Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Furqan

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

hikmah-shalat-berjamaah

Surah Al Furqon adalah surah kedua puluh empat setelah Surah An Nur, terdiri dari 78 ayat dan 6 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Al Furqan yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Al Furqan dan Hubungan dengan Surah-surah Lainnya

Kebanyakan ulama berpendapat, Surah Al Furqan diturunkan pada masa terakhir di Makkah, sebelum hijrah ke Madinah.

Surah An Nur berakhir dengan catatan mengenai sangat penting dan bergunanya organisasi menurut Islam. Surah itu menyatakan, bahwa beberapa orang Muslim tertentu kurang memahami akan kemampuannya yang besar, di lain pihak mereka takut terhadap organisasi orang-orang ingkar yang telah lapuk sampai akarn-akarnya.

Surah Al Furqan mengemukakan alasan-alasan, mengapa ketakutan kaum yang lemah imannya hanyalah lamunan dan khayalan daya cipta mereka sendiri karena bingungnya, dan kenyataannya tidak ada sesuatu yang patut ditakurkan.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Furqan

Furqan  artinya sesuatu yang membedakan antara benar dan palsu; keterangan, bukti atau kesaksian, sebab keterangan atau bukti itu gunanya membedakan antara yang benar dan salah.

Kata itu pun mengandung arti pagi atau fajar, sebab fajar memisahkan hari dari malam. Al Quran adalah furqan yang paripurna. Di antara seribu satu macam keindahan dan kebagusan yang membedakan Al Quran dengan kitab-kitab wahyu lainnya, dan menegakkan keunggulannya di atas kitab-kitab itu semuanya, dua macam bukti yang sangat jelas sekali, yaitu:

Pertama, Al Quran tidak membuat pernyataan atau pengakuan yang tidak didukung bukti-bukti dan keterangan-keterangan yang sehar dan kuat.

Kedua, Al Quran membuat kebenaran begitu nyata bedanya dari kepalsuan sebagaimana nyata benar bedanya siang hari dari malam hari.

Berikut ini tafsir singkat dan beberapa isi kandungan Surah Al Furqan:

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Muminun

Kebenaran Al Quran

Surah Al Furqan dibuka dengan pernyataan tegas dan jelas, bahwa amanat Al Quran dimaksudkan untuk seluruh umat manusia. Lebih lanjut mengatakan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang telah menurunkan Al Quran, adalah satu-satunya Dzat Yang memiliki seluruh langit dan bumi, tidak ada tandingan-Nya, dan satu-satunya Pencipta tiap zarrah lam semesta.

Karena itu sepenuhnya kalam-Nya serasi dengan hukum alam – dan memang seharusnya begitu – maka penerimaan atau penolakan terhadap kalam-Nya bukan semata-mata berarti menerima atau menolak syariat.

Dinyatakan seterusnya, karena orang-orang ingkar merasa sulit mengingkari kebagusan dan keunggulan ajaran Al Quran, mereka berlindung di balik dalih, bahwa kitab itu bukanlah karya satu orang, melainkan hasil usaha bersama beberapa orang.

Mereka lebih lanjut menuduh, bahwa ajarannya adalah curian dari kitab-kitab suci lama. Akan tetapi dalih-dalih ini tidak berbobot, sebab sekiranya Al Quran hasil usaha menusia, niscaya ia tidak berisikan ajaran di luar kekuasaan manusia untuk menciptakannya.

Dan andaikata Al Quran hanya semata-mata salinan kitab-kitab suci terdahulu, kitab-kitab itu harus memiliki kebagusan dan keindahan seperti yang dimiliki oleh Al Quran, akan tetapi halnya tidaklah demikian.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Hajj

Menjawab Tuduhan Orang-orang Ingkar

Kemudian Surah Al Furqan ini menjawab beberapa kecaman yang sudah usang lagi menjemukan, dari pihak orang-orang ingkar, seperti misalnya, Rasulullahsaw adalah manusia biasa yang akan mati dan tunduk kepada keperluan –keperluan duniawi.

Jawaban kepada tuduhan, bahwa Rasulullahsaw mengada-adakan dusta, mereka tidak adil melancarkan tuduhan semacam itu. Rasulullahsaw tinggal di tengah-tengah mereka untuk suatu masa yagn panjang sebelum itu dan mereka sendiri semuanya menjadi saksi atas ketulusan hati dan kebenaran beliau. Bagaimankah mereka kemudian dapat menuduh beliau pemalsu?

Jawaban kepada tuduhan kedua ialah, siapa pun yang dikatakan pembantu Rasulullahsaw pastilah mereka menganut beberapa kepercayaan dan itikad, akan tetapi Al Quran menolak dan merombak semua kepercayaan palsu dan membatalkan serta memperbaiki kepercayaan-kepercayaan lainnya.

Bagaimanakah seseorang dianggap membantu beliausaw untuk menciptakan sebuah Kitab yang telah memotong urat nadi kepercayaan dan itikad-itikad yang mereka junjung dan muliakan itu?

Tanggapan orang-orang ingkar mengenai bagaimana seharusnya bentuk dan macam seorang nabi Allah adalah jauh dari kenyataan, dan menampakkan kepicikan mereka tentang maksud dan tujuan kebangkitan nabi-nabi dibangkitkan.

Diberitahukan bahwa, untuk membimbing manusia kelaur dari kegelapan, keraguan, dan keingkaran, masuk ke dalam cahaya keyakinan dan kenikmatan ruhani, dan bukan untuk menimbun kekayaan dan berfoya-foya serta bersuka-ria.

Akan tetapi meski pun patokan yang dibuat sendiri orang-orang ingkar, yakni, bahwa Rasulullahsaw harus memiliki harta, pangkat, kebun-kebun, dan istana-istana adalah tidak berarti apa-apa, namun untuk menyadarkan tentang kepalsuan kedudukan mereka, Allahswt memberikan kepada beliau serta pengikut-pengikut beliau harta yang lebih banyak, kebun-kebun, dan istana-istana yang lebih besar, lebih baik dari apa-apa yang dituntut orang-orang ingkar.

Allahswt sungguh-sungguh telah menganugerahkan kepada pengikut-pengikut Rasulullahsaw istana-istana dan kebun-kebun kepunyaan raja-raja Iran dan Bizantin.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Anbiya

Kebangkitan dan Kejatuhan Bangsa-bangsa

Lalu diterangkannya secara ringkas mengenai hukum kebangkitan dan kejatuhan bangsa-bangsa, dan orang-orang ingkar diperingatkan, bahwa masa kemunduran dan kemerosotan mereka dan kebangkitan, kemajuan, dan kesejahteraan orang-orang Islam telah tiba.

Kaum Nabi Nuhas, kaum Ad, Tsamud dan kaum Rass (Sumur) mereka semua telah dihancurkan dan dibinasakan. Begitu juga dengan kaum Nabi Luthas yang telah diazab oleh Allahswt atas keingkaran mereka.

Lebih lanjut perhatian orang-orang ingkar ditarik kepada gejala, bahwa Allahswt telah membuat dua macam air: yang satu pahit dan lainnya tawar; kedua-duanya mengalir berdampingan. Kedua saluran itu tetap berjalan sejajar, dan tidak bercamput satu sama lain.

Begitu juga, ajaran-ajaran Al Quran dan ajaran-ajaran kitab-kitab suci laninya akan tetap bersampingan, supaya dengan membandingkannya orang-orang dapat meisahkan yang benar dari yang palsu, dan yang manis dari yang pahit.

Tanda Orang-orang Muttaqi

Menjelang penutup, Surah Al Furqan menyebutkan beberapa ciri dan tanda khusus hamba-hamba Allah yang muttaqi, yang beramal menurut ajaran-ajaran Al Quran, mencapai puncak kemuliaan ruhani yang tinggi.

Suatu gambaran singkat mengenai revolusi akhlak besar yang didatangkan oleh matahari alam ruhani – yakni Rasulullahsaw – ditengah-tengah umat beliau. Dari anak-anak kegelapan, mereka menjadi hamba-hamba Tuhan Yang Rahman dan Rahim.

Rupa-rupa sifat hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih, seperti merendahkan diri, senantiasa memohon pertolongan dari Allahswt dan tidak menganiaya orang lain adalah kebalikan dari keburukan-keburukan yang diderita kaum Rasulullahsaw pada khususnya.

Mereka, orang-orang muttaqi mendengarkan kepada Tanda-tanda Allah dengan seksama dan dengan mata terbuka. Imam mereka berdasarkan keyakinan dan kepastian, dan bukan hanya sekedar menuruti omongan-omongan orang.

Surah Al Furqan ini berakhir dengan penunjukkan kebenaran agung, bahwa Allahswt telah menciptakan manusia untuk memenuhi suatu tujuan sangat luhur dan mulia, dan barangsiapa gagal memenuhi tujuan itu, ia akan kehilangan rahmat dan karuniaNya.  

“Katakanlah ‘Tuhan-ku tidak akan memperdulikan kamu jika tidak ada doa kamu, Maka sungguh kamu telah mendustakah, oleh karena itu azab akan melekat dengan kamu.“ (Surah Al Furqan, 25: 78).

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Tha Ha


0 Komentar

Tinggalkan Balasan