Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Hadid

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-sad

Surah Al Hadid adalah surah ke-57 setelah Surah Al Waqiah, terdiri dari 30 ayat dan 4 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Al Hadid yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Al Hadid dan Hubungan dengan Surah-surah Lainnya

Surah Al Hadid ini surah pertama dari antara sepuluh surah Madaniyah, yang berakhir pada surah 66.

Spertinya, Surah Al Hadid diturunkan sesudah penaklukan kota Makkah atau Perjanjian Hudaibiyah, seperti jelas dari sebutan al-Fath (Kemenangan) dalam ayat ke-11, yang menunjuk kepada jatuhnya kota Makkah atau menurut beberapa sumber, lebih tepat mengisyaratkan kepada Perjanjian Hudaibiyah.

Seri surah-surah yang dimulai dengan Surah As-Saba dan yang, kecuali tiga surah Madaniyah sisipan Surah Muhammad, Surah Al Fath, dan Surah AI Hujurat telah berlanjut tanpa putus, berakhir pada surah sebelum ini dan telah menggenapi pokok pembahasan surah-surah Makkiyah itu.

Akan tetapi, dengan surah sekarang ini dimulailah seri baru surahsurah Madaniyah, dan berakhir pada Surah Al-Tahrim.

Pada surah sebelum ini dinyatakan, bahwa Al Quran adalah kitab terpelihara baik (ayat 79), yang antara lain maksudnya bahwa ajaran-ajarannya serasi sekali dengan hukum alam dan dengan kehendak serta tuntutan fitrat akal, dan pikiran sehat manusia.

Surah sekarang ini mulai dengan mengemukakan sifat-sifat Ilahi; Maha Kuasa, Maha Bijaksana.

Dan sungguh wajarlah bahwa Wujud Yang Maha Bijaksana dan Maha Kuasa harus menurunkan sebuah Kitab, yang ajaran-ajarannya sesuai dengan hukum alam, dengan akal serta dengan kata-hati manusia.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Hadid

Pada ketujuh surah Makkiyah sebelum ini, terutama pada ketiga surah yang terdekat dengan Surah Al Hadid ini Surah Al Qamar, Surah Al Rahman dan Surah Al Waqiah dikemukakan dengan berulang-ulang dalam bahasa perumpamaan tetapi kuat sekali, bahwa suatu perubahan besar, suatu kebangkitan kembali yang hakiki, akan segera ditimbulkan oleh Rasulullahsaw di tengah-tengah suatu kaum, yang berabad-abad lamanya telah merangkak-rangkak di atas debu dan lumpur kerendahan akhlak; dan yang, disebabkan tidak mempunyai hubungan aktif dengan masyarakat beradab, telah dipandang sebagai bangsa kelas rendah dan hina di antara segala bangsa.

Sabbaha fii hawaa’ijihi artinya, ia menyibukkan diri dalam mencari nafkah, atau sibuk dalam urusannya, Sabh berarti, mengerjakan pekerjaan, atau mengerjakannya dengan usaha sekeras-kerasnya serta secepat-cepatnya, dan ungkapan subhaanallah menyatakan kecepatan pergi berlindung kepada Allahswt dan kesigapan melayani dan menaati perintah-Nya.

Mengingat akan arti dasar kata ini, masdar isim (kata benda infinitif) tasbih dari sabbaha artinya, menyatakan bahwa Allah itu jauh dari segala kekurangan atau aib, atau cepat-cepat memohon bantuan ke hadirat Tuhan dan sigap dalam menaati Dia, sambil mengatakan subhaanallah.

Oleh karena itu segala sesuatu di alam semesta sedang melakukan tugasnya masing-masing dengan cermat dan teratur, dan dengan memanfaatkan kemampuan-kemampuan serta kekuatan-kekuatan yang dilimpahkan Allahswt kepadanya.

Memenuhi tujuan ia diciptakan dengan cara yang ajaib sekali, sehingga kita, mau tidak mau harus mengambil kesimpulan, bahwa Sang Perencana dan Arsitek alam semesta ini, sungguh Maha Kuasa dan Maha Bijaksana.

Dan bahwa seluruh dunia secara keseluruhan dan tiap-tiap makhluk secara individu serta dalam batas kemampuannya masing-masing, memberi kesaksian mengenai kebenaran yang tidak dapat dipungkiri, bahwa karya Tuhan itu mutlak bebas dari setiap kekurangan, aib atau ketidaksempurnaan dalam segala seginya yang beraneka ragam dan banyak itu. Inilah maksud kata tasbih.

Al Hadid

“Sesungguhnya, Kami telah mengirimkan rasul-rasul Kami dengan Tanda-tanda yang nyata dan Kami menurunkan beserta mereka Kitab dan neraca supaya manusia dapat menegakkan keadilan; dan Kami menurunkan besi, yang di dalamnya ada bahan-bahan  untuk peperangan dahsyat dan berbagai manfaat bagi manusia; dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong-Nya dan rasul-rasul-Nya dalam keadaan gaib. Sesungguhnya Allah itu Maha Kuat, Maha Perkasa.” (Surah Al Hadid, 57: 26)

Miizaan (neraca) dapat berarti, (a) Asas-asas keadilan yang orang-orang diharuskan mengamalkannya dalam perilaku mereka terhadap orang lain; (b) Patokan-patokan yang dengan itu perbuatan manusia diukur, ditimbang, dinilai, dan diadili; (c) Keseimbangan yang meresapi seluruh alam semesta, memelihara keseimbangan di antara segala sesuatu, (d) Sunnah Rasulullahsaw dan penggunaan Kitab Allah secara tepat; (e) Mengikuti jalan tengah dan menghndari segala serba keterlaluan; (f) Alasan dan keterangan berdasarkan pengamatan dan pengalaman.

Al-hadid (besi) adalah logam yang barangkali telah memainkan peranan terbesar dan paling berguna di dalam pertumbuhan serta perkembangan peradapan manusia.

Kata itu dapat juga diartikan kekuatan mamaksakan ketaatan kepada undang-undang, yang padanya bergantung seluruh eksistensi masyarakat manusia. Dengan demikian ayat di atas berarti, bahwa Allahswt telah menurunkan tiga hal; (a) hukum Ilahi; (b) sistem yang memelihara keseimbangan yang adil dalam hubungan kemasyarakatan antar-manusia, dan (c) kekuatan politik yang memaksakan kepatuhan kepada hukum Ilahi.

Surah Al Hadid ini memaparkan bahwa “fajar-raya” kemajuan dan kekuasaan luar biasa bagi bangsa yang rendah itu, yakni bangsa Arab, telah menyingsing dan bahwa kemenangan pada akhirnya bagi kebenaran atas kebatilan sudah nampak.

Akan tetapi, ada beberapa syarat pokok yang harus dipenuhi sebelum kejadian itu menjadi sempurna. Yaitu pada diri kaum Muslimin harus ada keimanan yang teguh lagi tidak tergoyahkan terhadap gagasan-gagasan Islam, serta ada kesediaan memberikan pengorbanan jiwa dan harta yang diperlukan, guna melanjutkan perjuangan Islam.

Kemudian, Surah Al Hadid menyebutkan bahwa, orang-orang mukmin diberitahu bahwa mereka, sesudah mencapai kekuasaan dan kemakmuran, hendaknya jangan melalaikan segi akhlak dan jangan tergila-gila dalam mengejar kesenangan duniawi yang bersifat fana itu.

Rahbaniyah

Surah Al Hadid ini selanjutnya meneruskan pokok pembahasannya, yakni semenjak zaman bihari utusan-utusan Allah senantiasa muncul di dunia untuk membimbing manusia kepada tujuan hidup mereka, yaitu keridaan Allah, dan hal itu tidak dapat dicapai dengan menjalani hidup mati-raga (menolak segala yang menyenangkan diri) atau melarikan diri dari dunia ramai.

Sebagaimana para pengikut Nabi Isaas sudah keliru beranggapan dan mengamalkannya, melainkan harus memanfaatkan selayak-layaknya kekuatan dan kemampuan tabii yang telah dikaruniakan oleh Allahswt kepada manusia dan memanfaatkan sarana-sarana dan barang-barang yang telah diciptakan Allahswt baginya.

Para pengikut Nabi Isaas mengadakan sendiri rahbaniyah (cara hidup membujang sebagai birawan atua biarawati) untuk mencari keridhaan Allah, akan tetapi Allah tidak memerintahkan yang demikian kepada mereka.

Mereka membuat sendiri cara hidup membiara, akan tetapi Allahswt tidak pernah menetapkanya bagi mereka – Dia hanya memerintahkan kepada mereka mencari keridhaanya.

Dalam Surah Al Hadid, 57: 26 sebagaimana disebutkan di atas, dinyatakan bahwa Allahswt telah menurunkan al-miizaan, agar dengan menjauhi batas-batas keterlaluan, orang harus mengambil jalan-tengah dalam segala urusan dan tindakan mereka.

Dalam Surah Al Hadid ayat 28, contoh berkenaan dengan suatu umat yaitu umat Kristen telah diutarakan guna memperlihatkan bahwa penempuhan jalan ekstrim yang dilakukan oleh mereka meskipun dengan niat yang betapa pun baiknya, menjauhkan mereka dari tujuan yang telah diusahakan mereka untuk mencapainya.

Mereka telah menciptakan sendiri lembaga kerahiban untuk – sebagaimana pada anggapan mereka yang keliru –  mencari keridhaan Allahswt, dan sesuai dengan ajaran dan sunnah Nabi Isaas, akan tetapi lembaga itu ternata merupakan sumber kejahatan sosial yang sangat banyak.

Mereka mulai mengamalkan rahbaniyah dan berakhir dengan menyibukkan diri dalam penyembahan Mamon.

Akan tetapi Islam telah mencela dan menyesali rahbaniyah sebagai hal pertentangan dengan fitrah manusia. Menurut riwayat Rasulullahsaw pernah bersabda, “Tiada rahbaniyah dalam islam”.

Islam bukanlah agama hayali yang hidup dalam alam konsepsi atau ciptaan mereka sendiri dan sama sekali terpisah dari kenyataan-kenyataan jelas dalam kehidupan ini.

Tiada tempat dalam Islam untuk ajaran yang tidak dapat diamalkan semacam itu, seperti “jangan kamu khawatir akan hal esok hari” (Matius 6:34). Islam memerintahkan dengan tegas supaya “memperhatikan apa yang didahulukannya untuk esok hari” (Surah Al Hasyr, 59: 19).

Seorang Muslim sejati adalah orang yang melaksanakan semua kewajibannya kepada Allahswt dan manusia, secara adil dan sepenuhnya.

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan