Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Ahzab

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-al-ahzab

Surah Al Ahzab adalah surah ke-33 setelah Surah As Sajdah, terdiri dari 74 ayat dan 9 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Al Ahzab yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Al Ahzab dan Hubungan dengan Surah-surah Lainnya

Surah Al Ahzab diturunkan di Madinah antara tahun ke-5 dan ke-7 Hijrah, bahkan mungkin sampai tahun ke-8 dan ke-9. Cukup banyak pembuktian terdapat dalam surah ini sendiri guna mendukung pendapat ini.  

Pada beberapa surah yang terdahulu secara berulang-ulang dan dengan tegas dikemukakan kabar gaib bahwa Islam akan terus menerus maju dan menghimpun kekuatan hingga seluruh bumi Arabia akan menerima ajarannya dan bahwa kemusyrikan akan lenyap dari negeri itu dan tidak akan muncul kembali.

Dalam surah yang langsung mendahuluinya, Surah As Sajdah, dinyatakan bahwa kaum Muslimin akan dikaruniai serbaneka kenikmatan duniawi dan kesejahteraan kebendaan.

Menjelang penutup, disebutkan bahwa orang-orang kafir telah bertanya dengan nada mencemooh, kapan kabar gaib mengenai kemenangan Islam serta penyebaran dan pengembangannya yang meluas itu akan terpenuhi.

Pertanyaan itu telah mendapat jawaban tegas dalam Surah Al Ahzab ini. Dinyatakan di dalamnya bahwa kabar gaib mengenai kebangkitan dan kemajuan Islam telah sempurna dan Islam sudah menjadi suatu kekuatan raksasa.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Ahzab

Dengan kekuatan dan gengsi besar dalam politik yang diraih oleh Islam dan dengan kemunculannya sebagai negara yang benar-benar telah dewasa, hukum-hukum syariat mulai diturunkan berturut-turut dengan deras untuk membimbing kaum muslimin dalam urusan-urusan politik dan sosial.

Surah Al Ahzab ini merangkum berbagai hukum semacam itu. Sebagai langkah permulaannya ia menghapuskan kebiasaan yang sudah berakar di kalangan kaum Arab, yaitu mengambil anak orang lain sebagai anak sendiri.

Kemudian, Surah Al Ahzab ini menyebutkan hubungan keruhanian sangat mendalam lagi hakiki yang terjalin antara Rasulullahsaw dan kaum Muslimin. Dalam kedudukan sebagai bapak rohani, hubungan beliausaw dengan mereka lebih dekat daripada dengan ayah-ayah mereka sendiri, sedangkan istri-istri beliausaw adalah ibu mereka.

Perang Khandak

Surah Al Ahzab lebih lanjut memberikan gambaran yang agak terperinci mengenai Perang Khandak (Pertempuran Parit) yang merupakan pertempuran paling sengit, yang sampai pada saat itu pernah dihadapi kaum Muslimin.

Seluruh bangsa Arab telah bersatu-padu melawan Islam, dan suatu laskar yang bersenjata lengkap berjumlah 10.000 sampai 20.000 orang telah berderap maju menuju Medinah.

Kaum Muslimin pada waktu itu hanya berjumlah 1.200 orang saja, walaupun menurut sejumlah penulis jumlah mereka seluruhnya yang dipekerjakan dalam penggalian parit itu termasuk anak-anak dan kaum wanita ada sekitar 3.000 orang.

Pertempuran itu sangat tidak seimbang. Kaum Muslimin pada waktu itu berada dalam kedudukan yang sangat sulit.

Akan tetapi Allahsaw mengirimkan balatentara-Nya, dan musuh yang gagah perkasa itu dibuat kacau dan dicerai-beraikan.

Pada beberapa ayat selanjutnya Surah Al Ahzab ini menyatakan bahwa meskipun di dalam suatu jamaah tidak kurang pengikut-pengikut yang tulus ikhlas lagi setia, terdapat juga di tengah jajarannya orang-orang munafik dan mereka yang lemah iman.

Orang-orang munafik ini dengan suara nyaring mengaku pengikut-pengikut sejati, akan tetapi manakala di masa Rasulullahsaw di Kota Madinah diserang oleh kekuatan yang besar, mereka minta agar dibebaskan dari kewajiban berperang di pihak kaum Muslimin dengan alasan-alasan yang lemah. Mereka telah melanggar sumpah mereka.

Kabilah Banu Quraizah adalah kaum yang mula-mula mengkhianati sumpah mereka dan meninggalkan kaum Muslimin dalam kesulitan, yakni ketika orang-orang Muslim sedang dikepung dari segala penjuru dan nasib Islam sendiri terombang ambing.

Setelah persekutuan itu bubar, Rasulullahsaw bertindak terhadap mereka dan merekapun itu menerima hukuman yang setimpal.

Sebagai akibat Perang Khandak dan kemudian pengasingan kabilah Banu Quraizah, timbunan ghanimah (harta rampasan perang) jatuh ke tangan kaum Muslimin. Dari keadaan semula suatu golongan kecil yang teraniaya dan juga lemah secara ekonomi, mereka telah tumbuh menjadi suatu negara kaya, kuat, dan makmur sentosa.

Harta kekayaan materi melahirkan kecenderungan kepada keduniaan, kedambaan akan kesenangan dan kemewahan, serta sikap masabodoh terhadap panggilan untuk berdarma bakti dan berkorban. Terhadap gejala semacam itulah seorang pembaharu harus secara khusus berjaga-jaga.

Ummahatul Muminin-Para Istri Rasulullah

Kecintaan akan kesenangan dan kemewahan pada umumnya mula-mula menampakkan diri dalam lingkungan rumah tangga, dan karena para anggota keluarga Rasulullahsaw harus menjadi teladan dalam perilaku sosial, maka layaklah jika mereka diminta agar memberikan contoh dalam gaya hidup tidak mementingkan diri sendiri.

Istri-istri Rasulullahsaw diminta memilih antara kehidupan mewah dan makmur atau kehidupan serba sederhana dan fakir bersama Rasulullahsaw, dan merekapun tidak membuang waktu lagi dalam menetapkan pilihan mereka. Mereka memilih hidup bersama Rasulullahsaw.

Istri-istri Rasulullahsaw secara khusus diperintahkan memberikan contoh dalam kesalehan dan ketakwaan yang cocok dengan kepribadian istri seorang nabi Allah yang terbesar, dalam memelihara wibawa dan tatakrama dalam kedudukan yang terhormat dan mulia, dan dalam mengajarkan petunjuk-petunjuk dan perintah-perintah agama kepada kaum Muslimin.

Pernikahan Siti Zainab dengan Zaid

Kemudian Surah Al Ahzab ini menyebutkan pernikahan Siti Zainab dan Zaidra. Kegagalan pernikahan itu yang kemudian diikuti pernikahan Siti Zainab dengan Rasulullahsaw memenuhi tujuan ganda.

Dengan menikahkan Zainab saudara sepupu Rasulullahsaw sendiri yang merupakan seorang wanita bangsawan Arab tulen, yang sangat bangga akan leluhurnya dan kedudukannya yang tinggi dalam masyarakat kepada seorang bekas budak belian, Rasulullahsaw telah berikhtiar melenyapkan semua perbedaan dan penggolongan kelas yang menyakiti hati, yang karenanya masyarakat Arab telah menderita. Karena menurut Islam semua manusia adalah bebas dan setaraf martabatnya dalam pandangan Allahswt.

Lebih lanjut Surah Al Ahzab ini menyingkirkan kekeliruan paham yang mungkin timbul dengan berlakunya penghapusan adat kebiasaan adopsi (mengangkat anak), yakni, bahwa tanpa adanya anak lelaki sejati, Rasulullahsaw akan wafat tanpa berketurunan, dan jamaah beliau akan layu dan lama-kelamaan mati disebabkan miskin ahli waris.

Surah Al Ahzab ini mengatakan, bahwa memang merupakan rencana Allahswt sendiri, bahwa Rasulullahsaw harus wafat tanpa meninggalkan seorang anak lelakipun; namun, hal demikian itu tidaklah berarti bahwa beliau menjadi tidak berketurunan (abtar), karena beliausaw adalah bapak rohani seluruh umat manusia.

Sebagai bukti praktis bagi pendakwaan ini, beliausaw akan mewujudkan suatu jamaah yang terdiri dari anak-anak rohani yang takwa dan sangat setia.

Surah Al Ahzab ini lebih lanjut mengatakan bahwa oleh karena Rasulullahsaw itu bapak rohani bagi orang-orang mukmin, maka istri-istri beliausaw merupakan ibu-ibu rohani, dan oleh karena itu menikahi salah seorang dari mereka ketika Rasulullahsaw telah wafat adalah dosa besar.

Rasulullahsaw sendiri diperintah agar jangan menceraikan seorangpun dari istri-istri beliausaw yang masih hidup; begitu pula jangan menambah lagi istri.

Sedang istri-istri beliau dianjurkan agar, sesuai dengan kehormatan sebagai Umul Mukminin, menaati peraturan-peraturan tertentu berkenaan dengan pakaian dan sebagainya, apabila keluar dari rumah. Perintah yang menganjurkan hidup sederhana dan bersopan santun ini berlaku juga bagi semua wanita Muslimah lainnya.

Tujuan Hidup Manusia

Menjelang akhir, Surah Al Ahzab ini menyebutkan tujuan hidup yang sangat tinggi bagi manusia dan tanggungjawabnya yang berat selaku mahkota bagi seluruh makhluk Allah. Ia telah dianugerahi kekuatan-kekuatan dan kemampuan-kemampuan besar yang tidak diberikan kepada wujud-wujud lain, dan oleh karena itu hanya dia sendirilah dari antara semua makhluk yang dapat meresapkan dan mencerminkan sifat-sifat Tuhan di dalam dirinya.

“Dia (Allah) akan memperbaiki bagimu amal-amalmu dan akan menampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia akan meraih kemenangan besar.” (Surah Al Ahzab, 33: 72)

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan