Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Asy Syura

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

isi-kandungan-surah-yunus

Surah Asy Syura adalah surah ke-42 setelah Surah Ha Mim As Sajdah/Fussilat, terdiri dari 54 ayat dan 5 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Asy Syura yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Asy Syura dan Hubungannya dengan Surah-surah Lainnya

Surah Asy Syura, seperti halnya surah yang mendahuluinya, juga diturunkan di Makkah, kira-kira pada kurun waktu yang sama; akan tetapi, menurut Noldeke agak belakangan.

Ibnu Abbas, seperti diriwayatkan oleh Mardawaih dan Ibnu Zubair, berpendapat bahwa surah ini diturunkan di Makkah, ketika perlawanan terhadap Islam sedang menjadi-jadi dan kaum Muslimin berada dalam keadaan sangat terjepit.

Surah yang sebelumnya berakhir dengan keterangan bahwa tiap orang yang menentang dan menolak ajaran Ilahi sebenarnya hanya merugikan ruhnya sendiri, dan ia sendiri akan menderita akibat penolakannya itu.

Surah Asy Syura dimulai dengan pernyataan bahwa Al Quran telah diturunkan oleh Tuhan Yang Mahaagung, Mahabijaksana, dan Mahaperkasa; dan bila kaum seorang nabi menolak amanat-Nya, mereka akan merugikan diri mereka sendiri.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Asy Syura

Surah Asy Syura dimulai dengan masalah penting mengenai turunnya Al Quran. Ha Mim dapat merupakan alih-alih kata hafiz-ul-kitab (Penjaga dan Pemelihara Alkitab) dan munazzil-ul-kitab (Yang menurunkan Alkitab).

Semua surah yang dimulai dengan dua huruf singkatan ini terutama membahas soal wahyu Al Quran dan perlindungan serta penjagaannya.

Ain Sin Qaf, Huruf ain adalah alih-alih kata Al-‘Aliyy (Mahaluhur); Al-‘Alim (Maha Mengetahui); Al’Azhim (Mahabesar); Al-‘Aziz (Mahagagah-perkasa). Huruf sin menampilkan As-Sami’ (maha Mendengar), dan huruf qaf dapat menampilkan Al Qadir (Maha Kuasa).

Ampunan dan Rahmat Allah

Selanjutnya Surah Asy Syura mengatakan bahwa dosa-dosa manusia banyak dan besar, namun ampunan Allahswt jauh lebih besar dan rahmat-Nya tidak berhingga.

Rahmat-Nya berkehendak bahwa Al Quran harus diturunkan guna melepaskan manusia dari belenggu dosa, tetapi tingkah polah manusia adalah demikian rupa keadaannya, bukannya mencari faedah dari rahmat Allahswt itu, ia malah menyembah tuhan-tuhan buatannya sendiri.

Dosa manusia itu besar, namun lebih besar lagi adalah rahmat Allahswt, Yang lebih cemerlang dari semua sifat Ilahi lainnya. Rahmat Allahswt dan permohonan ampunan para malaikat untuk manusia, bergabung bersama-sama menjadi satu, menyelamatkan manusia dari hukuman Ilahi, dan manusia diberi tangguh agar dapat memperbaiki diri.

Maka Rasulullahsaw diberi nasihat supaya tidak bersedih hati atas apa yang diperbuat orang-orang kafir, karena beliau tidak ditugaskan bertindak sebagai penjaga mereka.

Kewajiban beliau hanyalah menyampaikan Amanat Ilahi, dan selebihnya adalah urusan Allahswt sendiri.

Allahswt-lah yang mengawasi kepercayaan-kepercayaan manusia yang menghinakan martabat-Nya, dan akan meminta pertanggungjawaban dari mereka, dan akan menghukum mereka bila mereka tidak bertobat.

Membangkitkan Seorang Utusan

Kemudian, Surah Asy Suyra menunjukkan sunah Ilahi yang berlaku untuk selamanya bahwa manakala perselisihan-perselisihan timbul di antara para pengikut berbagai agama mengenai asas-asas pokok keagamaan, Allahswt membangkitkan seorang nabi untuk melenyapkan perbedaan-perbedaan faham itu dan untuk memimpin mereka ke jalan yang lurus.

Tetapi, karena asas-asas pokok segala agama itu sama, maka semua rasul mengikuti agama yang sama menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allahswt.

Kata ‘agama’ mendapatkan penjelasan paling baik dan paling lengkap di dalam wahyu Al Quran Suci dan oleh karenanya agama yang dibawa Rasulullahsaw ini mendapat nama khas, yaituIslam.

Rasulullahsaw diperintahkan supaya mengundang seluruh umat manusia kepada ajaran Ilahi yang paling sempurna dan paling akhir ini, dan tidak membiarkan keaniayaan ataupun bujukan merintangi dan menghalang-halangi usaha beliau.

Menaati perintah-perintah Al Quran atau menentangnya, demikian Surah Asy Syura meneruskan, akan berarti amal saleh atau amal buruk. Perbuatan merekalah yang akan menentukan nasib bangsa-bangsa serta orang-perorang, dan yang akan menegakkan atau merusakkan hari depan mereka sendiri.

Dalam kehidupan mereka, kelak akan datang suatu hari ketika perbuatan mereka akan ditimbang di atas neraca. Bila amal saleh mereka lebih berat dari amal buruk mereka, maka kenikmatan dan kebahagiaan menanti mereka.

Bila, sebaliknya, amal buruk mereka melebihi amal saleh mereka, mereka akan mendapati kehidupan penuh dengan sesalan dan keluhan.

Kerja Keras Rasulullah

Kemudian, Surah Asy Syura ini mengatakan bahwa Rasulullahsaw telah bekerja sangat keras dan menderita banyak demi kebenaran, dan hal itu semua tidaklah terdorong oleh tujuan-tujuan pribadi.

Karena penuh dengan nilai-nilai kebajikan dan peri kemanusiaan, perhatian dan keinginan beliau semata-mata hanyalah supaya manusia mengadakan hubungan yang hakiki lagi nyata dengan Tuhan.

Adakah mungkin seorang yang mengharapkan kebaikan bagi seluruh umat manusia dengan ikhlas dan jujur serupa itu, mempunyai kesanggupan mengadaadakan dusta terhadap Allahswt?

Akan tetapi, kaum beliausaw malah menuduh beliau melakukan perbuatan-perbuatan dosa yang paling keji di antara segala dosa. Mengapakah mereka tidak dapat mengerti kenyataan sederhana bahwa mengada-adakan dusta terhadap Allah itu racun yang mematikan, dan membawa kebinasaan total bagi si pendusta?

Tetapi alih-alaih menjadi binasa, usaha keras lagi mulia Rasulullahsaw itu justru membawa hasil yang gilang gemilang, dan perjuangan beliau mencapai kemajuan pesat lagi merata.

Surah As Syura ini kemudian menarik perhatian kita kepada gejala alam bahwa bilamana tanah kering kerontang membutuhkan air, Allahswt menurunkan hujan dari awan. Demikian pula, manakala tanah rohani telah menjadi gersang, Allahswt menurunkan hujan samawi dalam bentuk Al Quran.

Hukum Pidana Islam

Kemudian, sesudah dengan singkat menyebutkan asas pokok bahwa urusan-urusan masyarakat Islam dan hal-hal lain yang menyangkut kepentingan nasional harus diselenggarakan dengan jalan musyawarah bersama, Surah Asy Syura meletakkan dasar hukum pidana Islam.

Menurut ajaran Islam, tujuan hakiki yang menjadi dasar pemberian hukuman terhadap orang bersalah ialah perbaikan akhlaknya. Bila pengampunan diperkirakan akan memberikan perbaikan akhlak kepadanya, maka haruslah ia diberi maaf.

Tetapi ia harus dihukum bila hukumanlah yang mungkin akan membawa dia kepada perbaikan; tetapi, hukuman sama sekali tidak boleh tak-seimbang dengan pelanggaran yang telah dilakukan.

Menurut hukum itu, tujuan sebenarnya yang menjadi dasar bagi sebuah hukuman ialah perbaikan akhlak orang-orang bersalah.

Tidak ada tempat dalam Islam bagi ajaran kebiaraan Kristen yang “menyerahkan pipi sebelah lainnya untuk ditampar” dalam segala keadaan; tak ada pula tempat bagi ajaran Yahudi, “mata dibayar dengan mata dan gigi dibayar dengan gigi.” Dalam segala keadaan, Islam mengambil jalan tengah.

“Dan pembalasan terhadap suatu keburukan adalah keburukan semisalnya, tetapi barang siapa memaafkan dan memperbaiki, maka ganjarannya ada pada Allah. Sesungguhnya, Dia tidak menyukai orang-orang aniaya.” (Surah Asy Syura, 42: 41)

Prinsip Islam mengenai hukuman bagi seorang pelanggar mungkin tidak menarik hati para pengkhayal dan para idealis yang tidak praktis; tetapi sebagai agama yang praktis, Islam telah menetapkan pemecahan yang paling sehat lagi praktis bagi masalah-masalah hukum, ekonomi, dan akhlak.

Islam memandang pembelaan diri sebagai kewajiban moral bagi orang Islam. Rasulullahsaw diriwayatkan penar bersabda, “Barangsiapa terbunuh dalam membela harta bendanya dan kehormatannya, adalah seorang syahid” (Bukhari, Kitab al-Mazhalim wal Ghashah).

Rasulullah Hanyalah Pemberi Ingat

Menjelang akhir, Surah As Syura ini mengatakan kepada orang-orang kafir bahwa Rasulullahsaw telah melaksanakan tugas beliau. Beliau hanyalah seorang pemberi peringatan dan telah menyampaikan peringatan itu kepada mereka.

Beliau tidak dijadikan penjaga atas mereka. Beliau adalah kehidupan dan nur; jalan beliau merupakan jalan yang menjuruskan kepada penyempurnaan tujuan hidup manusia.

Pada akhirnya, Surah Asy Syura ini menyebutkan tiga cara Allahswt berbicara kepada hamba-Nya dan menampakkan Wujud-Nya keapda mereka; Pertama, Allahswt berfirman secara langsung kepada mereka tanpa perantara.

Kedua, Allahswt membuat mereka menyaksikan kasyaf (Penglihatan gaib), yang dapat ditakwilkan atau tidak, atau kadang-kadang membuat mereka mendengar kata-kata dalam keadaan jaga dan sadar, di waktu itu mereka tidak melihat wujud orang yanb berbicara kepada mereka. Inilah arti kata-kata “dari belakang tabir.”

Ketiga, Allahswt menurunkan seorang rasul atau seorang malaikat, yang menyampaikan Amanat Ilahi.

“Dan tidak ada bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya, kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya, Dia Mahaluhur, Mahabijaksana.” (Surah Asy-Syura, 42: 52).

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan