Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Ath Thur

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-ath-thur

Surah Ath Thur adalah surah ke-52 setelah Surah Adz Dzariyat, terdiri dari 50 ayat dan 2 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Adz Dzariyat yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Ath Thur dan Hubungan dengan Surah-surah Lainnya

Surah Ath Thur diturunkan di Makkah pada tahun-tahun pertama Nabawi.

Dalam surah sebelumnya perhatian kita tertarik kepada revolusi ruhani besar yang ditimbulkan oleh Al Quran.

Adalah tepat dan sesuai sekali dengan hukum alam – demikian dikatakan oleh Surah Ath Thur ini – bahwa, dikarenakan manusia telah menjadi rusak dan telah lupa akan Tuhan, maka tibalah saat wahyu baru harus turun.

Surah Ath Thur ini berakhir dengan keterangan bahwa seperti halnya nabi-nabi terdahulu, Rasulullahsaw akan menghadapi perlawanan sengit, tetapi perjuangan kebenaran akan menang dan orang-orang kafir akan mendapat hukuman.

Surah Ath Thu menunjuk kepada nubuatan-nubuatan Bibel mengenai Rasulullahsaw dan memperingatkan orang-orang kafir bahwa bila mereka bersikeras dalam perlawanan mereka maka azab Ilahi akan menimpa mereka.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Ath Thur

Berikut ini tafsir singkat dan isi kandungan surah Ath Thur:

Hikmah Persumpahan Allah

Dalam Al Quran, Allahswt telah bersumpah atas nama wujud-wujud atau benda-benda tertentu atau telah menyebut wujud-wujud dan benda-benda itu sebagai saksi.

Huruf wau  berarti, juga; maka; sedangkan; sementara itu; pada waktu itu juga; bersama –sama; dengan; namun; tetapi.

Huruf wau itu mempunyai arti yang sama dengan kata rubba, yaitu seringkali ; kadang-kadang ; barangkali. Huruf itu pun merupakan huruf persumpahan, yang berarti “demi” atau “aku bersumpah,” atau “aku kemukakan sebagai saksi.”

Biasanya, bila seseorang mengambil sumpah dan bersumpah dengan nama Allahswt maka tujuannya ialah mengisi kelemahan persaksian yang kurang cukup atau menambah bobot atau meyakinkan pernyataannya.

Dengan berbuat demikian ia memanggil Allah sebagai saksi bahwa ia mengucapkan hal yang benar bila tiada orang lain dapat memberikan persaksian atas kebenaran pernyataannya.

Tetapi tidaklah demikian halnya dengan sumpah-sumpah Al Quran. Bilamana Al Quran mempergunakan bentuk demikian maka kebenaran pernyataan yang dibuatnya itu tidak diusahakan dibuktikan dengan suatu pernyataan belaka melainkan dengan dalil kuat yang terkandung dalam sumpah itu sendiri.

Kadang-kadang sumpah-sumpah itu menunjuk kepada hukum alam yang nyata dan dengan sendirinya menarik perhatian kepada apa yang dapat diambil arti, yatu, hukum-hukum ruhani, dari apa yang nyata.

Tujuan sumpah Al Quran lainnya ialah menyatakan suatu nubuatan yang dengan menjadi sempurnanya membuktikan kebenaran Al Quran. Demikianlah halnya di sini.

Nubuwatan Al Quran dan Rasulullah dalam Bible

Surah Ath Thur dimulai dengan suatu isyarat langsung dan tegas kepada nubuatan-nubuatan mengenai Al Quran dan Rasulullahsaw dalam Bibel.

Dan mengatakan bahwa Bibel, Al Quran, dan Ka‘bah memberikan kesaksian atas kebenaran Islam dan Rasulullahsaw, dan memperingatkan orang-orang kafir bahwa perlawanan terhadap kebenaran tidak pernah membawa hasil yang baik.

Akan tetapi hamba-hamba Allah yang muttaki, yang menerima ajaran Allahswt dan menyesuaikan kehidupan mereka dengan ajaran itu, akan memperoleh karunia Allahswt.

“Dan demi  Rumah yang selalu dikunjungi.” (Surah Ath Thur, 52: 5).

“Rumah yang selalu ditinggikan” Maksudnya yaitu Baitul Makm di Yerusalem atau rumah peribadatan mana jua pun. Kata itu terutama diisyaratkan kepada Ka’bah yang digambarkan dalam Al Quran sebagai “tempat ziarah” (Surah Al Baqara, 2: 126); “Baitul Haram” (Surah Al Maidah, 5: 3); “Masjidil Haram” (Surah Bani Israil, 17: 2); “Rumah Kuno” (Surah Al Hajj, 22: 30); dan “Negeri yang aman” (Surah At Tin, 95: 4); dan lain-lain.

“Dan demi  Atap yang ditinggikan.” (Surah Ath Thur, 52: 6)

“Atap yang ditinggikan” yaitu Kanisah (tempat ibadah) yang dibina oleh Nabi Musaas di tengah-tengah padang belantara dalam bentuk kubah yang di bawahnya orang-orang Yahudi menunaikan ibadah; atau bisa juga diartikan Kabah; atau langit; kata terakhir ini lebih cocok dan lebih tepat.

Merupakan keistimewaan Al Quran bahwa, bila Al Quran harus membuat pernyataan yang tegas dan memberikan bibit arti dan kepastian kepada pernyataannya, maka Al Quran bersumpah dengan atau menyebutkan sebagai saksi, wujud-wujud atau benda-benda tertentu atau hukum alam atau gejala alam yang nyata.

Dalam beberapa ayat permulaan, Surah Ath Thur bersumpah dengan benda tertentu, yang erat hubungannya dengan Nabi Musaas, yang juga rasul seperti halnya Rasulullahsaw.

Di gunung Thur itulah wahyu dianugerahkan kepada Nabi Musaas, yang berisikan syariat beliauas dan berisikan nubuatan-nubuatan yang mengatakan tentang kedatangan seorang nabi-Allah yang besar dari antara segala saudara Bani Israil (Ulangan 18:18 & 33:2).

Ternyata Rasulullahsaw lah nabi yang disebutkan dalam nubuatan itu. Kedatangan beliausaw dipersamakan dengan kedatangan Nabi Musaas oleh Al Quran (Surah Al Muzammil, 73: 16).

Kemudian Surah Ath Thur ini menyebut “Kitab Tertulis” (Bible atau Al Quran, dan dari antara keduanya Al Quran lah yang lebih dapat diterima) yang berlaku sebagai saksi abadi dan tidak dapat dipertikaikan atas kebenaran segala penda’waan Rasulullahsaw.

Baitul Makmur, rumah yang kerap dikunjungi – Ka’bah – lebih daripada segala yang lain, menunjukkan bahwa agama yang diperlakukan sebagai kubu dan pusat, ialah syariat Allah yang terakhir.

Di Ka’bah, pada beberapa abad yang silam ada seorang hamba Allah yang suci, Nabi Ibrahimas, ketika mendirikan dasar Rumah itu dibatu oleh putranya, Nabi Ismailas, berdoa kepada Allahswt agar tempat itu dijadikan tempat keselamatan dan keamanan, dan semoga merupakan pusat, tempat keesaan dan ketunggalan Tuhan dapat dikumandangkan serta disebarluaskan.

Karena yang diisyaratkan dalam kata-kata “Atap yang ditinggikan” itu langit, maka ayat itu (ayat 6) mengandung arti bahwa orang-orang kafir sudah begitu tidak berlaku bijaksana, sehingga mereka tidak melihat kenyataan yang sederhana bahwa sementara Rasulullahsaw terus menerus menerima pertolongan Ilahi, dan perjuangan beliau terus menerus maju dan berhasil, sebaliknya kegagalan demi kegagalan membuntuti langkah mereka dan semua rancangan dan rencana mereka dalam menentang beliausaw, terbukti gagal.

Kebenaran Rasulullah

Lebih lanjut Surah Ath Thur mengutarakan bahwa Rasulullahsaw bukan tukang sihir ataupun orang gila, begitu pula bukan ahli syair, melainkan utusan Allah yang benar.

Orang-orang kafir menyebut Rasulullahsaw seorang ahli syair yang gemar menggantang asap – mengkhayalkan masa depannya yang gilang-gemilang, seorang tukan tenun yang mempermainkan sifat kemudah-percayaan orang-orang sederhana pikirannya, orang gila yang suka mengigau, dan oleh karena itu tentu saja mereka mengharapkan bahwa cepat atau lambat beliau akan sampai kepada kesudahan yang menyedihkan.

Akan tetapi mereka harus terus menanti-nanti sampai Hari Kiamat untuk melihat penyempurnaan harapan-harapan mereka yang sia-sia itu. Hanya waktu yang akan memutuskan persoalan antara mereka dan Rasulullahsaw.

Revolusi di bidang akhlak dan keruhanian yang ditimbulkan beliau adalah mustahil hasil pekerjaan orang gila atau seorang penyair; begitu pula kitab Ilahi yang agung itu – Al Quran – yang telah diturunkan kepada beliau, tidak mungkin hasil gubahan seorang pendusta. Kitab suci itu telah diwahyukan oleb Sang Maha Pencipta seluruh langit dan bumi.

Sekiranya Rasulullahsaw tidak menerima wahyu dari Allahswt dan Al Quran hanya merupakan gubahan beliau sendiri, maka baiklah mereka membuat suatu kitab seperti itu.

Tergubah dalam gaya bahasa demikian indahnya dan pilihan kata-katanya yang indah tiada taranya seperti Al Quran, dan seperti Al Quran pula hendaknya membahas dengan teliti dan secara jitu segala persoalan akhlak dan keruhanian manusia yang rumit lagi pelik, serta memenuhi keperluan dan hasrat manusia yang banyak dan beraneka ragam.

Kemudian memberikan pengaruh demikian kuatnya atas kehidupan para penganutnya, dan di atas itu semua, harus menjadi gudang segala kebenaran yang kekal dan ajaran-ajaran abadi.

Lebih lanjut orang-orang kafir ditantang supaya membuat sebuah kitab menyerupai Al Quran, dengan mengerjakan segala usaha mereka memanggil “semua manusia dan jin” untuk mengerahkan serta menyatukan daya-upaya mereka.

Dengan tegas Al Quran mengatakan bahwa mereka tidak akan mampu membuat sebuah kitab semacam itu, sebab Al Quran adalah firman Allahswt Sendiri yang diwahyukan.

Rasululahsaw tidak mengharapkan ganjaran dan begitu pula rencana orang-orang kafir terhadap beliau tidak akan berhasil, sebab beliau ada dalam perlindungan Allah. Tetapi hukuman Allah yang mendekat dengan cepatnya itu akan menimpa mereka, orang-orang kafir itu.

“Dan, sesungguhnya, bagi orang-orang yang aniaya, ada azab selain itu, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Surah Ath Thur, 52: 48)

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan