Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Ad Dukhan

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

tafsir-singkat-dan-isi-kandungan-surah-ad-dukhan

Surah Ad Dukan adalah surah ke-44 setelah Surah Az Zukhruf, terdiri dari 60 ayat dan 3 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Ad Dukhan yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Ad Dukhan dan Hubungannya dengan Surah Lain

Semua sumber, termasuk pula Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair, sepakat bahwa Surah Ad Dukhan ini diwahyukan di pertengahan masa Makkah.

Dalam ayat-ayat penutupannya surah sebelumnya telah diberikan lukisan yang mengharukan tentang curahan perasaan pedih hati Rasulullahsaw yang laksana teriris-iris menyatakan bahwa meskipun beliau telah berusaha segiat-giatnya, namun amanat beliau tidak berhasil memancing sambutan yang memadai dari kaum beliasaw.

Sebagai jawaban kepada jeritan hati beliau yang merawankan itu, dinasihatkan kepada beliau agar tidak menghiraukan kesalahan-kesalahan mereka dan hendaknya memohon ampunan bagi mereka, sebab dengan demikian doa beliau akan menarik ampunan Allahswt dan akan membuat mereka sadar akan kesalahan mereka serta mau mendengarkan perkataan beliau.

Surah Ad dukhan dimulai dengan pernyataan bahwa Al Quran, yang sepenuhnya menerangkan kebenaran-kebenaran dan kenyataankenyataan dalam kehidupan itu, diwahyukan dalam masa kegelapan rohani untuk membebaskan kembali umat manusia dari dosa.

Surah Ad Dukhan adalah yang kelima dari kelompok Hā Mīm. Seperti surah yang mendahuluinya, dan dimulai dengan masalah turunnya Al Quran, meskipun dalam bentuk hubungan yang berbeda.

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Ad Dukhan

Berikut ini tafsir singkat dan isi kandungan Surah Ad Dukhan:

Suatu Malam yang Diberkati

“Sesungguhnya, Kami menurunkannya (Al Quran) dalam suatu malam yang diberkati, sesungguhnya, Kami selalu memberi peringatan.” (Surah Ad Dukhan, 44: 4)

Al Quran telah diturunkan dimalam yang diberkati. Di tempat lain dalam Al Quran, malam itu disebut “MalamTakdir” (Lailatul Qadr) (Surah Al Qadr, 97: 2).

Menurut hadis-hadis shahih “Lailatul Qadr” pada umumnya jatuh di dalam sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnnya Al Quran diwahyukan (Surah Al Baqarah, 2: 186); lebih tepat lagi pada malam ke-24 Ramadhan.

Malam yang beberkat, atau “Malam Takdir” itu ialah kata kiasan yang biasa di pakai Al Quran untuk semua masa, ketika kegelapan ruhani menyelubungi seluruh permukaan bumi dan seorang pembaharu rabbani dibangkitkan untuk memperbaiki  dan menghidupkan kembali umat manusia yang sudah rusak.

Malam yang memberikan kepada umat manusia Guru terbesarnya dan syariat terakhir lagi paling sempurna itu sungguh merupakan “Malam Takdir” bagi seluruh umat manusia. Malam itu dapat dianggap meliputi seluruh masa yang di dalamnnya Al Quran terus-menerus diturunkan.

“Lailatul Qadr” atau waktu datangnya seorang pembaharu agung mewartakan mulainya suatu era baru, suatu tertib baru segala seuatu, ketika hari depan umat manusia pada hakikatnya diputuskan dan ditetapkan. Saat ketika manusia, sebab pada saat itulah dasar-dasar nasib seluruh umat manusia diletakkan untuk masa yang akan datang.

Jadi, manakala kegelapan menyelubungi muka bumi dan perikemanusiaan terbenam di dalam kubangan-kubangan kebobrokan akhlak, maka Allahswt membangkitkan seorang rasul dan memberinya amanat baru untuk memanggil manusia kembali kepada kebenaran, serta untuk memperbaharui dunia.

Nabi-nabi Allah senantiasa muncul pada waktu kemunduran serupa itu, dan oleh karena sekarang keperluan akhlak umat manusia adalah yang paling besar, dan kegelapan rohani sangat pekat dan kelam, Allahswt telah membangkitkan wujud terbesar dari antara para rasul-Nya, dan memberikan kepada beliau syariat terakhir dan paling sempurna, yaitu Al Quran.

Kedatangan Rasulullahsaw bukanlah suatu peristiwa baru. Rasul-rasul Rabbani telah berdatangan sebelum beliau pada saat yang tepat, sedang yang terkemuka di antara mereka adalah Nabi Musaas. Itulah pembahasan yang pertama dari Surah Ad Dukhan ini.

Ad Dukhan (Asap)

“Maka Tunggulah Hari itu, ketika langit akan membawa asap yang nyata.” (Surah Ad Dukhan, 44: 11)

Isyarat ini dapat tertuju kepada bencana kelaparan hebat yang melanda Makkah dan berlaku beberapa tahun, hinga Abu Sufyan, yang pada saat itu pemimpin besar orang-orang kufur, datang kepada Rasulullahsaw dan memohon kepada beliau berdoa supaya mereka diselamatkan dari pukulan dahsyat itu.

Bencana kelaparan itu konon begitu hebatnya, sehingga orang-orang Makkah memakan kulit, tulang, dan bahkan bangkai (Bukhari, Kitab al-Istiqa’).

Bencana kelaparan itu telah dilukiskan dengan kata dukhan (asap), sebab menurut riwayat, kelaparan itu begitu hebatnya, sehingga orang merasakan ada semacam asap mengambang di hadapan mata mereka.

Atau, kata itu mungkin telah dipakai karena tidak ada hujan yang turun selama waktu yang panjang di Makkah, dan udara seluruhnya menjadi penuh debu, sebab dukhan juga atinya debu.

Menutur riwayat yang dapat dipercaya, Rasulullahsaw mendoa, maka bencana kelaparan itu lenyaplah. Tetapi, kaum Quraisy tidak mengambil faedah dari kejadian itu dan terus melawan beliau.

Ayat ini dapat pula diartikan mengisyaratkan kepada dua Perang Dunia terakhir, ketika kota-kota kecil maupun besar rebah terbakar dan hancur berantakan, dan asap yang mengepul dari puing-puingnya memenuhi udara seluruhnya dengan asap dan debu.

Nasib Buruk Firaun

Surah Ad Dukhan ini kemudian memberikan lukisan yang mengharukan mengenai nasib buruk yang menimpa Firaun dan kaumnya. Mereka menemui nasib sial mereka dalam aib dan kehinaan.

“Dan, tidaklah menangisi mereka langit dan bumi, dan tidak pula mereka diberi tangguh.” (Surah Ad Dukhan, 44: 30)

Mereka menjumpai nasib malang mereka dalam keaiban dan kehinaan, tidak diratapi, tanpa penghormatan dan tanpa sanjungan. Raja bernasib malang yang dalam kesombongannya menyebut dirinya “tuhan” itu tenggelam ke dalam laut (Surah Yunus,10: 91) dengan mengucapkan kata-kata yang terkenangkan, “Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, Yang kepada-Nya Bani Israil beriman.”

Kemudian, dalam Surah Ad Dukhan ini, menyebutkan bahwa, Allahswt memilih kaum Bani Israil untuk menerima karunia-Nya; sebab, dalam rencana Ilahi mereka dianggap paling layak mengemban Amanat Tuhan pada masa itu. Ungkapan ‘ala’ilmin dapat pula berarti, mengingat keadaan khas mereka.

Allahswt memilih Bani Israil untuk menerima karunia-karunia istimewa dari-Nya. Demikianlah Allahswt mengadakan perubahan dalam kehidupan sesuatu kaum.

Selanjutnya Surah Ad Dukhan ini mengatakan, bahwa kehidupan manusia mempunyai tujuan yang agung. Untuk menyempurnakan tujuan agung itulah Allahswt membangkitkan rasul-rasul-Nya di dunia.

Kehidupan manusia mempunyai tujuan yang hebat dan tugas yang agung. Kemampuan-kemampuan besar dan kekuatan-kekuatan terpendam sebagai pembawaan manusia merupakan petunjuk yang pasti bahwa kehidupan itu riil dan sungguh-sungguh.

Kepada asas luhur itulah penciptaan seluruh langit dan bumi itu dengan tegas menarik perhatian kita.

Surah Ad Dukhan ini berakhir dengan keterangan, bahwa asas-asas dan cita-cita Islam telah diajarkan dengan cara yang sangat jelas dan sangat meyakinkan.

“Dan, Sesungguhnya Kami telah memudahkannya (Al Quran) dengan bahasa engkau, supaya mereka mengambil nasihat.” (Surah Ad Duhan, 59)

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan