Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Mumtahinah

Surah Al Mumtahinah adalah surah ke-60 setelah Surah Al Hasyr, terdiri dari 14 ayat dan 2 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Al Mumtahinah yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Al Mumtahinah dan Hubungannya dengan Surah-surah Lain

Seperti ketiga surah sebelumnya, surah Al Mumtahinah ini diwahyukan sebagaimana nampak dari kandungannya di Madinah, dalam tahun ketujuh atau kedelapan Hijrah, suatu ketika dalam waktu-selang di antara Perjanjian Hudaibiyah dan kejatuhan kota Makkah.

Surah yang mendahuluinya membahas tipu daya dan kasak-kusuk orang-orang munafik dan orang-orang Yahudi Madinah, serta membahas hukuman yang telah dijatuhkan kepada mereka.

Surah Mumtahinah ini membicarakan hubungan kemasyarakatan orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir pada umumnya dan dengan mereka yang melancarkan peperangan terhadap Islam pada khususnya.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Mumtahinah

Berikut ini tafsir singkat dan isi kandungan Surah Al Mumtahinah:

Larangan Bersahabat Dengan Orang-orang Ingkar

Surah Mumtahinah dimulai dengan pelarangan tegas kepada kaum Muslimin mengikat tali persahabatan yang akrab dengan orang-orang kafir yang berperang terhadap Islam dan berhasrat melenyapkan Islam.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuh-musuh-Ku dan musuhmusuhmu sebagai bsahabat, kamu akan menyampaikan kepada mereka amanat kecintaan, padahal mereka telah mengingkari kebenaran yang telah datang kepadamu dan mereka ctelah mengusir Rasul dan kamu sendiri dari rumahrumah kamu karena kamu telah beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu keluar berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku sebagian kamu secara sembunyisembunyi menyampaikan kepada mereka amanat kecintaan, sedang Aku sangat mengetahui apa pun yang kamu sembunyikan dan apa pun yang kamu tampakkan. Dan barangsiapa di antaramu berbuat demikian, maka ia sesungguhnya telah sesat dari jalan lurus.” (Surah Al Mumtahinah, 60: 2)

Perintah itu begitu tegas dan luas lingkupnya sehingga anggota-anggota keluarga yang mempunyai hubungan darah dekat sekalipun tidak dikecualikan dari larangan itu.

Larangan itu diikuti oleb suatu nubuatan yang tersirat di dalamnya bahwa amat segera musuh-musuh Islam yang tak kenal damai itu akan menjadi penganut-penganutnya yang mukhlis.

Tetapi, perintah itu mempunyai pengecualian. Perintah itu tidak berlaku terhadap orang-orang kafir yang mempunyai perhubungan baik sebagai tetangga dengan kaum Muslimin. Orang-orang kafir serupa itu harus diperlakukan dengan adil dan baik hati.

Perintah itu sangat tegas sifatnya. Orang-orang Muslim tidak dibenarkan mempunyai perhubungan bersahabat dengan musuh-musuh Allah yang nyata – mereka yang mengusir Rasulullahsaw dan orang-orang Muslim dari kampung halaman mereka dan berusaha membinasakan Islam.

Perintah itu luas sekali lingkupnya sehingga pertimbangan adanya ikatan atau pun pertalian – bahkan dengan keluarga yang terdekat sekalipun – tidak boleh melemahkan perintah itu. Musuh Islam adalah musuh Allah, siapa pun orang itu.

Peristiwa yang langsung berkaitan dengan turunnya ayat ini sepertinya ketika kaum Quraisy mengkhianat Perjanjian Hudaibiyah, dan Rasulullahsaw terpaksa harus mengadakan tindakan keras terhadap mereka.

Hathib bin Abi Balta’ah telah mengirim surat rahasia kepada kaum Makkah, memberitahukan kepada mereka bahwa Rasulullahsaw berniat bergerak menyerang Makkah.

Rasulullahsaw yang diberi tahu mengenai hal itu melalui wahyu, mengutus Ali, Zubair, dan Miqdad mencari si pembawa surat tersebut.

Mereka berhasil menyusul utusan itu – seorang wanita – di tengah perjalanan menuju ke Makkah, dan surat itu dibawa kembali ke Madinah.

Pelanggaran Hathib itu sangat berat. Ia telah berupaya membocorkan rahasia-negara yang penting. Ia layak dihukum sebagai contoh, namun ia dimaafkan karena ia melakukan pelanggaran itu dengan tidak disengaja tanpa menyadari akibat-akibatnya yang sangat berbahaya. Kebetulan peristiwa surat itu menetapkan tanggal turunnya Surah Al Mumtahinah ini.

Contoh mengenai Nabi Ibrahimas telah disebut dalam Surah Al Mumtahinah sini untuk memberikan tekanan bahwa manakala telah menjadi jelas seorang atau beberapa orang tertentu memusuhi dan bermaksud melenyapkan kebenaran, maka segala hubungan persahabatan dengan mereka harus dihentikan.

Kepada para sahabat Rasulullahsaw diberitahukan bahwa mereka dianjurkan supaya menghentikan segala hubungan persahabatan dengan musuh-musuh agama mereka, walaupun musuh itu mungkin keluarga sendiri yang mempunyai pertalian darah sangat dekat sekalipun, namun larangan itu ditetapkan berlaku untuk jangka waktu singkat saja.

Waktu itu telah kian mendekat dengan cepatnya ketika musuh-musuh bebuyutan itu akan menjadi sahabat-sahabat mesra.

Perintah itu hanya berlaku terhadap orang-orang kafir yang berperang terhadap kaum Muslimin seperti dinyatakan dalam ayat berikutnya. Hubungan persahabatan dengan semua orangorang bukan Islam yang tidak berperang terhadap Islam, tidak dilarang.

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama kamu, dan yang tidak mengusirmu dari rumah-rumahmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Surah Al Mumtahinah, 60: 9)

Ayat di atas mematahkan pendapat tentang perang yang merugikan dan mematahkan larangan berbuat baik dan bersahabat dengan orang-orang yang tidak mengusir orang-orang Islam karena perbedaan agama.

Ada kekeliruan dalam memahami beberapa ayat, bahwa kita dilarang bersahabat dengan semua non-Muslim. Akan tetapi dari ayat ini diketahui, bahwa kita bukan hanya boleh bersahabat dengan orang-orang yang tidak memerangi orang Islam karena perbedaan agama, bahkan ditekankan untuk berbuat baik kepada mereka.

Peraturan-peraturan Hijrah Ke Madinah Khusunya Bagi Kaum Wainta

Kemudian, surah Al Mumtahinah ini memberi nasihat-nasihat penting mengenai wanita-wanita mukmin yang berhijrah ke Madinah, dan pula bertalian dengan kaum wanita yang meninggalkan Madinah dan menggabungkan diri dengan orang-orang kafir.

Meskipun ketika orang-orang Muslimin dianiaya dengan hebat dan mereka tidak aman meninggalkan Makkah untuk bergabung dengan masyarakat Muslim di Madinah, gelombang demi gelombang orang yang beriman mengalir ke Medinah, meninggalkan orang-orang yang mereka cintai dan sayangi di Mekah. Para muhajirin itu meliputi pula sejumlah cukup besar kaum wanita. Ayat ini mengisyaratkan para muhajirin demikian.

Surah Al Mumtahinah ayat 11, merupakan tafsiran yang gamblang mengenai kekhawatiran Rasulullah Saw untuk tidak menerima wanita-wanita Muslim yang telah melarikan diri dari Mekah itu, seandainya tidak diperoleh bukti, sesudah diadakan pemeriksaan yang teliti, bahwa mereka sungguh-sungguh dan jujur di dalam keimanan mereka, dan mereka menerima Islam bebas dari maksud-maksud lain yang tercela.

Surah Al Mumtahinah ayat 11 ini selanjutnya menerangkan bahwa ikatan perkawinan antara seorang wanita mukmin muhajir dan suaminya yang tidak beriman dengan sendirinya putus, bila ia masuk ke dalam jemaat Kaum Muslimin; dan seorang pria mukmin diizinkan mengawininya, bila ia dapat memenuhi dua syarat:

(a) Ia harus membayar kembali kepada bekas suaminya yang kafir, apa yang telah dibelanjakan oleh bekas suaminya itu, dan (b) Ia harus menetapkan dan membayar maskawin kepada wanita itu.

Demikian juga ikatan perkawinan antara seorang pria Muslim dengan istrinya yang murtad tidak dapat diteruskan dan cara yang sama hendaknya berlaku bila seorang wanita yang murtad kawin dengan seorang-orang kafir seperti halnya perkawinan antara seorang Muslim dengan seorang mukmin muhajir.

Peraturan timbal balik yang ditetapkan dalam ayat ini bukanlah urusan pribadi perseorangan, melainkan harus dilaksanakan oleh negara, sebagaimana diamalkan di waktu peperangan yang justru  teristimewa untuk itu peraturan tersebut di tetapkan oleh ayat-ayat ini. Setelah itu tidak dapat dan tidak boleh ada lagi hubungan sosial antara orangorang mukmin dengan orang-orang kafir secara pribadi.

Bila istri seorang Muslim melarikan diri kepada orang-orang kafir, dan kemudian seorang wanita dari antara orang-orang kafir tertawan oleh orang-orang Muslim, atau wanita itu melarikan diri dari orang-orang kafir dan menggabungkan diri kepada Kaum Muslimin, maka si suami yang mukmin itu hendaknya diberi pengganti kerugian maskawin yang telah dibayarkan olehnya kepada si istri yang melarikan diri, dari jumlah ganti rugi yang harus dibayarkan kepada si suami kafir yang istrinya menggabungkan diri kepada orang-orang Muslim bila maskawin itu sama, tetapi selisihnya – jika ada – hendaknya dipenuhi secara patungan oleh orang-orang Muslim, atau – seperti diterangkan oleh beberapa sumber – diganti dari harta rampasan perang yang diperoleh negara.

Peraturan ini waktu itu perlu, karena orang-orang kafir suka menolak mengembalikan maskawin yang telah dibayarkan oleh para suami mukmin kepada istri-istri mereka yang kemudian melarikan diri kepada orang-orang kafir.

Kemudian, surah Al Mumtahinah ini memberi nasihat-nasihat penting mengenai wanita-wanita mukmin yang berhijrah ke Madinah, dan pula bertalian dengan kaum wanita yang meninggalkan Madinah dan menggabungkan diri dengan orang-orang kafir.

Untuk menjelaskan kepada orang-orang Muslim akan kepentingan perkara itu, Surah Al Mumtahinah ini berakhir dengan mengulangi lagi perintah bahwa kaum Muslimin tidak boleh mengadakan persahabatan dengan orang-orang yang memusuhi Islam, yang karena dengan terang-terangan mengambil sikap bermusuhan terhadap Islam, telah dimurkai Allahswt itu.

“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu berteman dengan suatu kaum yang Allah murka atas mereka; sesungguhnya mereka telah berputus  asa tentang akhirat sebagaimana orang-orang kafir telah berputus asa tentang orangorang yang ada dalam kubur.” (Surah Al Mumtahinah, 60: 14)

Baca juga:

(Visited 16 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan