Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Hujurat

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-al-hujurat

Surah Al Hujurat adalah surah ke-49 setelah Surah Al Fath, terdiri dari 19 ayat dan 2 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Al Hujurat yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Al Hujurat dan Hubungan dengan Surah-surah Lainnya

Surah Hujurat diturunkan pada tahun ke-9 Hijrah, sesudah kota Makkah jatuh. Ketika Islam, telah menjadi suatu kekuatan politik yang besar dan orang berbondong-bondong masuk ke dalam pangkuannya.

Maka sudah masanya bagi orang-orang baru baiat diberi pelajaran sopan santun dan akhlak baik. Surah Al Hujurat mengajarkan kepada kaum muslimin, sopan santun dan akhlak baik.

Surah Al Hujurat membahas beberapa kejahatan sosial yang juga berangsur-angsur menyelinap ke dalam masyarakat yang maju dalam bidang kebendaan serta telah menjadi kaya raya, kaum Muslimin, sesudah negeri Arab ditaklukkan, telah menjadi masyarakat seperti itu dan membicarakan kemajuan Islam yang mencapai taraf kekuatan politik dan memiliki kekayaan duniawi yang besar.

Dengan sendirinya, dan memang sangat tepat sekali, Surah Al Hujurat ini mengandung peraturan-peraturan bagi penyelesaian sengketa-sengketa internasional.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Hujurat

Berikut ini tafsir singkat dan beberapa isi kandungan Surah Al Hujurat:

Perintang Menghormati dan Menaati Rasulullah

Surah Al Hujurat ini dibuka dengan perintah tegas kepada kaum muslimin untuk menunjukkan penghormatan dan ketakziman sepenuhnya kepada Rasulullahsaw sesuai dengan kedudukan beliau selaku utusan Allahswt.

Orang-orang mukmin diperintahkan menghormati dan memuliakan Rasulullahsaw dengan sewajarnya, dan menunjukkan ketaatan tanpa bersyarat, lagi tidak mendahului perintah beliau atau lebih mementingkan keinginan mereka sendiri daripada keinginan beliausaw.

Lebih lanjut mereka diperintahkan agar jangan mendahului keputusan beliau, melainkan hendaknya menunjukkan ketaatan kepada beliau tanpa banyak bertanya. Mereka tidak boleh meninggikan suara, mengatasi suara beliausaw.

Ditekankan sekali pada keharusan mengambil sikap hormat setinggi-tingginya terhadap Rasulullahsaw. Orang-orang beriman dikehendaki agar jangan bicara dengan suara keras di hadapan beliausaw atau menyapa beliau dengan suara keras, yang bukan saja merupakan sikap kurang sopan bahkan dapat merusak akhlak seseorang yang begitu lancang dan tidak menunjukkan rasa hormat yang selayaknya terhadap pemimpinnya.

Hal itu bukan hanya merupakan perilaku yang kurang sopan, melainkan juga menunjukkan kurang hormat terhadap sang Pemimpin, sehingga melemahkan disiplin dalam masyarakat Islam.

Berbicara dengan nada halus di hadapan Rasulullahsaw menunjukkan rasa hormat terhadap beliau dan menunjukkan kerendahan hati; sedangkan meninggikan suara padahal tidak perlu, berbau kesombongan dan kepongahan.

Memanggil Rasulullahsaw dengna suara keras dari luar rumah sama dengan menggangu ketenangan pribadi dan waktu beliau yang sangat berharga dan menunjukkan kekurang-hormatan terhadap wujud beliau, dan hanya orang biadaplah yang bisa bertingkah sebodoh itu.

Harus Waspada terhadap Desas-desus atau Berita Bohong

Kemudian Surah Al Hujurat ini memperingatkan kaum muslimin agar berjaga-jaga jangan terjebak oleh desas-desus palsu yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam keadaan sangat berbahaya, dan dengan ringkas meletakkan asas peraturan yang dengan itu, Liga Bangsa-bangsa atau Perserikatan Bangsa-bangsa dapat dibina di atas landasan yang sehat dan kokoh kuat.

Walaupun kota Mekkah telah jatuh dan hampir seluruh tanah Arab telah masuk ke dalam pangkuan Islam, masih ada beberapa suku bangsa menolah menerima tertib baru dan bertekad memerangi kaum Mislimin sampai titik darah penghabisan.

Tambahan pula negeri-negeri tetangga seperti kerajaan Bizantina dan Iran, mulai menyadari akan tantangan terhadap kekuasaan dan pamor mereka; tantangan itu mereka rasakan telah timbul di negeri Arab, dan peperangan dengan Islam, agaknya tidak dapat dihindarkan lagi. Maka perintah itu sangatlah pentingnya.

Kaum Muslimin diberi tahu bahwa sekalipun keperluan perang menghendaki tindakan cepat untuk mendahului suatu gerakan pasukan dari pihak musuh, dan desas-desus yang sudah sewajarnya tersebar dimana-mana dalam masa peperangan, hendaknya tidak boleh diterima begitu saja.

Kabar angin, harus diperiksa dengan cermat serta diuji, dan kebenarannya harus diyakinkan dahulu sebelum tindakan diambil.

“Hai, orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang durhaka dengan membawa suatu kabar, selidikilah dengan teliti, supaya jangan kamu mendatangkan musibah terhadap suatu kaum karena kebodohan, maka kamu menjadi menyesal atas apa yang telah kamu kerjakan.” (Surah Al Hujurat, 49: 7)

Persatuan dan Persaudaraan antara Sesama Muslim

Kemudian, Surah Al Hujurat ini menyebut beberapa kejahatan sosial yang jika tidak dijaga dan dicegah secara jitu, tepat pada waktunya, dapat merusak bagian-bagian penting tubuh masyarakat dan menghancurkan seluruh susunannya.

Oleh karena masalah yang dibahas oleh Surah Al Hujurat ini pada pokoknya menciptakan keserasian, keakraban, dan kerjasama yang baik di antara kaum muslimin secara perseorangan atau golongan.

Maka disebutkan beberapa keburukan sosial, yang menyebabkan ketidakserasian, pertentangan dan perselisihan dan membuat suatu masyarakat menjadi berkarat, rusak, dan kotor serta menggerogoti unsur pentingnya itu, lalu memerintahkan kepada kaum muslimin supaya berjaga-jaga terhadap hal-hal itu.

Mengejek dan mencemoohkan oranglain, memata-matai dan memanggil dengan kata makian, curiga dan mengumpat, adalah beberapa di antara keburukan-keburukan sosial itu.

Kaum wanita disebut secara istimewa dalam hubungan ini, sebab mereka lebih cenderung menjadi sasaran keburukan sosial ini. Sebab umum yang terletak pada akar keburukan-keburukan itu adalah kesombongan dan rasa lebih unggul semu.

Dengan menghilangkan sebab-sebab pokok ketidakserasian dan ketidaksepakatan antara orang-orang Muslim, Surah Al Hujurat ini telah meletakkan dasar-dasar persaudaraan dalam Islam yang kokoh kuat lagi mantap.

Di antara kejahatan sosial yang paling umum, ialah kecurigaan, tuduhan palsu, memata-matai, bergunjing; dan yang paling mencolok dan jangkauan akibat buruknya jauh ialah kesombongan dan keangkuhan yang timbul dari rasa superioritas rasial, anggapan bahwa bangsa sendiri lebih unggul dari yang lain.

Al Quran tidak mengenal dasar apa pun yang dapat menyebabkan orang merasa lebih tinggi daripada orang lain, kecuali dasar kesalehan dan ketakwaan.

Persaudaraan dan Persamaan Umat Manusia

Sesudah membahas masalah persaudaraan dalam Islam, Surah Al Hujurat meletakkan dasar persaudaraan dan persamaan umat manusia. Surah ini menumbangkan rasa dan sikap lebih ungul semu lagi bodoh, yang lahir dari keangkuhan rasial atau kesombongan nasional.

Karena umat manusia sama-sama diciptakan dari jenis laki-laki dan perempuan, maka sebagai makhluk manusia, semua orang telah dinyatakan sama dalam pandangan Allahswt.

Harga seseorang tidak dapat dinilai oleh warna kulitnya, jumlah harta miliknya, oleh pangkatnya atau kedudukannya dalam masyarakat, keturunan atau asal-usulnya, melainkan oleh keagungan akhlaknya dan keturunan manusia, tidak lain hanya suatu keluarga belaka.

Pembagian suku-suku bangsa,  bangsa-bangsa dan rumpun-rumpun bangsa dimaksudkan untuk memberikan kepada mereka saling pengertian yang lebih baik, terhadap satu-sama lain agar mereka dapat saling mengambil manfaat dari kepribadian serta sifat-sifat baik bangsa-bangsa itu masing-masing.

Pada peristiwa Haji Wada (haji terakhir) di Makkah, tidak lama sebelum Rasulullahsaw wafat, beliau berkhutbah di hadapan sejumlah besar kaum muslimin dengan mengatakan:

“Wahai sekalian manusia! Tuhan-mu itu Esa dan bapak-bapakmu satu jua. Seorang orang Arab tidak mempunyai kelebihan kelebihan atas orang-orang non Arab. Seorang kulit putihsekali-kali tidak mempunyai kelebihan atas orang-orang berkulit merah, begitu pula sebaliknya, seorang kulit merah tidak mempunyai kelebihan apa pun di atas orang berkulit putih melainkan kelebihannya ialah sampai sejauh mana ia melaksanakan kewajibannya terhadap Tuhan dan manusia. Orang yang paling mulia di antara kamu sekalian pada pandangan Tuhan ialah yang paling bertakwa di antaramu.” (Baihaqi).

Sabda agung ini menyimpulkan cita-cita paling luhur dan asas-asas paing kuat. Di tengah suatu masyarakat yang terpecah-belah dalam kelas-kelas yang berbeda itulah, Rasulullahsaw mengajarkan asa yang sangat demokratis.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan; dan Kami telah menjadikan kamu bangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu dapat saling mengenal. Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Waspada.” (Surah Al Hujurat, 49: 14)

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan