Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah As Sajdah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-as-sajdah

Surah As Sajdah adalah surah tiga puluh dua setelah Surah Lukman, terdiri dari 31 ayat dan 3 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah As Sajdah yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah As Sajdah dan Hubungan dengan Surah-surah Lainnya

Surah As Sajdah ini diturunkan di  Makkah. Surah sebelumnya telah berakhir dengan pernyataan bahwa hanya Allahswt Sendiri Yang mengetahui, bila suatu kaum atau bangsa tertentu akan bangkit atau jatuh dan bahwa hanya Dia Sendiri Yang menyediakan jaminan bagi keperluan-keperluan jasmani manusia dan bagi keperluan-keperluan akhlak dan ruhaninya.

Surah As Sajdah ini merupakan yang terakhir dari kelompok Alif Lam Mim, Tema inti keempat surah ini (29 – 32) adalah kebangkitan kembali suatu kaum, yang telah tenggelam di dalam rawa-rawa kerendahan akhlak yang sekarang akan diangkar ke puncak kejayaan ruhani dengan perantaraan Baginda Nabi Besar Muhammadsaw.

Kebangunan yang menuju kepada kehidupan baru, yang dialmi oleh kaum yang telah mati akhlaknya telah dikemukakan sebagai dalil untuk mendukung adanya hari kiamat dan akhirat.

Dalam Surah As Sajdah ini semua masalah tersebut telah dikemukakan dengan menyebutkan penciptaan alam semesta.

Surah As Sajdah mulai dengan pernyataan bahwa karena Allah itu Tuhan sekalian alam, maka di tanganNya-lah terletak semua sarana, yang pada sarana-sarana itu bergantung kemajuan dan kesejahteraan bangsa-bangsa serta perorangan-perorangan, dan Dia Sendiri mengendalikan sebab-sebab yang membawa kepada kemunduran dan keruntuhan mereka.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Ar Rum

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah As Sajdah

Berikut ini tafsir singkat dan isi kandungan Surah As Sajdah:

Kebenaran Al Quran dan Rasulullah

Tema poko pada akhir Surah As Sajdah ialah kemenangan Islam. Surah As Sajdah mulai dengan suatu sanggahan yang keras terhadap tuduhan orang-orang kafir bahwa Al Quran merupakan karya tiruan, dan Rasulullahsaw itu seorang pendusta.

Surah As Sajdah ini mengatakan bahwa Rasulullahsaw bukan pendusta, sebab pendusta-pendusta tidak pernah berhasil dalam usaha mencapai tujuan mereka, akan tetapi perjuangan Rasulullahsaw maju dengan cepat dari hari ke sehari.

Dan juga Al Quran bukanlah hasil karya dengan cepat karena Al Quran diturunkan tepat pada waktunya dan sesuai dengan tuntutan kebenaran dan keadilan, serta memenuhi segala kepentingan dan keperluan akhlak dan keruhanian manusia, dan juga karena seluruh alam semesta bekerja untuk mendukung dan memajukan Amanat Al Quran.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Ankabut

Masa Kemuduran dan Kebangkitan Kembali Islam

Surah As Sajdah ini kemudian mengadakan sedikit penyimpangan dari pokok dan mengemukakan khabar gaib, bahwa sesudah kemajuan yang menakjubkan pada awalnya, Islam akan mengalami kemunduran untuk sementara waktu.

Pada akhirnya suatu gerhana nisbi yang meliputi jangka waktu seribu tahun akan diikuti oleh suatu kebangunan untuk kedua kalinya, yang sebagai akibatnya Islam akan memperoleh kembali kebesarannya seperti semula, dan akan berderap maju pada jalan kemenangan secara terus-menerus.

Lebih lanjut Surah As Sajdah ini memberikan gambaran yagn indah sekali, betapa Islam dari suatu keadaan yang pada awalnya tidak berarti sama sekali, kekuatannya akan tumbuh, berkembang, dan meluas, lalu akan menjadi suatu kekuatan yang dahsyat. Gambaran ini diambil dari kelahiran manusia yang tidak berarti, karena berasal dari tanah liat belaka.

Suatu pancaroba sangat hebat, yang ditakdirkan akan menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama tiga abad pertama kehidupannya.

Rasulullahsaw diriwayatkan pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau, “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya, kemudian abad sessudah itu” (Tarmidzi & Bukhari, Kitab-usy-Syahadat).

Islam mulai mundur sesudah tiga abad pertama masa keunggulan dan kemenangan yang tiada henti-hentinya. Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya berlangsung dalam masa seribu tahun berikutnya. Kepada peraturan itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lama nya seribu tahun.”

Dalam hadist lain Rasulullahsaw diriwayatkan pernah bersabda, bahwa iman akan terbang ke Bintang Suraya dan seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikan ke bumi. (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir ).

Kemajuan kembali Islam akan dimulai dengan kedatangan Isa Almasih kedua yang telah dinubuwatkan kedatangannya di akhir zaman ini.

Waktu Rasulullahsaw menggambarkan bentuk dan sifat nikmat dan kesenangan surga, beliau diriwayatkan pernah bersabda, “Tiada mata pernah melihatnya (nikmat surga itu) dan tiada pula telinga pernah mendengarnya, tidak pula pikiran manusia dapat membayang-kannya” (Bukhari, Kitab Bad’al-Khalaq).

Hadist itu menunjukkan bahwa nikmat kehidupan ukhrawi tidak akan bersifat kebendaan. Nikmat-nikmat itu akan merupakan pernjelmaan keruhanian perbuatan dan tingkah-laku baik yang telah dikerjakan orang-orang muttaqi di alam dunia ini. Kata-kata yang dipergunakan untuk menggambarkan nikmat-nikmat itu, dalam Alquran telah dipakai hanya dalam arti kiasan.

Karunia dan nikmat Ilahi yang akan dilimpahkan kepada orang-orang mukmin yang bertakwa di alam akhirat bahkan jauh lebih baik dan jauh lebih berlimpah-limpah dari yang dikhayalkan atau dibayangkan. Nikmat-nikmat itu akan berada jauh di luar batas jangkauan daya cipta manusia.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Qasas

Menurunkan Utusan-Nya

Menjelang akhir, Surah As Sajdah ini mengumpulkan pokok inti temanya dan menambahkan bahwa kedatangan Rasulullahsaw bukanlah sesuatu yang baru.

Seperti halnya dalam alam kebendaan, bilamana tanah menjadi kering dan gersang, Allahswt mengirimkan hujan dan tanah itu mulai bergetar dengan kehidupan baru, demikian pulalah pada alam keruhanian pun, manakala manusia meraba-raba dan merangkak-rangkak dalam kegelapan ruhani maka seorang rasul Allah diturunkanlah sehingga orang-orang yang telah mati ruhaninya memperoleh kehidupan baru dengan perantaraan rasul itu.

“Apakah mereka tidak melihat, bahwa Kami mengalirkan air ke bumi yang tandus dan Kami mengeluarkan dengan air itu tumbuh-tumbuhan, yang darinya binatang ternak mereka makan, dan diri mereka sendiri? Apakah mereka tidak melihat?” (Surah As Sajdah, 32: 28)

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan