Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Az Zukhruf

Surah Az Zukhruf adalah surah ke-43 setelah Surah As Syura, terdiri dari 90 ayat dan 7 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Az Zukhruf yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Az Zukhruf dan Hubungannya dengan Surah Lain

Menurut Qurthubi, ada kesepakatan pendapat yang menyeluruh di antara para ulama, bahwa surah ini diturunkan di Makkah. Ibnu Abbas juga memberi dukungan kuat kepada pandangan ini.

Tetapi, sukar juga mendapat kepastian mengenai waktu turunnya yang tepat. Pendapat para ulama pada umumnya cenderung menempatkan surah ini menjelang akhir tahun keempat atau permulaan tahun kelima Nubuwah.

Surah sebelumnya berakhir dengan keterangan bahwa wahyu yang turun kepada rasul-rasul dan nabi-nabi, atas perintah Ilahi, mempunyai unsur gaib.

Selanjutnya dinyatakan bahwa sebelum wahyu itu sungguh-sungguh turun kepada Rasulullahsaw, beliau tidak faham tentang sifat dan artinya.

Surah Az Zukhruf dimulai dengan penegasan bahwa oleh karena Al Quran telah diturunkan dalam bahasa yang terang dan fasih sekali, dan juga oleh karena Al Quran membahas semua kebenaran yang bersifat pokok serta ajarannya mudah difahami, maka meskipun ada unsur kegaiban dalam proses pewahyuannya, tidak ada asas rasional apapun untuk menolaknya bagi siapapun.

Selanjutnya, Surah Az Zukhruf ini mengatakan bahwa Allahswt tidak akan berhenti mengirimkan wahyu baru manakala hal itu sungguh-sungguh diperlukan; sebagaimana halnya nabi-nabi Allah tidak henti-hentinya datang, meskipun mereka diejek dan dicemoohkan.

Gejala diutusnya pembaharu-pembaharu suci akan terus berlaku tak perduli apapun yang akan dikatakan atau diperbuat oleh orang-orang kafir.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Az Zukhruf

Surah Az Zukhruf, seperti juga surah sebelumnya, memulai pembahasan dengan pernyataan bahwa Al Quran diturunkan oleh Allahswt, Pemilik segala kemuliaan dan pujian.

Al Quran merupakan Ummul-kitab berarti sumber perintah-perintah, ungkapan itu berarti bahwa Al Quran ada dalam ilmu Allahswt—sumber asli – sebagai dasar syariat, atau dapat pula berarti telah ditakdirkan bahwa Al Quran akan merupakan dasar Hukum Ilahi yang terakhir.

Keesaan Allah

Selanjutnya Surah Az Zukhruf membahas masalah Keesaan Allah yang merupakan pembahasan dasarnya dengan cara dan bentuk yang berlainan dengan surah-surah lain dari kelompok Ha Mim ini.

Surah Az Zukhruf mengatakan, untuk menegakkan Keesaan-Nya, Allahswt terus menerus mengirimkan rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya semenjak zaman yang jauh silam. Mereka menganjurkan dan mengajarkan, bahwa Tuhan itu Esa. Mereka ditolak dan ditentang serta dianiaya.

Tetapi, hal itu tidak menyebabkan Allahswt berhenti mengirimkan nabi-nabi baru dan wahyu-wahyu baru. Nabi-nabi terus-menerus datang pada saat yang mustari; dan yang terbesar dari antara mereka itu datang dalam wujud Rasulullah, Muhammadsaw.

“Dan, berapa banyak nabi telah Kami utus kepada kaum terdahulu. Dan, tidak pernah datang kepada mereka seorang nabi, melainkan mereka selalu memperolok-olokannya.” (Surah Az Zukhruf, 43: 7-8).

Surah Az Zukhruf ini mengemukakan dalil itu, dan mengatakan bahwa Allahswt telah menciptakan seluruh langit dan bumi untuk berbakti kepada manusia, dan telah melengkapi persediaan untuk keperluan jasmaninya.

Bilamana Allahswt begitu telaten melengkapi keperluan kebendaan dan kesenangan jasmaninya, maka tidak masuk akal lah jika Allah mengabaikan atau meremehkan jaminan serupa untuk keperluan akhlak dan ruhaninya. Guna memenuhi kebutuhan akhlak itulah maka Allahswt menurunkan wahyu baru.

Tetapi, dari kejahilan dan kebodohan mereka, orang-orang kafir mempersekutukan Allahswt dalam berbagai macam dan bentuk; dan malahan begitu jauh sehingga mereka memindahkan pertanggungjawaban atas perbuatan-perbuatan syirik mereka kepada Allahswt dan mengatakan dengan sombong dan tanpa malu, bahwa bila Allahswt menghendaki, pasti mereka tidak akan menyembah berhala.

Dalih demikian adalah bertentangan dengan kecerdasan dan pikiran sehat manusia, dan tidak ada kitab suci manapun yang mendukungnya.

Penyebab hakiki kekafiran orang-orang yang tidak beriman itu terletak pada kecongkakan dan keangkuhan mereka; sebab, Al Quran, demikian kata mereka, tidak diturunkan kepada orang-orang besar.

Sebagai jawaban atas kesombongan orang-orang kafir yang menganggap diri mereka paling unggul itu, mereka dikecam dengan keras, bahwa apa yang mereka katakan kebesaran itu, tidak ada artinya pada pandangan Ilahi.

Sekiranya bukan karena pertimbangan bahwa dengan lenyapnya kesenjangan dalam kekayaan, pangkat, dan kedudukan, mustahil tertib masyarakat bisa terjamin dan justru akan menimbulkan kekacauan, niscaya Allahswt memberikan kepada orang-orang kafir itu berton-ton emas dan perak, sehingga bahkan tangga-tangga rumah merekapun akan terbuat dari emas, sebab benda itu bukan apa-apa dalam pandangan Ilahi.

Perumpamaan Tentang Nabi Isa

Seperti dinyatakan di atas, pembahasan utama Surah Az Zukhruf ini ialah pencelaan keras terhadap kemusyrikan. Tetapi, meskipun mengutuk kemusyrikan, Al Quran menghormati Nabi Isaasyang menurut orang Kristen adalah yang menjadi tujuan ibadah sebagai seorang rasul Tuhan yang agung dan mulia.

Dan menambahkan bahwa beliau menyeru kepada kaum beliau untuk beribadah kepada Allah Yang Tunggal, tetapi mereka melalaikan ajaran beliau dan malahan mempertuhankan beliau sendiri. Maka kesalahan itu terletak pada mereka bukan terletak pada Nabi Isaas.

“Dan, apabila dijelaskan Ibnu Maryam sebagai misal, tiba-tiba kaum engkau meneriakkan suara protes terhadapnya.” (Surah Az Zukhruf, 43: 58)

“Dan mereka berkata, ‘Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik, ataukah dia?’ Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka adalah kaum yang biasa berbantah.” (Surah Az Zukhruf ,43: 59)

Kedatangan Nabi Isaas adalah tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk selama-lamanya.

Kemudian, kaum Muslimin diberitahu bahwa orang lain seperti dan merupakan sesama Nabi Isaas akan dibangkitkan di antara mereka untuk memperbaharui mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani mereka yang telah hilang, maka dari bergembira atas khabar suka itu malah mereka hingar-bingar mengajukan protes. Jadi, ayat ini dapat dianggap mengisyaratkan kepada kedatangan Nabi Isa untuk kedua kalinya.

Kemudian Surah Az Zukhruf menjelaskan bahwa, mudah bagi Allahswt untuk menurunkan malaikat ke bumi sebagai nabi atau rasulNya, akan tetapi para malakat tidak dapat dijadikan contoh dan model bagi manusia; oleh karena itu Allahswt senantiasa mengutus manusia guna menyampaikan kehendak-Nya kepada manusia dan untuk menjadi contoh dan teladan bagi manusia.

Tiada Tuhan selain Allah

Surah Az Zukhruf kemudian membahas dengan singkat tetapi jelas lagi meyakinkan tentang Keesaan Allah.

“Katakanlah, ‘Sekiranya Allah Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak, niscaya akulah yang pertama di antara para penyembah.’ Maha Suci Tuhan seluruh langit dan bumi, Tuhan Arasy, jauh dari apa yang mereka sifatkan.” (Surah Az Zukhruf, 43: 82-83)

“Dan, Dia-lah Tuhan Yang di langit dan Yang di bumi, dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana, Maha Mengetahui.” (Surah Az Zukhruf, 43: 85)

Kekhawatiran dan Keprihatinan Rasulullah

Kemudian, Surah Az Zukhruf menyebutkan tentang perhatian luar biasa Rasulullahsaw tentang nasib umat manusia. Beliausaw rela menanggung berbagai penderitaan demi keselamtan orang banyak.

Tidak kesaksian lebih besar mengenai kekhawatiran dan keprihatinan Rasulullahsaw terhadap kesejahteraan ruhani kaum beliau selain kenyataan bahwa Allahswt Sendiri bersumpah dengan kesaksian itu.

Kesedihan Rasulullahsaw atas penolakan kaum beliau dan perlawanan terhadap ajaran beliau begitu mendalam dan menyayat hati beliau, sehingga kesedihan itu hampir-hampir membinasakan diri beliau (Surah Al Kahfi, 18: 7).

Rasulullahsaw dihibur dan ditenteramkan bahwa meskipun beliau ditentang dan dianiaya namun waktu cepat mendatang ketika musuh-musuh beliau akan tunduk di bawah kekuasaan beliau, dan Islam akan tersebar ke seluruh pelosok Arab, dan keamanan akan meliputi seluruh negeri. Bila waktu itu datang beliau harus memaafkan musuh-musuh beliausaw.

“Maka maafkanlah mereka, dan ucapkanlah, ‘Selamat sejahtera.’ Maka mereka segera akan mengetahui.” (Surah Az Zukhruf, 43: 90)

Baca juga:

(Visited 78 times, 4 visits today)

Tinggalkan Balasan