Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Qamar

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-al-qamar

Surah Al Qamar adalah surah ke-54 setelah Surah An Najm, terdiri dari 56 ayat dan 3 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Al Qamar yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Al Qamar dan Hubungan dengan Surah-surah Lainnya

Surah Al Qamar ini diturunkan kira-kira bersamaan masa dengan surah sebelumnya, yaitu Al-Najm, yang diturunkan pada tahun ke-5 Nabawi.

Surah Al-Najm berakhir dengan kata-kata peringatan kepada kaum kafir bahwa saat kehancuran mereka telah mendekat.

Sedang Surah Al Qamar yang sekarang ini dibuka dengan pernyataan bahwa saat yang diancamkan itu hampir tiba, sudah berada di ambang pintu mereka.

Surah Al Qamar ini merupakan surah ke-5 di dalam kelompok tujuh surah yang mulai Surah Qaf sampai dengan Surah Al-Waqi’ah.

Semua surah itu diturunkan di dalam masa awal sekali risalah Rasulullahsaw dan membahas itikad-itikad dasar agama Islam, adanya wujud dan tauhid Ilahi, kebangkitan (kiamat), dan wahyu; serta mengemukakan hukum alam, akal manusia, pikiran sehat, dan sejarah para nabi terdahulu sebagai dalil untuk membuktikan kebenaran pendirian-pendirian itu.

Pada beberapa di antara surah-surah itu, tekanan diberikan secara khusus pada satu macam dalil dengan mengisyaratkan secara sepintas kepada dalil-dalil lain dan sebaliknya.

Pada Surah Al Qamar ini nubuwat Rasulullahsaw dan Hari Kebangkitan telah dibahas, dengan mengisyaratkan secara khusus kepada sejarah Nabi Nuhas, suku-suku Ad dan Tsamud, dan kaum Nabi Luthas.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Qamar

Pertama-tama, Surah Al Qamar menyebutkan peristiwa “bulan terbelah” menjadi dua yang dapat disaksikan oleh mata telanjang, telah menyalahi hukum alam fisika ataupun tidak, sukar di sangkal. Sedang peristiwa itu nampaknya kekurangan bukti-bukti sejarah yang meyakinkan.

Pada pihak lain, tiada seorang pun dapat memberanikan diri mengakui telah menyelami semua rahasia Allah atau sepenuhnya mengerti atau memahami semua rahasia alam.

Adalah mustahil bahwa peristiwa yang meliputi bagian besar wilayah bumi serupa itu, masih tetap tidak dimaklumi kalangan peneropong-peneropong bintang (para ahli observatori) di dunia ini, atau sama sekali tidak tercatat di dalam buku-buku sejarah.

Akan tetapi, oleh karena peristiwa itu sungguh tercantum di dalam kitab-kitab hadits yang sangat terpercaya, seperti Bukhari dan Muslim, dan sebab dituturkan secara berkesinambungan dalam riwayat-riwayat yang sumbernya dapat dipercaya, pula diriwayatkan oleh sahabat Rasulullahsaw yang cendikia seperti Ibn Mas’udra.

Peristiwa itu sungguh-sungguh menunjukkan bahwa gejala alam yang luar biasa pentingnya itu niscaya telah menjadi di masa Rasulullahsaw.

Beberapa ahli tafsir Al Quran – di antaranya Razi – telah berusaha menguraikan masalah pelik itu dengan menyatakan bahwa peristiwa itu adalah gerhana bulan.

Imam Ghazali dan Syah Waliullah juga berpegang pada pendapat bahwa pada hakikatnya bulan tidak terbelah, melainkan Allahswt telah mengatur demikian rupa sehingga bulan nampak kepada orang-orang yang menyaksikannya sebagai sungguh-sungguh terbelah.

Menurut Ibn Abbas dan Syah Abdul Aziz, peristiwa itu semacam gerhana bulan. Tetapi, bagaimana pun, bila kita mengingat akan kuatnya bobot bahasa yang dipergunakan Al Quran berkenaan dengan peristiwa itu, agaknya lebih daripada gerhana bulan biasa.

Peristiwa itu sungguh-sungguh merupakan mukjizat besar yang ditampakkan oleh Rasulullahsaw atas desakan orang-orang kafir (Bukhari dan Muslim).

Agaknya peristiwa itu merupakan suatu kasyaf Rasulullahsaw yang beberapa sahabat dan beberapa orang kafir juga dibuat ikut serta di dalamnya – tidak ubah halnya seperti peristiwa tongkat Nabi Musa berubah menjadi ular pun adalah suatu kasyaf (rukwa), yang para ahli sihir dibuat ikut serta di dalamnya.

Atau, boleh jadi seperti halnya pemukulan air laut yang dilakukan oleh Nabi Musaas dengan tongkat beliau, bertepatan dengan saat pasang surut, dan dengan demikian merupakan suatu mukjizat.

Begitu pula boleh jadi Allahswt telah memerintahkan Rasulullahsaw agar memperlihatkan mukjizat pembelahan bulan, pada saat ketika suatu benda langit mengambil posisi di depan bulan demikian rupa sehingga bulan nampak kepada orang-orang yang menyaksikan sebagai terbelah menjadi dua bagian.

Tetapi, ketenrangan yang paling dapat diterima dan juga mengandung makna keruhanian yang sangat mendalam, terletak pada kenyataan, bahwa bulan adalah lambang kebangsaan orang Arab dan lambang kekuasaan politik mereka, seperti halnya matahari merupakan lambang kebangsaan orang-orang Parsi.

Tatkala Siti Shafiyahra anak perempuan Huyay ibn Akhthab, pemimpin orang-orang Yahudi dari Khaibar menceritakan kepada ayahnya, bahwa beliau melihat mimpi, bulan telah jatuh ke atas pangkuan beliau; sang ayah menampar muka beliau seraya berkata, bahwa rupanya beliau menginginkan kawin dengan pemimpin bangsa Arab. Sesudah Khaibar jatuh, impian Siti Shafiyah menjadi sempurna, ketika beliau dipersunting oleh Rasulullahsaw. (Zurqani & Usud al-Ghabbah).

Begitu Pula Siti Aisyah pernah melihat mimpi , bahwa ketiga buah bulan jatuh ke dalam kamar pribadi beliau, dan impian itu telah menjadi kenyataan ketika di sana jasad Rasulullahsaw, Abu Bakarra dan Umarra berturut-turut dikebumikan (Mu‘aththa’ , Kitab al-Jama’iz).

Makna simbolis bagi kata qamar, ayat ini mengandung arti, bahwa saat kehancuran kekuasaan politik mereka, yang karenanya orang-orang kafir telah diperingatkan dalam Surah An Najm, 53:58 , telah tiba.

Kata saat dalam hal ini, mungkin mengisyaratkan dan pemimpin kabilah Quraisy terbunuh dan dasar kehancuran-mutlak kekuatan mereka telah diletakkan.

Dengan demikian Surah Al Qamar ayat dua ini merupakan nubuatan hebat, yang telah menjadi genap dengan ajaibnya kira-kira delapan atau sembilan tahun sesudah nubuatan itu diumumkan.

Teristimewa pula, menurut beberapa penulis, ungkapan bahasa Arab, “insyaqqa al-qamaru,” berarti, urusan itu telah menjadi nampak kentara. Dalam arti itu, ayat ini agaknya bermaksud, bahwa saat kehancuran kekuasaan kaum Quraisy telah tiba, dan kemudian akan menjadi nampak nyata, bahwa Rasulullahsaw seorang nabi Allah sejati.

Kaum dan Suku Bangsa Terdahulu

Kemudian, Surah Al Qamar menjelaskan tentang kejadian-kejadian tentang kaum Nabi Nuhas, suku-suku bangsa Ad, Tsamud dan kaum Nabi Luthas telah berulangkali dan dengan agak terinci disebut-sebut dalam Al Quran, sebab suku-suku bangsa itu hidup di lingkungan wilayah Hijaz, dan kaum Quraisy sangat mengenal sejarah mereka dan juga mempunyai hubungan niaga dengan mereka itu.

Kaum Nabi Nuh hidup di negeri Irak, yang terletak di sebelah timur-laut Arabia, dan suku bangsa Tsamud berkembang subur makmur di sebelah barat-laut Arabia, yang membentang dari Hijaz sampai ke Palestina, dan kaum Nabi Luthas yang malang itu tinggal di Sodom dan Gomorah di Palestina.

Air hujan yang tercurah dengan deras dari angkasa dan air yang menyembur dari dalam tanah; “kedua air itu” menyebabkan banjir raksasa yang menenggelamkan seluruh negeri, dan dengan demikian menjadi genaplah takdir Ilahi menghancurkan kaum Nabi Nuhas.

Karena semua nabi diutus Allah dan wahyu mereka datang dari Sumber Ilahi yang sama dan wahyu itu pun mengandung dasar kebenaran abadi yang sama, maka penolakan terhadap seorang nabi, sama saja dengan penolakan terhadap semua nabi.

Oleh karena itulah Surah Al Qamar ayat 24, melukiskan kaum-kaum Ad dan Tsamud, kaum Nabi Nuhas dan Kaum Nabi Luthas telah menolak semua utusan Allah, padahal sebenarnya mereka hanya menolak nabi-nabi mereka sendiri yang tertentu.

Kekalahan dan Kehancuran Kaum Kufar

Menjelang akhir Surah Al Qamar mengisyaratkan secara tegas kepada penyempurnaan nubuatan tentang kehancuran dan keruntuhan kekuatan-kekuatan kaum musyrik Arab, yang mengenai itu peringatan yang sama telah diberikan di dalam surah sebelum ini (Surah An Najm, 53: 58).

“Golongan itu akan segera dikalahkan dan akan membalikkan punggung mereka, melarikan diri.” (Surah Al Qamar, 54: 46)

Nubuatan tegas yang terkandung di dalam ayat di atas pastilah berkenaan dengan kekalahan remuk-redam yang diderita balatentara Mekkah di dalam Pertempuran Badar.

Pengalaman itu demikian berat menekan orang-orang Muslim, sehingga ketika pertempuran mulai berkobar, Rasulullahsaw berdoa kepada Allahswt dengan memelas dan dengan kepedihan hati yang sangat, di dalam kemah yang dipasang orang untuk beliau guna maksud itu, dengan kata-kata yang tidak luput dari kenangan,

“Ya Tuhan, kumohon dengan kerendahan hati kepada Engkau agar sudi memenuhi janji Engkau. Andaikata jemaat sekecil ini hancur-lebur, niscayalah Engkau tidak akan disembah lagi di atas dunia ini” (Bukhari).

Seusai berdoa, Rasulullahsaw keluar dari kemah dan sambil menghadap ke medan pertempuran, beliau membaca ayat di atas, “Golongan itu akan segera dikalahkan dan akan membalikkan punggung mereka, melarikan diri.”

Kekalahan pada Pertempuran Badar sungguh merupakan malapetaka paling dahsyat dan hebat bagi Quraisy.

Kekuasaan dan kehormatan mereka mengalami pukulan yang meremuk-redamkan. Kebanyakan pemimpin mereka terbunuh dan mayat mereka diseret dan dilemparkan ke dalam sebuah lubang.

Rasulullahsaw pergi ke tepi lubang itu seraya berkata kepada mayat-mayat itu dengan kata-kata yang menurut riwayat berbunyi:

“Tidak benarkah apa yang telah dijanjikan Tuhan-mu kepadamu? Sungguh, aku telah menyaksikan kebenaran apa yang telah dijanjikan Tuhan-ku kepadaku” (Bukhari, Kitab al-Maghazi). Tiap-tiap kata dalam Khabar gaib itu telah menjadi kenyataan.

“Pada hari ketika mereka akan diseret di dalam Api bersama pemuka-pemuka mereka. Dikatakan kepada mereka, ‘Rasakanlah sentuhan azab neraka.’” (Surah Al Qamar, 54: 49)

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan