Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Hijr

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-dan-isi-kandungan-surah-al-hijr

Surah Al Hijr adalah surah kelima belas setelah surah Ibrahim, terdiri dari 100 ayat dan 6 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat dan isi kandungan surah Al Hijr yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Pendahuluan

Para ulama semuanya sependapat, bahwa Surah ini diturunkan di Makkah. Dalam Surah yang mendahuluinya telah dikemukakan, bahwa walaupun nabi-nabi terdahulu tidak memiliki syarat-syarat dan alat-alat madiah (kebendaan), namun beliau-beliau memperoleh kemajuan dan kejayaan dalam melaksanakan misi beliau-beliau, sebab beliau-beliau itu mempunyai kalam Ilahi untuk membimbing dan menolong mereka.

Demikian pula Rasulullahsaw akan berhasil dalam mengemban tugas beliau. Surah ini dengan tegas menyatakan, bahwa Kalam Ilahi itu merupakan suatu tenaga hebat, yang tiada kekuatan di dunia dapat melawannya.

Mengada-adakan dusta terhadap Allahswt bukanlah suatu perkara yang remeh-remeh; dan penipu-penipu serta orang-orang yang suka mengada-adakan dusta terhadap Allah, senentiasa menjumpai kesudahan mereka yang malang. Juga telah dinyatakan, bahwa Al Quran adalah Kalam Ilahi yang diwahyukan, dan memiliki bukti-bukti yang tidak dapat dibantah untuk menetapkan, bahwa Kalam itu sumbernya dari Allahswt.

Tafsir Singkat Surah Al Hijr

Pokok pembahasan yang digarap dalam Surah Al Hijr, adalah bahwa tidak ada satu pun kitab suci yang dapat mendekati Al Quran dalam pilihan kata-kata serta gaya bahasa yang indah dan dalam keagungan isinya.

Al Quran itu kitab suci yang paling luhur. Kitab itu tidak ada tara bandingnya dalam segi apa pun. Keindahannya serta sifat-sifatnya yang baik itu, begitu banyak dan begitu beraneka-ragamnya, sehingga bahkan orang-orang yang tidak beriman pun kadankala terpaksa mengakui, bahwa mereka tidak memiliki suatu apa pun yang serupa dengan itu, dan mereka menginginkan alangkah baiknya jika mereka pun mempunyai sebuah kitab serupa itu.

Kendatipun ada pengakuan demikian dari mereka sendiri, mereka tidak berusaha untuk menerima kitab itu dan tidak menyadari, bahwa dengan penolakan mereka terhadap Al Quran, mereka akan dijauhkan dari kebenaran, dan akan menyebabkan turunnya kemurkaan dan azab Allah atas diri mereka.

Amanat Al Quran pasti akan berhasil dan tak ada sesuatu pun yang dapat menghambatnya. Siapa-siapa yang ragu-ragu dan menolak untuk menerimanya, mereka sendiri akan menderita karenanya.

Kemudian Surah ini menyatakan bahwa, jika wahyu Al Quran itu diolok-olok dan dicemooh, hal itu tidaklah mengherankan, sebab wahyu-wahyu dari para nabi yang terhadalu pun mendapat cemoohan.

Akan tetapi orang-orang yang suka mengejek, tidak memperhatikan kenyataan yang terang ini, bahwa mengada-adakan dusta terhadap Allah bukanlah suatu yang hal yang remeh, sebab berbuat demikian sama halnya dengan mengundang kehancuran yang pasti.

Tuhan Yang Maha Kuasa menjamin, bahwa dusta tidak akan dapat dialamatkan kepada-Nya dengan berhasil, dan bahwa suatu kelancangan itu nyata sekali perbedaannya dari Kalam-Nya yang diwahyukan.

Dia menganugerahkan kepada Kalam-Nya kehormatan dan kemuliaan istimewa dan menciptakan suasana yang baik dan cocok untuk itu, agar diterima oleh orang-orang yang berpikiran lurus, lalu mengangkat derajat orang-orang yang menerimanya itu dari martabat akhlak yang rendah ke martabat yang luhur.

Isi Kandungan Surah Al Hijr

Berikut ini isi kandungan tiap ruku surah Al Hijr:

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Ibrahim

Isi Kandungan Surah Al Hijr Ruku Ke-1, Ayat 1-17

Isi kandungan surah Al Hijr ruku pertama diantaranya adalah bahwa keinginan orang-orang kafir – bahwa alangkah baiknya seandainya mereka orang-orang Muslim – hanyalah suatu “angan-angan kosong.” Yakni suatu hasrat yang timbul secara sepintas lalu belaka; keinginan mereka yang sebenarnya ialah mengejar kesenangan duniawi dan keuntungan-keuntungan kebendaan belaka.

Dan mereka berkata, “Hai orang yang telah diturunkan kepadanya peringatan ini, sesungguhnya engkau adalah orang gila “Mengapa tidak engkau datangkan kepada kami malaikat-malaikat jika engkau termasuk orang-orang yang benar.”

Bila kebenaran, keadilan dan hikmah (seperti yang dimaksudkan oleh kata bihaqq ) menghendaki, bahwa mereka harus menerima hukuman Ilahi, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka dan mereka tidak akan diberi tangguh.

“Sesungguhnya, Kami Yang telah menurunkan Peringatan Al Quran  ini, dan sesungguhnya Kami baginya adala Pemelihara”

Janji mengenai perlindungan dan penjagaan Al Quran yang diberikan dalam ayat ini telah genap dengan cara yang begitu ajaibnya, sehingga sekalipun andaikata tidak ada bukti-bukti lainnya, kenyataan ini saja niscaya sudah cukup membuktikan, bahwa Alquran itu berasal dari Tuhan.

Surah ini diturunkan di Makkah, ketika kehidupan Rasulullahsaw beserta para pengikut beliau sangat morat-marit keadaannya, dan musuh-musuh dengan mudah dapat menghancurkan agama yang baru itu. Ketika itulah orang-orang kafir ditantang untuk mengerahkan segenap tenaga mereka guna menghancurkan Islam; dan mereka diperingatkan bahwa Tuhan akan menggagalkan segala tipu-daya mereka, sebab Dia sendirilah Penjaganya.

Tantangan itu terbuka dan tidak samar-samar, sedangkan keadaan musuh kuat lagi kejam; kendatipun demikian Al Quran tetap selamat dari perubahan, penyisipan, dan pengurangan, serta senantiasa terus-menerus menikmati penjagaan yang sempurna. Keistimewaan Al Quran yang demikian itu tidak dimiliki oleh Kitab-kitab lainnya yang diwahyukan.

Kemudian, Allahswt telah mengutus para utusan-Nya kesegenap kaum dan bangsa. Dan dikatakan bahwa tidak pernah datang kepada mereka seorang rasul pun, melainkan mereka selalu mengolok-oloknya.

Orang-orang kafir telah menjadi demikian rupa terasing dari urusan-urusan rohani, sehingga seandainya pun mereka menikmati pengalaman-pengalaman rohani yang telah dialami oleh Rasulullahsaw dan karenanya memperoleh beberapa kasyaf (penglihatan ghaib dalam keadaan sadar) mengenai ketinggian kerohanian yang telah dicapai oleh beliau, mereka juga tidak akan percaya dan hanya akan berkata, bahwa mereka telah menjadi korban sihir atau tenung.

Baca juga: Surah Ar Ra’d, Tafsir Singkat Dan Isi Kandungannya

Isi Kandungan Surah Al Hijr Ruku Ke-2, Ayat 17-26

Isi kandungan surah Al Hijr ruku kedua diantaranya menyebutkan tentang penciptaan planit dan bintang-bintang, yang dimaksudkan di sini bukan semata-mata keindahan pemandangan benda-benda luar anggkasa itu.

Tujuan agung yang dipenuhi oleh kejadian benda-benda langit itu, disebut di ruku ini dan dalam menjadi sempurnanya tujuan agung itulah terletak keindahan yang sesungguhnya dari benda-benda langit itu.

Sebagaimana dalam alam kebendaan, orang-orang yang berpembawaan buruk mempunyai pengaruh, dan dapat mendatangkan beberapa kemudaratan tertentu kepada orang-orang lain, namun mereka sama sekali tidak dapat memahrumkan orang-orang dari nikmat-nikmat samawi, seperti pengaruh yang sehat dari bintang-bintang, dan sebagainya; demikian pula dalam alam kerihanian syaitan tidak mempunyai kekuasaan atas nabi-nabi dan pengikut-pengikut mereka yang sejati.

Kata buruj (gugusan-gugusan bintang) dalam ayat 17 menggambarkan rasul-rasul Allahswt secara umum, sedangkan kata-kata syihaabun mubin (nyala api yang terang benderang) dalam ayat 18i atau syihaabun tsakib  (nyala yang menembus) tercantum dalam 37: 11 dipakai untuk nabi masa ini yaitu Penghulu Nabi (Rasulullahsaw).

Pengejaran syaitan oleh syihab maksudnya, bahwa selama suatu ajaran agama berlandaskan pada wahyu Ilahi (Adz-Dzikr, ayat 10) dan memberi nur dan hidayat, mushlih-mushlih rabbani (pembaharu-pembaharu dari Allahswt) juga terus-menerus muncul untuk menjaganya.

Salah satu tanda kedatangan mushlih-mushlih rabbani ke dunia adalah seringnya terjadi gejala meteorik, yaitu berjatuhannya bintang-bintang dalam jumlah besar. Di zaman Rasulullahsaw meteor-meteor jatuh sedemikian banyaknya, sehingga kaum kafir menyangka, bahwa langit dan bumi akan rebah (Ibnu Katsir).

Dari kejadian yang luar biasa inilah Heraclius, yang agaknya mempunyai sedikit pengetahuan tentang ilmu perbintangan, menarik kesimpulan, bahwa nabi dan raja bangsa Arab pasti sudah muncul (Bukhari bab bad’al-wakhy).

Di zaman Nabi Isaas juga bintang-bintang berjatuhan dalam jumlah yang luar biasa besarnya (Biharul Anwar). Gejala langit ini pernah disaksikan di masa kita ini dalam tahun 1885. Dengan demikian sejarah dan hadits kedua-duanya memberikan kesaksian, bahwa berjatuhannya meteor-meteor dalam jumlah yang luar biasa besarnya, adalah satu tanda yang pasti tentang munculnya seorang mushlih rabbani.

Kata “syaitan “ dalam ayat 18 dapat dianggap menunjuk kepada ahli-ahli nujum dan tukang-tukang tenung. Dalam hal itu “merajam syaitan-syaitan “ (67: 6) akan berarti bahwa manakala di dunia ini tidak ada seorang mushlih rabbani, ahli-ahli nujum dan tukang-tukang sihir akan berhasil sampai batas tertentu dalam permainan kotornya dengan menipu orang-orang yang bodoh, tetapi dengan munculnya seorang mushlih rabbani, ilmu mereka yang lancung itu terbuka kedoknya dan orang-orang dengan mudah dapat membedakan antara khabar-khabar gaib dari rasul-rasul Ilahi dengan dugaan-dugaan dan terkaan-terkaan dari ahli-ahli nujum dan tukang-tukang sihir.

Kalimat wal-ardha madadnaa-haa berarti, “Dan bumi Kami telah membentangkannya,” atau “Kami telah memperkayanya” mengadung arti, bahwa Tuhan telah membuat bumi ini sedemikian luasnya, sehingga kendatipun bentuknya bundar, manusia tiada meresa tak enak disebabkan oleh bentuknya yang bundar; atau  Allahswt telah memperkaya bumi ini dengan bahan-bahan penyubur.

Penyelidikan-penyelidikan ilmu perbintangan telah menyingkap kenyataan, bahwa bumi terus-menerus memperoleh tenaga dan unsur penyubur baru dari bintang-bintang, yang darinya jatuh ke atas bumi serbuk-serbuk zat dalam bentuk meteor-meteor atau debunya yang berguna sekali untuk meningkatkan kesuburan bumi.

Bumi memerlukan persediaan air yang banyak untuk menumbuhkan tanaman yang menghasilkan makanan. Untuk tujuan ini, Tuhan telah menciptakan gunung-gunung yang gunanya sebagai penampung air, yang disimpannya dalam bentuk salju dan berangsur-angsur mencair, lalu disalurkan ke atas bumi melalui sungai-sungai.

Allahswt memiliki persediaan segala sesuatu dalam jumlah yang tidak terbatas. Akan tetapi sesuai dengan rahmat-Nya yang tiada berhingga, Dia mengarahkan pikiran atau manusia kepada satu benda yang tertentu, hanya bilamana timbul suatu keperluan yang sesungguhnya akan benda itu. Seperti halnya alam semesta kebendaan, Al Quran merupakan alam semesta kerohanian, di mana tersembunyi khazanah-khazanah ilmu kerohanian, yang dibukakan kepada manusia sesuai dengan keperluan zaman.

Lawaaqih  berarti angin yang mengangkat uap, yang mengepul dari bumi naik ke lapisan-lapisan udara yang tinggi, dan uap itu menjadi bentuk awan-awan. Kata itu pun berarti semacam angin yang menerbangkan tepung-sari bunga dari pohon-pohon jantan ke pohon-pohon betina, supaya pohon-pohon itu berbiak.

Kemudian, suatu revolusi dahsyat terjadi dengan perantaraan ajaran Al Quran, yang menyebabkan tertib lama mati, dan orang-orang mukmin sejati akan mewarisi bumi.

Baca juga: Tasir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Yusuf

Isi Kandungan Surah Al Hijr Ruku Ke-3, Ayat 27-45

Isi kandungan surah Al Hijr ruku ketiga diantaranya yaitu, diciptakan manusia dari shalshal  (tanah liar kering-denting) mengadung arti, bahwa ia telah diciptakan dari zat yang di dalamnya terkandung kemampuan dan sifat-sifat yang latent (tersembunyi) untuk berbicara.

Ini menunjukkan, bahwa manusia telah dianugerahi kekuatan untuk menyambut suara dari langit. Akan tetapi karena shalshal  itu mengeluarkan suara hanya apabila terkena oleh sesuatu benda dari luar, maka kata itu mengisyaratkan, bahwa kekuatan manusia untuk menyambut itu bergantung pada penerimaan dia terhadap seruan Ilahi. Kemampuan ini membuktikan keunggulannya dari seluruh makhluk.

Kata hamaa mengandung arti, bahwa manusia telah diciptakan dari lumpur hitam yakni tanah dan air; tanah merupakan sumber badan jasmani, dan air itu sumber ruh.

Di lain tempat Al Qran menyebutkan “tanah” dan “air” secara terpisah sebagai benda-benda yang darinya manusia telah diciptakan (3: 60 dan 21: 3). Dengan menggabungkan kata shalshal  (tanah liat kering-denting) kepada kata hamaa  (lumpur hitam), Al Quran bermaksud menunjukkan, bahwa di mana makhluk-makhluk lainnya yang bernyawa diciptakan dari hamaa (lumpur hitam) saja, yaitu dari tanah dan air – sebab mereka pun memiliki semacam ruh tertentu, tetapi tidak berkembang dengan sempurna – sebaliknya manusia diciptakan dari hamaa (lumpur hitam) dipadukan dengan shalshal  (tanah liat yang kering denting), yang menunjukkan sifat berbicara. Ia pun masnun, yakni diberi bentuk yang sempurna (95: 5).

Berulang-ulang kali Al Quran menyatakan, bahwa kejadian alam semesta itu berlangsung setahap demi setahap. Ayat 15: 27 hanya menyebutkan tahapan pertama saja dari kejadian manusia itu. Tahapan-tahapan lain dalam kejadiannya itu telah disebutkan dalam 30: 21; 35: 12; 22: 6; 23: 15 dan 40: 68.

Pernyataan Al Quran bahwa manusia telah diciptakan dari “tanah” (yang sepintas lalu berarti, bahwa proses kejadiannya yang panjang itu dimulai dengan tanah), dikuatkan oleh kenyataan, bahwa bahkan sekarang juga makanan manusia berasala dari tanah, beberapa bagian tertentu dari makanan itu diambil langsung darinya dan beberapa bagian lainnya lagi secara tidak langsung.

Hal itu menunjukkan bahwa zat yang terkandung dalam tanah, merupakan asal manusia; sebab sekiranya bukan demikian, niscaya ia tidak dapat mengambil gizinya (zat sari makanan) dari tanah, sebab yang dapat memberikan makanan kepada suatu wujud hanyalah barang yang tadinya telah dibuat wujud itu, karena unsur dari luar tidak akan mampu mengisi apa yang telah menjadi susut.

Manusia dijadikan dari ketergesa-gesaan (21: 38) menunjukkan, bahwa ayat yang sedang dalam pembahasan ini berarti, bahwa jin memilki pembawaan seperti api dan bukan bahwa makhluk jin itu sesungguhnya dibuat dari api. Dengan demikian “dijadikannya dari tanah liat” mengadung arti berpembawaan lemah-lembut dan suka tunduk, sedangkan “dijadikannya dari api” mengandung arti, bertabiat sepert api dan mudah menyala.

Tuhan menghukum syaitan (ayat 35, 36) atas pembangkangannya terhadap perintah yang ditujukan kepada para malaikat (ayat-ayat 29, 30), sebab perintah yang diberikan kepada malaikat-malaikat itu, dengan sendirinya berlaku pula bagi semua makhluk yang berada di bawah wewenang malaikat-malaikat. Al Quran sendiri di tempal lain membuat jelas, bahwa perintah kepada malaikat berlaku untuk iblis juga (7: 12 dan 13).

Kata ganti haa dalam ungkapan min-haa tidak menunjuk kepada surga di akhirat, sebab surga itu seuatu tempat, yang syaitan tiada mungkin memasukinya dan menggoda Adamas, dan dari tempat itu, tiada seorang pun akan dikeluarkan (15: 49). Kata ganti itu menunjuk kepada keadaan nikmat dan bahagia, yang dialami oleh manusia di dunia ini, sebelum seorang nabi datang kepada mereka. Dalam keadaan demikian, kendatipun mungkin mereka terperosok ke dalam kepercayaan-kepercayaan yang keliru, namun karena belum sampai menolak seorang nabi, mereka sama sekali tidak luput dari anugerah nikmat-nikmat Ilahi yang digambarkan dalam Al Quran sebagai jannah (kebun).

Kata-kata, “hingga hari mereka akan dibangkitkan “ mengandung arti kelahiran kembali manusia secara rohani, ketika sesudah mencapai martabat nafs muthma’innah (jiwa yang tenteram dengan Tuhan) ia menjadi kebal dari godaan syaitan dan dari mengalami kejatuhan secara rohani. Percakapan antara Tuhan dengan syaitan, sebagaimana diisyaratkan di sini, hanyalah merupakan perumpamaan atau tamsil belaka.

Sebagaimana diterangkan dalam ayat 37 ,kata-kata “waktunya telah ditetapkan “ berarti, hari, ketika para nabi dan pengikut-pengikut mereka memperoleh kemenangan terakhir atas lawan-lawan mereka, sedang kepalsuan akhirnya hancur binasa bersama-sama dengan pendukung-pendukungnya.

Kemudian, fitrat manusia itu pada dasarnya suci. Hanya mereka lah, yaitu orang-orang yang mengotori fitrat sendiri dan memilih untuk mengikuti syaitan, kehilangan jalan yang benar. Hal ini telah diterangkan lebih lanjut, dalam 91: 11.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Hud

Isi Kandungan Surah Al Hijr Ruku Ke-4, Ayat 46-61

Isi kandungan surah Al Hijr diantaranya yaitu, hanya orang-orang yang hatinya bebas dari segala perasaan-perasaan dendam terhadap saudara-saudaranya, merekalah yang dapat dikatakan menikmati kehidupan surga yang sungguh-sungguh.

Surga itu akan merupakan satu tempat, di mana amal-perbuatan akan tetap dan terus menerus dilakukan. Namun kendatipun demikian, orang-orang mukmin tidak akan merasa keletihan, sebagai akibat yang tak bisa dihindarkan dari kerja berat. Dan juga tenaga mereka tidak akan hilang atau berkurang sebagai akibat dari kelelahan.

Barangkali tanda-tanda kesedihan dan dukacita nampak pada wajah tamu-tamu Nabi Ibrahimas, sebab mereka telah membawa berita tentang bencana yang sedang mengancam itu. Nabi Ibrahimas memahami hal itu dari kecemasan yang nampak pada wajah mereka atau dari penolakan mereka untuk menyantap makanan yang dihidangkan kepada mereka (11: 71).

Isi Kandungan Surah Al Hijr Ruku Ke-5, Ayat 62-80

Isi kandungan surah Al Hijr ruku kelima diantaranya yaitu, tentang kisah Nabi Luthas dan utusan-utusan yang datang kepada beliauaas.

Nabi Luthas menduga, bahwa orang-orang ini hanyalah para musafir biasa yang kebetulan saja berkunjung ke tempat itu.

Kata ganti hum  (mereka punya) dalam ungkapan adbaara-hum  (belakang mereka) yang dipergunakan dalam ayat ini menunjukkan bahwa rombongan orang-orang yang meninggalkan kota bersama Nabi Luthas itu tidak hanya terdiri dari kedua putrinya saja, seperti dinyatakan dalam Bible (Kejadian Bab 19), tetapi terdiri dari orang-orang beriman lainnya juga, sebagiannya tentu laki-laki seperti ditegaskan oleh kata pengganti jamak bentuk laki-laki.

Nabi Luthas telah diberitahu oleh kaumnya agar jangan membawa orang-orang asing ke dalam kota dan oleh karenanya ketika tamu-tamu itu datang kepada beliau, mereka bergirang hati bahwa beliau dapat dipersalahkan karena telah mengabaikan peringatan-peringatan mereka.

Nabi Luthas minta kepada kaumnya agar jangan menghina beliau disebabkan beliau menjamu orang-orang asing itu.

Oleh karena hubungan antara kaum Luthas dan kabilah-kabilah yang bertentangan sedang tegang, kaum beliau telah memberi peringatan kepada beliau agar tidak membawa orang-orang asing ke dalam kota. Akan tetapi karena perjalanan di bagian kawasan itu tidak aman dan mudah, Nabi Luthas biasa menerima masafir-musafir yang kesunyian dan tersesat jalan di rumah beliau.

Kebiasaan ini ditentang oleh kaum beliau, yang sedang mencari-cari helah untuk mengusir beliau dari kota sebab mereka sudah lama merasa jemu dengan ajaran dan tabligh beliau. Akan tetapi mereka tidak dapat mengusir beliau tanpa alasan yang kuat. Sekarang mereka menemukan satu dalih yang kelihatannya baik untuk melampiaskan kemarahan mereka terhadap beliau, sebab beliau telah memberikan naungan kepada orang-orang asing di rumah beliau, hal itu berlawanan dengan peringatan-peringatan mereka.

Dari kejadian itu jelaslah, bahwa kaum Nabi Luthas datang kepada beliau tidak dengan niat buruk untuk berbuat homoseksual dengan tamu-tamu beliau, melainkan untuk menyampaikan kepada beliau peringatan-peringatan, bahwa mereka telah memperoleh alasan yang kuta untuk mengusir beliau dari kota itu. Agaknya inilah yang menjadi alasan mengapa mereka bersukacita.

Menurut Al Quran, Nabi Syuaibas telah diutus ke Ashhab al-aikah, yakni Kaum Rimba (26: 177 dan 178) dan Ahl-maydan, yakni Kaum Midian (11: 85), menunjukkan bahwa kedua nama itu adalah nama kaum itu-itu juga, atau, boleh juga nama dua cabang dari satu kaum, yang telah mengambil dua mata pencaharian yang berlainan, yang satu hidup dari perniagaan dan yang lainnya memelihara ternak unta dan kambing.

Eratnya hubungan antara “Kaum Rimba” dengan “Kaum Midian” terbukti dari kenyataan, bahwa kesalahan-kesalahan yang serupa itu telah pula dikenakan kepada kedua kaum itu dalam Al Quran (7:86 ; 26:183 – 184). Midian agaknya nama suku bangsa dan nama kota di mana kaum itu hidup pada ujung Teluk Aqabah, yang di dekatnya terletak Rimba Aikah, yang banyak ditumbuhi pohon-pohon kerdil dari sebangsa pohon pruin (plum) liar, dan menyediakan naungan bagi unta, kambing, dan domba (The Gold Mines of Median, oleh Sir Richard Francis Burton).

Baca juga: Isi Kandungan Surah Yunus

Isi Kandungan Surah Al Hijr Ruku Ke-6, Ayat 81-100

Isi kandungan surah Al Hijr diantaranya yaitu, bahwa Hijr terletak di antara Tabuk dan Medinah. Di sinilah hidup suku bangsa Tsamud, yang kepadanya Nabi Shalehas. telah diutus sebagai seorang Nadzir (pemberi ingat).

Kota itu pada umumnya dibuat dari batu dan dikelilingi oleh dinding benteng dan kubu-kubu daru batu. Karena itulah kota itu dinamai demikian.

Dalam ayat-ayat sebelumnya telah disebut tiga kaum yang berlainan: kaum Luth, kaum Syuaib dan kaum Shaleh.

Mereka tidak disebut menurut urutan zamannya, melainkan dalam urutan menurut jauhnya kota-kota mereka dari Makkah. Kota kaum Luth itu letaknya paling jauh dari Makkah. Kemudian menurut urutan jarak itu, hidup kaum Aikah. Karena Hijr terletak di antara Tabuk dan Madinah, maka suku bangsa Tsamud itu terdekat dari antara ketiga kota itu, dan oleh karena itu telah disebut paling akhir dari semua.

Urutan yang tidak biasa ini telah dipergunakan dengan menyampingkan urutan yang lebih umum, dengan maksud, agar membuat pernyataan itu lebih besar pengaruhnya kepada orang-orang yang dituju; yakni suku bangsa yang laing sedikit dikenal oleh orang-orang Arab disebut terlebih dahulu dan suku bangsa yang paling dikenal oleh orang-orang Arab disebut terakhir.

Bangsa Tsamud itu bangsa yang beradab, gagah perkasa dan kaya raya. Mereka mempunyai tempat-tempat tinggal sendiri-sendiri, baik untuk musim panas maupun musim dingin, dan menjalani kehidupan yang aman sentausa.

Bahkan bila mereka pergi ke bukit-bukit di waktu musim panas untuk beristirahat dan berganti iklim, dan meninggalkan rumah-rumah musim dingan mereka, mereka merasa aman terhadap serangan-serangan dari jurusan mana pun. Juga taraf seni bangunan mereka yang telah mencapai tingkatan yang tinggi.

Kejadian alam semesta dan pola serta tertib yang meliputinya yang sungguh menakjubkan itu, mau tidak mau dengan pasti membawa kepada kesumpulan ang tak terelakkan, bahwa kehidupan manusia tidak terbatas pada masa hidup yang sementara lagi singkat di atas bumi ini, dan bahwa ada tujuan agaung yang menjadi dasarnya, dan manusia tidak diciptakan hanya untuk makan, minum dan bersuka ria untuk sementara waktu dan kemudian mati untuk selama-lamanya.

Kemudian, Rasulullahsaw telah diminta untuk jangan bersedih hati karena orang-orang kafir akan ditimpa hukuman, dan semua harta kekayaan, kemakmuran, serta kejayaan mereka yang sangat mereka bangga-banggakan itu, sedikit pun tidak akan bermanfaat bagi mereka.

Orang-orang Makkah telah membagi diri mereka dalam beberapa kelompok dan telah mengambil berbagai tugas bagi diri mereka masing-masing guna merintangi perjuangan Rasulullahsaw, atau berbagai kelompok itu telah mengambil berbagai peranan untuk diri mereka masing-masing, ketika mereka telah bertekad untuk membunuh beliau.

Rasulullahsaw tidak bersedih hati karena orang-orang kafir memperolok-olok beliau; akan tetapi sebab mereka mempersekutukan Allahswt dengan tuhan-tuhan lain. Kesedihan beliau ialah karena ghairat beliau terhadap Allahswt di satu pihak dan karena kekhawatiran yang tulus ikhlas mengenai kaum beliau di pihak lain.

Oleh karena tujuan utama misi (tugas kenabian) Rasulullahsaw ialah menegakkan tauhid Ilahi, tidak lama lagi akan terpenuhi, maka dalam bersyukur yang penuh kegembiraan itu beliau harus memanjatkan puji-pujian kepada Allahswt, dan bersujud ke hadirat-Nya dengan penuh penyerahan diri.

Baca juga: Isi Kandungan Surah At Taubah


0 Komentar

Tinggalkan Balasan