Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Ash Shaffat

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-ash-shaffat

Surah Ash Shaffat adalah surah ke-37 setelah Surah Yasin, terdiri dari 183 ayat dan 5 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Ash Shaffat yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Ash Shaffat dan Hubungannya dengan Surah Lain

Baihaqi dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas mengatakan Surah Ash shaffat diturunkan di Makkah. Menurut Qurthubi, para ulama pun sepakat menganggap bahwa surah ini telah diwahyukan pada waktu awal sekali di masa nubuwah Rasulullahsaw di Makkah. Gaya bahasa dan isi surahnyapun mendukung pandangan itu.

Dalam surah sebelumnya Rasulullahsaw disebut “Pemimpin yang sempurna.” Kepada beliau telah diberikan Al Quran, sebagai pemandu yang tak akan pernah membuat kesalahan, untuk seluruh manusia sampai akhir zaman.

Pada permulaan Surah Ash Shaffat dinyatakan, bahwa “Pemimpin yang sempurna” ini, dengan bantuan Al Quran dan teladan agung dan mulia yang diperlihatkan oleh beliau sendiri, akan berhasil mewujudkan suatu jemaat, terdiri dari orang-orang yang bertakwa.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Ash Shaffat

Ash Shaffat artinya Saf-saf (barisan), maksudnya adalah Orang-orang Muslim bersiap-siaga berdiri di garis depan menghadapi musuh atau berdiri bersaf-saf di belakang imamnya pada waktu shalat lima waktu setiap hari.

Huruf Wāu dalam Surah Ash Shaffat ayat 2 (Was Shaffati) berarti, juga; maka; sedangkan; sementara itu; pada waktu itu juga; bersama-sama; dengan; namun; tetapi. Huruf itu mempunyai arti yang sama dengan kata Rubba, yaitu seringkali; kadang-kadang; barangkali.

Huruf itu pun merupakan huruf persumpahan, yang berarti “demi” atau “aku bersumpah” atau “aku kemukakan sebagai saksi” .

Wāu telah dipakai dalam ayat itu dan dalam dua ayat berikutnya dalam arti “demi,” atau “aku bersumpah,” atau “aku kemukakan sebagai saksi.”

Dalam Al Quran Tuhan telah bersumpah atas nama wujud-wujud atau benda-benda tertentu atau telah menyebut wujud-wujud dan benda-benda itu sebagai saksi.

Biasanya, bila seseorang mengambil sumpah dan bersumpah dengan nama Allah maka tujuannya ialah mengisi kelemahan persaksian yang kurang cukup atau menambah bobot atau meyakinkan pernyataannya.

Dengan berbuat demikian ia memanggil Allahswt sebagai saksi bahwa ia mengucapkan hal yang benar bila tiada orang lain dapat memberikan persaksian atas kebenaran pernyataannya. Tetapi tidaklah demikian halnya dengan sumpah-sumpah Al Quran.

Bilamana Al Quran mempergunakan bentuk demikian maka kebenaran pernyataan yang dibuatnya itu tidak diusahakan dibuktikan dengan suatu pernyataan belaka melainkan dengan dalil kuat yang terkandung dalam sumpah itu sendiri.

Kadang-kadang sumpah-sumpah itu merujuk kepada hukum alam yang nyata dan dengan sendirinya menarik perhatian kepada apa yang dapat diambil arti, yaitu hukum-hukum rohani, dari apa yang nyata.

Tujuan sumpah Al Quran lainnya ialah menyatakan suatu nubuatan yang dengan menjadi sempurnanya membuktikan kebenaran Al Quran. Demikianlah halnya di sini.

Jamaah Orang-orang yang Bertaqaw

Surah Ash shaffat ini dimulai dengan suatu pernyataan tegas, bahwa di bawah asuhan Rasulullahsaw“Pemimpin yang sempurna” akan lahir suatu jamaah yang terdiri dari orang-orang mulia dan bertakwa.

Bukan saja hanya diri mereka sendiri yang akan memuliakan Allahswt dan melantunkan puji-pujian kepada-Nya sehingga belantara padang pasir Arabia akan bergema dengan puji-pujian itu tetapi dengan ajaran dan amal perbuatannya, mereka akan mencegah orang-orang lain dari penyembahan berhala dan perbuatan-perbuatan jahat, sehingga Keesaan Allah akan berdiri tegak dengan kokoh kuat di Arabia, dan dari sana cahaya Islam akan menyebar ke pelosok-pelosok dunia.

Di setiap zaman dan di tengah setiap kaum, selamanya ada suatu jemaat orang-orang saleh dan muttaqi, yang dengan ucapan dan perbuatan serta dengan wejangan dan amal mereka memberikan kesaksian akan kebenaran, bahwa Tuhan itu Maha Esa.

Tetapi sebagai nubuatan, ayatayat itu berarti bahwa meskipun sekarang seluruh Arabia tenggelam dalam kemusyrikan dan keburukan moral, namun segera akan lahir suatu jemaat yang terdiri dari orang-orang mukmin.

Mereka sendiri bukan saja akan memuliakan Tuhan dan mendendangkan puji-pujian  kepada-Nya serta menjadikan seluruh negeri bergema dengan zikir Ilahi, tetapi akan berhasil pula menegakkan Tauhid Ilahi di bumi. Dengan demikian para sahabat Rasulullahsaw, yang ciri-ciri khususnya disebut dalam ayat-ayat ini, dikemukakan sebagai saksi atas Keesaan Tuhan.

Bila suatu pertemuan antara para alim yang mewakili berbagai agama diadakan dalam suasana damai, dan pada kesempatan itu asas-asas pokok agama-agama dibahas dan diperdebatkan dalam suasana tenang di bawah pengawasan penegak hukum dan pemelihara tata tertib, maka hasil musyawarah semacam itu, tidak boleh tidak akan menguatkan itikad, bahwa “Tuhan itu Maha Esa.”

Kemudian, Surah Ash Shaffat melanjutkan keterangannya dengan mengatakan, bahwa manakala ada seorang nabi Allah menampakkan diri di dunia, maka kekuatan-kekuatan kegelapan berusaha mencegah penyebaran amanatnya dengan menyimpangkan penjelasan dan menyalah-tafsirkannya, atau dengan menyalahgunakan sabda-sabda nabi itu dan mengambil sepotong kalimat wahyu beliau, lalu mencampurkan banyak kepalsuan ke dalamnya.

Tetapi mereka itu sama sekali gagal dalam rencana jahat mereka dan kebenaran pun terus-menerus mendapat kemajuan.

Keagungan Al Quran

Surah Ash shaffat selanjutnya mengatakan bahwa ketika kepada orang-orang ingkar dikatakan bahwa ajaran Al Quran akan menimbulkan perubahan besar di tanah Arabia, dan orang-orang Arab yang telah mati ruhaninya itu bukan saja akan mendapatkan kehidupan baru, malahan karena mereka sendiri telah menerima kehidupan baru mereka akan memberikan kehidupan baru itu juga kepada orang-orang lain.

Orang-orang kafir lantas mengejek dan mencemoohkan pandangan itu dan menyebutnya sebagai igauan orang gila, atau sebagai gejala yang mustahil terjadi sebagaimana mustahilnya orang yang telah mati hidup kembali.

Surah Ash Shaffat menjawab penolakan keras orang-orang ingkar terhadap gejala itu dengan pernyataan lebih keras lagi, bahwa hal demikian itu pasti akan terjadi dan mereka akan mengalami kenistaan dan kehinaan.

Kemudian, Surah Ash Shaffat memberikan lukisan singkat mengenai nikmat-nikmat Ilahi yang dianugerahkan kepada abdi-abdi Allah yang bertakwa dan terpilih.

Keterangan mengenai nikmat dan berkat Ilahi yang akan dianugerahkan kepada orang-orang yang beriman, diikuti oleh keterangan mengenai siksaan yang akan ditimpakan kepada orang-orang yang menolak kebenaran dan berbuat zalim terhadap nabi-nabi Allah.

Kemenangan Kaum Beriman

Selanjutnya Surah Ash Shaffat memberikan sedikit gambaran tentang kehidupan nabi-nabi Allah guna memperlihatkan, bahwa langkah-langkah untuk memperjuangkan kebenaran tidak pernah gagal dan usaha-usaha menolak kebenaran itu tidak pernah membawa hasil yang baik.

Gambaran-gambaran itu telah digali dari kehidupan Nabi Nuh, Nabi Ilyas, Nabi Yunus, dan Nabi Luth alaihimus salama.

Surah Ash Shaffat kemudian menolak dan mencela penyembahan berhala, terutama penyembahan malaikat-malaikat.

Para penyembah berhala disesalkan, bahwa mereka itu begitu bodoh sehingga tidak mengerti kenyataan sederhana itu.

Karena penisbahan kekuasaan-kekuasaan dan sifat-sifat Ilahi kepada makhluk manusia yang lemah, atau kepada kekuatan-kekuatan alam, atau bahkan kepada para malaikat sekalipun yang merupakan makhluk ciptaan Allah belaka sebagaimana mereka sendiri –  adalah bertentangan sekali dengan akal, logika dan kata hati manusia.

Mereka selanjutnya diberi tahu, bahwa para malaikat itu hanya makhluk Allah yang mengemban tugas-tugas khusus.

Surah Ash Shaffat berakhir dengan peringatan, bahwa telah menjadi takdir Ilahi yang tak dapat diubah, bahwa bila kekuatan-kekuatan kegelapan dihadapkan kepada para nabi Allah dan para abdi Allah yang terpilih, maka para nabi Allah dan para abdi Allah itu mendapat pertolongan Ilahi, sedangkan para pengikut setan akan menemui kekalahan dan kegagalan.

Kenyataan ini telah terbukti berulang kali dalam kehidupan para rasul dan kenyataan itu membawa kepada satu-satunya kesimpulan bahwa “segala puji itu kepunyaan Allah, Tuhan seru sekalian alam.”

“Mahasuci Tuhan engkau, Tuhan Yang Memiliki Segala Keagungan, jauh dari apa yang mereka sifatkan. Dan salam sejahtera kepada para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Surah Ash Shaffat, 37: 180-183).

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan