Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah An Nahl

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-dan-isi-kandungan-surah-an-nahl

Surah An Nahl adalah surah keenam belas setelah surah Al Hijr terdiri dari 129 ayat dan 16 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat dan isi kandungan surah An Nahl yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Pendahuluan

Surah ini diturunkan di Makkah. Ibn Abbas mengecualikan ayat-ayat 96, 97, dan 98, yang menurut beliau diturunkan di Madinah.

Surah ini tidak diawali  dengan huruf-huruf muqaththa’at (singkatan). Oleh karena isi sebuah Surah merupakan penjalsan dan peluasan dari huruf-huruf singkatan yang ditempatkan di mukanya, dan dikuasai oleh huruf-huruf singkatan yang ditempatkan di mukanya, dan dikuasai oleh huruf-huruf itu, maka kandungan sebuah surah yang tidak mempunyai huruf-huruf mauqaththa’at, pada hakikatnya merupakan kelanjutan surah sebelumnya – yang berhuruf-huruf muqaththa’at pada permulaannya – dan tunduk kepada, serta dikuasai oleh huruf-huruf muqaththa’at itu.

Karena itu isi Surah An Nahl ini harus dianggap dikuasai oleh huruf-huruf alif lam ra, yang ditempatkan pada permulaan surah itu; hanya cara pembahasan dan pengolahan mengenai pokok masalah itu berbeda dalam surah ini.

Tafsir Singkat Surah An Nahl

Dengan sangat tepat, surah ini telah di beri judul An-Nahl  (arti secara harfiah ialah lebah), sebab dengan menyinggung naluri yang biasa ada pada lebah, naluri itu telah disebut dengan istilah wahyu  dalam Al Quran (16: 69), maka perhatian kita ditarik kepada kenyataan, bahwa untuk bekerja dengan lancar dan memperoleh hasil yang baik, seluruh alam raya bergantung kepada wahyu, baik wahyu yang nampak atau tersembunyi, baik yang langsung maupun tidak langsung. Masalah ini merupakan masalah pokok surah ini.

Tambahan pula, masalah jihad  telah mulai dibahas di sini sebagai suatu masalah yang penting. Karena dalam ilmu Ilahi masalah jihad akan menjadi sasaran kecaman- kecaman yang datang dari segala penjuru, maka diisyaratkan, bahwa laksana madu yang dijaga oleh lebah dari gangguan- gangguan dengan alat penyengatnya yang dianugerakan Allahswt, maka Al Quran sebagai tempat penyimpanan madu rohani, akan dilindungi oleh orang-orang Islam dengan kekerasan, yang akan terpaksa dijalankan mereka, semata-mata untuk melindunginya.

Kemudian orang-orang mukmin diberitahu, bahwa bila mereka menginginkan supaya karib-kerabat mereka menerima Al Quran, mereka harus berikhtiar agar hati mereka sendiri menjadi bersih, sebab tidaklah mungkin bagi manusia untuk mengenal Tuhan tanpa mempunyai hati yang bersih. Allahswt tidak memaksa seseorang untuk menerima kebenaran, sebab dengan menggunakan kekerasan, maka tujuan agama itu sendiri menjadi gagal.

Selanjutnya Surah An Nahl ini mulai membahas soal hidup sesudah mati, dan dinyatakan, bahwa bahkan di dunia ini pun bangsa- bangsa dibangkitkan dan diberi kehidupan baru, dan dengan hijrah itu mulailah kebangkitan mereka itu. Sesuai dengan itu, Rasulullahsaw akan terpaksa meninggalkan kampung halaman beliau untuk berhijrah ke Madinah, sebab untuk memelihara perkembangan rohani pengikut-pengikut baliau adalah penting sekali, agar mereka dipisahkan dari orang-orang kafir, lalu dididik dan dilatih dalam ajaran agama mereka dalam suasana yang serasi.

Dari keadaan itu dapat ditarik kesimpulan, bahwa jika hijrah itu begitu penting untuk kemajuan rohani orang-orang mukmin di dunia ini, maka betapa lebih pentingnya hijrah itu – yang sebenarnya nama lain dari maut – bagi manusia, demi mencapai kemajuan rohani yang abadi sifatnya.

Sesudah hijrah orang-orang mukmin dan orang-orang yang tidak mau beriman mulai menempuh perjalanan hidup masing-masing secara terpisah; orang-orang kafir pergi ke neraka, sedang orang-orang mukmin berjemur-jemur diri di sinar matahari rahmat Ilahi dan menaiki jenjang ketinggian liqa (perpaduan) dengan Allah.

Selanjutnya Surah ini dengan singkat membicarakan masalah, mengapa orang-orang kafir diberi penangguhan dan mengapa mereka tidak dipaksa untuk menerima kebenaran.

Pokok pembahasan itu menimbulkan pertanyaan, bahwa andaikata Rasulullahsaw itu benar-benar seorang rasul dari Allahswt, mengapa ajaran beliau berbeda dari ajaran-ajaran para nabi terdahulu?

Dalam menanggapi pertanyaan itu dinyatakan, bahwa ajaran hakiki yang diberikan oleh nabi-nabi terdahulu kepada umat mereka, sangat besar perbedaannya dari ajaran-ajaran yang dikaitkan kepada mereka seperti yang beredar sekarang, yang sudah rusak dan tidak asli lagi.

Pada hakikatnya, seorang nabi baru, hanya datang bila ajaran-ajaran yang terdahulu telah menjadi rusak dan kehilangan hak untuk mendapat perlindungan Allahswt.

Dengan mengutip contah mengenai lebah, surah ini menarik perhatian kita kepada kenyataan, bahwa bagaimana lebah menghimpun makanannya dari buah-buahan dan bunga-bungaan, serta mengubahnya menjadi madu yang lezat dan sehat dengan bimbingan wahyu Ilahi, maka untuk perkembangan akhlak dan rohani manusia, sudah selayaknya ia dibimbing pula oleh wahyu.

Surah An Nahl ini lebih lanjut mengatakan, bahwa seperti halnya madu berbeda-beda dalam mutunya, begitu pula semua manusia tidak sama dalam perkembangan rohaninya. Seperti madu mempunyai macam warna dan rasa, wahyu-wahyu berbagai nabi juga mempunyai corak-corak yang beraneka ragam.

Kemudian diberikan lagi satu dalil untuk membuktikan perlunya wahyu Ilahi; bila oleh berlalunya masa, suatu kaum menjadi terpisah dari zaman seorang nabi, dan kepentingan-kepentingan pribadi (vested interest) tumbuh dan mendapat perlindungan kuat, lalu hak-hak istimewa turun dari bapak ke anak, dan semua kemajuan dan perkembangan yang wajar menjadi tertutup bagi orang awam, maka pada saat itulah Allahswt membangkitkan seorang nabi baru, yang melancarkan peperangan – dengan pantang mundur – terhadap kezaliman manusia atas manusia.

Apa yang dinamakan pemimpin-pemimpin, yang dahulunya memonopoli kekauatan dan keuntungan, diturunkan dari takhta kekuasan mereka, kemudian orang-orang awam yang mengikuti nabi yang baru itu, mengambil alih tempat mereka.

Rantai perbudakan manusia telah diputuskan dan mereka mulai mengambil nafas lagi dalam suasana kemerdekaan sejati.

Selanjutnya orang-orang kafir diperingatkan, bahwa perubahan-perubahan besar yang ditakdirkan untuk menjelama dengan perantaraan Al Quran, akan segera terjadi. Zaman berteriak-teriak menuntut perubahan, dan amanat baru itu memiliki segala sifat dan syarat penting yang harus dimiliki oleh suatu ajaran yang sempurna.

Para pengikut ajaran baru ini akan menang, dan segala kekauasaan dan kedaulatan akan pindah ke tangan mereka. Peperangan yang sesungguhnya akan dilancarkan terhadap kekafiran, dan pemimpin-pemimpinnya akan dihancurkan.

Menjelang akhir Surah An Nahl ini, kepada Rasulullahsaw diberitahukan, bahwa daerah dan ruang lingkup tabligh beliau kini harus diperlebar, dan orang-orang Yahudi dan Kristen dimasukkan ke dalam lingkaran sasaran tabligh itu.

Hal itu akan mencetuskan perlawanan baru, dan umat Islam akan menderita penindasan dari segala penjuru; akan tetapi tujuan Islam yang diridhai Allahswt akan terus tumbuh dan berkembang dengan subur di tengah-tengah perlawanan dan penindasan, dan musuh-musuhnya akan menemui nasib malang yang layak mereka terima.

Baca juga: Isi Kandungan Surah An Nisa

Isi Kandungan Surah An Nahl

Berikut ini beberapa isi kandungan tiap ruku dari Surah An Nahl:

Isi Kandungan Surah An Nahl Ruku Ke-1, Ayat 1-10

Isi kandungan surah An Nahl ruku kesatu diantaranya yaitu bahwa saat penghukuman terhadap orang-orang kafir atau saat di umumkannya tertib baru sudah tiba.

Ungkapan bil-haqqi  (sesuai dengan keperluan-keperluan hikmah) dapat diartikan, bahwa langit dan bumi masing-masing mempunyai tugas-tugas tertentu dalam kebangkitan kembali kerohanian manusia, sehingga keduanya bersama-sama menimbulkan hasil yang dikehendaki. Atau dapat pula diartikan, bahwa Allahswt telah menciptakan langit dan bumi, supaya dapat berguna untuk mengarahkan perhatian manusia kepada Allah, dan supaya manusia dapat melihat, bahwa tak ada sesuatu yang mutlak sempurna kecuali Dia.

Langit memerlukan bumi unutk melaksanakan tugasnya, dan begitu pula bumi bergantung pada langit, dan kedua-duanya tunduk kepada kehendak Ilahi. Maka tujuan penciptaan langit dan bumi ialah untuk memperlihatkan kepada manusia, bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna dalam dirinya sendiri selain Allahswt.

Sesudah Allahswt menciptakan langit dan bumi sesuai dengan tata hukum yang pasti. Dia men ciptakan manusia dan menurunkan wahyu-Nya untuk membimbingnya. Tetapi kendatipun Dia menciptakan manusia dari sebuah benih yang kelihatannya hina, dan menganugerahinya kemampuan-kemampuan yang tertinggi, namun ia, dari berbuat sesuai dengan petunjuk yang dilimpahkan Allah kepadanya.

Di mana Allahswt telah menaruh perhatian begitu besar dalam mengadakan persediaan bagi segala keperluan jasmani manusia, maka sejenak pun tidak terlintas dalam pikiran, bahwa Dia seakan-akan telah mengabaikan untuk menyediakan jaminan yang sepadan bagi keperluan-keperluan rohaninya.

Kemudian, Allahswt akan mewujudkan alat-alat pengangkutan baru yang dahulu masih belum dikenal manusia. Nubuatan itu dengan ajaib sekali telah menjadi sempurna dalam bentuk kereta api, kapal laut, mobil, pesawat terbang, dan lain-lainnya. Allahswt saja Yang Mengatahui alat-alat pengangkutan apa yang masih akan diciptakan lagi.

Baca juga: Isi Kandungan Surah Al Maidah

Isi Kandungan Surha An Nahl Ruku Ke-2, Ayat 11-22

Isi kandungan Surah An Nahl ruku kedua diantaranya yaitu, daya yang membuat tanaman-tanaman tumbuh boleh jadi tersembunyi dalam tanah, tetapi daya itu tidak bekerja selama tanah tidak menerima air dari langit.

Demikian pula manusia, dapat memiliki kemampuan-kemampuan sangat luhur yang ada tertanam dalam dirinya, akan tetapi ia tidak dapat mengembangkan bakat-bakat itu tanpa pertolongan wahyu Ilahi.

Mendasarkan perkembangan rohani manusia hanya pada otaknya saja, sama halnya dengan mengatakan bahwa tanah dapat menumbuhkan tanaman tanpa pertolongan air.

Kemudian, salah satu ciri-ciri khas yang paling ajaib dari penciptaan, ialah, bahwa tidak ada dua benda atau manusia yang benar-benar serupa. Tanpa adanya pertalian ini niscaya di muka bumi akan ada kericuhan dan kekacauan yang sukar dapat digambarkan. Maka akan sukarlah untuk memperbedakan satu benda dari yang lainnya atau seseorang dari yang lain.

Begitu pula, demikian besar perbedaan dalam pembawaan dan watak manusia, sehingga ada di luar kemampuan manusia untuk menciptakan satu ajaran yang kiranya dapat cocok untuk semua pembawaan.

Tak ada seorang pun mempunyai ilmu yang cukup tentang sifat-sifat beraneka-ragam yang ada dalam alam. Hanya Allah-lah yang mengetahui perbedaan-perbedaan dan perlainan-perlainan itu, dan karena itu hanya Dia-lah yang dapat memberikan ajaran yang dapat selaras dengan dan memberikan faedah kepada semua manusia.

Kemudian, lautan adalah sebuah sumber yang penting sekali untuk kemanfaatan-kemanfaatan materi bagi manusia. Lautan merupakan penampang air yang besar, dari mana matahari memenuhi keperluan kita akan air hujan, dan menjadi sumber pangan yang penting untuk manusia.

Ilmu tanah (geologi) telah membuktikan, bahwa gunung-gunung sangat besar peranannya dalam menjaga bumi ini dari ganguan gempa bumi.

Sekiranya bumi ini permukaannya datar seluruhnya dan tidak ada pendakian dan penurunan, tidak ada lembah-lembah, gunung-gunung atau sungai-sungai, maka boleh dikata hampir tak mungkin bagi manusia untuk mencari jalan dari satu tempat ke tempat lain. Wallahu a’lam bish-shawabi.

Ciri-ciri khas yang berbeda-beda pada permukaan bumi menolong manusia untuk mengetahui jalan mereka, zaman sekarang, sempadan-sempadan (tanda-tanda batas) alami telah terbukti merupakan penolong besar untuk penerbangan. Bintang-bintang pun menolong kaum musafir kelana menemukan jalan mereka di daratan dan di lautan.

Baca juga: Isi Kandung Surah Al An’am

Isi Kandungan Surah An Nahl Ruku Ke-3, Ayat 23-26

Isi kandungan surah An Nahl ruku ketiga diantaranya yaitu, Allahswt mengutus dalam setiap umat seorang rasul, supaya umat itu menyembah Allah.

Merupakan pelajaran berharga bagi setiap orang, bahwa bagi kaum yang beriman kepada utusan-Nya mereka mendapat keselamatan dan sebaliknya bagi mereka yang menolak, Allahswt mendatangkan azabnya bagi mereka.

Isi Kandungan Surah An Nahl Ruku Ke-4, Ayat 27-35

Isi kandungan Surah An Nahl ruku keempat diantaranya yaitu, bukanlah kehancuran biasa yang melanda musuh-musuh para nabi yang terdahulu. Mereka dibinasakan dari dahan sampai ke akar-akarnya.

Landasan gedung-gedung yang telah mereka bangun itu sendiri, dan tembok-tembok serta atap-atapnya runtuh menimpa mereka, dengan perkataan lain, baik pemimpin-pemimpinnya maupun pengikut-pengikut mereka tiada yang selamat.

Kemudian, orang-orang yang tidak beriman akan membantah, dan mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan itu terdorong oleh niat yang baik dan maksud yang suci, dan bahwa mereka menyembah tuhan-tuhan palsu mereka, hanya sebagai penolong untuk memusatkan pikiran kepada sifat-sifat Ilahi.

Keinginan orang-orang mutaqi akan selaras dan sesuai dengan kehendak Allahswt; jadi mereka hanya akan menginginkan hal-hal yang Allah sendiri kehendaki memberikan kepada mereka.

Kemudian, kedatangan malaikat-malaikat mengandung arti kebinasaan orang kafir secara perorangan, dan kedatangan Allahswt atau kedatangan keputusan-Nya mengandung arti kebinasaan nasional bagi mereka.

Selanjutnya, hukuman atas suatu perbuatan buruk bukanlah suatu hal yang datang dari luar, melainkan merupakan akibat yang wajar dari perbuatan itu sendiri, dan juga setimpal dengan perbua tan itu.

Baca juga: Isi Kandungan Surah Al A’raf

Isi Kandungan Surah An Nahl Ruku Ke-5, Ayat 36-41

Isi kandungan surah An Nahl ruku kelima diantaranya adalah, pada hari kebangkitan orang-orang kafir akan menyadari kebenaran itu begitu lengkapnya, sehingga mereka akan mengakui, bahwa dahulu mereka berbuat tolol karena mengingkari hari kebangkitan itu. Sungguh, ini akan merupakan penyadaran yang penuh dan lengkap.

Kun faa yakuun kata kun (jadilah) tidaklah berarti, bahwa Allahswt memberikan perintah kepada sesuatu yang telah ada wujudnya. Kata itu hanya semata-mata menyatakan suatu kehendak, dan berarti, bahwa bila Allahswt menyatakan suatu kehendak, maka kehendak itu akan segera memperoleh wujud yang nyata.

Isi Kandungan Surah An Nahl Ruku Ke-6, Ayat 42-50

Isi kandungan surah An Nahl ruku keenam diantaranya bahwa, kerapnya bepergian orang-orang kafir dan bergeraknya mereka di bumi dengan bebas dan tidak terikat, janganlah menyebabkan orang-orang mukmin untuk berpikir, bahwa kekuasaan mereka tak dapat dikalahkan, kejayaan mereka tak akan meninggalkan kaum Mulsimin. Tidak lama lagi gerakan-gerakan mereka akan berkesudahan dengan hancurnya kekuasaan politik mereka.

Kemudian, kata takhawwuf  berarti, “mengambil sedikit demi sedikit”, jadi ayat 48 mengadung arti, bahwa kekuatan orang-orang kafir akan berangsur-angsur menurun. Kata takhawwuf  juga artinya “ketakutan”; atas dasar itu ayat ini berarti, bahwa sebelum kekalahan mereka yang terakhir, mereka akan dicekam oleh kecemasan yang menggerogoti hati mereka atas tumbuhnya kekuatan Islam serta kemenangan Islam pada akhirnya.

Kemudian, telah menjadi gejala alam, bahwa bayangan segala sesuatu menjadi ciut sesudah mencapai derajat tertentu; maksudnya, bahwa kekuatan, pengaruh, dan kejayaannya hampir luntur, semuanya itu akan berubah menjadi satu kenangan belaka akan keadaannya semula.

Dengan demikian orang-orang kafir diperingatkan, bahwa azab Ilahi akan mengakibatkan hapusnya sama sekali bayangan mereka. Dalam pada itu bayangan Rasulullahsaw akan terus-menerus meluas dan memanjang, sebab benda-benda mempunyai bayangan yang panjang bila matahari ada di belakang mereka, dan memang matahari rahmat Ilahi ada di belakang Rasulullahsaw.

Baca juga: Isi Kandungan Surah Al Anfal

Isi Kandungan Surah An Nahl Ruku Ke-7, Ayat 52-61

Isi kandungan surah An Nahl ruku ketujuh, diantaranya yaitu penelitian terhadap kerjanya alam semesta, memperlihatkan keseragaman yang menakjubkan sekali tentang tata kerja yang berlaku di dalamnya. Jika seandainya ada tuhan lebih dari satu, maka keseragaman ini niscaya telah lenyap.

Seandainya ada dua tuhan, yang satu niscaya harus tunduk kepada yang lainnya untuk menjalankan perintah-perintahnya. Dalam keadaan demikian, salah satu wujud dari antara dua tuhan itu pasti akan mubazir belaka.

Tetapi seandainya keduanya mempunyai hak dan kedudukan yang sama, maka mereka masing-masing harus mempunyai ruang pengaruh dan kekuasaan yang terpisah. dalam keadaan semacam itu pasti akan timbul perselisihan-perselisihan di antara mereka. Akan tetapi kedua anggapan itu berlawanan dengan akal. Oleh sebab itu harus ada satu Tuhan saja, satu-satunya Pencipta seluruh alam semesta.

Pelanggaran orang-orang kafir terletak dalam mengatakan, bahwa Tuhan mempunyai anak-anak perempuan dan bukan anak-anak lelaki, walaupun Al Quran juga telah mencela keras, penisbihan anak lelaki kepada Tuhan (19: 91 dan 92). Ayat 58 hanya menunjuk kepada kebodohan orang-orang kafir yang menganggap Tuhan mempunyai anak-anak perempuan, padahal mereka sendiri merasa terhina bila mereka mempunyai anak-anak perempuan.

Kebiadaban buas yang dahulu meluas di tengah-tengah kabilah-kabilah Arab tertentu, yaitu mengubur hidup-hidup anak perempuan. Mereka mempunyai pandangan yang sangat rendah sekali terhadap kaum wanita dan memberikan kepadanya kedudukan yang amat hina dalam masyarakat mereka. Al Quran menjunjung tinggi sekali kehormatan kaum wanita, dan telah mengakui semua hak mereka yang sah, dalam hubungan ini Alquran menonjol sekali di antara semua kitab-kitab suci lainnya di dunia.

Isi Kandungan Surah An Nahl Ruku Ke-8, Ayat 62-66

Isi kandungan surah An Nahl ruku kedelapan diantaranya yaitu, alasannya mengapa hukuman ditangguhkan ialah, bahwa jika seandainya semua dosa sekaligus dihukum oleh Allahswt, maka dunia akan tamat riwayatnya; dan segala kehidupan di atas permukaan bumi akan menjadi lenyap.

Manusia akan mati sebagai akibat dosa-dosanya, dan margasatwa, hewan-hewan dan unggas, dan lain-lainnya tidak ada gunanya lagi hidup sesudah manusia binasa. Oleh karena binatang-binatang dijadikan untuk digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia; binatang-binatang itu niscaya akan punah bersama dengan punahnya manusia.

Baca juga: Isi Kandungan Surah At Taubah

Isi Kandungan Surah An Nahl Ruku Ke-9, Ayat 67-71

Isi kandungan surah An Nahl ruku kesembilan diantaranya yaitu, Ibrah  yang berarti, “suatu alamat atau kesaksian yang dengannya seorang meninggalkan kejahilan dan menuju ke pengetahuan”, mengisyaratkan kepada proses yang terjadi di dalam perut binatang-binatang.

Penelitian terhadap proses yang menyebabkan rumput dan daun-daun yang dimakan binatang-binatang itu membawa kita kepada kesimpulan bahwa kecondongan dan kecenderungan alami manusia tidak dapat membawa dia ke jalan yang lurus kalau kecondongan-kecondongan dan kecenderungan-kecenderungan itu tidak dikuasai dan diatur oleh suatu sarana samawi, yaitu wahyu Ilahi.

“Wahyu” yang dimaksud pada ayat 69, berarti naluri-naluri alami yang dengan itu Allahswt telah menganugerahi semua makhluk. Ayat ini mengadung satu isyarat yang indah sekali bahwa bekerjanya seluruh alam semesta dengan lancar dan berhasil bergantung pada wahyu (atau ilham), baik yang nyata ataupun tersembunyi.

Dengan kataan lain, segala benda dan makhluk memenuhi tujuan kejadiannya hanya dengan bekerja menurut naluri-naluri dan kemampuan-kemampuan serta pembawaan-pembawaan aslinya.

Kemudian, lebah telah dipilih sebagai satu contoh yang menonjol sekali, sebab organisasi dan kerjanya yang menakjubkan itu bahkan berkesan pula kepada orang yang melihatnya secara sambil lalu saja, dan dapat disaksikan dengan mata tanpa bantuan alat apa pun.

Pokok masalah lebah telah dipaparkan lebih lanjut dalam ayar ini. Allahswt mengilhamkan kepada lebah untuk menghimpunkan makanannya dari berbagai buah dan bunga, kemudian dengan jalan bekerjanya alat yang tersedia dalam tubuhnya dan dengan cara yang diwahyukan oleh Allah kepadanya, ia mengubah makanan yang terhimpun itu menjadi madu.

Madu mempunyai bermacam-macam warna dan rasa, akan tetapi semua coraknya yang ber beda-beda itu sangat berguna sekali bagi manusia. Hal ini mengandung arti bahwa wahyu telah terus-menerus turun kepada nabi-nabi di berbagai zaman, dan bahwa ajaran-ajaran seorang nabi dalam beberapa hal yang kecil-kecil berbeda dari ajaran-ajaran nabi-nabi lain; walaupun demikian semuanya itu merupakan sarana-sarana untuk menghidupkan akhlak dan rohani kaum yang kepadanya beliau-beliau diutus.

Baca juga: Isi Kandungan Surah Yunus

Isi Kandungan Surah An Nahl Ruku Ke-10, Ayat 72-77

Isi kandungan surah An Nahl ruku kesepuluh diantaranya yaitu, dalam tiap-tiap zaman beberapa perorangan atau bangsa, berkat keunggulan daya pikir dan usahanya yang lebih keras, memperoleh keunggulan dan kekuasaan atas perorangan-perorangan atau bangsa-bangsa lain. Hal demikian ini bukan tidak patut maupun tidak adil, selama diberikan juga kesempatan-kesempatan yang layak kepada orang-orang yang kurang baik nasibnya, supaya mereka dapat mempergunakan kecakapan-kecakapan dan kecerdasan- kecerdasan mereka setepat-tepatnya guna memperoleh nikmat-nikmat dari kehidupan ini.

Akan tetapi, golongan “have” (yang mampu) selamanya menentanga segala usaha pihak golongan “have not” (yang tidak mampu) untuk memperbaiki keadaan mereka, dan untuk memperoleh bagian dalam kekuasaan dan hak-hak istimewa yang dinikmati oleh orang-orang kaya.

Guna menolong dunia dari penindasan mereka yang memiliki kekuatan dan hak-hak istimewa serta untuk membukakan pintu-pintu kemajuan dan perkembangan bagi sifat-sifat dan kecakapan-kecakapan yang sejati, Allahswt membangkitkan pembaharu- pembaharu. Dengan demikian keadilan dan persamaan dapat ditegakkan kembali di tengah-tengah manusia.

Kedatangan mereka itu mencanangkan tibanya suatu masa baru dan orang-orang yang haknya dirampas dan tidak punya, mendapat kembali hak-hak mereka.

Sangat besar keangkuhan pada diri manusia untuk mencari-cari suatu hukum berkenaan dengan Tuhan; padahal ia sangat buta akan kekuatan-kekuatan-Nya yang sangat besar dan tidak terbatas itu.

Kemudian, Rasulullahsaw mengkhidmati umat manusia secara sembunyi-sembunyi (dengan mendoakan mereka pada malam hari) dan terang-terangan (dengan jasa-jasa yang dapat dirasakan oleh mereka). Beliau mengkhidmati umat manusia setiap saat, baik siang maupun malam.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Hud

Isi Kandungan Surah An Nahl Ruku Ke-11, Ayat 78-84

Isi kandungan surah An Nahl ruku kesebelas diantaranya yaitu, kemampuan mendengar, melihat, dan memahami telah disebut dalam urutan yang tepat untuk menolong manusia memperoleh ilmu. Pertama-tama bayi yang baru lahir menggunakan daya mendengar. Kemampuan melihat berkembang kemudian, dan daya memahami itu menjadi matang paling akhir.

Ayat ke-80 mengadung isyarat kepada hukuman yang akan segera menimpa orang-orang kafir di Makkah. Menahan burung-burung itu mengadung arti, penangguhan hukuman yang tersedia bagi mereka. Banyak sekali sajak-sajak dalam bahasa Arab, di mana burung-burung disebut mengikuti di belakang suatu balatentara yang unggul dalam peperangan untuk memakan bangkai musih yang terbunuh dan ditinggalkan di medan pertempuran.

Melayang-layangnya burung-burung, menurut muhawarah bahasa Arab, adalah lambang kekalahan dan kebinasaan suatu kaum (lihat 67: 20). Ayat ini menyatakan bahwa Allahswt telah menahan orang-orang Muslim dari melancarkan peperangan terhadap orang-orang kafir.

Tetapi, sekali umat Islam diberi izin untuk bertempur, orang-orang kafir akan dikalahkan dan dihancurkan sehingga bangkai-bangkai akan dimakan oleh burung-burung yang nampak kepada mereka melayang-layang di udara.

Isi Kandungan Surah An Nahl Ruku Ke-12, Ayat 85-90

Isi kandungan surah An Nahl ruku kedua belas yaitu, utusan-utusan Ilahi dikirim kepada segenap kaum dan bangsa-bangsa di dunia. Hal itu merupakan pengakuan yang dikemukakan Al Quran, satu-satunya di antara semua kitab yang diwahyukan. Kebenaran pernyataan yang dibukakan ke dunia kira-kira seribu empat ratus tahun yang lalu oleh Al Quran itu, sekarang telah mulai nampak kepada umat manusia.

Perbantahan antara tuhan-tuhan palsu dan pengikut mereka menunjukkan, bahwa tali persahabatan yang berlandasan pada dosa dan penolakan terhadap kebenaran, tak pernah bertahan lama.

Baca juga: Tasir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Yusuf

Isi Kandungan Surah An Nahl Ruku Ke-13, Ayat 91-101

Isi kandungan surah An Nahl ruku ketiga belas diantaranya yaitu, terdapat tiga macam perintah dan tiga macam larangan, yang secara singkat membahas semua macam derajat perkembangan akhlak dan kerohanian manusia, bersama segi kebaikan dan keburukannya masing-masing. Diantaranya yaitu berlaku adil, berbuat baik kepada orang lain, dan kasih sayang antara kaum kerabat ; dan melarang berbuat hal yang tidak senonoh, berbuat keburukan dan pelanggaran yang nyata.

Keadilan mengandung arti bahwa seseorang harus memperlakukan orang-orang lain seperti ia diperlakukan oleh mereka. Ia hendaknya membalas kebaikan dan keburukan orang-orang lain secara setimpal menurut besarnya dan ukurannya yang diterima olehnya dari mereka.

Lebih tinggi dari adl  (keadilan) adalah derajat ihsan (kebaikan) bila manusia harus berbuat kebaikan kepada orang-orang lain tanpa mengindahkan macamnya perlakuan yang diterima oleh mereka, atau, sekalipun ia diperlakukan buruk oleh mereka. Perbuatannya tidak boleh digerakkan oleh pertimbangan-pertimbangan menuntut balas.

Pada derajat perkembangan akhlak terakhir dan tertinggi, ialah itaa’idzil qurbaa  (memberi seperti kepada kerabat), seorang mukmin diharapkan untuk berlaku baik terhadap orang-orang lain, bukan sebagai membalas sesuatu kebaikan yang diterima dari mereka; begitu pun tidak dengan pertimbangan untuk berbuat lebih baik  dari kebaikan yang ia peroleh, melainkan untuk berbuat kebaikan yang ditimbulkan oleh dorongan fitri, seperti ia berbuat baik kepada orang-orang yang mempunyai perhubungan darah yang dekat sekali. Keadaanya pada derajat ini serupa dengan keadaan seorang ibu yang menyusui anak yang kecintaan terhadap anak-anaknya bersumber pada dorongan fitri.

Sesudah orang mukmin mencapai derajat ini perkembangan akhlaknya menjadi sempurna. Ketiga derajat akhlak ini merupakan segi baiknya dari perkembangan akhlak manusia.

Segi buruknya digambarkan dengan tiga perkataan juga, yakni fahsyaa  (perbuatan yang tidak senonoh), munkar  (kebu rukan yang nyata) dan baghy  (perbuatan keji); dan munkar mengandung arti keburukan-keburukan yang orang-orang lain juga melihat dan mengutuknya walaupun mereka boleh jadi tidak menderita sesuatu kerugian, atau pelanggaran atas hak-hak mereka sendiri oleh si pelaku dosa itu.

Akan tetapi baghy  merangkum semua dosa dan keburukan, yang tidak hanya nampak dirasakan, dan dicela oleh orang-orang lain, melainkan juga menimbulkan kemudaratan yang nyata pada mereka. Ketiga kata yang sederhana ini meliputi segala macam dosa.

Baca juga: Surah Ar Ra’d, Tafsir Singkat Dan Isi Kandungannya

Isi Kandungan Surah An Nahl Ruku Ke-14, Ayat 102-111

Isi kandungan surah An Nahl ruku keempat belas diantaranya yaitu, tidak ada sesuatu yang mengisyaratkan mengenai manskhnya  (batalnya) sesuatu ayat Al Quran. Tidak ada satu pun ayat dalam Al Quran yang berlawanan dengan sesuatu ayat lain dalam Al Quran. Semua bagian Al Quran mendukung dan menguatkan satu sama lain. Tak ada sesuatu pun dalam siaq-sabaq (letaknya) dari ayat ke-102 membayangkan suatu isyarat mengenai adanya ayat-ayat yang mansukh.

Kemudian, nama-nama berbagai orang telah disebut dalam riwayat-riwayat, yang menurut persangkaan orang-orang kafir, membantu Rasulullahsaw dalam mengubah Al Quran, orang-orang itu ialah, Jabir, seorang budak beragama Nasrani, ‘Aisy atau Ya’isy, sahaya Al-Huwaithib Ibn Abdul Uzza dan Abu Fukasih, yang dikenal sebagai Yasar, dan Addas atau Adas, seorang budak Aus bin Rabi.

Nama-nama Ammar, Shuhaib, Salman, Abdullah bin Salam, dan nama Sergius, seorang rahib Nasrani mazhab Mestoria, telah juga disebut dalam hubungan ini. Pada hakikatnya, Al Quran di sini menunjuk kepada dua kecaman orang-orang kafir, yang satu bertalian dengan beberapa budak yang masuk Islam, yang darinya Rasulullahsaw dikatakan telah mendapat bantuan dalam neggubah Al Quran, seperti tersebut dalam 25: 5-7; dan lainnya kepada apa yang beliau dengar tentang Injil dari seorang budak Nasrani yang masuk Islam, dan yang dimasukkan dalam Al Quran sebagaimana ditunjukkan oleh ayat ke-104.

Sekarang, bertalian dengan kecaman yang kedua timbul pertanyaan, apakah sang budak tersebut membacakan Injil dalam bahasa Arab atau bahasa Yunani atau Ibrani ? Jika ia membacakan versi Arabnya, maka harus dibuktikan bahwa Wasiat Baru telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab di zaman Rasulullahsaw dan terjemahan itu sudah demikian umumnya, sehingga budak-budak pun membacanya selagi mereka bekerja di kedai-kedai mereka.

Akan tetapi, hingga zaman Rasulullahsaw terjemahan Injil belum dikerjakan dalam bahasa apa pun. Kabilah-kabilah Yahudi di Medinah pada zaman itu belum pula menerjemahkan Taurat ke dalam bahasa Arab, dan manakala beliau menghendaki sesuatu keterangan mengenai kitab ini, beliau menanyakan kepada Abdullah bin Salam, seorang ahli bahasa Ibrani yang besar. Dr Alexander Sauter, M.A., L.L.D., menulis dalam bukunya, “The Test and Canon of The New Testament” (cetakan kedua, 1925, halaman 74), di bawah judul, “Arabic Versions”; ‘Naskah tertua (versi bahasa arab) tidak terdapat sebelum abad ke-8. Dua naskah versi bahasa Arab menurut riwayat telah dibuat di Alexandria dalam abad ke-13.’

Dan jika budak yang masuk Islam dari Kristen itu membacakan kepada Rasulullahsaw Injil dalam bahasa Ibrani atau Yunani. Bagaimanakah beliau dapat mengambil faedah dengan mendengarkan sebuah kitab yang beliau dapat mengambil faedah dengan mendengarkan sebuah kitab yang beliau tidak mengerti?

Dan bagaimanakah seorang orang Ajami (asing dan tidak fasih dalam bicara) yang darinya beliau dikatakan telah menerima bantuan untuk menggubah Al Quran, dapat menerangkan kepada beliau, dalam bahasa Arab yang tidak lancar itu, kebenaran-kebenaran besar lagi abadi yang dikandung oleh Al Quran, dan yang untuk menerangkannya diperlukan pengetahuan dan penguasaan bahasa Arab yang luas dan mendalam?

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Ibrahim

Isi Kandungan Surah An Nahl Ruku Ke-15, Ayat 112-120

Isi kandungan surah An Nahl ruku kelima belas diantaranya yaitu, ketakutan akan perang yang di dalamnya kaum Makkah terlibata dengan kaum Muslimin dan akhirnya dikalahkan.

Mereka hidup dalam keadaan ketakutan yang amat sangat, seakan-akan ketakutan akan perang itu telah mengurung mereka.

Isi Kandungan Surah An Nahl Ruku Ke-16, Ayat 121-129

Isi kandungan surah An Nahl ruku keenam belas diantaranya yaitu, orang-orang Yahudi percaya bahwa kemunduran dan memelaratan nasional mereka adalah disebabkan oleh pencemaran hari Sabat. Dikatakan kepada mereka bahwa sekarang mereka dapat memperoleh kembali kejayaan mereka yang hilang itu, dengan menerima agama Islam dan bukan dengan menghormati hari Sabat.

Hikmah, berarti: pengetahuan atau ilmu, kesetimbangan atau keadilan, kelemah-lembutan atau kemurahan hati, keteguhan, sesuatu ucapan atau percakapan yang serasi atau cocok dengan kebenaran dan sesuai pula dengan tuntutan keadaan, anugerah nubuatan dan apa yang menghalangi atau mencegah seseorang dari perbuatan tolol.

Kemudian, seorang muttaqi ialah orang yang mengadakan hubungan yang erat dengan Allahswt sehingga Allahswt sendiri menjadi pelindung dan menjaga dia dari setiap keburukan.

Seorang muhsin ialah orang yang setelah ia sendiri berada di bawah perlindungan Allahswt, ia pun berusaha pula untuk membawa orang-orang lain di bawah perlindungan-Nya. Oleh karena itu seorang muhsin memiliki kedudukan kerohanian yang lebih tinggi dari seorang muttaqi. Wallahu a’lam bish-shawabi.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Hijr


0 Komentar

Tinggalkan Balasan