Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al MUnafiqun

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

isi-kandungan-surah-yunus

Surah Al Munafiqun adalah surah ke-63 setelah Surah Al Jumuah, terdiri dari 12 ayat dan 2 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Al Munafiqun yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Al Munafiqun dan Hubungan dengan Surah Sebelumnya

Surah Al Munafiqun termasuk surah Madaniyah, yang diturunkan seperti tampak dari masalah kandungannya pada suatu saat sesudah Pertempuran Uhud.

Jika surah sebelumnya khusus membahas orang-orang Yahudi dari Madinah, maka Surah Al Munafiqun mengutarakan tentang musuh-musuh Islam lainnya, yaitu, orang-orang munafik, dan menyingkapkan selubung rencana jahat, kepalsuan, dan ketidak-jujuran mereka, serta mengutuk pernyataan-pernyataan keimanan mereka yang disuarakan dengan lantang itu sebagai palsu dan khianat.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Munafiqun

Berikut ini tafsir singkat dan isi kandungan Surah Al Munafiqun:

Orang-orang Munafiq

Apabila orang-orang munafik datang kepada engkau, mereka berkata, ‘Kami menyaksikan sesungguhnya engkau Rasul Allah.’ Dan Allah telah mengetahui sesungguhnya engkau benar-benar Rasul-Nya. Dan Allah menyaksikan sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (Surah Al Munafiqun, 63: 2)

“Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka perisai; maka mereka menghalangi orang-orang dari jalan Allah. Sesungguhnya sangat buruk apa yang telah mereka kerjakan.” (Surah Al Munafiqun, 63: 3)

“Yang demikian itu disebabkan mereka beriman kemudian mereka ingkar, maka meterai dikenakan pada kalbu mereka, karena itu mereka tidak dapat mengerti.” (Surah Al Munafiqun, 63: 4)

Ciri khas orang munafik ialah, dengan suara lantang ia menyatakankeimanannya dan dengan itu berusaha menyembunyikan pengkhianatan dan kemunafikan hatinya.

Orang-orang munafik tampaknya telah kehilangan akal sehat dan kehilangan pengertian, karena mereka bekerja dengan anggapan keliru bahwa tipu muslihat dan kelicikan bicara mereka, dapat menipu Allah dan Rasul-Nya.

“Dan apabila engkau melihat mereka, tubuh mereka membuat engkau kagum. Dan jika mereka berkata, engkau mendengarkan ucapan mereka. Mereka seolah-olah kayu tersandar, mereka menyangka, bahwa tiap-tiap teriakan adalah terhadap mereka. Mereka adalah musuh, maka waspasdalah terhadap mereka. Semoga Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka dipalingkan dari kebenaran!” (Surah Al Munafiqun, 63: 5)

Seorang munafik kurang memiliki kepercayaan kepada diri sendiri. Ia senantiasa mencari orang lain, yang kepadanya ia dapat bersandar.

Keadaan batinnya tidak sesuai dengan keadaan lahirnya. Ia berperilaku demikian, sehingga ia secara lahiriah tampak berpikiran sehat terhormat, dan jujur, tetapi di dalamnya ia kosong melompong dan busuk sampai ke hati sanubarinya.

Ia berusaha mengambil hati orang dengan ucapannya yang fasih, namun karena ia seorang pengecut ia dihinggapi oleh rasa curiga dan melihat bahaya di mana-mana.

Mereka itu musuh-musuh Islam tulen, kata surah ini, karena mereka berusaha menipu kaum muslimin dengan segala sumpah mereka dan pernyataan keimanan mereka yang palsu itu, sambil mempergunakan pernyataanpernyataan itu sebagai tabir untuk tujuan menipu.

Dengan rencana jahat dan kegiatan-kegiatan nista itu mereka telah mengutuk diri mereka sendiri sehabis-habisnya.

Karena tiada ketulusan dan kejujuran dalam dirinya, seorang orang munafik memandang orang-orang lain seperti dirinya sendiri.

Contoh Kegagalan Kaum Munafiq

Kaum munafikin Madinah membuat pikiran sesat dan keliru sama sekali tentang ketulusan tujuan para sahabat Rasulullahsaw sebab mereka menyangka para sahabat telah berkumpul di sekitar beliau karena pertimbangan kepentingan duniawi, dan mereka menyangka apabila para sahabat itu menyadari bahwa harapan mereka itu tidak terlaksana, mereka itu akan meninggalkan Rasulullahsaw. Perjalanan pasukan Islam membatalkan sama sekali segala harapan mereka yang sia-sia itu.

Dalam suatu gerakan pasukan menggempur Banu Musthaliq, ‘Abdullah bin Ubayy – pemimpin kaum munafik Madinah, yang harapan besarnya menjadi pemimpin kaum Madinah telah hancur berantakan dengan kedatangan Rasulullahsaw pada peristiwa itu – diriwayatkan pernah mengatakan bahwa sekembali ke Medinah ia “yang paling mulia dari antara penduduknya” – maksudnya ia sendiri – “akan mengusir dia yang paling hina dari antara mereka,” maksudnya, Rasulullahsaw.

Anak laki-laki Abdullah bin Ubayy mendengar kecongkakan kotor ayahnya; dan ketika rombongan sampai ke Madinah, ia menghunus pedangnya dan menghalangi ayahnya masuk kota, sebelum ayahnya mau mengakui dan menyatakan bahwa ayahnya sendirilah yang paling hina di antara penduduk kota Madinah, dan bahwa Rasulullahsaw adalah yang paling mulia di antara mereka. Dengan demikian keangkuhannya telah berbalik menimpa kepalanya sendiri.

Mereka dengan keliru menyangka bahwa seperti diri mereka sendiri, para sahabat Rasulullahsaw merupakan golongan orang-orang loba dan tamak, yang akan meninggalkan beliau bila kepentingan kebendaan menghendaki demikian.

Berkorban Harta di Jalan Allah

Surah Al Munafiqun berakhir dengan anjuran kepada kaum muslimin, supaya mereka hendaknya membelanjakan harta mereka di jalan Allah sebelum saat itu datang ketika Islam tidak memerlukan lagi uang mereka.

“Hai, orang-orang yang beriman! Janganlah melalaikan kamu hartamu dan anak-anakmu dari berzikir kepada Allah, dan barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Surah Al Munafiqun, 63: 10)

“Dan, nafkahkanlah dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu sebelum kamatian menimpa seseorang dari antara kamu, lalu ia berkata, ‘Hai Tuhan-ku ! Andaikata Engkau memberi tenggang waktu kepadaku barang sejenak, niscaya aku akan bersedekah dan menjadi termasuk orang-orang yang shaleh.’” (Surah Al Munafiqun, 63: 11)

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi tangguh kepada suatu jiwa pun, apabila telah tiba ajalnya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surah Al Munafiqun, 63: 12)

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan