Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Ahqaf

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-al-ahqaf

Surah Al Ahqaf adalah surah ke-46 setelah Surah Al Jatsiyah, terdiri dari 36 ayat dan 4 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Al Ahqaf yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Al Ahqaf dan Hubungan dengan Surah-surah Lainnya

Surah Al Ahqaf merupakan surah terakhir dalam kelompok Hā Mīm. Seperti surah-surah lainnya dalam kelompok ini, Surah Al-Ahqaf diturunkan di Makkah menjelang pertengahan masa Nubuwah Rasulullah sebelum Hijrah.

Surah Al Ahqaf agaknya sama dengan surah-surah lainnya dari kelompok surah-surah Hā Mīm dalam nada dan tujuannya. Surah sebelumnya telah berakhir dengan maklumat khidmat bahwa “Tuhan adalah Wujud yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” Dalam Surah Al Ahqaf ini kebenaran penda’waan yang dinyatakan dalam kata-kata tersebut telah dibuktikan.

Surah Al Ahqaf menyatakan bahwa Al Quran diturunkan oleh Allahswt yang Maha Bijaksana dan Maha Perkasa. Allahswt itu Maha Bijaksana dalam arti bahwa ajaran-ajaran Al Quran itu berlandaskan pada dasar-dasar yang kokoh lagi kuat, dan didukung oleh akal, pikiran sehat, dan pengalaman manusia yang telah begitu lama itu.

Kemudian, Allah Maha Perkasa dalam arti bahwa dengan hidup sesuai dengan cita-cita asas-asas Al Quran, kaum Muslimin akan mencapai martabat yang berpengaruh dan memegang tampuk kekuasaan atas lawan-lawan mereka.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Ahqaf

Berikut ini tafsir singkat dan beberapa isi kandungan Surah Al Ahqaf:

Wahyu Al Quran dan Tauhid Ilahi

Seperti keenam surah sebelumnya, Surah Al Ahqaf dimulai dengan pokok pembahasan tentang wahyu Al Quran dan Tauhid Ilahi yang merupakan pembahasan utama, dan memberikan dalil-dalil berikut ini untuk menyanggah kemusyrikan:

Pertama, hanya Wujud itulah yang dapat memerintahkan dan menuntut kita agar kita mencintai dan menyembah Dia Yang di samping Maha Pencipta dan Pemelihara kita, adalah Maha Kuasa lagi Maha Perkasa, dan oleh karena itu Dia dapat memaksakan ketaatan kepada hukum-hukum dan perintah-perintah-Nya.

Kedua, kemusyrikan tidak didukung oleh kitab suci mana pun. Ketiga, pengetahuan, akal, dan pengalaman manusia menolak dan berontak terhadapnya.

Keempat, suatu wujud sembahan, yang tidak dapat menjawab, dan memang tidak menjawab doa-doa kita, tidak ada gunanya, dan apa yang disebut tuhan-tuhan oleh orang-orang musyrik tidak mampu membalas doa-doa para penganutnya.

Lebih lanjut Surah Al Ahqaf mengatakan bahwa dakwa Rasulullahsaw sebagai nabi bukanlah suatuh hal baru. Utusan-utusan Allahswt telah biasa muncul pada setiap masa dan di tengah-tengah segala bangsa untuk mengajarkan kepada mereka Tauhid Ilahi dan kewajiban mereka terhadap sesama makhluk.

Kemudian, alasan bahwa, “Jika seandainya ada sesuatu kebaikan dalam wahyu yang dikemukakan kepada kami yang berpengetahuan lebih luas dan berkedudukan lebih baik dalam hidup ini, niscaya kami akan menjadi orang-orang yang pertama-tama menerimanya” yang pada umumnya dikemukakan oleh orang-orang kafir sebagai dalih dan alasan untuk menolak wahyu Ilahi, ditolak oleh surah ini karena alasan itu bodoh dan tidak berdasar.

Surah Al Ahqaf lebih lanjut mengatakan bahwa, sementara orang-orang kafir menolak Amanat Ilahi karena berbangga atas sumber-sumber kekayaan duniawi mereka yang berlimpah-limpah.

Orang-orang lain yang dianugerahi keimanan dan kekayaan rohani menerimanya dan gigih berpegang padanya, meskipun mereka dihadapkan kepada cobaan-cobaan dan kesengsaraan yang sehebat-hebatnya.

Kehancuran Total Kaum Ad

Kemudian Surah Al Ahqaf mengisyaratkan kepada nasib kaum Ad, suatu bangsa yang dahulu pernah hidup subur makmur tidak jauh dari orang-orang Makkah, guna menunjukkan bahwa keinginan tidak pernah berjaya.

Kaum Ad telah dihancurluluhkan demikian rupa sehingga peradaban mereka yang besar dan megah itu tidak ada bekasnya lagi.

Kaum-kaum Ad dan Tubba menguasai wilayah yang terbentang luas di Arabia Selatan; dan suku bangsa Tsamud tinggal di sebelah barat daya Arabia, dan di pantai Laut Mati terletak kota-kota Sodom dan Gomorrah. Kehancuran tempat-tempat itu merupakan pembuka mata untuk ornag-orang Mekkah.

“Dan ingatlah saudaraku Ad, ketika ia memperingatkan kaumnya di sebelah bukit-bukit pasir, dan Sesungguhnya telah berlalu pemberi-pemberi ingat sebelum dia dan juga sesudahnya, mengatakan, “Jangan-lah kamu menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut atasmu azab hari yang besar.” (Surah Al Ahqaf, 46: 22)

Al Quran berulang kali kembali kepada masalah keimanan, akhlak, dan masalah-masalah sebangsanya yang bersifat pokok, dan membahasnya dari berbagai sudut pandangan untuk menghilangkan keraguan dan prasangka-prasangka manusia yang mempunyai bermacam-macam sikap, rancang mental dan pandangan hidup.

Orang-orang yang dangkal pikirannya dan berpurbasangka dapat menyebutnya suatu petualangan, namun sebenarnya hal itu merupakan pendekatan yang tepat kepada berbagai persoalan hidup manusia.

Rasulullah dan Kaum Beriman

Menjelang akhir, Surah Al Ahqaf mencanangkan peringatan kepada kaum Rasulullahsaw bahwa jangan hendaknya mereka disesatkan oleh harta kekayaan dan kemakmuran mereka, begitu pula oleh kemiskinan dan kelemahan orang-orang Muslim pada saat itu, dan bahwa apabila mereka tetap bersikeras menolak Amanat Ilahi, kemakmuran mereka sendiri akan mendatangkan kebinasaan kepada diri mereka.

Surah Al Ahqaf berakhir dengan anjuran kepada Rasulullahsaw serta para pengikut beliau, sambil menyerukan kepada mereka bahwa selaku pembela kebenaran yang gagah berani.

Mereka harus menanggung dengan sabar dan tawakal segala penderitaan dan penindasan yang sedang ditimpakan atas mereka, sebab saat sedang mendatang dengan cepat sekali, ketika perjuangan mereka akan berhasil, dan orang-orang yang aniaya terhadap mereka akan bertekuk lutut di hadapan mereka dengan penuh kehinaan dan kerendahan, sambil merengek minta ampun dan belas kasihan.

Demikian akan keras, cepat, dan hebatnya azab Ilahi itu bagi orang-orang kufur, sehingga apabila seluruh kehidupan yang dijalani dalam kesenangan dan kesejahteraan, dibandingkan dengan azab itu, akan nampak kepada mereka seolah-olah “hanya sesaat” belaka.

“Maka sabarlah engkau seperti telah bersabar orang-orang yang memiliki keteguhan hati dari antara rasul-rasul; dan janganlah engkau minta azab itu dipercepat bagi mereka. Pada hari ketika mereka melihat apa yang telah diancamkan kepada mereka, keadaan mereka seolah-olah tidak pernah tinggal kecuali hanya sesaat pada siang hari. peringatan ini telah disampaikan, dan tidak ada yang akan dibinasakan selain orang-orang durhaka.” (Surah Al Ahqaf, 46: 36)

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan