Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Mumin

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

biografi-nabi-muhammad-bewaramulia

Surah Al Mumin adalah surah ke-40 setelah Surah Az Zumar, terdiri dari 86 ayat dan 9 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Al Mumin yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Al Mumin dan Hubungannya dengan Surah Lain

Dengan Surah Al Mumin, dimulailah satu kelompok surah yang semuanya mempunyai huruf-huruf singkatan Hā Mīm tertera pada permulaan surah-surah itu, dan yang diawali dengan masalah turunnya Al Quran, dan tergolong dalam masa yang sama.

Menurut Ibnu Abbas dan Ikrimah, surah-surah itu seluruhnya diturunkan di Makkah pada saat ketika perlawanan terhadap Islam telah semakin gencar, terorganisasi serta hebat (Surah Al Mumin ayat 56 dan 78) dan musuh-musuh Rasulullahsaw bahkan berusaha hendak membunuh beliau. (Surah Al Mumin ayat 29).

Menjelang akhir surah terakhir dari kelompok surah-surah ini, Rasulullahsaw dihibur dengan kata-kata yang meyakinkan bahwa keputusan Ilahi akan cepat sekali dijatuhkan di antara beliau dan musuh-musuh beliausaw.

Kekuatan-kekuatan kegelapan akan dibinasakan; penyembahan terhadap berhala akan lenyap sirna dari tanah Arab, dan seluruh negeri akan berkumandang dengan suara pujipujian kepada Tuhan.

Surah Al Mumin diawali dengan pernyataan yang sangat menggembirakan, bahwa Tuhan Yang Mahaagung dan Mahakuasa telah menurunkan Al Quran dengan tujuan agar kemuliaan dan kesucian-Nya, akan berdiri tegak di atas dunia dan kekafiran lenyap dari muka bumi.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Mumin

Huruf-huruf singkatan haa miim  adalah alih-alih sifat-sifat Allahswt, Hamid  dan Majid  (Maha Terpuji dan Maha Mulia) atau Hayyi dan Qayyum (Maha Hidup dan Berdiri Sendiri serta Pemelihara segala sesuatu).

Kedua kelompok sifat Ilahi itu mempunyai sangkut paut yang erat sekali dengan kandungan Surah Al Mumin.

Surah Al Mumin berulang-ulang mengisyaratkan kepada keagungan, kedaulatan, dan kekuasaan Allahswt. Seperti ditampakkan oleh kata arasy, yang mengandung arti sifat-sifat itu dan yang dua kali telah disebut dalam beberapa ayat permulaan.

Pokok pembahasan kedua ialah, kebangkitan kaum yang secara ruhani telah mati, mendapatkan kehidupan baru.

Kedua sifat, Hayyi  (Maha Hidup) dan Qayyum  (Berdiri Sendiri dan Pemelihara segala sesuatu) mempunyai suatu perhubungan yang nyata dengan masalah ini.

Kenyataan itu menjelaskan tentang mengapa huruf-huruf singkatan haa miim telah ditempatkan pada permulaannya.

Hal itu perlu mendapat perhatian istimewa, bahwa Surah Al Mumin dan keenam surah berikutnya merupakan kelompok tersendiri, masing-masing di awali dengan huruf-huruf singkatan yang sama.

Hal demikian menunjukkan bahwa ada perhubungan yang mendalam antara pokok pembahasan semuanya itu.

Kemenangan Islam

Seperti disebutkan di atas, Surah Al Mumin diawali dengan pernyataan tegas bahwa saatnya telah tiba, ketika kebenaran akan unggul atas kepalsuan, ketika ketakwaan mengatasi kejahatan.

Manakala gema pujian dan sanjungan kepada Tuhan akan bergaung di seluruh negeri, di tempat yang tadinya kemusyrikan pernah merajalela. Penyempurnaan agung itu akan terjelma dengan perantaraan Al Quran.

Musuh-musuh kebenaran akan berusaha dengan mati-matian dan mempergunakan segala kemampuan dan sumber-sumber daya mereka yang dahsyat guna mematahkan batang pohon Islam yang masih lemah dan masih bagaikan tunas itu. Tetapi, mereka akan gagal dalam rencana-rencana dan usaha-usaha jahat mereka.

Rasulullahsaw dinasihati agar jangan tertipu dan terpesona oleh kehebatan kekuatan dan berlimpah-limpahnya sumber-sumber kebendaan orang-orang kafir, sebab mereka telah ditakdirkan akan sampai pada akhir kehidupan yang menyedihkan.

Beliausaw kemudian diberitahu bahwa penentang-penentang beliau bukanlah kaum yang satu-satunya dan yang pertama-tama menentang kebenaran.

Pernah ada kaum sebelumnya yang juga berusaha membunuh nabi-nabi mereka dan menggagalkan misi-misi mereka. Tetapi, azab Ilahi merenggut mereka. Demikian pulalah azab akan menyergap penentang-penentang beliausaw.

Kisah Nabi Musa

Kemudian, Surah Al Mumin menunjuk kepada hal ihwal Nabi Musaas sebagai lukisan tentang nasib yang menyedihkan dan pasti akan menimpa penentang-penentang Rasulullahsaw.

Sementara Firaun menolak seruan Nabi Musaas yang mengajak kepada kebenaran.

Seorang “mukminah” dari dalam rumah tangganya sendiri berpidato dengan penuh perasaan tetapi meyakinkan, menganjurkan agar kaumnya tidak mencoba membunuh seseorang yang kesalahannya hanya semata-mata mengatakan, bahwa Allah adalah Tuhan-nya, dengan disertai bukti-bukti yang kuat dan mantap guna mendukung dan membela Nabi Musaas.

Selanjutnya ia memperingatkan mereka, agar mereka tidak tertipu oleh kekayaan, kekuasaan, dan sumber-sumber kebendaan, sebab semuanya itu hanyalah merupakan benda-benda fana belaka. Tetapi, daripada mengambil faedah dari nasihatnya yang tulus ikhlas itu, Firaun malah mengejeknya.

Pertolongan Allah

Kemudian, Surah Al Mumin memberikan isyarat yang tegas kepada hukum Tuhan, yang tak pernah berubah, yaitu, bahwa bantuan dan pertolongan Ilahi senantiasa menyertai para rasul-Nya serta para pengikut mereka, dan bahwa kegagalan serta kekecewaan akan terus menerus membayang-bayangi orang-orang kafir hingga akhir zaman.

Hukum Ilahi itu bekerja di zaman setiap nabi dan perwujudannya akan nampak sepenuhnya di zaman Rasulullahsaw.

Orang-orang kafir kemudian diberitahu bahwa mereka itu tak mempunyai alasan untuk menolak Rasulullahsaw. Kedatangan beliau bukan suatu gejala baru.

Sebagaimana siang hari mengikuti malam hari di alam jasmani, demikian pulalah kebangunan rohani mengikuti masa kemunduran moral dalam alam rohani. Karena dunia keruhanian telah mati, Tuhan membangkitkan Rasulullahsaw untuk memberikan kehidupan baru kepada dunia.

Jaminan Jasmani dan Rohani

Surah Al Mumin berakhir dengan keterangan bahwa bila Allahswt telah memberikan persediaan bekal dan jaminan secukupnya bagi keperluan-keperluan jasmani manusia, maka mustahil Allahswt tidak berkenan memberi jaminan yang serupa bagi keperluan-keperluan ruhaninya.

Dia mengirimkan ke dunia rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang mengajak manusia ke hadirat Tuhan dan Khalik-nya.

Akan tetapi, karena tidak tahu berterima kasih dan karena kebodohan, anak-anak kegelapan menolak Amanat Ilahi di setiap zaman, dan mereka akhirnya memperoleh kemurkaan Allah.

Nabi-nabi telah senantiasa datang ke dunia semenjak waktu yang jauh sulam, tetapi begitu busuknya pikiran orang-orang – setiap kali datang seorang nabi baru, mereka menolak dan menentangnya; dan ketika ia wafat, orang-orang beriman kepada nabi itu berkata, tiada nabi akan datang lagi dan pintu wahyu telah tertutup untuk selama-lamanya.

Kebenaran pada akhirnya harus menang, tetapi sebelum keberhasilan datang kepada orang-orang pilihan Tuhan, mereka harus melalui aneka macam cobaan dan penderitaan hebat, dan keimanan mereka diuji hingga terbukti lulus dalam ujian itu.

Nubuatan-nubuatan berisikan peringatan tentang azab bagi orang-orang kafir itu bersyarat dan dapat ditunda, dicabut kembali atau malahan dibatalkan.

Tidak semua nubuatan yang mengandung ancaman itu menjadi sempurna sepenuhnya. Nubuatan itu berubah menurut perubahan sikap orang-orang kafir.

Akhirnya, bila kejahatan orang-orang kafir sudah melampaui batas, dan takdir Ilahi – yang memutus kan bahwa mereka itu harus diazab – mulai berlaku, maka pengakuan iman mereka tidak akan berguna lagi, dan taubat pun pada saat itu terlambatlah sudah.

“Maka tidak bermanfaat bagi mereka iman mereka apabila mereka melihat azab Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlalu terhadap hamba-hamba-Nya, dan rugilah disana orang-orang kafir.” (Surah Al Mumin, 40: 86)

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan