Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah As Shaf

Surah As Shaf adalah surah ke-61 setelah Surah Al Mumtahinah, terdiri dari 15 ayat dan 2 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah As Shaf yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah As Shaf dan Hubungan dengan Surah-surah Lainnya

Surah As Shaf diturunkan di Madinah, mungkin pada tahun ketiga atau keempat Hijrah, sesudah Pertempuran Uhud, sebab ayat kelima sepertinya menyiratkan suatu isyarat adanya kekurangan disiplin atau kepatuhan tanpa syarat dari beberapa orang Muslim pada Rasulullahsaw dan bersalah waktu pertempuran itu.

Dua surah sebelumnya telah membahas masalah perang terhadap orang-orang kafir, dan membahas pula soal-soal kemasyarakatan dan politik yang timbul akibat perang.

Surah As Shaf menekankan kepentingan kepatuhan mutlak kepada sang pemimpin dan menekankan kepentingan menampilkan satu pasukan yang kokoh kuat dan bersatu-padu di bawah pimpinannya terhadap orangorang kafir.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah As Shaf

Berikut ini tafsir singkat dan beberapa isi kandungan Surah As Shaf:

Komitmen Umat Islam

Surah As Shaf diawali dengan pujian atas kebijaksanaan dan keperkasaan Allahswt. Dan seterusnya memperingatkan orang-orang yang beriman bahwa apabila mereka menyanjung Allahswt dan memuji kesucian-Nya dengan lidah mereka, hendaknya memberikan bukti secara amaliah atas pernyataan mereka itu dengan perbuatan mereka, sehingga dengan demikian perbuatan mereka menjadi selaras dengan ikrar lidah mereka.

Perbuatan seorang Muslim hendaknya sesuai dengan pernyataan-pernyataannya. Bicara sombong dan kosong, membawa seseorang tidak keruan kemana yang dituju, dan ikrar-ikrar lidah tanpa disertai perbuatanperbuatan nyata adalah berbau kemunafikan dan ketidaktulusan.

Dan, bila mereka dipanggil untuk berperang demi kepentingan kebenaran, mereka hendaknya tampil dalam barisan yang kokoh kuat dan teguh menghadapi orang-orang kafir serta memperlihatkan kepatuhan mutlak kepada pemimpin mereka.

Umat Islam diharapkan tampil dalam barisan yang kokoh, teguh dan kuat terhadap kekuatan-kekuatan kejahatan, di bawah komando pemimpin mereka, yang terhadapnya mereka harus taat dengan sepenuhnya dan seikhlas-ikhlasnya.

Tetapi suatu kaum, yang berusaha menjadi satu jemaat yang kokoh-kuat, harus mempunyai satu tata-cara hidup, satu cita-cita, satu maksud, satu tujuan dan satu rencana untuk mencapai tujuan itu.

Contoh Buruk Para Pengikut Nabi Musa

Surah As Shaf ini kemudian menyebut secara singkat kelakuan jahat para pengikut Nabi Musaas yang dengan memfitnah dan menentang beliau menyebabkan beliau sering merasa jengkel dan pedih hati, dan dengan sendirinya Surah As Shaf ini memperingatkan kaum Muslimin agar jangan sekali-kali berperilaku seperti mereka itu.

Mungkin tiada nabi Allah yang begitu banyak menderita kepedihan hati karena perbuatan para pengikutnya, selain Nabi Musaas.

Kaum Nabi Musa As telah menyaksikan lasykar Fir‘aun tenggelam di hadapan mata kepala mereka sendiri, namun demikian baru saja mereka melintasi lautan, mereka telah mencoba lagi kembali kepada kemusyrikan, dan karena mereka melihat suatu kaum penyembah berhala, mereka meminta kepada Nabi Musaas membuatkan bagi mereka berhala semacam itu juga (Surah Al Araf, 7: 139).

Ketika mereka disuruh bergerak memasuki Kanaan yang telah dijanjikan Tuhan akan diberikan kepada mereka, sambil mencemoohkan dan dengan bersitebal-kulitmuka mereka mengatakan kepada Nabi Musaas agar beliau sendiri pergi bersama Tuhan yang amat dipercayainya itu; mereka tidak mau bergerak barang satu tapak pun dari tempat mereka bermukim. (Surah Al Maidah,5: 25).

Jadi, Nabi Musaas dalam usahanya memanggil mereka kembali dari kemusyrikan berkalikali dihina dan dikecewakan oleh kaum yang justru telah ia selamatkan dari penindasan perbudakan Fir‘aun itu. Mereka malahan mengumpat dan memfitnahnya.

Nubuwatan Nabi Isa

Kemudian Surah As Shaf menyebutkan nubuatan Nabi Isaas tentang kedatangan Nabi Ahmad yang diikuti dengan pernyataan tegas bahwa segala usaha para pengabdi kegelapan untuk memadamkan Cahaya Ilahi akan sia-sia belaka.

Untuk nubuatan Nabi Isaas mengenai kedatangan Paraklit (Paraclete) atau Penolong atau Ruh Kebenaran, lihat Injil Yahya 12: 13; 14: 16-17; 15: 26; 16: 17; yang dari situ kesimpulan berikut dengan jelas dapat diambil:

(a) Paraklit (Paraclete) atau Penolong atau Ruh Kebenaran tidak dapat datang sebelum Nabi Isa As berlalu dari dunia ini.

(b) Ia akan tinggal di dunia untuk selama-lamanya, akan mengatakan banyak hal yang Nabi Isa sendiri tidak dapat mengatakannya karena dunia belum dapat menanggungnya pada waktu itu.

(c) Ia akan memimpin umat manusia kepada segala kebenaran.

(d) Ia tidak akan bicara atas kehendak sendiri, tetapi apa pun yang didengar olehnya, itu pulalah yang akan diucapkan olehnya.

(e) Ia akan memuliakan Nabi Isaas dan memberikan kesaksian atas kebenarannya.

Lukisan mengenai Paraklit atau Penolong atau Ruh Kebenaran itu serasi benar dengan kedudukan dan tugas Rasulullahsaw sebagaimana diterangkan dalam Al Quran.

Rasulullahsaw datang sesudah Nabi Isaas meninggalkan dunia ini, beliau adalah nabi pembawa syariat terakhir dan Al Quran merupakan syariat suci terakhir, diwahyukan untuk seluruh umat manusia hingga Hari Kiamat. (Surah Al Maidah, 5: 4).

Beliau tidak berkata atas kehendak sendiri, melainkan apa pun yang didengar beliau dari Allahswt, itu pulalah yang diucapkan beliau (Surah An Najm, 53: 4). Beliau memuliakan Nabi Isa (Surah Al Baqarah, 2: 254 dan Surah Ali Imran, 3: 56).

Nubuatan dalam Injil Yahya di atas adalah sesuai dengan nubuatan yang disebut dalam ayat yang sedang dibahas kecuali bahwa bukan nama Ahmad yang tercantum di situ melainkan Paraklit.

Para penulis Kristen menantang ketepatan versi Al Quran mengenai nubuatan itu, sambil mendasarkan pernyataan-pernyataan mereka pada perbedaan kedua nama itu, dengan tidak memperhatikan kesamaan sifat-sifat yang dituturkan oleh Bibel dan Al Quran.

Pada hakikatnya, Nabi Isaas memakai bahasa Arami dan Ibrani. Bahasa Arami adalah bahasa ibu Nabi Isaas dan bahasa Ibrani adalah bahasa agamanya. Versi Bibel sekarang adalah terjemahan dari bahasa Arami dan bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani.

Suatu terjemahan dengan sendirinya tidak dapat membawakan sepenuh keindahan gubahan aslinya. Bahasa-bahasa mempunyai batas-batasnya masing-masing. Demikian pula mengenai kaum yang mempergunakan bahasa itu.

Batas-batas mereka itu nampak pula dalam karya-karya mereka. Bahasa Yunani mempunyai penggunaan kata lain, yaitu Periklutos, yang mempunyai persamaan arti dengan Ahmad dalam bahasa Arab.

Jack Finegan, seorang ahli ilmu agama Kristen kenamaan, mengatakan di dalam kitabnya bernama, “Archaeology of World Religions,” berkata, “Jika dalam bahasa Yunani kata Paracletos (Penghibur) sangat cocok dengan kata Periclutos (termasyhur), maka kata itu berarti nama-nama Ahmad dan Muhammad.”

Lebih-lebih, “The Damascus Document” (Dokumen atau Naskah asal Damaskus), suatu naskah yang ditemukan menjelang akhir abad ke-19 dalam gereja Yahudi di Ezra, Mesir Kuno (halaman 2) melukiskan bahwa Almasih telah menubuatkan kedatangan “Ruh Suci” dengan nama Emeth:

Dan dengan Almasih-Nya Dia memberitahukan kepada mereka Rohulkudus-Nya. Sebab dialah Emeth ialah, Al-Amin (Si Jujur), dan sesuai dengan nama-Nya demikian pula nama mereka ….. Emeth” dalam bahasa Ibrani berarti “kebenaran” atau Si Jujur (Al-Amin) dan orang yang kebaikannya langgeng.” (Strahan’s Fourth Gospel, 141).

Kata ini ditafsirkan oleh orang-orang Yahudi, “Cap (meterai) Tuhan.” Dengan sendirinya, meskipun Nabi Isaas mungkin telah mempergunakan nama Ahmad, persamaan bunyi lafal antara kedua kata (Ahmad dan Emeth) itu telah membuat para penulis di kemudian hari menulis kata Emeth sebagai alih-alih kata “Ahmad” yang adalah persamaan kosa-kata dalam bahasa Ibrani.

Cahaya itu akan tetap memancar dalam segala keagungan dan kecemerlangannya dan Islam akan mengatasi serta mengungguli segala agama.

Tetapi, sebelum hal itu sungguh-sungguh terjadi orang-orang Muslim harus “berjihad dengan harta dan diri mereka di jalan Allah,” Sesudah itu barulah mereka layak dikaruniai rida Ilahi dan kebesaran duniawi, “dengan kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.”

“Dia-lah Yang mengirimkan Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama3040 walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (Surah As Shaf, 61: 10)

Di ayat di atas diterangkan tentang kenabian Rasulullahsaw sebagai Nabi seluruh alam. Yakni beliausaw tidak diutus hanya untuk pengikut satu agama saja, melainkan untuk pengikut semua agama di dunia. Beliau akan menang atas semua agama.

Kebanyakan para ahli tafsir Al Quran sepakat bahwa ayat di atas tertuju untuk Almasih yang dijanjikan sebab di zaman beliau semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian.

Surah As Shaf berakhir dengan anjuran supaya kaum Muslimin membantu perjuangan di jalan Allah Taala seperti dilakukan oleh para pengikut Nabi Isaas dahulu dengan mengalami berbagai pengorbanan dan penderitaan.

Kata-kata penutup Surah As Shaf sungguh sarat dengan nubuatan. Sepanjang zaman para pengikut Nabi Isa As telah menikmati kekuatan dan kekuasaan atas musuh abadi mereka – kaum Yahudi. Mereka telah menegakkan dan memerintah kerajaan-kerajaan luas dan perkasa, sedang kaum Yahudi tetap merupakan kaum yang cerai-berai sehingga mendapat julukan “The Wandering Jew” (“Yahudi Kelana”).

“Hai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penolong Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam berkata kepada pengikut-pengikutnya, ‘Siapakah penolong-penolongku di jalan  Allah?’ Pengikut-pengikut yang setia itu berkata, ‘Kamilah penolong-penolong Allah.’ Maka berimanlah segolongan dari Bani Israil, dan ingkarlah segolongan lagi, kemudian Kami membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, maka mereka menjadi orang-orang yang menang.” (Surah As Shaf, 61: 15)

Baca juga:

(Visited 548 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan