Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Mujadilah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-al-jatsiyah

Surah Al Mujadilah adalah surah ke-58 setelah Surah Al Hadid, terdiri dari 23 ayat dan 3 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Al Mujadilah yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Al Mujadilah dan Hubungan dengan Surah-surah Lainnya

Surah Al Mujadilah merupakan surah kedua di antara tujuh surah Madaniyah terakhir. Surah ini menyebut agak terinci kebiasaan buruk Zihār (memanggil istri seperti ibu sendiri), yang dibahas hanya sepintas lalu dalam Surah Al Ahzab.

Hal demikian menunjukkan bahwa surah ini diturunkan sebelum Al Ahzab. Tetapi, karena Al Ahzab diturunkan di antara tahun kelima dan ketujuh Hijrah maka Surah Al Mujadilah pasti diturunkan lebih dini; besar kemungkinan di antara tahun ketiga dan tahun keempat.

Dalam surah sebelumnya yaitu Surah Al Hadid para Ahlikitab diperingatkan dengan keras, bahwa karunia Allahswt bukanlah hak monopoli mereka dan karena mereka telah berulangkali menolak, menentang, dan berbuat aniaya terhadap rasul-rasul Allah, maka sekarang kenabian akan dipindahkan untuk selama-lamanya kepada Bani Ismail.

Dalam Surah Al Mujadilah ini kaum Muslimin diberi peringatan bahwa disebabkan kesejahteraan duniawi mereka akan dapat mengobarkan rasa permusuhan di tengah-tengah musuh baik dari luar maupun dari dalam, maka hendaklah mereka berhati-hati terhadap rencana dan tipu daya jahat mereka itu.

Dan merupakan kelaziman Al Quran bahwa manakala Al Quran membahas tipu daya musuh-musuh Islam, disebutkan pula dengan tegas beberapa kejahatan sosial. Cara ini dipakai dalam Surah An Nur dan Surah Al Ahzab, demikian pula cara ini dipakai dalam Surah Al Mujadilah ini.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Mujadilah

Berikut ini tafsir singkat dan isi kandungan surah Al Mujadilah

Memanggil Istri Dengan Sebutan Ibu

Surah Al Mujadilah dibuka dengan celaan keras terhadap tindakan Zihār, dan dengan menyebutkan peristiwa Khaulah, seorang muslimah bangsawati.

Khaulah, istri Aus bin Shamit dan anak perempuan Tsa’labah, telah bercerai dengan suaminya, karena suaminya memanggil dia “ibu,” kata-kata harfiah yang dipakainya adalah, “engkau bagiku bagaikan punggung ibuku,” dan dengan demikian menurut kebiasaan masyarakat Arab kuno segala hubungan suami-istri di antara dia dan suaminya terputus.

Wanita malang itu tidak dapat menuntut cerai supaya dapat kawin lagi dan tidak pula mempunyai hak menikmati pergaulan suami istri lagi, karena itu ia menjadi seorang wanita yang nasibnya terkatung-katung, tidak terpelihara.

Lalu ia menghadap kepada Rasulullahsaw dan menyampaikan keluhan kepada beliau mengenai keadaan canggung yang dihadapkan pada dirinya, dan ia memohon nasihat dan pertolongan beliau dalam urusan itu.

Rasulullahsaw menyatakan ketidakmampuan beliau berbuat sesuatu baginya karena telah menjadi kebiasaan beliau bahwa tidak pernah memberikan keputusan dalam urusan seperti itu, kecuali bila beliau memperoleh petunjuk Ilahi dengan perantaraan wahyu. Wahyu itu turun kemudian dan kebiasaan Zhihar dinyatakan sebagai perbuatan terlarang.

Surah Al Mujadilah ini menetapkan peraturan bahwa bila seseorang memanggil istrinya dengan sebutan “ibu”, ia harus menebus kealpaan akhlak yang amat buruk itu dengan membebaskan seorang budak, jika ia memilikinya, atau dengan berpuasa selama dua bulan berturut-turut; dan jika pun tidak dapat maka ia harus menebus kealpaan itu dengan memberi makan kepada enam puluh orang miskin.

Persekongkolan Musuh-musuh Islam

Selanjutnya Surah Al Mujadilah ini membahas persekongkolan dan perkomplotan musuh-musuh di dalam selimut dan mengutuk pembentukan perkumpulan-perkumpulan rahasia dan penyelenggaraan musyawarah-musyawarah rahasia yang bermaksud merugikan kepentingan Islam.

“Apakah engkau tidak melihat orang-orang yang dilarang dari mengadakan musyawarah rahasia, kemudian mereka kembali kepada apa yang mengenainya mereka telah dilarang, dan mereka mengadakan musyawarah rahasia untuk melakukan dosa, pelanggaran dan kedurhakaan terhadap Rasul? Dan apabila mereka datang kepada engkau, mereka mengucapkan salam kepada engkau dengan aucapan salam yang tidak pernah Allah ucapkan kepada engkau, dan mereka berkata kepada diri mereka sendiri, ‘Mengapakah Allah tidak mengazab kami atas apa yang kami ucapkan?’ Maka, cukuplah Jahanam bagi mereka yang akan mereka masuki; dan itulah seburukburuk tempat kembali.” (Surah Al Mujadilah, 58: 9)

Ayat di atas mengisyaratkan kepada komplotan dan tipu daya rahasia yang dilancarkan orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik Medinah terhadap Islam, dan mengutuk perbuatan jahat itu.

Pengusiran tiga suku Yahudi dari Medinah adalah akibat perbuatan-perbuatan merusak dan kecurangan yang dilakukan mereka berulang-ulang dan persekongkolan-persekongkolan rahasia mereka terhadap Islam serta terhadap jiwa Rasulullahsaw.

Musyawarah rahasia (najwa) bukanlah suatu dosa, kecuali musyawarah rahasia itu bersifat aniaya dan untuk menentang Allah dan Rasul-Nya.

Kemudian diterangkan lebih lanjut tentang kelakuan orang-orang yang ketika hadir di hadapan Rasulullahsaw, secara lahiriah mereka mengucapkan salam, tetapi dalam hati mengatakan hal yang tidak baik. Dalam hati mereka begitu yakin bahwa nantinya mereka tidak akan diazab. Allahsaw mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, dan pasti akan memasukkan mereka ke dalam neraka Jahannam.

Perkumpulan-perkumpulan rahasia telah dicela, tetapi celaan itu bukan tanpa syarat. Orang-orang mukmin diperkenankan mengadakan pertemuan-pertemuan rahasia yang dimaksudkan untuk tujuan-tujuan menggalakkan hal-hal yang baik lagi benar.

Kemudian, dalam hubungan yang serasi, Surah Al Mujadilah ini meletakkan beberapa peraturan, perilaku mengenai pertemuan-pertemuan sosial.

Kemudian Surah Al Mujadalah menjelaskan bawha, orang-orang mukmin patut menghormati waktu Rasulullahsaw yang amat berharga; dan sebagai imbalan terhadap penggunaan waktu beliau, dihendaki agar mereka membelanjakan uang sedikit sebagai sedekah sebelum menghadap beliau untuk memohon nasihat.

Perintah memberi sedekah sebelum memohon nasihat dari Rasulullahsaw tidak wajib hukumnya, melainkan hanya sunnat (nafal) belaka, meskipun sangat disukai. Kekhawatiran para sahabat Rasulullah adalah tentang apakah mereka telah memberikan sedekah yang memadai sebagai syarat untuk memenuhi perintah Tuhan.

Menjelang akhir, Surah Al Mujadilah ini memberi peringatan dengan keras kepada musuh-musuh Islam bahwa dengan perlawanan terhadap Islam, mereka akan ditimpa murka Allahswt dan mereka takkan pernah mampu menghentikan atau merintangi kemajuan Islam.

Peringatan kepada orang-orang kafir itu diikuti peringatan yang sama kerasnya kepada orang-orang mukmin bahwa mereka sekali-kali tidak boleh mengikat persahabatan dengan musuh-musuh agama mereka, betapa pun dekatnya pertalian orang-orang itu dengan mereka sebab dengan menentang Islam, mereka melancarkan perang yang sungguh-sungguh terhadap Allahswt, dan persahabatan dengan musuh-musuh Allahswt itu adalah tidak sesuai dengan keimanan sejati.

“Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, mereka itu mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya walaupun mereka itu bapak-bapaknya, anak-anaknya, saudara-saudaranya atau pun keluarganya Mereka itulah orang-orang yang di dalam hati mereka Dia telah menanamkan iman dan Dia telah meneguhkannya dengan ilham dari Dia sendiri. Dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka akan menetap di dalamnya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Mereka itu golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah, mereka itulah yang menang.” (Surah Al Mujadilah, 58: 23)

Sudah nyata bahwa tidak mungkin terdapat persahabatan atau hubungan cinta sejati atau sungguh-sungguh antara orang-orang mukmin dan orang-orang kafir.

Cita-cita, pendirian-pendirian, dan kepercayaan agama dari kedua golongan itu bertentangan satu sama lain, dan karena kesamaan dan hubungan kepentingan itu merupakan syarat mutlak bagi hubungan yang sungguh-sungguh erat menjadi tidak ada, maka orang-orang mukmin diminta jangan mempunyai persahabatan yang erat dan akrab dengan orang-orang kafir.

Ikatan agama mengatasi segala hubungan lainnya, malahan mengatasi pertalian darah yang amat dekat sekalipun. Ayat ini agaknya merupakan seruan umum. Tetapi secara khusus seruan itu tertuju kepada orang-orang kafir yang sedang  dalam keadaan berperang dengan kaum Muslim.

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan