Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Anbiya

Surah Al Anbiya adalah surah kedua puluh satu setelah Surah Tha Ha, terdiri dari 113 ayat dan 7 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Al Anbiya yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Al Anbiya dan Hubungannya dengan Surah-surah Lainnya

Surah Al Anbiya, seperti halnya tiga surah yang mendahuluinya, diturunkan di Makkah, pada masa awal sekali kenabian Rasulullahsaw.

Ibn Mas’udra mengatakan bahwa Surah Al Anbiya ini di wahyukan sebelum tahun ke-5 Nabawi, bersama-sama dengan Surah Tha Ha, Surah Al-Kahfi, dan Surah Maryam. Ayat-ayat pembukaan Surah Maryam pernah dibacakan oleh Ja’farra di hadapan Negus waktu berhijrah ke Abyssinia, yang terjadi pada tahun tersebut.

Hubungan langsung antara Surah Al Anbiya dengan Surah Tha Ha terletak pada kenyataan bahwa menjelang akhir Surah Al Anbiya ini telah disebutkan bahwa azab Allahswt akan menimpa orang-orang ingkar pada saat yang telah ditentukan, dan Rasulullahsaw disuruh menghadapi perlawanan dan penindasan mereka dengan kesabaran dan ketabahan.

Surah Al Anbiya mulai dengan suatu peringatan terhadap orang-orang ingkar bahwa saat datangnya hukuman bagi mereka telah tiba dan, sekali pun sekarang mereka harus memberikan pertanggungjawaban mengenai perbuatan-perbuatan mereka, mereka akan terus berkelana dalam rimba ketidakacuhan dan keingkaran.

Inilah hubungan langsung Surah Al Anbiya ini dengan yang surah-surah sebelumnya. Tetapi sebetulnya pokok pembahasan secara keseluruhan yang merupakan mata rantai penghubung di antara surah ini dengan beberapa Surah yang mendahuluinya.

Dalam Surah Maryam sebagian dari itikad-itikad palsu agama Kristen telah dibantah dan ditolak yaitu, bahwa Nabi Isaas memiliki sifat-sifat Ilahi, bahwa beliau telah membatalkan hukum syariat dan telah menyatakan sebagai kutukan dan bahwa keselamatan itu bergantung bukan pada perbuatan-perbuatan baik, tetapi pada penebusan dosa.

Dalam Surah Tha Ha uraian yang terperinci talah dipaparkan mengenai Nabi Musaas dengan tujuan membantah itikad-itikad palsu tersebut. Kepada orang-orang Kristen telah diberitahukan, bahwa agama Kristen hanyalah satu mata rantai dalam syariat Nabi Musaas, dan bahwa hal ihwal Nabi Musaas merupakan penolakan tegas terhadap itikad-itikad mereka.

Seluruh kebanggaan beliauas terletak pada kenyataan, bahwa beliau adalah seorang nabi yang membawa syariat. Seandainya syariat itu laknat, kemudian menurut kepercayaan umat Kristen, Nabi Musaas sepatutnya dicela dan ditolak daripada dianggap sebagai wujud yang dihormati dan dibanggakan.

Sesudah itu Surah Tha Ha menerangkan secara singkat kealpaan yang dilakukan oleh Nabi Adamas dan dengan demikian mengusut teori Kristen tentang dosa pertama sampai kepada akar-akarnya, dan kemudian menolak teori itu.

Dijelaskan dalam surah tersebut, bahwa dosa tidak merupakan bagian warisan manusia, dan manusia dihukum hanya atas pelanggaran dan kesalahannya sendiri.

Selanjutnya dinyatakan bahwa sekiranya manusia tidak mungkin membebaskan diri dari dosa, kemudian tujuan azab Ilahi itu sendiri sama sekali menjadi gagal, dan para nabi dan rasul Allahswt, daripada mengemukakan peringatan-peringatan kepada para pelanggar, seharusnya memberi mereka khabar penghibur, bahwa makhluk yang dikuasai keadaan sekitarnya dan tidak mempunyai kemauan atau pilihan, mereka tidak akan dituntut untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.

Pokok masalah yang telah diperluas dan direntang panjangkan dalam Surah Al Anbiya ini dan menarik pelajaran; bahwa bukan musuh-musuh nabi ini atau itu saja, melainkan musuh-musuh setiap nabi Allahswt – mulai dari Nabi Adamas sampai Nabi Isaas, kemudian sampai Rasulullahsaw – telah dihukum atas perbuatan-perbuatan buruk mereka, sedang orang-orang shaleh diberi ganjaran atas amal shaleh mereka.

Sekiranya manusia telah mewarisi dosa, dan sekiranya ia tidak dapat melepaskannya, maka tidak ada alasan dan tidak dapat dibenarkan, untuk menghukum orang-orang berdosa dan memberi ganjaran kepada orang-orang baik. Dengan demkian itikad mengenai dosa warisan, merupakan itikad buatan yang tidak mempunyai dasar.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah An Nahl

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Anbiya

Berikut ini tafsir singkat dan beberapa isi kandungan Surah Al Anbiya:

Setiap Utusan Allah Senantiasa Dicemooh dan Ditolak

Surah Al Anbiya mulai dengan suatu peringatan kepada orang-orang ingkar bahwa hukuman Allahswt telah sangat dekat, tetapi mereka menipu diri sendiri dengan mengkhayalkan berada dalam keamanan.

Tidak pernah datang seorang utusan Ilahi ke dunia yang tidak ditertawakan dan dicemoohkan. Tetapi karena terdorong rasa simpati dan perhatian akan kesejahteraan ruhani kaumnya, maka nabi-nabi Allahswt berseru kepada mereka supaya menerima kebenaran agar memperoleh keselamatan. Seandainya dosa merupakan bagian warisan manusia, kemudian apa gunanya ajaran tersebut?

Selanjutnya Surah Al Anbiya mengemukakan beberapa keberatan orang-orang ingkar diminta merenungkan, beban baru apakah yang Al Quran letakkan atas mereka, sehingga mereka bersikeras menolak amanatnya?

Tujuan utama amanat itu ialah menjunjung dan mengangkat mereka kepada ketinggian akhlak. Karena Al Quran merupakan firman Tuhan sendiri yang diwahyukan, maka orang-orang yang menoloknya tidak akan lolos dari hukuman.

Selanjutnya Surah Al Anbiya ini menanyakan kepada orang-orang ingkar, apakah mereka telah memberikan perhatian sungguh-sungguh kepada jalan mereka, bahwa Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana tidak menjadikan seluruh alam ini tanpa tujuan yang agung dan luhur, dan mereka yang merinta-ngi pelaksanaan tujuan itu pasti akan gagal?

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Hijr

Tauhid Ilahi

Seterusnya Surah Al Anbiya membahas masalah yang paling utama, ialah mengenai tauhid Ilahi, yang merupakan dasar pokok kepercayaan semua agama.

Apabila suatu hukum yang serupa meliputi dan menguasai seluruh alam – demikianlah Al Quran menyatakan – maka bagaimanakah orang-orang musyrik dapat membenarkan kemusyrikan itu?

Kepercayaan kepada adanya tuhan banyak, membawa kepada ketidakadaan persetujuan di antara tuhan-tuhan itu mengenai cara mengatur dan mengendalikan alam raya.

Dan karena nyata, bahwa dalam alam ini terdapat tata tertib yang sempurna, maka seharusnya hanya satu Pencipta dan satu Penguasa bagi seluruh alam.

Dan mengapa Allahswt harus mempunyai seorang anak, sebab anak hanya diperlukan, bila sang ayah menjadi mangsa hancur atau mati, atau bila ia tidak dapat menjalankan tugasnya seorang diri tanpa bantuan siapa pun? Tetapi semua anggapan mengenai Tuhan seperti itu adalah penghinaan terhadap Tuhan, dan tidak mempunyai dasar.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Ibrahim

Menurunkan UtusanNya

Sesudah itu Surah Al Anbiya menunjuk suatu hukum Ilahi yang lain, yaitu, manakala kegelapan meliputi seluruh muka bumi, serta terjadi kekosongan bibit wujud-wujud yang shaleh di dunia, Allahswt membuka pintu rahmat-Nya bagi umat manusia, dan air dari langit berupa wahyu Ilahi turun ke atas bumi dan memberi kehidupan baru kepada dunia yang bergelimang dosa dan ketidakadilan.

Gejala pergantian antara keadaan terang dan gelap di alam keruhanian sesuai dan serupa dengan gejala yang terdapat di alam kebendaan, siang dan malam silih berganti.

Kemudian Surah Al Anbiya mengemukakan dalil alangkah bodohnya orang-orang kafir menolak Rasulullahsaw dengan helah, bahwa beliau hanyalah seorang manusia biasa belaka. Bukanlah keadaan dan kedudukan sang pengemban amanat Al Quran itu sendiri yang penting. Sebenarnya yang penting, ialah siapa yang mengutus beliau.

Untuk menunjukkan bahwa perjuangan Rasulullahsaw akan menang, Surah Al Anbiya ini menyebutkan beberapa hal nabi yang terdahulu – Nabi Nuhas, Nabi Ibrahimas, Nabi Daudas, Nabi Sulaimanas, Nabi Idrisas, dan nabi-nabi lainnya yang sekalipun menghadapi perlawanan yang sengit, terus menerus, dan terorganisir, mereka berhasil dalam tugasnya.

Semua hamba Allahswt yang terpilih itu, merupakan contoh amal perbuatan yang mulia dan shaleh, seperti halnya Nabi Isaas; dan seperti beliau, mereka pun mengalami banyak penderitaan dan kesusahan yang berat pada jalan Allahswt.

Kemudian mengapa di antara semua nabi itu hanya Nabi Isaas sendiri yang harus dianggap anak Allahswt, sedangkan mereka yang lain tidak?

Nabi Isa dan Siti Maryam

Sesudah menguraikan hal ihwal nabi-nabi tersebut, maka Nabi Isaas dan ibunda beliau disebutkan secara khusus, yang dalam hal apa pun keadaannya tidak berbeda dengan nabi yang lain.

Bahkan kelahiran Nabi Isaas dengan cara yang menyimpang dari kebiasaan tidak membuatnya berhak memiliki kedudukan ruhani yang istimewa.

Kelahiran Nabi Yahyaas pun telah terjadi dalam keadaan yang istimewa. Jika Nabi Isaas dilahirkan tanpa perantaraan seorang ayah, maka kelahiran Nabi Yahyaas telah terjadi ketika ayah beliau sampai kepada usia yang amat lanjut, sedangkan ibunda beliau telah menjadi mandul dan dalam keadaan sama sekali tidak mampu melahirkan seorang anak.

Begitu pula penderitaan Isaas untuk kepentingan kebenaran, sama sekali tidak merupakan sesuatu yang baru. Sekalipun beliau dipaku di atas salib, beliau diturunkan dari salib dalam keadaan hidup, tetapi Nabi Yahyaas betul-betul mengalami kematian di jalan Allahswt. Kemudian mengapa kematian Nabi Isaas saja yang menjadi penebus dosa manusia dan kematian Nabi Yahyaas tidak?

Baca juga: Surah Ar Ra’d, Tafsir Singkat Dan Isi Kandungannya

Kemajuan Dunia Kristen Barat

Menjelang akhir, Surah ini mengisyaratkan kepada kemajuan luar biasa dan kekuatan materi yang besar serta kesejahteraan, kemajuan, dan kekuasaan Yajuj dan Majuj yang menyilaukan, ialah bangsa-bangsa Kristen Barat.

Ketika bangsa-bangsa ini – Surah Al Anbiya menyatakan – akan meluas ke seluruh dunia, serta akan menempati setiap kedudukan, kekuasaan, dan kebesaran; dan ketika bangsa-bangsa dunia lainnya akan tunduk kepda mereka dalam pengabdian, dan menyatakan penghormatan kepada mereka, maka pada saat itulah janji mengenai kehancuran mereka, akhirnya akan menjadi sempurna.

Hukuman Allahswt akan turun kepada mereka di luar dugaan dan cepat, sehingga mereka tiba-tiba akan membelalakan mata karena keheran-heranan.

Segala hasil jerih payah mereka, sumber, dan sebab kebanggaan mereka, serta semua kegagahan, kemulian, dan kebesaran mereka, akan dibinasakan dan dijadikan abu dan debu. Wallahu a’lam bish-shawabi.

Baca juga: Isi Kandungan Surah Al Baqarah

(Visited 110 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan