi manusia pada umumnya, maka urutan yang dipakai kemudian dalam penyusunan Al Quran berupa kitab, dengan sendirinya harus berbeda dari urutan yang dipakai di waktu diturunkan.

Kemudian, ayat 110 melukiskan keadaan pikiran orang Muslim, ketika berada dalam sikap sujud. Kesadaran mengenai keanggunan Allahswt di satu pihak dan kesadaran mengenai kelemahannya sendiri di pihak lain, membuat jiwanya merasa amat rendah. Orang-orang mukmin disuruh bersujud setelah membaca ayat-ayat yang berisikan perintah supaya bersujud. Rasulullahsaw biasa bersujud bilamana membaca salah satu ayat serupa itu.

Kemudian, Allahswt memiliki sifat-sifat yang tidak terbilang jumlahnya, maka seorang Muslim dalam doanya, ia hendaknya menyebut sifat Ilahi tertentu yang mempunyai hubungan khas dengan perkara, yang untuk perkara itu ia mohon petunjuk dan pertolongan Ilahi. Wallahu a’lam bish-shawabi.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Hud


0 Komentar

Tinggalkan Balasan