Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Fath

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-al-fath

Surah Al Fath adalah surah ke-48 setelah Surah Muhammad, terdiri dari 30 ayat dan 4 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Al Fath yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Al Fath dan Hubungan dengan Surah-surah Sebelumnya

Menurut ijmak (kesepakatan pendapat) para ulama, Surah Al Fath diturunkan sesudah penandatanganan Perjanjian Hudaibiyah, ketika Rasulullahsaw berada dalam perjalanan ke Madinah pada tahun ke-6 Hijrah dalam bulan Zulkaidah.

Perjanjian itu merupakan kejadian sangat penting; semua kejadian bertalian dengan peristiwa itu telah direkam dengan teliti dalam sejarah Islam. Jadi, ada keseragaman pendapat berkenaan dengan waktu dan tempat Surah Al Fath ini diturunkan.

Surah Al Fath bernama Al Fath (Kemenangan). Nama itu tepat benar, karena kejadian yang nampaknya merupakan kekalahan diplomatik itu, pada akhirnya terbukti merupakan siasat ulung dari pihak Rasulullahsaw, yang membawa kepada jatuhnya kota Makkah, dan sebagai akibatnya menjurus kepada penaklukan seluruh tanah Arab.

Menjelang akhir surah sebelumnya, Surah Muhammad, orang-orang mukmin dijanjikan dengan pasti akan kemenangan atas semua lawan mereka.

Sementara itu Surah Al Fath ini menyatakan dengan kata-kata yang jelas dan tanpa ragu-ragu bahwa kemenangan yang dijanjikan itu bukan sesuatu yang bakal terjadi di masa depan yang jauh dan tidak menentu melainkan telah sangat dekat.

Demikian dekatnya sehingga dapat dikatakan benar-benar telah tiba; dan begitu menentukan dan menyeluruhnya sehingga bahkan orang yang paling peragu sekalipun akan sulit mengingkarinya.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Fath

Berikut ini tafsir singkat dan beberapa isi kandungan Surah Al Fath

Kemenangan Besar Islam

Surah Al Fath dimulai dengan pernyataan kuat bahwa kemenangan yang dijanjikan itu benar-benar telah tiba dan bahwa kemengangan itu akan jelas, pasti, dan menyeluruh.

Yang diisyaratkan oleh “kemenangan nyata” adalah Perjanjian Hudaibiyah. Sungguh aneh bahwa walaupun selama masa singkat yaitu enam tahun permulaan ketika Rasulullahsaw tinggal di kota Madinah.

Beliausaw telah mendapat kemenangan-kemenangan besar atas musuh-musuh beliau sehingga telah melumpuhkan dan mematahkan daya juang mereka, namun demikian tidak satu pun dari kemenangan-kemenangan itu disebut “Kemenangan nyata” di dalam Al Quran.

Sebutan itu dicadangkan untuk Perjanjian Hudaibiyah guna menerima kehormatan luar biasa ini, kendatipun syarat-syarat dalam perjanjian pada lahirnya nampak sangat merendahkan derajat dan orang-orang Muslim sangat bingung atas peristiwa yang nampaknya sebagai suatu penghinaan terhadap kehormatan Islam.

Bahkan seorang yang gagah seperti Sayyidina Umarra berseru karena sedih dan jengkelnya bahwa andaikata syarat-syarat Perjanjian itu telah ditetapkan oleh orang lain selain Rasulullahsaw niscaya beliau akan mencemoohkan syarat-syarat itu.

Sungguh, Perjanjian itu merupakan kemenangan besar, sebab telah membuka jalan bagi pengembangan dan penyebaran Islam dan menjurus kepada jatuhnya kota Makkah dan akhirnya kepada penundukkan seluruh wilayah tanah Arab.

Peristiwa itu ternyata merupakan keunggulan siasat Rasulullahsaw karena dengan Perjanjian itu Islam mempunyai kedudukan politik sebagai satu kekuatan yang semartabat dan merdeka serta berdaulat dan diakui oleh kaum Quraisy.

Kemudian Rasulullahsaw diberi kabar pula bahwa sebagai buahnya nanti orang-orang akan masuk ke pangkuan Islam dalam jumlah begitu besar sehingga akan terbukti merupakan tugas yang sangat besar untuk beliau mengajar dan mendidik orang-orang yang baru masuk itu supaya menghayati hukum-hukum dan dasar-dasar agama Islam.

Oleh karena itu beliau harus memohon pertolongan Ilahi dalam menunaikan tugas beliau yang sangat berat itu, dan memohon ampunan dan kasih sayang, agar jangan dikarenakan keterbatasan kemampuan insani, beberapa kekurangan akan dibiarkan merajalela.

Pertolongan Ilahi datang dalam bentuk tersebarnya agama Islam secara cepat di tanah Arab sesudah penandatanganan perjanjian Hudaibiyah, dan Rasulullahsaw diakui sebagai kepala negara, satu pemerintah yang merdeka dan berdaulat.

Kekecewaan Para Sahabat Atas Perjanjian Hudaibiyah

Surah Al Fath lebih lanjut mengatakan bahwa disebabkan kurang menyadari dengan sesungguhnya akan arti yang sepenuhnya tentang Perjanjian Hudaibiyah itu, orang-orang mukmin merasa kecewa.

Maka Allahswt menghibur dan menenteramkan hati mereka, dan keimanan mereka akan bertambah sedang kepuasan hati dan kegembiraan palsu orang-orang kafir akan terbukti tidak lama.

Kendatipun orang-orang mukmin untuk sementara waktu, dibuat geger disebabkan oleh kesalahpahaman mengenai syarat-syarat Perjanjian Hudaibiyah itu, mereka tidak pernah kehilangan ketentraman hati sehubungan dengan berperang di jalan Allah, dan mereka yakin sepenuhnya, bahwa balatentara Tuhan (malaikat-malaikat), ada beserta mereka.

Itulah sebabnya, mengapa ketika kabar angin sampai ke Hudaibiyah bahwa Sayyidina Utsmanra, duta Rasulullahsaw yang diutus kepada orang-orang Makkah, telah terbunuh.

Dan Rasulullahsaw mengajak kaum muslimin bersumpah secara khidmat di tangan beliau bahwa mereka akan menuntut balas atas kematian Sayyidina Utsman dan akan bertempur di bawah naungan panji beliau sampai titik darah penghabisan, mereka semua bersumpah tanpa menampakkan keraguan sedikitpun.

Orang-orang mukmin selanjutnya diberitahu bahwa mereka hendaknya jangan meragukan hikmah dalam tindakan Rasulullahsaw menandatangani naskah Perjanjian itu karena beliau adalah utusan Allahswt dan segala tindakan beliau dilakukan atas petunjuk dan bimbingan Allahswt Sendiri. Kewajiban mereka ialah beriman kepada beliau, membantu beliau dan menghormati beliau.

Baiat Ridwan

Surah Al Fath lebih lanjut mengatakan bahwa orang-orang mukmin mendapat keridaan Allahswt tatkala mereka itu mengadakan sumpah setia kepada Rasulullahsaw di bawah sebatang pohon bahwa mereka akan mendampingi beliau dalam segala keadaan sekalipun hingga mati.

Peristiwa baiat itu terjadi di Hudaibiyah di bawah sebuah pohon Akasia, setelah khabar sampai kepada Rasulullahsaw bahwa karena suatu pelanggaran atau kebiasaan dan sopan santun diplomatis, duta beliau, Sayyidina Utsman, telah dibunuh orang-orang Makkah.

Berita terbunuhnya Hadrat Utsman barangkali tidak kurang mengejutkannya daripada pelanggaran terhadap suatu adat kebiasaan suci dan tradisi lama, sehingga menyebabkan Rasulullahsaw tidak dapat bersabar lagi.

Baiat itu kemudian dikenal sebagai baiat-ur-ridwan yang berarti bahwa orang-orang yang berbahagia berkat baiat itu sudah mendapat keridhaan Ilahi.

Bukti apa lagi yang lebih besar bagi kenyataan bahwa Allahswt telah menurunkan ketentraman hati atas orang-orang Muslim, faktanya, bahwa kendatipun jumlah mereka hanya kira-kira 1500 orang dan karena jauh dari kampung halaman dan kendatipun tidak berkawan.

Lagi pula mereka di kelilingi oleh suku-suku bangsa yang tidak bersahabat, juga dihadapi oleh musuh yang sangat kuat lagi terlindung di dalam kubu-kubu, mereka itu lebih bersedia berkelahi darpada menyetujui syarat-syarat yang digariskan di dalam Perjanjian itu.

Rencana Allahswt sendirilah yang menghendaki pertempuran itu tidak terjadi pada waktu itu sebab ada beberapa orang Muslim sejati dan mukhlis tinggal di kota Makkah yang tidak diketahui oleh orang-orang mukmin dan mungkin tanpa sengaja akan terbunuh andaikata pertempuran sungguh-sungguh terjadi.

Kemudian, orang-orang munafik dan orang-orang yang meninggalkan diri di belakang, menerima kecaman keras dan kemunafikan mereka terbongkar.

Manakala mereka diajak berperang di jalan Allah, demikian Surah Al Fath ini mengatakan, mereka mengada-adakan dalih untuk membenarkan mereka tinggal di belakang akan tetapi, dengan helah-helah bodoh dan dalih-dalih palsu mereka tidak menipu siapa pun kecuali diri mereka sendiri.

Waktu kembali dari Hudaibiyah, Rasulullahsaw memimpin suatu gerakan pasukan melawan orang-orang Yahudi di Khaibar (yang merupakan peti eraman besar atau markas tipu muslihat dan rencana jahat orang-orang Yahudi) bersama orang-orang Muslim yang menyertai beliau di Hudaibiyah.

Perjanjian Hudaibiyah dan Kemenangan Islam

Menjelang berakhirnya, Surah Al Fath ini kembali kepada pokok bahwa Perjanjian Hudaibiyah itu tidak hanya akan terbukti menjadi kemenangan besar, melainkan juga kemenangan-kemenangan lain pun kemudian akan menyusul dan negeri-negeri tetangga akan jatuh ke tangan laskar Islam yang jaya.

Surah Al Fath menyebitkan satu nubuatan yang berani, bahwa Islam pada  akhirnya akan mengungguli semua agama lain.

“Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, supaya Dia memenangkannya atas semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (Surah Al Fath, 48: 29)

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan