Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Ar Rahman

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-ar-rahman

Surah Ar Rahman adalah surah ke-55 setelah Surah Al Qamar, terdiri dari 79 ayat dan 3 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Ar Rahman yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Ar Rahman dan Hubungan dengan Surah-surah Lainnya

Karena merupakan urutan keenam di dalam kelompok khusus di antara surah-surah, yaitu Surah Qaf sampai dengan Surah Al Waqi’ah, yang diturunkan kurang lebih pada waktu bersamaan di Mekah pada tahun-tahun awal Nabawi.

Surah Ar Rahman mempunyai persamaan yang dekat sekali dengan rekan surah-surah lainnya yang sekelompok dalam pokok masalah yang dibahasnya, dan seperti pula surah-surah lainnya membahas asas-asas pokok agama Islam tentang sifat-sifat Allah, pada khususnya tentang tauhid Ilahi, tentang kebangkitan, dan tentang wahyu.

Dalam Surah Al Qamar contoh-contoh telah dikemukakan mengenai kaum beberapa nabi zaman dahulu yang dikenal sekali oleh orang-orang Arab.

Mereka itu telah dihukum karena menolak amanat Allah; dan kemudian kaum musyrikin Quraisy ditanya, tidakkah mereka akan memanfaatkan pelajaran dari nasib menyedihkan yang dialami bangsa-bangsa itu, lalu mereka menerima amanat Al Quran yang begitu mudah dipahami dan dilaksanakan?

Surah Ar Rahman pun memberikan alasan-alasan mengapa Al Quran diturunkan.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Ar Rahman

Surah Ar Rahman dimulai dengan menyebutkan sifat Al-Rahman (Maha Pemurah),yang berarti bahwa setelah menciptakan alam semesta ini, Allahswt menjadikan manusia bagaikan puncak dan mahkota segala kejadian, dan bahwa penciptaan manusia adalah buah rahmaniyat (kemurahan) Allah.

Setelah manusia tercipta, Allahswt menampakkan wujud-Nya kepada manusia dengan perantaraan nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya, sebab manusia tidak dapat mencapai tujuan agung kejadiannya dan memenuhi takdirnya yang luhur itu tanpa bimbingan wahyu Ilahi.

Kenabian mendapatkan penjelmaan paling lengkap lagi sempurna dalam wujud Rasulullahsaw yang kepadanya Allahswt memberikan Al Quran syariat terakhir serta penutup untuk memberi petunjuk kepada seluruh umat manusia yang hidup pada setiap zaman.

Rahasia Alam Semesta

Surah Ar Rahman menerangkan tentang penciptaan alam semesta, dimana seluruh alam semesta tunduk kepada satu hukum yang seragam, dan segala bagian suku cadangnya membentuk struktur dan gerakan yang amat serasi.

Jika keserasian atau kesetimbangan antara berbagai benda itu sedikit saja terganggu, niscayalah seluruh jagat raya akan jatuh dan pecah berkeping-keping.

Namun, semua hukum yang menata alam ini senantiasa dikendalikan oleh Allahswt Sendiri, di luar jangkauan kemampuan manusia.

Sebagaimana terdapat keserasian meliputi segala sesuatu di seluruh jagat raya ini, begitulah manusia – yang merupakan mahkota dan tujuan di balik segala penciptaan – pemerintahan supaya memelihara timbangan secara adil, dan memperlakukan sesama manusia tanpa berat sebelah dan dengan adil, dan memberikan kepada setiap orang gaknya dan menghindarkan tindakan-tindakan keras dan mengikuti cara-cara yang bijaksana dalam melaksanakan tugas kewajibanyan terhadap Al-Khalik, Sang Pencipta-nya.

Akan tetapi, karunia Allahswt kepada manusia tidak berakhir dengan kejadiannya belaka. Allah menyebabkan alam semesta tunduk kepadanya. Seluruh langit dengan semua benda langit dan bumi dengan seluruh khazanahnya, samudera yang dalam, dan bumi dengan gunung yang tinggi, semua itu diciptakan demi kepentingan manusia.

Di atas semua itu Allahswt melimpahkan kepada manusia kekuatan yang besar untuk berpikir dan menimbang, sehingga dengan menyaring yang benar untuk memisahkan yang salah, ia dapat mengikuti petunjuk Ilahi dan dengan demikian mencapai tujuan kejadiannya.

Setelah menyebutkan penciptaan ruang antariksa dan penempatan matahari dan bulan di dalamnya, yang disusul dengan sebutan tentang penghamparan bumi dan tentang tanam-tanaman yang tumbuh di atasnya, Surah Ar Rahman menunjuk kepada pengadaan wujud makhluk manusia.

Kejadian manusia dari tanah liat yang kering mendenting dapat diartikan bahwa manusia telah diciptakan dari zat yang di dalamnya tersembunyi kemampuan dan khasiat bicara.

Seperti shalshal mengeluarkan bunyi hanya bila dipukul oleh sesuatu dari luar, kata itu dipergunakan di sini guna mengisyaratkan bahwa daya tanggap manusia adalah kemampuannya menerima seruan Ilahi.

Tiga bentuk perkataan telah dipergunakan dalam Al Quran untuk menyatakan berbagai tingkat kejadian dan perkembangan ruhani manusia.

Tingkat pertama dinyatakan dengan kata-kata, “Dia menciptakannya dari tanah kering” (Surah Ali Imran, 3: 60).

Tingat kedua digambarkan dengna ungkapan, “Dia-lah Yang telah menciptakan kamu dari tanah liat” (Surah Al An’am, 6: 3), yang berarti bahwa sesudah menerima percikan kalam Ilahi, manusia mendapat kekuatan membedakan, yang dengan  kekuatan itu ia dapat memperbedakan antara benar dan salah.

Pada tingkat ketiga, yang telah disebut tingkat “tembikar” manusia diuji dan dicoba serta diharuskan melewati api percobaan dan kesengsaraan.

Sesudah ia lulus dengan gemilang dari semua percobaan dan mencapai taraf kedewasaan ruhani, kemudian barulah ia diterima di hadirat Ilahi.

Keingkaran dan Penentangan Hukum Ilahi

Akan tetapi, manusia agaknya demikian rupa peri keadaannya, daripada mengambil manfaat dari pengharapan mencapai kemajuan serta perkembangan ruhani tidak terhingga yang diulurkan kepadanya oleh Sang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, ia karena rasa sombong dan angkuhnya malah mengabaikan dan bahkan menentang hukum Ilahi; maka sebagai akibatnya kemurkaan Allahswt menimpa dirinya.

Pembangkangan dan penentangan terhadap hukum Ilahi, demikian diisyaratkan oleh surah ini, akan memperoleh bentuk paling mengerikan kelak pada suatu waktu yang rupanya tampak dewasa ini dan pada waktu itu, manusia akan ditimpa azab Ilahi, yang begitu menghancurkan dan memusnahkan sehingga tidak pernah disaksikan sebelumnya azab semacam itu.

Akan tetapi, sementara hukuman yang akan ditimpakan kepada orang-orang durhaka lagi aniaya sangat menyedihkan dan mengerikan sekali, pada pihak lain karunia Ilahi yang akan dilimpahkan kepada orang-orang takwa pada abad ketika dewa-dewi kekayaan sedang ramai dipuja dan kebanyakan manusia asyik mencari kesenangan duniawi juga akan tidak terhingga; dan dengan demikian azab Ilahi dan karunia Ilahi kedua-duanya akan menunjukkan bahwa pada suatu pihak Allahswt “cepat dalam menghisab,” pada pihak lain Dia adalah “Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan.”

Azab Dahsyat Bagi Orang-orang yang Ingkar

Surah Ar Rahman kemungkinan pembahasan utamanya adalah ketika kekuasaan dan pamor bangsa-bangsa Barat sedang mencapai puncak kejayaan.

“Maka, yang manakah di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu berdua, yang kamu dustakan?” (Surah Ar Rahman, 55: 78)

Bahwa ayat di atas telah dipergunakan 31 kali dalam Surah Ar Rahaman ini bukanlah tanpa mengandung arti.

Sepertiya Surah Ar Rahman ini secara khusus menyebutkan rahmat dan nikmat besar yang dilimpahkan oleh Allahswt kepada manusia.

Mengingat akan bermacam-macam dan berlimpah-limpahnya nikmat itu maka penggunaan ayat ini secara berulang-ulang agaknya sangat tepat.

Tetapi, kemudian Surah Ar Rahman ini pun mengutarakan juga tentang azab Ilahi yang dahsyat dan sebelumnya belum pernah terjadi, yaitu dalam bentuk peperangan nuklir yang akan menimpa manusia, bila ia tidak bertobat dan mengubah cara hidupnya.

Peringatan sebelumnya mengenai bahaya yang mengancam itu pun merupakan rahmat tersembunyi.

“Maha beberkatlah nama Tuhan engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan.” (Surah Ar Rahman, 55: 79)

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan