Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Ar Rum

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-ar-rum

Surah Ar Rum adalah surah ke-30 setelah Surah Al Ankabut, terdiri dari 61 ayat dan 6 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Ar Rum yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Ar Rum dan Hubungan dengan Surah-surah Lainnya

Surah Ar Rum diturunkan di Makkah, akan tetapi, sulit menetapkan waktu diwahyukannya secara tepat. Meskipun demikian, sumber-sumber yang paling dapat dipercaya menempatkannya pada tahun keenam atau ketujuh Nabawi, sebab pada tahun itu gelombang serbuan kerajaan Persia yang kepadanya Surah Ar Rum ini mengisyaratkan dengan jelas sedang mencapai puncaknya.

Lasykar kerajaan Persia sedang mengetuk-ngetuk pintu gerbang kerajaan Romawi, dan kehinaan serta kemunduran kerajaan Romawi telah sampai ke jurang sedalam-dalamnya.

Pada bagian akhir surah sebelumnya dinyatakan, bahwa “kehidupan sekarang ini hanya berupa hiburan dan permainan,” jika tidak diisi usaha mencapai tujuan luhur, dan bahwa kehidupan hakiki dan kekal adalah kehidupan yang dijalani oleh seorang musafir kerohanian dengan berjuang sekuat tenaga untuk memperoleh keridaan Ilahi.

Surah Ar Rum ini dimulai dengan kata-kata yang mengandung kabar gaib, bahwa orang-orang mukmin akan berhasil mengatasi ujian cobaan dan kemalangan yang harus dilalui mereka, dan sebagai ganjaran atas pengorbanan serta penderitaan mereka, pintu rahmat dan kasih Tuhan akan terbuka bagi mereka.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Ar Rum

Pokok masalah utama Surah Ar Rum ini ialah kekalahan kekuatan kekafiran dan kegelapan, kebangkitan serta kemenangan Islam.

Surah Ar Rum ini mengatakan dengan tegas dan dengan keyakinan yang melenyapkan segala keraguan, bahwa tatanan lama nyaris mati, sedang tatanan baru yang lebih baik, akan muncul dari reruntuhan tatanan lama itu.

Kabar Gaib Kemenangan Romawi atas Persia

Surah Ar Rum dimulai dengan pernyataan mengenai suatu kabar gaib tentang kemenangan kerajaan Romawi atas kerajaan Persia pada akhirnya. Kabar gaib ini dinyatakan pada saat gelombang serbuan kerajaan Persia menyapu bersih segala sesuatu di hadapan gempurannya yang tidak tertahankan itu, dan kemerosotan serta kerendahan derajat orang-orang Kristen Romawi telah tenggelam sampai ke dasarnya.

Agar dapat memahami sepenuhnya nubuwatan ini, maka perlu kita keadaan politik yang berlaku di kedua kerajaan besar, Persia dan Romawi yang letaknya berbatasan dengan tanah Arab tak lama sebelum Rasulullahsaw diutus.

Kedua kerajaan itu sedang berperang. Babak pertama telah dimenangkan oleh bangsa Persia, yang gelombang serangannya mulai pada tahun 602 Masehi, ketika Kisra II mulai melancarkan perang terhadap Romawi dengan maksud membalas dendam atas kematian Maurice, pelindung dan orang yang berjasa kepadanya,di tangan Phocas.

Selama dua puluh tahun, kerajaan Romawi digelas oleh lasykat-lasykar Persia, suatu peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Orang-orang Persia menghancurluluhkan Siria dan Asia Kecil, dan dalam tahun 608 Masehi bergerak ke Chalcedon. Damsyik diduduki pada tahun 613. Daerah sekelilingnya, yang tiada seorang pun bangsa Persia sebelumnya pernah menginjakkan kakinya di situ semenjak kerajaan itu didirikan, sama sekali dihancur leburkan.

Dalam bulan Juni 614 Yerusalem juga direbut. Seluruh dunia Kristen gempar oleh berita itu bahwa bersama-sama dengan leluhur mereka “Salib Nabi Isa” telah dirampas dan dibawa pergi oleh orang-orang Persia.

Agama Kristen telah direndahkan dan dihinakan. Taufan penyerbuan orang-orang Persia tidak berhanti dengan direbutnya Yerusalem. Mesir kemudian ditaklukkan, Asia Kecil digilas juga, dan lasykar-lasykar Persia malahan mengetuk-ngetuk pintu gerbang Konstantinopel (Istambul).

Orang-orang Romawi tidak dapat memberikan perlawanan banyak, karena mereka terpecah belah akibat perselisihan dalam negeri. Penghinaan terhadap Heraclius begitu lengkap, sehingga Kisra (raja Persia) ingin melihat Heraclius dibawa dalam keadaan terbelunggu ke hadapan singgasananya dan tidak bersedia melepaskannya lagi sebelum ia bersumpah meninggalkan “tuhannya” yang pernah disalib itu untuk selama-lamanya dan memeluk agama Majusi (agama bangsa Persia) atau penyembah matahari.

Keadaan ini sangat menyedihkan orang-orang Muslim, sebab mereka banyak mempunyai persamaan dengan orang-orang Kristen Romawi, yang adalah ahlikitab. Tetapi orang-orang Quraisy Makkah, yang sama seperti keadaan orang-orang Persia adalah penyembah berhala, sangat girang, karena melihat dalam kekalahan lasykar-lasykar Kristen itu, suatu pertanda baik akan keruntuhan dan kehancuran agama Islam.

Tidak lama sesudah kehancuran total lasykar-lasykar Romawi itu, maka dalam tahun 616 Masehi turunlah wahyu kepada Rasulullahsaw, yang merupakan pokok pembahasan dalam Surah Ar Rum ini.

Dalam nubuwatan itu mengabarkan jauh sebelumnya dalam suasana yang pada waktu itu sukar dapat dibayangkan, bahwa seluruh keadaan akan sama sekali terbalik dalam jangka waktu pendek, yang meliputi delapan atau sembilan tahun saja (bidh’ – Surah Ar Rum ayat 5),

Lasykar-lasykar Persia yang dahulu menang itu akan menderita kekalahan pahit di tangan orang-orang Romawi, yang tadinya sama sekali kalah, bertekuk lutut dan dinistakan.

Makna khabar gaib itu terkandung dalam kenyataan, bahwa dalam jangka waktu yang sependek itu landasan untuk kemenangan Islam pada akhirnya dan landasan untuk kekalahan dan patahnya kekuatan-kekuatan kekufuran serta kegelapan, akan diletakkan juga dengan kokoh kuat.

Khabar gaib itu sempurna dalam suasana yang jauh berbeda di luar perhitungan dan jangkauan akal manusia.

Di tengah kemenangan demi kemenangan orang-orang Persia, Rasulullahsaw dengan pasti meramalkan bahwa sebelum beberapa tahun berlalu, kemenangan akan kembali kepada pihak orang-orang Romawi.

Pada saat ramalan itu diucapkan, tidak ada nubuatan yang lebih jauh dari kemungkinan penggenapannya; sejak dua belas tahun pertama Heraclius mengabarkan makin mendekatnya kehancuran kerajaan itu.

Sesudah beberapa tahun berusaha bangkit kembali, akhirnya Heraclius mampu tampil ke medan perang melawan orang-orang Persia pada tahun 622, yaitu, tahun ketika Rasulullahsaw berhijrah ke Madinah.

Pada tahun 624 Heraclius bergerak ke bagian utara Media; di sana ia menghancurkan candi-perapian Gaoudzak (Gazaca) yang besar itu dan dengan demikian terbalaslah kehancuran kota Yerusalem.

Peristiwa itu terjadi tepat dalam tempo sebilan tahun, jangka waktu yang dikhabarkan dalam Surah Ar Rum ayat 5.

Dan untuk menambah kepentingan dan semarak arti maka peristiwa itu terjadi dalam tahun ketika kekuasaan kaum Quraisy juga menderita kekalahan hebat sekali dalam Pertempuran Badar, yang mengingatkan kepada nubuatan dalam Bible dan mengabarkan pudarnya kemuliaan Kedar (Yesaya 21:16, 17).

Pada tahun 627 M, Heraclius mengalhkan lasykar-lasykar Persia di Nineva dan bergerak ke arah Ctesiphon. Kisra melarikan diri dari istana tercintanya di Dastgerd (dekat Baghdad), dan setelah menderita nasib yang sangat memilukan ia dibunuh oleh anaknya sendiri, Sirus, pada tanggal 19 Februari 628 M dan dengan demikian kerajaan Persia, dari kebesaran yang telah dicapainya beberapa tahun sebelum itu, akhirnya tenggelam ke dalam kekacauan pemerintahan yang parah sama sekali.

Penggenapan nubuatan itu begitu luar biasa dan tak terduga-duga, sehingga para penulis Kristen sekalipun, merasa sulit mengelakkan kenyataan itu.

Pada saat itu jauh sekali pengetahuan dan kecerdasan otak manusia untuk meramalkan, bahwa dalam jangka waktu yang berkisar tiga sampai sembilan tahun, nasib orang-orang Persia akan menjadi terbalik sama sekali dan mereka yang pernah ditaklukkannya akan muncul menjadi pemenang. Nubuatan itu secara harfiah telah menjadi sempurna dengan cara sangat luar-biasa dan dalam keadaan tak terduga.

Sempurnanya nubuatan menerangkan nubuatan lain yang lebih besar, yaitu bahwa kekuatan kafir yang pada waktu itu terlalu kuat serta perkasa untuk dibendung oleh kaum Muslimin yang miskin dan lemah akan dihancurluluhkan, dan agama Islam akan berderap maju dengan kejayaan serta akan memperoleh kekuatan yang terus meningkat.

Kebenaran Islam

Kemudian Surah Ar Rum  ini merujuk pada kekuatan Mahabesar Allah yang terjelma dalam kejadian seluruh langit dan bumi, dalam pergantian siang dan malam, dalam rencana dan tertib sempurna yang terdapat pada alam semesta, serta pada proses kelahiran manusia dari asal permulaannya yang sangat tidak berarti.

Kesemuanya itu menjurus kepada kesimpulan pasti dan tak terelakkan, bahwa sesungguhnya Allahswt yang mempunyai kekuasaan yang begitu luas dan tidak terbatas itu mempunyai kekuasaan juga untuk membuat Islam tumbuh dari sebutir benih kecil menjadi pohon perkasa, yang pada suatu saat di bawah naungannya akan berteduh seluruh umat manusia.

Islam pasti berhasil, sebab Islam itu Dīnul-Fitrah, yaitu, agama yang sesuai dengan fitrah manusia dan agama menghimbau kesadaran, akal, dan pikiran sehat manusia.

Kemenangannya akan terwujud melalui suatu revolusi besar dan menakjubkan, yang akan terjadi di tanah Arab. Suatu bangsa yang ditilik dari segi akhlak tak ubahnya seperti mati, akan dibangkitkan dari tidur lelapnya yang telah berlangsung berabad-abad, dan dengan minum sepuas-puasnya dari sumber air rohani yang terus mengalir berkat wujud agung Rasulullahsaw akan menjadi pembina dan pembawa obor cahaya kerohanian, serta akan menyampaikan seruan Islam ke seluruh penjuru dunia.

Kemenangan Islam

Surah Ar Rum berakhir dengan catatan bahwa perlawanan terhadap Islam tidak dapat menghambat dan memperlambat kemajuannya. Kebenaran (al-Haq) akhirnya menang dan tumbuh dengan suburnya, sedang kebatilan dikalahkan dan mendapat kehinaan.

Gejala ini telah terjadi di zaman setiap nabi dan akan terjadi lagi di zaman Rasulullahsaw. Maka beliausaw dianjurkan agar memikul dengan sabar dan tawakal segala keaniayaan dan penistaan yang sedang dilancarkan terhadap beliausaw, sebab kemenangan akan segera jatuh ke tangan beliausaw.

“Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan janganlah engkau dibuat lemah oleh orang-orang yang tidak mempunyai keyakinan.” (Surah Ar Rum, 30: 61)

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan