Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Waqiah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-ar-rahman

Surah Al Waqiah adalah surah ke-56 setelah Surah Ar Rahman, terdiri dari 97 ayat dan 3 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Al Waqiah yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Al Waqiah dan Hubungan dengan Surah-surah Lainnya

Surah Al Waqiah adalah yang terakhir di antara kelompok tujuh surah yang dimulai dengan huruf Qaf.

Ketujuh Surah itu diturunkan di Makkah, kurang lebih pada waktu yang sama, pada tahun-tahun awal masa kerasulan Rasulullahsaw.

Oleh karena itu dengan sendirinya surah-surah itu dalam nada dan bentuknya sangat serupa benar; akan tetapi, barangkali keserupaan ini tidak nampak begitu menonjol pada masalah lainnya sebagaimana antara Surah Al Waqiah dan surah sebelumnya, yaitu Surah Ar Rahman.

Pokok masalah yang dibahas dalam Surah Ar Rahman dilengkapkan di dalam Surah Al Waqiah ini dan dengan demikian surah ini merupakan kelanjutan yang tepat bagi Surah Al Rahman.

Misalnya, dalam Surah Al Rahman disebutkan tiga golongan manusia: (a) orang bernasib baik yang dianugerahi kedekatan istimewa kepada Tuhan. (b) Jamaah orang-orang mukmin pada umumnya yang mendapat keridaan Tuhan, dan (c) orangorang yang menolak utusan-utusan Allah disinggung hanya secara sepintas lalu.

Akan tetapi, dalam surah yang sedang dibahas ini, ketiga golongan itu dengan sengaja dibicarakan.

Surah Al Waqiah teristimewa membahas pokok-pokok masalah penting tentang kiamat, wahyu, dan penyanggahan terhadap kemusyrikan, sangat tepat sekali diturunkan pada masa awal di Mekah ketika tabligh amanat Al Quran ditujukan khusus kepada orang-orang musyrik Quraisy yang tidak percaya kepada Hari Kiamat maupun kepada wahyu.

Ketujuh surah itu pun mengandung nubuatan-nubuatan tertentu mengenai masa depan Islam yang agung dan cemerlang berdampingan dengan penyebutan secara langsung dan tegas tentang kepastian terjadinya Hari Kiamat, dengan demikian menarik perhatian kepada kesimpulan yang tidak dapat dihindarkan bahwa penggenapan nubuatan-nubuatan tentang kemajuan Islam akan membuktikan bahwa Hari Kiamat itu pun merupakan fakta yang tidak dapat diingkari.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Waqiah

Surah Al Waqiah dimulai dengan pernyataan yang kuat dan tegas bahwa peristiwa besar lagi tidak dapat dielakkan, seperti diramalkan dalam surah terdahulu, pasti sekali akan terjadi, dan bila peristiwa itu terjadi maka peristiwa itu akan menggoncangkan bumi sampai ke sendi-sendinya dan gunung-gunung akan hancur berantakan, menyebabkan dunia baru timbul dari puing-puing dunia lama.

Kemudian, sebagai akibat dari peristiwa besar itu, umat manusia akan dipisah-pisahkan menjadi tiga golongan: (1) orang-orang bernasib baik yang akan menikmati kedekatan istimewa kepada Allahswt, (2) orang-orang mukmin hakiki serta muttaki yang akan menerima ganjaran bagus atas amal kebajikan mereka, dan (3) orang-orang kafir bernasib malang yang akan dihukum atas perbuatan jahat mereka.

Gambaran Tentang Nikmat Surga dan Azab Allah

Kemudian, Surah Al Waqiah ini memberikan gambaran yang jelas sekali tentang rahmat dan nikmat Ilahi yang tersedia bagi dua golongan yang disebutkan terdahulu, diikuti dengan gambaran tentang azab yang bakal ditimpakan kepada para penolak Amanat Ilahi.

Surah Al Waqiah dengan sangat ampuh menyangkal semua angapan bodoh para pengorek kesalahan dan pengecam Islam yang berdalih menemukan dalam Al Quran sebutan mengenai surga yang mesum. Surga, sebagaimana di bayangkan dan dijanjikan kepada orang-orang Muslin oleh Al Quran, akan merupakan tempat kenikmatan ruhani, di dalam tempat itu percakapan yang berbau dosa, sia-sia atau kosong atau dusta (Surah An Naba, 78: 36) tidak akan terdengar.

Semua rahmatnya akan mencapai puncaknya serta kesempurnaanya dalam kedamaian – ialah kedamaian paripurna pada alam pikiran dan jiwa yang tidak akan ada rahmat lebih besar lagi daripada itu.

Surga yang dijanjikan  kepada seorang Muslim telah ditetapkan sebagai “rumah keselamatan”  dalam Al Quran (Surah Al An’am, 6: 128); martabat tertinggi dalam perkembangan ruhani yang dapat dicapai orang-orang mukmin ialah “jiwa yang tenteram” (Surah Al Fajr, 89: 28); dan karunia terbesar yang akan diterima oleh para penghuni surga dari Allahswt ialah “damai” (Surah Yasin, 36: 59) karena Allahswt Sendiri adalah Pencipta kedamaian (Surah Al Hasyr, 59: 24). Demikianlah tanggapan luhur Al Quran tentang surga.

Dalam Surah Al Waqiah ini disebutkan tentang perumpamaan pohon Sidrah dan buah Pisang. Apabila naungan pohon Sidrah menjadi sangat teduh dan rimbun maka dalam udara panas dan kering seperti di negeri Arab, orang mukmin yang kelelahan serta keletihan bernaung dan beristirahat  dengan amat nyaman di bawahnya.

Sebab, kata Sidr telah diberi keterangan sifat makhdhud, yang maksudnya, pohon-pohon surga itu tidak hanya akan memberikan naungan yang nyaman lagi teduh, melainkan juga runduk dikarenakan berat oleh buah-buahnya yang berlimpah-limpah, yakni nikmat-nikmat surga itu akan menyamankan dan berlimpah-limpah.

Kalau pohon Sidrah tumbuh di iklim yang kering, pohon pisang menghendaki banyak air untuk pertumbuhannya. Disebutkan kedua macam buah itu bersama-sama mengandung arti, bahwa buah-buah surgawi tidak hanya akan berlimpah-limpah banyaknya lagi sangat lezat rasanya, melainkan juga akan diperoleh dalam segala iklim.

Nikmat-nikmat yang dijanjikan kepada para penghuni surga dalam Surah ini dan Surah-surah lainnya dalam Alquran memiliki sifat-sifat sebagai berikut : (a) Akan berlimpah-limpah; (b) Akan mudah diperoleh dan seutuhnya diserahkan kepada orang-orang mukmin; (c) Tidak akan berkurang atau berakhir; dan (d) Tidak akan menyebabkan kuran enak badan atau sakit.

Penciptaan Manusia

Lebih lanjut Surah Al Waqiah ini mengemukakan dalil yang lazim tentang kejadian manusia dan tentang perkembangan manusia, dari setetes nutfah berubah menjadi manusia yang penuh kedewasaan untuk menjadi bukti mengenai kelahiran kedua kalinya sesudah mati.

Menjelang akhir, Surah Al Waqiah ini kembali lagi kepada pokok semula, dan menerangkan bahwa perubahan besar yang diisyaratkan dalam ayat-ayat permulaan akan ditimbulkan oleh Al Quran, yang tidak syak lagi firman Ilahi yang diwahyukan, dan akan dilindungi serta dijaga bagaikan harta pusaka yang amat berharga.

Surah Al Waqiah ini berakhir dengan nasihat indah sekali bahwa manakala kesudahan yang tidak terelakkan bagi segala kehidupan itu, kematian yang darinya mustahil kita dapat melarikan diri, maka mengapa manusia begitu lengah terhadap kenyataan yang senyata-nyatanya itu dan melupakan Allahswt ?

“Maka baginya ada  jamuan air mendidih. Dan dibakar dalam neraka, Sesungguhnya, ini adalah kebenaran yang diyakini. Maka sanjunglah nama Tuhan engkau, Yang Maha Agung.”  (Surah Al Waqiah, 56: 94-97)

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan