Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Jumuah

Surah Jumuah adalah surah ke-62 setelah Surah As Shaf, terdiri dari 12 ayat dan 2 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Jumuah yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Al Jumuah dan Hubungan dengan Surah Sebelumnya

Surah Al Jumuah ini agaknya diturunkan beberapa tahun sesudah Hijrah.

Dalam surah sebelumnya telah disinggung nubuatan Nabi Isaas tentang kedatangan Nabi Ahmad (Muhammad). Surah Al Jumuah ini membahas nubuatan itu lebih lanjut.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Jumuah

Seperti surah yang mendahuluinya, Surah Al Jumuah dimulai dengan sanjungan mengenai kekuasaan dan kebijaksanaan Allahswt dan, sebagai bukti dan peragaan kedua sifat Ilahi ini.

“Menyanjung kepada Allah segala yang ada di seluruh langit dan segala yang ada di bumi, Yang Maha Berdaulat, Maha Suci, Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Surah Al Jumuah, 62: 2)

Keempat sifat Ilahi itu bertalian dengan keempat tugas Rasulullahsaw yang tercantum di dalam ayat berikutnya.

Kedatang Rasulullah di Tengah-tengah Bangsa Arab

Surah Al Jumuah menunjuk kepada kedatangan Rasulullahsaw di tengah-tengah bangsa Arab buta huruf, yang dari bangsa biadab dan tidak berbudaya lagi buta huruf dengan perantaraan ajaran Al Quran dan contoh luhur lagi mulia Rasulullahsaw telah menjadi guru-guru dan pemimpin-pemimpin umat manusia, menyebarkan nur dan ilmu ke mana saja mereka pergi.

“Dia-lah Yang telah membangkitkan di tengah-tengah bangsa  yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda- tanda-Nya, dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata.” (Surah Al Jumuah, 62: 3)

Tugas suci Rasulullahsaw meliputi penunaian keempat macam kewajiban mulia, yang disebut dalam ayat di atas.

Tugas agung dan mulia itulah yang dipercayakan kepada beliau; sebab, untuk kedatangan beliau di tengah-tengah orang-orang Arab buta huruf itu leluhur beliau, Nabi Ibrahimas, telah memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang lampau, ketika dengan disertai putranya, Nabi Ismailas, beliau mendirikan pondasi Ka’bah. (Surah Al Baqarah, 2: 130).

Pada hakikatnya tiada Pembaharu dapat benar-benar berhasil dalam misinya bila ia tidak menyiapkan dengan contoh mulia dan quat qudsiahnya (daya pensuciannya).

Suatu jamaah yang pengikut-pengikutnya itu mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan filsafat, arti, dan kepentingan cita-cita dan asas-asas ajarannya itu, kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya ke luar negeri untuk mendakwahkan ajaran itu kepada bangsa lain.

Didikan yang beliau berikan kepada para pengikut beliau memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan filsafat ajaran beliau menimbulkan dalam diir mereka keyakinan iman, dan contoh mulia beliau menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh ayat ini.

Nubuwatan Kedatang Almasih Isa Ibnu Maryam Kedua

Surah Al Jumuah kemudian mengisyaratkan pula kepada gejala ruhani yang akan terjadi pada suatu ketika kelak, dengan perantaraan wakil agung Rasulullahsaw, yaitu Almasih yang dijanjikan kedatangannya di akhir jaman ini.

“Dan, Dia akan membangkitkannya pada kaum lai18n dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan, Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha bijaksana.” (Surah Al Jumuah, 62: 4)

Ajaran Rasulullahsaw ditujukan bukan kepada bangsa Arab belaka, yang di tengah-tengah bangsa itu beliau dibangkitkan, melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga, dan bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau, melainkan juga kepada keuturunan demi keturunan manusia yang akan datang hingga kiamat.

Atau ayat di atas dapat juga berarti bahwa Rasulullahsaw akan dibangkitkan di antara kaum yang belum pernah tergabung dalam para pengikut semasa hidup beliau.

Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadis Nabisaw, yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan Rasulullahsaw untuk kedua kali dalam wujud Almasih di akhir zaman.

Abu Hurairahra menceritakan ketika Surah Jumuah diturunkan, “Saya minta keterangan kepada Rasulullahsaw. ‘Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata, Dan dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?” 

Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami. Setelah saya berulang-ulang mengajukan pernyataan itu, Rasulullahsaw meletakkan tangan beliau pada Salman dan bersabda:

“Bila iman telah terbang ke bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan mengambilnya kembali.” (HR. Bukhari).

Hadits Nabisaw ini menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi.

Hadits Nabisaw, lainnya menyebutkan kedatangan Almasih pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap. (Baihaqi).

Jadi, Al Quran dan hadits kedua-duanya sepakat bahwa ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali Rasulullahsaw dalam wujud Almasih yang dijanjikan.

Celaan Terhadap Yahudi

Dan seterusnya mencela kaum Yahudi atas penolakan mereka terhadap Rasulullahsaw, meskipun adanya kenyataan bahwa kitab suci mereka banyak sekali mengandung nubuatan-nubuatan mengenai beliausaw.

“Katakanlah, ‘Hai orang-orang Yahudi, sekiranya kamu mengaku bahwa sesungguhnya kamu sahabat Allah selain manusia, maka inginkanlah kematian, jika kamu orang-orang benar.’” (Surah Al Jumuah, 62: 7)

Di dalam ayat-ayat sebelumnya disebut-sebut tentang orang-orang Yahudi, yang menolak ajaran Rasulullahsaw dan menodai Sabbat mereka, dan sebagai akibatnya mereka ditimpa murka Ilahi. Tetapi, dalam ayat ini kaum Muslimin diperintahkan agar luar biasa seksamanya dalam menunaikan shalat Jum’at yang wajib itu.

Tiap-tiap kaum mempunyai Sabbat masing-masing, dan Sabbat bagi kaum Muslimin ialah haru Jumuat Karena Surah Al Jumuah ini nampaknya membahas secara khusus zaman Almasih yang akan datang itu, maka panggilan kepada shalat Jum’at dapat juga berarti seruan nyaring yang dialamatkan kepada kaum Muslimin supaya mendengarkan amanat beliau.

Berlainan dengan Sabbat kaum Yahudi atau Kristen, Sabbat kaum Muslimin bukanlah hari Istirahat. Sebelum dan sesudah shalat Jumuat kaum Muslimin boleh meneruskan pekerjaan-pekerjaan mereka sehari-hari seperti sediakala. Kata-kata, “karunia Allah,” pada umumnya diartikan, “menjalankan usaha dan mencari nafkah.”

Jadi, dengan sendirinya, Surah Al Jumuah memperingatkan kaum Muslimin terhadap perilaku seperti perilaku kaum Yahudi, bila wakil agung Rasulullahsaw muncul di antara mereka.

Menjelang penutup, ditekankannya soal kepentingan salat Jumuat, dan tersirat bahwa di zaman kedatangan Rasulullahsaw kedua kali, yang diumpamakan sebagai salat Jum’at terjadi kegiatan luar biasa di dalam lapangan perniagaan, perdagangan, dan pencarian keuntungan kebendaan, dan banyak macam ragam hiburan lainnya yang memalingkan manusia dari Allahswt.

Maka kaum Muslimin dianjurkan agar berjaga-jaga, supaya semua hal itu tidak membingungkan dan mengacaukan perhatian mereka dalam menyibukkan diri melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka dalam urusan agama.

“Hai, orang-orang yang beriman! Apabila dipanggil untuk shalat pada hari Jum’a, maka bersegeralah untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Hal demikian adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Surah Al Jumuah, 62: 12)

Baca juga:

(Visited 227 times, 2 visits today)

Tinggalkan Balasan