Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Fatir

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-al-fatir

Surah Al Fatir adalah surah ke-35 setelah Surah As Saba, terdiri dari 46 ayat dan 5 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Al Fatir yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Al Fatir dan Hubungan dengan Surah-surah Lainnya

Surah Al Fatir diturunkan di Makkah, mungkin pada waktu yang sama dengan surah sebelumnya.

Dalam surah sebelumnya yaitu Surah As Saba, kaum Muslimin diberitahu bahwa seperti halnya kaum Bani Israil, mereka akan diberi kekayaan, kekuatan, kemakmuran dan wibawa, dan jika pada puncak kejayaan dan kebesaran mereka, mereka melupakan Tuhan dan berkecimpung dalam kehidupan yang mewah dan nyaman, maka mereka akan mengundang kemurkaan Tuhan terhadap diri mereka sendiri, seperti halnya kaum Bani Israil sebelum mereka.

Dalam Surah Al Fatir kepada kaum Muslimin dijanjikan kehormatan dan kemuliaan dengan perantaraan Al Quran yang perintah-perintahnya tidak boleh gagal dilaksanakan oleh mereka.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Fatir

Surah al Fatir ini dibuka dengan pernyataan bahwa segala puji adalah bagi Allahswt yang telah menciptakan seluruh langit dan bumi.

Tugas Para Malaikat

Pernyataan tentang pujian kepada Allahswt mengandung arti bahwa selaku Pencipta alam semesta, Allahswt bukan saja telah menganugerahi manusia segala keperluan jasmaninya, akan tetapi juga segala keperluan akhlak dan ruhaninya, dan bahwa untuk tujuan itu Dia telah menciptakan malaikat-malaikat, yang dengan perantaraan mereka Dia mengatur pekerjaan alam semesta jasmani dan menyampaikan iradah-Nya kepada manusia.

Kepada malaikat-malaikat dipercayakan menjaga, mengatur, dan mengawasi segala urusan yang berlaku di alam jasmani (79: 6). Inilah tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka.

Tugas mereka yang lain dan yang lebih berat ialah, melaksanakan perintah dan kehendak Allahswt kepada rasul-rasul-Nya. Malaikat-malaikat pembawa wahyu menampakkan serantak dua, tiga, atau empat sifat Ilahi, dan ada pula malaikat lain, yang bahkan menjelmakan lebih banyak lagi dari sifat-sifat itu.

Malaikat-malaikat itu memiliki kekuatan dan sifat yang berbedaan derajatnya sesuai dengan kepentingan pekerjaan yang dipercayakan kepada mereka masing-masing. Sebagian malaikat dianugerahi kekuatan-kekuatan dan sifat-sifat yang lebih besar daripada yang alin.

Malaikat Jibril adalah penghulu semua malaikat dan, oleh karena itu, pekerjaan mahapenting, yakni, menyampaikan wahyu Ilahi kepada para rasul Allah, diserahkan kepadanya serta dilaksanakan di bawah asuhan dan pengawasannya.

Lebih lanjut Surah Al Fatri ini menerangkan bahwa karena Allahswt menciptakan manusia, Allah telah menurunkan nabi-nabi dan rasul-rasul terus menerus untuk menyampaikan iradah-Nya. Lebih lanjut dikatakan bahwa sekarang Dia telah menakdirkan limpahan rahmat-Nya kepada umat manusia dalam bentuk Al Quran.

Sesudah maklumat penganugerahan rahmat-Nya kepada umat manusia itu, manusia telah diperingatkan agar tidak menolaknya sebab penolakan itu akan membawa akibat-akibat yang sangat menyedihkan.

Kebenaran dan Kemenangan Islam

Surah Al Fatri ini seterusnya menarik pelajaran akhlak dari awal kejadian manusia yang tidak berarti itu, bahwa Islam yang awalnya tidak berarti akan tumbuh menjadi sebuah jamaah yang perkasa.

Seperti halnya dari setitik nutfah (air mani) yang tidak berarti, tumbuh wujud manusia yang bentuknya bagus dan perkembangannya sempurna, begitulah halnya orang-orang Muslim yang rendah dan miskin keadaannya pada suatu hari akan menjadi jemaat yang perkasa.

Isyarat kepada apa yang dikandung seorang wanita dalam rahimnya, dan apa yang dilahirkan, dan kepada pemanjangan serta pengurangan umur manusia, mengandung nubuatan lain, ialah, bahwa keturunan lawan-lawan Rasulullahsaw akan berkurang dan keturunan orang-orang Muslim akan terus bertambah.

Lebih lanjut Surah Al Fatir ini membandingkannya dengan lautan yang airnya tawar dan melepaskan dahaga para musafir keruhanian.

Secara kiasan, kedua lautan yang dibicarakan itu ialah agama-agama yang benar dan yang palsu. Sungguhpun air asin itu tidak cocok untuk minum dan mengairi tanah (irigasi), air asin itu mempunyai kegunaan-kegunaan lain. Dari air asin dikeluarkan ikan segar dan perhiasan.

Begitu pula, walaupun musuh-musuh Islam kini seperti air asin, pahit dan tidak berharga, namun demikian dari keturunan mereka akan timbul orang-orang yang akan menjadi pengemban amanat Islam yang bersemangat dan mukhlis.

Kemudian, Surah Al Fatir menyatakan bahwa Islam itu bukan gejala baru. Masa-masa yang penuh dengan cahaya keruhanian dan masa kegelapan datang silih berganti ke dunia, seperti sang hari menyusul sang malam dan sebaliknya.

Sesudah lama melampaui suatu masa kegelapan dan wahyu Ilahi berhenti turun, maka terbitlah matahari Islam menerangi dunia yang gelap gulita, dan Allahswt telah menakdirkan mewujudkan suatu penjelmaan baru dan suatu tatanan baru dengan perantaraan ajarannya.

Dengan perantaraan Al Quran, Allahswt akan memberi mata kepada si buta dan memberi telinga kepada si tuli, dan orang-orang mati sekalipun akan memperoleh kehidupan baru.

Akan tetapi, mereka yang dengan sengaja menutup jalan masuk cahaya ke hati mereka dan menolak mendengar seruan Ilahi, akan mengalami kematian rohani.

Surah Al Fatir kemudian menarik perhatian kita untuk menelaah gejala alam, yang mempunyai persamaan yang dekat sekali dengan gejala serupa itu dalam alam keruhanian.

Bila hujan turun di atas tanah yang kering dan gersang, tanah itu kemudian akan berbunga, mekar, dan menggeliat dengan kehidupan baru dan menghasilkan tanam-tanaman, bunga-bungaan, serta buah-buahan yang beraneka ragam warna, rasa dan bentuk. Air yang turun dalam bentuk hujan itu sama, namun tanam-tanaman dan buah-buahannya berlainan.

Seperti itu pula, air wahyu Ilahi yang sama, menghasilkan sifat-sifat dan pembawaan-pembawaan akhlak yang berlainan di antara umat manusia.

Sementara pada satu pihak wahyu itu mendatangkan orang-orang yang sangat tinggi ketakwaannya, maka pada pihak lain terjelmalah juga suatu golongan, yang terdiri dari orang-orang durhaka dan jahat, yang terus menerus melancarkan serangan-serangan kejam terhadap kebenaran.

Pertarungan antara pembela-pembela kebenaran dan kekuatan-kekuatan kegelapan senantiasa berkesudahan dengan akibat yang pasti kemenangan kebenaran atas kebatilan.

Telah menjadi takdir Ilahi yang tak akan berubah bahwa segala rencana dan kasak kusuk orang-orang ingkar untuk menghancurkan Rasulullahsaw akan berakhir dengan kegagalan dan perjuangan Islam akan memperoleh kemenangan.

Peringatan bagi Orang-orang Ingkar

Menjelang akhir, Surah Al Fatir ini menjelaskan kepada orang-orang musyrik mengenai kegoyahan kedudukan mereka, dan memperingatkan mereka bahwa jika mereka masih terus menerus berpegang teguh pada kepercayaan dan perbuatan mereka meskipun nyata kepalsuan dan ketakbergunaannya, maka azab Ilahi akan menimpa mereka, walaupun sebenarnya Allahswt sangat lamban dalam menghukum dan terus menerus memberi tangguh kepada orang-orang durhaka.

Hingga akhirnya, oleh karena mereka tetap bersikeras dalam sikap kepala batu, mereka menutup sendiri pintu-pintu rahmat Ilahi untuk diri mereka.

“Apakah mereka tidak pernah berjalan di muka bumi dan melihat betapa buruknya kesudahan orang-orang sebelum mereka? Padahal mereka itu lebih hebat dari mereka dalam kekuatan. Dan, tidak ada sesuatu pun yang menggagalkan Allah di seluruh langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa.” (Surah Al Fatir, 35: 45)

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan