Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah An Najm

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-an-najm

Surah An Najm adalah surah ke-53 setelah Surah Ath Thur, terdiri dari 63 ayat dan 3 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Adz Dzariyat yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah An Najm dan Hubungan dengan Surah-surah Lainnya

Menurut kebanyakan ulama, Surah An Najm diturunkan pada tahun kelima Nabawi, tidak lama sesudah hijrah pertama ke Abessinia, yang terjadi pada bulan Rajab tahun itu.

Pada surah sebelumnya diikhtiarkan agar kebenaran wahyu Al Quran dan kebenaran da’wa Rasulullahsaw terbukti dengan menunjuk sekilas lintas kepada nubuatan-nubuatan dalam Bibel dan kepada gejala alam.

Dalam Surah An Najm pokok masalah itu juga dibahas dengan gaya yang sangat indah lagi kuat. Dinyatakan bahwa Rasulullahsaw itu seorang nabi Allah yang paripurna, dan tidak ayal lagi bahwa beliau diutus oleh Tuhan sebagai pembimbing dan pengawas umat manusia yang terakhir.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah An Najm

Berikut ini tafsir singkat dan beberapa isi kandungan Surah An Najm:

Jatuhnya An Najm (bintang)

An-najm berarti bintang atau yang tidak berbatang. Tetapi bila dikenakan sebagai kata pengganti nama, itu berarti “Bintang Tujuh” (Bintang Kartika atau Pleiades).

Kata itu dianggap juga oleh beberapa ulama sebagai mengandung arti penurunan Al Quran secara berangsur-angsur, dan oleh beberapa sumber lainnya di anggap mengisyaratkan kepada Rasulullahsaw sendiri.

Kata jamaknya, an-nujum berarti juga para kepala kaum atau kepala negara-negara kecil atau jajahan atau kerajaan-kerajaan kecil.

Mengingat akan arti yang berbeda-beda, maka kata an-najm dalam ayat ini dapat diterangkan:

(1) Menurut sebuah hadis yang masyhur, Rasulullahsaw pernah mengatakan, “Manakala kegelapan ruhani meliputi seluruh permukaan bumi dan tiada yang tinggal dari Islam kecuali namanya, dan tiada dari Al Quran kecuali hurufnya dan iman terbang ke Bintang Suraya, maka seorang laki-laki dari keturunan Parsi akan membawanya kembali ke bumi” (HR.Bukhari).

(2) Kata itu dapat berarti, bahwa Al Quran memberi kesaksian atas kebenarannya sendiri.

(3) Pohon Islam yang masih lemah, kini seperti akan tumbang oleh angin perlawanan kuat lagi tidak bersahabat yang bertiup kencang dan sengit ke aranya, tidak lama lagi akan bangkit dan berkembang menjadi pohon megah, dan dibawah naunganya yang sejuk, bangsa-bangsa besar akan berteduh.

(4) Karena orang-orang Arab sudah biasa menetapkan arah dan tujuan, serta dibimbing dalam perjalanan mereka di padang pasir Arabia oleh peredaran bintang-bintang (Surah An Nahl, 16: 17), demikianlah mereka sekarang akan dibimbing ke tujuan ruhani mereka oleh bintang yang paling cemerlang, ialah Rasulullahsaw.

(5) Ayat ini dapat juga mengandung sebuah nubuatan tentang jatuhnya negeri Arab yang sudah bobrok, suatu nubuatan yang lebih jelas lagi diterangkan dalam Surah Al Qamar, 54: 2.

Surah An Najm dimulai dengan menyebut kejatuhan Al-Najm (bintang) sebagai kesaksian dalam mendukung da’wa Rasulullahsaw.

Oleh karena telah diberitahukan kepada beliau rahasia-rahasia Ilahi dan beliau telah minum dengan sepuas-puasnya dari sumber rahmat, ilmu, dan makrifat Ilahi, beliau mencapai puncak kemuliaan ruhani tertinggi yang mungkin dapat dicapai oleh manusia.

Kemudian beliau diisi nilai-nilai kebajikan dengan sepenuhnya, begitu juga oleh cinta dan rasa kasih manusiawi; dan sesudah beliau dipersiapkan dengan kelengkapan keruhanian demikian, beliau ditunjuk oleh Allahswt agar mengajarkan Tauhid kepada suatu dunia yang sedang tenggelam dalam pemujaan tuhan-tuhan palsu, yang terbuat dari kayu dan batu itu.

Keesaan Allah

Surah An Najm kemudian mengemukakan dalil-dalil yang sangat kokoh kuat dan sehat berdasarkan akal manusia, sejarah, dan renungan kepada asal mula manusia yang tidak berarti, guna mendukung paham keesaan Allahswt dan mencela kemusyrikan dengan kata-kata jitu lagi tegas.

Surah An Najm menyatakan bahwa perbuatan bodoh itu adalah akibat kekurangan ilmu hakiki dan bersitumpu pada dugaan-dugaan tidak berdasar sedikit pun bagi kebenaran.

Orang Muslim sejati berdiri di atas landasan ilmulyakin yang kokoh (Surah Yusuf, 12: 109).

Kebalikannya orang musyrik tidak mempunyai dalil rasional dan tidak mempunyai keterangan ilhami guna mensahkan kepercayaan dan itikad palsunya, ia menjadi korban duga-dugaan dan takhayul, dan menjadi budak nafsu dan khayalannya sendiri.

Lebih lanjut Surah An Najm berkata bahwa orang-orang musyrik pasti telah mengambil pelajaran dari kisah kehidupan Nabi Ibrahimas, Nabi Musa As, dan nabi-nabi lainnya, yaitu, itikad-itikad dan perbuatan-perbuatan syirik selamanya telah membawa orang-orang musyrik ke dalam jurang kehancuran akhlak dan keruhanian.

Setiap Orang Bertanggungjawab atas Perbuaatannya Sendiri

Lalu, Surah An Najm mengatakan bahwa tiap-tiap orang pasti akan menanggung sendiri akibat perbuatannya serta harus mempertanggung-jawabkannya kepada Allahswt, Wujud Yang merupakan tujuan terakhir segala sesuatu.

“Bahwa tiada pemikul beban akan memikul beban orang lain. Dan tiadalah bagi manusia melainkan apa yang ia usahakan.” (Surah An Najm, 53: 39-40)

Tiap-tiap orang harus memikul akibat perbuatannya sendiri dan menanggung bebannya sendiri.

Sesudah orang berjuan secara tangguh, terus-menerus, dan gigih disertai cita-cita mulia serta perpegang pada asas-asas luhur, barulah ia dapat mencapai tujuan perjuangannya. Ayat di atas juga mengandung arti, bahwa orang harus mencari nafkah dengan mencucurkan keringatnya sendiri.

Kemudian Surah An Najm menjelaskan bahwa, seluruh tatanan sebab dan akibat berakhir pada Allah. Dia adalah sebab bagi segala sebab atau Sebab Pertama. Suatu tertib alam berkenaan dengan sebab dan akibat meliputi seluruh alam semesta.

Tiap-tiap sebab, yang sendirinya bukan merupakan penyebab pertama, dapat dilacak sampai ke suatu sebab lainnya, dan sebab itu sampai pula kepada sebab lain, dan seterusnya.

Peringatan Bagi Orang-orang yang Ingkar

Surah An Najm berakhir dengan peringatan kepada orang-orang kafir bahwa bilamana mereka bersikeras menolak Amanat Allahswt, mereka akan menjumpai nasib yang menyedihkan seperti telah dialami oleh kaum Nabi Nuhas, suku-suku bangsa Ad dan Tsamud, dan bahwa kepalsuan pasti akan mendatangkan kebinasaan dan tidak ada sesuatu yang dapat menghindarkannya.

“Maka dari antara nikmat-nikmat Tuhan engkau, yang manakah, akan engkau ragukan?” (Surah An Najm, 53: 56)

Setelah melihat begitu banyak keterangan dan Tanda-tanda yang begitu jelas dan tidak terelakkan, mendukung dan membantu pengakuan Rasulullahsaw ayat di atas mengatakan kepada orang-orang kafir yang degil, dengan kata-kata yang penuh kesedihan bercampur dengan sindiran, beberapa lama lagi mereka akan terus menolak kebenaran dan berkelana di rimba kekafiran?

“Saat pembalasan itu telah kian mendekat. Tiada baginya selain Allah, yang dapat mengelakkan.” (Surah An Najm, 53: 58-59)

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan