Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Adz Dzariyat

Surah Adz Dzariyat adalah surah ke-51 setelah Surah Qaf, terdiri dari 61 ayat dan 3 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Adz Dzariyat yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Adz Dzariyat dan Hubungan dengan Surah-surah Lainnya

Seperti surah yang mendahuluinya, Surah Adz Dzariyat ini diturunkan di Makkah pada awal masa kenabian Rasulullahsaw.

Surah sebelumnya telah mengutarakan dua kebangkitan, ialah, kebangkitan ruhani yang akan ditimbulkan oleh ajaran Al Quran dan kebangkitan terakhir dalam kehidupan sesudah mati. Kebangkitan pertama telah diketengahkan sebagai dalil untuk mendukung yang kedua.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Adz Dzariyat

Berikut ini tafsir singkat dan beberapa isi kandungan Surah Adz Dzariat:

Jamaah Orang-orang Muttaqi

Surah Adz Dzariyat dimulai dengan nubuatan penting, bahwa suatu jamaah yang terdiri dari orang-orang muttaki akan muncul melalui pengaruh ajaran Al Quran.

Dari gejala di dalam alam jasmani, keempat ayat (2-5) menarik perhatian kita kepada kesejajaran gejala keruhanian. Kesejajaran itu sangat menyolok.

Keempat kata itu, Adz-Dzaariyaat (yang menyebarkan), Al-Haamilaat  (yang mengadung), Aj-Jaariyaat  (yang melaju perlahan-lahan), dan Al-Muqassimaat  (yang membagi-bagikan).

Bila mengisyaratkan kepada gejala alam jasmani, dapat dimaksudkan angin yang menyebar ke segala pihak, uap yang membumbung dari samudera membawa awan bermuatan air hujan, berhembus sepoi-sepoi dan kemudian menyebabkan hujan jatuh pada tanah kering gersang, lalu mengubahnya menjadi daerah yang berseri-seri, subur dan berbunga, penuh dengan daun-daun rindang, bunga-bunga indah, serta buah-buahan yang ranum.

Secara ruhani, yang dimaksud oleh keempat kata itu ialah jemaat orang-orang muttaki, yang minum dengan sepuas hati dari pancaran sumber air ruhani, yang dialirkan oleh Rasulullahsaw.

Kemudian, sesudah bercampur dan diresapi oleh ajaran Al Quran yang indah dan memberi hidup itu, pergi ke segala penjuru negeri Arab yang jauh-jauh serta terpencil, dan kemudian ke negeri-negeri jauh membawa beban mereka yang beberkat itu dan menyebarkan Kalam Ilahi ke negeri-negeri yang iklimnya berbau kemusyrikan dan dicemari perbuatan- perbuatan asusila.

Bukan dengan pedang melainkan dengan cinta kasih dan jalan damai, bagaikan anging berhembus sepoi-sepoi dan membawa hujan ke atas tanah-tanah yang kekeringan.

Laksana awan bermuatan kelembaban yang kemudian menurunkan hujan atas daerah luas yang kering gersang dan membuatnya mekar yang karena telah bangkit dan memasuki kehidupan ruhani baru itu akan menyampaikan amanat Al Quran ke seluruh penjuru dunia dengan menyapu bersih semua perlawanan sebelum mereka bangkit.

Nubuatan yang nampaknya tidak mungkin menjadi genap setelah merupakan kenyataan yang terang, merupakan dalil yang tidak terpatahkan untuk mendukung fakta tentang kebangkitan terakhir.

Perumpamaan Alam Semesta

Jalur-jalur atau jalan-jalan tempuhan langit adalah orbit-orbit (alur peredaran) planet-planet, komet-komet, dan bintang-bintang, yang menaburi ruang antartiksa.

Benda-benda langit itu terapung-apung di orbit mereka masing-masing dan melakukan tugas mereka dengan teratur, cermat, dan tidak pernah keliru, tanpa saling melanggar ruang gerak masing-masing, dan secara serampak membentuk suatu struktur dan gerakan yang amat serasi.

Kenyataan bahwa langit sarat dengan jalur-jalur serupa itu, tempat planet-planet dan bintang-bintang beredar, merupakan suatu penemuan yang ditampilkan Al Quran kepada dunia pada saat tatkala orang mempercayai bahwa formasi langit itu padat.

Kebenaran agung dalam ilmu falak, seperti terungkap dalam ayat sebelum ini menjurus kepada kesimpulan, bahwa Al Quran adalah Kalam Allah Sendiri dan bahwa terdapat kesatuan tujuan dan keserasian dalam karya Allahswt.

Namun demikian ahli-ahli filsafat duniawi menyusun teori-teori muluk-muluk, meraba- raba, dan mengarungi dugaan dan terkaan yang lemah dasarnya tidak mau percaya kepada Kalamullah dan Nabi-Nya.

Kehidupan Setelah Maut

Lebih lanjut Surah Adz Dzariyat ini mengatakan bahwa manakala seorang utusan Ilahi menampakkan diri di dunia untuk memberitahukan kepada kaumnya bahwa ada kehidupan di seberang kubur.

Tempat mereka kelak harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka, maka mereka menertawakan seraya mengejek dan menentangnya bahkan menganiayanya.

Surah Adz Dzariyat kemudian menyebutkan tentang kisah Nabi Ibrahim dalam menyambut tamu-tamunya.

Kemudian diceritakannya hal ihwal kaum Nabi Luthas yang dihukum karena kedurhakaannya dengan perbuatan-perbuatan mereka yang tidak wajar lagi tidak senonoh.

Surah Adz Dzariyat ini secara ringkas mengisyaratkan pula kepada azab yang menimpa kaum Ad, Tsamud, dan kaum Nabi Nuhas.

Tujuan Penciptaan Manusia

Menjelang akhir, Surah Adz Dzariyat ini menarik perhatian kita kepada tujuan luhur penciptaan manusia ialah, babwa ia harus mengembangkan dan menampakkan pada dirinya sifat-sifat Allah, dan harus melaksanakan dengan sempurna, segala kewajibannya terhadap Allahswt dan sesama makhluk.

Arti yang utama untuk kata ‘ibadah ialah, menundukkan diri sendiri kepada disiplin keruhanian yang ketat lalu bekerja dengan segala kemampuan dan kekuatan yang ada sampai sepenuh jangkauannya; sepenuhnya serasi dengan dan taat kepada perintah-perintah Ilahi agar menerima meterai pengesahan Tuhan dan dengan mampu mencapampurkan dan menjelmakan dalam dirinya sendiri sifat-sifat Tuhan.

Sebagaimana tersebut dalam Surah Adz Dzariyat, 51: 57, itulah maksud dan tujuan agung lagi mulia bagi penciptaan manusia dan memang itulah makna ibadah kepada Allahswt.

Karunia-karunia lahir dan batin yang terdapat pada sifat manusia memberikan dengan jelas pengertian kepada kita, bahwa ada di antara kemampuan manusia yang membangunkan pada dirinya dorongan untuk mencari Tuhan dan yang meresapkan kepadanya keinginan mulia untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.

“Dan, tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Surah Adz Dzariyat, 51: 57)

Bila sang musafir (kelana) keruhanian menempuh perjalanan menuju tujuan hidupnya yang mulia itu dengan sabar dan bertawakkal ia tidak berbuat bajik kepada Tuhan atau kepada siapa pun melainkan dirinya sendirilah yang memperoleh manfaatnya dan mencapai tujuan perjuangannya.

Baca juga:

(Visited 154 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan