Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Ankabut

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-al-ankabut

Surah Al Ankabut adalah surah kedua puluh sembilan setelah Surah Al Qasas, terdiri dari 70 ayat dan 7 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Al Ankabut yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Al Ankabut dan Hubungan dengan Surah-surah Lainnya

Sebagian besar pendapat para ulama cenderung meletakkan turunnya Surah Al Qasas ini di pertengahan atau akhir pertengahan periode Makkah.

Surah Al Ankabut ini agaknya memperoleh nama dari ayat 42, yang di situ kepalsuan dan kesia-siaan kepercayaan musyrik karena lemah dan rapuhnya digambarkan dengan sebuah tamsil seibarat sarang laba-laba (Al Ankabut), yang tidak tahan terhadap sanggahan yang berlandaskan pertimbangan akal sehat.

Surah sebelumnya berakhir dengan catatan, bahwa Rasulullahsaw akan datang kembali sebagai pemenang dan penakluk kota kelahiran beliausaw, Makkah, yang dari tempat itu beliausaw telah diusir sebagai seorang pelarian hampir tanpa seorang sahabat pun; sedang suatu hadiah besar dijanjikan bagi siapa yang dapat menangkap beliausaw dalam keadaan baik hidup ataupun mati.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah An Naml

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Ankabut

Berikut ini tafsir singkat dan beberapa isi kandungan Surah Al Ankabut:

Ujian dan Cobaan bagi Orang Beriman

Surah Al Ankabut dimulai dengan peringatan kepada orang-orang yang beriman, bahwa pekerjaan berat pada waktu yang panjang serta penderitaan dan kekurangan yang dialami dengan penuh ketabahan dan kesabaran, semuanya adalah syarat mutlak bagi kehidupan yang berhasil.

Surah Al Kanbut ini lebih lanjut membicarakan masalah pokoknya, yaitu bahwa nikmat dan rahmat besar yang akan dilimpahkan kepada orang-orang beriman di dunia ini dan di akhirat kelak, tidak akan diberikan kepada mereka, sebelum mereka dihadapkan kepada ujian yang berat.

“Apakah manusia menyangka, bahwa mereka akan dibiarkan berkata, “Kami telah beriman” dan mereka tidak akan diuji?” (Surah Al Ankabut, 29: 3)

Orang-orang beriman akan terpaksa melalui kesulitan dan penderitaan untuk memperoleh rahmat dan nikmat itu.

Hanya dengan bertobat secara sungguh-sungguh dan tulus ikhlas; dengan menghadap kepada Allahswt seraya hati sangat merendahkan diri serta penuh penyesalan; serta hanya dengan menimbulkan perubahan sejati dan kekal di dalam kehidupanlah seseorang akan dapat menerima ampunan Tuhan dan akan menjadi layak memperoleh rahmat dan karunia Ilahi.

Sambil kembali kepada soal perlakuan terhadap orang-orang beriman, Surah Al Ankabut ini seterusnya mengatakan, bahwa mereka hendaknya jangan membiarkan kesulitan-kesulitan dan kekurangan-kekurangan, walau sebesar apapun menjadi penghambat dalam pengkhidmatan mereka di jalan Allahswt.

Dengan tandas dan tegas orang-orang beriman dianjurkan supaya menempatkan kesetiaan mereka kepada Allah Ta’ala di atas kesetiaan kepada orang-tua mereka, bila kedua-dua kesetiaan itu berbenturan dan bertentangan.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah As Syuara

Kisah Singkat Para Nabi

Kemudian disinggungnya secara singkat kisah hidup Nabi Nuhas, Nabi Ibrahimas, Nabi Luthas, dan beberapa utusan Ilahi lainnya, untuk menunjukkan, bahwa penganiayaan tidak mungkin dapat menghentikan atau memperlambat kemajuan agama hakiki.

Paksaan dalam urusan agama adalah tidak berguna, dan bahwa suatu kaum tidak dapat dipaksa untuk menganut secara langgeng paham-paham yang dipaksakan dengan kekerasan.

Kemudian, hukum Ilahi berkenaan dengan penciptaan dan pembiakan akan bekerja dengan cara demikian, bahwa Allahswt akan menciptakan melalui Rasulullahsaw umat manusia baru dan tertib baru di atas puing-puing tertib lama.

Al Quran telah mempergunakan berbagai kata dan ungkapan untuk hukuman yang ditimpakan lawan-lawan berbagai nabi pada zamannya masing-masing.

Azab yang melanda kaum ‘Ad di gambarkan sebagai angin taupan (41: 17; 54: 20 dan 69: 7); yang menimpa kaum Tsamud sebagai gempa bumi (7: 79); ledakan (11: 68 dan 54: 32), halilintar (41: 18), dan ledakan dahysat (69: 6);.

Kemudian, azab yang menghancurkan umat Nabi Luthas sebagai batu-batu tanah (11: 83 dan 15: 75) ; badai batu (54:35) ; dan azab yang menimpa Midian, kaum Nabi Syu’aibas sebagai gempa bumi (7: 92 dan 29: 38); ledakan (11: 95); dan azab pada hari siksaan yang mendatang (26 :190).

Terakhir dari semua itu ialah azab Ilahi yang menimpa Firaun dan lasykarnya serta pembesar-pembesarnya yang gagah-perkasa, Haman dan Karun (Korah), dan membinasakan mereka sampai hancur-luluh, telah digambarkan dengan ungkapan, “Kami … tenggelamkan pengikut-pengikut Firaun.“ (2: 51; 7: 137 dan 17: 104) dan “Kami menyebabkan bumi menelannya.“ (28: 82).

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Furqan

Kebenaran Al Quran

Surah Al Ankabut lebih lanjut mengatakan, bahwa kepercayaan syirik karena rapuh seibarat sarang laba-laba, tidak dapat bertahan terhadap kritikan menurut akal dan penyelidikan.

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil selain Allah penolong-penolong adalah seperti perumpamaan laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya selemah-lemah rumah ialah rumah laba-laba, seandainya mereka itu mengetahui.” (Surah Al Ankabut, 29: 42)

Masalah keesaan Tuhan, yang menjadi pembahasan terutama Surah Al Ankabut ini, disudahi dalam ayat ini dengan sebuah tamsil yang indah sekali, dan menjelaskan kepada kaum musyrik ketololan, kesia-siaan, dan kepalsuan kepercayaan-kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan syirik mereka. Mereka itu rapuh bagaikan sarang laba-laba dan tidak dapat bertahan terhadap kecaman akal sehat.

Oleh karena itu orang-orang ingkar tidak mempunyai hujjah atau pembelaan untuk terus berpegang pada kemusyrikan, manakala sebuah kitab, yakni Al Quran, telah diturunkan.

Kitab itu sungguh memenuhi sepenuhnya segala kepentingan dan keperluan akhlak manusia, dan sungguh sesuai untuk mengangkat manusia ke puncak martabat akhlak tertinggi.

Surah Al Ankabut ini lebih lanjut menyangkal keberatan yang sering kali dilontarkan orang-orang ingkar, yaitu bahwa Al Quran itu telah dikarang oleh Rasulullahsaw; yang justru kebalikannya, Al Quran telah dikemukakan sebagai mukjizat Ilahi terbesar. Itulah jawaban terhadap tuntutan orang-orang ingkar yang meminta diberikan tanda dan mukjizat-mukjizat.

Menjelang akhir surah, orang-orang mukmin dihibur dan hati mereka ditenangkan dengan jaminan bahwa bila mereka bersabar dalam menghadapi derita dan aniaya yang ditimpakan kepada mereka, maka suatu masa depan yang besar dan gemilang menanti di hadapan mereka.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah An Nur

Jihad Di Jalan Allah

Surah Al Ankabut ini berakhir dengan catatan, bahwa orang-orang mukmin akan terpaksa mengangkat senjata untuk mempertahankan Islam serta untuk menjalankan jihad secara hebat dan dahsyat terhadap kekuatan-kekuatan keburukan.

Akan tetapi jihad yang hakiki, demikian dikatakan oleh surah ini, terkandung bukan dalam membunuh atau terbunuh, melainkan dalam berjuang keras untuk mendapat keridaan Ilahi dan dalam menablighkan amanat Al Quran.

“Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami, sesungguhnya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta orang- orang yang berbuat kebaikan.” (Surah Al Ankabut, 29: 70)

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Muminun


0 Komentar

Tinggalkan Balasan