Surah Al Haqqah: Tafsir Dan Isi Kandungannya

Surah Al Haqqah adalah surah ke-69 setelah Surah Al Qalam, terdiri dari 53 ayat dan 2 ruku. Untuk lebih jelanya mengenai surat ini, berikut ini tafsir singkat Surah Al Haqqah yang bersumber dari Al Quran Dengan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Surah Al Haqqah dan Hubungan dengan Surah Lainnya

Surah Al Haqqah, seperti surah yang mendahuluinya, sebagaimana nampak jelas dari isinya, termasuk surah paling awal yang diturunkan di Mekkah.

Hampir seluruhnya dipersembahkan untuk membahas masalah hari kebangkitan, dan mengemukakan keberhasilan Rasulullah saw yang nyata dan pasti dalam melawan kekuatan musuh yang berat, sebagai bukti yang mendukung praduga atau hipotesa ini.

Karena kemenangan Rasulullah saw pada akhirnya dan hari kebangkitan itu dipandang oleh orang-orang kafir sebagai hal mustahil, maka terjadinya yang pertama (kemenangan Rasulullah saw) sungguh merupakan bukti yang tidak dapat disangkal bahwa yang kedua (hari kebangkitan) pun pasti akan terjadi.

Oleh karena itu, surah ini dimulai dengan pernyataan yang kuat lagi tegas bahwa musuh-musuh Islam akan dibinasakan.

Kemudian, surah Al Haqqah ini lebih lanjut mengadakan perbandingan sejajar antara kebinasaan yang menimpa para penolak Amanat Ilahi dan hari kebangkitan, dan mengatakan bahwa orang-orang kafir merasakan saat-saat siksaan itu sangat menyedihkan serta menyakitkan, dan bagi orang-orang mukmin, saat itu akan merupakan kegembiraan dan kesenangan abadi.

Surah Al Haqqah ini berakhir dengan pernyataan keras dan tegas bahwa kedua kejadian itu – hari kebangkitan dan keberhasilan perjuangan Rasulullah Saw terhadap kekuatan sangat berat dan dalam keadaan yang sangat tidak menguntungkan – tentu dan pasti akan terjadi, sebab apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw itu, firman Allah sendiri dan bukan bualan seorang penyair, bukan pula rekaan seseorang juru nujum, dan bukan pula buat-buatan.

Sebab, bila beliau mengada-ada dusta terhadap Tuhan, pastilah beliau akan mengalami kematian yang pasti dan mengerikan, sebab seorang pendusta tidak pernah dibiarkan hidup sejahtera.

Baca juga: Surah Al Baqarah Ayat 1-5, Terjemah Dan Tafsir Singkat

Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Haqqah

Berikut ini beberapa isi kandungan tiap ruku Surah Al-Haqqah:

Isi Kandungan Surah Al Haqqah Ruku Ke-1, Ayat: 1- 38

Isi Kandungan Surah Al Haqqah ruku pertama diantaranya yaitu, tentang azab yang menimpa kaum Tsamud dan kaum Ad.

Mereka dibinasakan dengan angin yang sangat dingin dan amat kencang, tujuh malam dan delapan hari terus menerus, sehingga mereka mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang kosong.

Disinggung juga tentang Fir‘aun, kaum Luth dan kaum Nabi Nuh, mereka dibinaskan karena mereka mendurhakai rasul Tuhan mereka, sehingga mereka dihukum oleh Allah swt.

Kemudian pada ayat ke-14 Surah Al Haqqah disinggung tentang hari kebangkitan, ketika dengan tiupan nafiri, baik orang-orang muttaki maupun orang-orang berdosa akan berdiri di hadapan Majelis Mahkamah Agung Ilahi guna mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka.

Aayat itu juga bisa dimaknai tentang gerakan Rasulullah saw dan pasukan Islam ke Mekkah yang begitu cepat lagi tiba-tiba sehingga kaum Mekkah tercengang dibuatnya. Serangan itu datang bagaikan petir menyambar di siang bolong.

Seluruh negeri Arab digoncangkan dari ujung satu ke ujung lain; para pemimpin kaum bangsawan Arab serta rakyat jelata merasakan pengaruh kemenangan Islam dan perubahan besar lagi dahsyat yang didatangkan atas kehidupan mereka; al-Jibal berarti, para pemimpin dan al-Ard, rakyat jelata.

Baca juga: Keutamaan Surah Al Baqarah, Surah Terpanjang Dalam Al Quran

Delapan Malaikat Memikul Arsy Ilahi

Pada ayat ke 18 Surah Al Haqqah disebutkan tentang delapan malaikat yang memikul ‘Arsy (singgasana). ‘Arasy melukiskan sifat-sifat Tanzīhiyyah Tuhan dan merupakan hak istimewa-Nya. Sifat-sifat itu diwujudkan melalui sifat-sifat Tasybīhiyyah yang telah digambarkan dalam ayat ini sebagai para pemikul singgasana (‘Arasy) Tuhan.

Sifat-sifat yang disebut kedua ialah Rabb, Rahman, Rahim, dan MālikiYaumid-Din, dan merupakan sifat-sifat dasar Ilahi yang dengan sifat-sifat itu dunia terwujud dan yang terutama bertalian dengan hidup dan takdir manusia.

Mengingat akan kebesaran, kedahsyatan, dan keagungannya maka keempat sifat Ilahi ini mempunyai perwujudan rangkap pada Hari Pembalasan.

Atau, kata-kata itu dapat pula berarti bahwa pada hari itu keempat sifat Tanzīhiyyah yang bersangkutan bersama-sama dengan keempat-sifat Tasybīhiyyah itu juga akan bekerja.

Dan karena sifat-sifat Ilahi dijelmakan dengan perantaraan para malaikat maka disebutlah kedelapan malaikat sebagai pemikul singgasana Tuhan pada Hari agung itu.

Anggapan bahwa karena ‘Arasy dalam ayat ini dikatakan sebagai “dipikul” oleh para malaikat, tentunya berwujud benda adalah keliru. Tetapi kata Hamala dalam Al-Qur’an tidak hanya dipakai menyatakan arti memikul sesuatu dalam arti kebendaan, melainkan juga dalam arti kiasan.

Dalam QS.33: 73 manusia disebut “memikul syariat,” padahal syariat itu bukanlah sesuatu yang berupa benda. Demikian pula pemikulan ‘Arasy oleh para malaikat, berarti bahwa  kenyataan sifat-sifat Ilahi itu dibukakan dan ditampakkan dengan perantaraan mereka. Kita tidak dapat mengerti dan memahami sifat-sifat Tuhan (‘Arasy-Nya), melainkan melalui sifat-sifat tamsiliah.

Jadi, sifat-sifat tamsiliah milik Tuhan itu seolah-olah pemikul sifat sifat-Nya yang utama (‘Arasy-Nya) itu.

Pula dikatakan bahwa ‘Arasy itu disebut “(berada) di atas air” (QS.11: 8) yang merupakan unsur yang diciptakan, maka oleh karena itu ‘Arasy pun berupa benda yang diciptakan. Tetapi “air” dalam bahasa Kitab-kitab wahyu, sering berarti firman Allah.

Dalam arti ini ayat (QS.11: 8) itu maknanya ialah “Singgasana Ilahi” itu berdiri di atas “Firman Allah” yang berarti bahwa manusia tidak dapat memahami sepenuhnya dan mengerti kebesaran serta kemuliaan Tuhan melainkan dengan bantuan firman Allah. Bahwa ‘Arasy itu menampilkan sifat-sifat Tanzīhiyyah Tuhan, jelas pula dari QS.23: 117.

Dari ayat ini tidak terbetik di dalam benak seorang pun bahwa para malaikat dianugerahi suatu kekuatan fisik yang dengannya mereka mampu memikul arasy Ilahi.

Arasy pun bukanlah sesuatu yang untuk memikulnya diperlukan kekuatan fisik. Pada hakikatnya Allah Ta’ala sendirilah yang memikul setiap sesuatu yakni, setiap sesuatu tetap tegak karena topangan-Nya.

Baca juga: Isi Kandungan Surah Al Baqarah

Mengambil Kitab Dengan Tangan Kanan dan Tangan Kiri

Pada ayat-ayat berikutnya dalam Surah Al Haqqah menyebutkan tentang mengambil kita dengan tangan kanan atau tangan kiri. Orang yang menerima kitabnya dengan tangan kanan akan bergembira, sedangkan orang yang menerimanya dengan tangan kiri akan merasa menyesal.

Di samping arti yang diberikan dalam terjemahan, ayat-ayat itu berarti pula, bahwa pada hari jatuhnya Mekkah, kedok kepalsuan kepercayaan dan perbuatan syirik kaum Mekkah menjadi benar-benar terbuka.

Seseorang diberi kitabnya (catatan amal perbuatannya) di dalam tangan kanannya adalah bahasa kiasan Al-Qur’an, menyatakan lulus ujian dengan sukses.

Seseorang diberikan rekamannya di dalam tangan kirinya adalah istilah yang dipakai Al-Qur’an yang menyatakan kegagalan dalam ujian.

Orang-orang kafir akan mengharapkan bahwa kematian akan menyudahi segala sesuatu sehingga tidak bakal ada kehidupan lain lagi, dan tiada lagi kewajiban mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka di hadapan Tuhan.

Berulang-ulang telah diterangkan di dalam Al-Qur’an bahwa kehidupan sesudah mati bukan kehidupan baru, melainkan hanya merupakan citra (gambaran) dan penampilan fakta-fakta kehidupan dunia sekarang.

Dalam ayat-ayat ini penderitaan rohani di dalam kehidupan dunia sekarang, telah ditampilkan sebagai siksaan jasmani di akhirat.

Rantai yang akan dikalungkan sekeliling leher, umpamanya, menampilkan hasrat-hasrat duniawi dan hasrat-hasrat itulah yang akan mengambil bentuk belenggu di akhirat.

Demikian pula, keterikatan pada dunia ini akan nampak sebagai belenggu kaki. Begitu juga terbakarnya hati di dunia pun nampak seperti lidah api yang menjilat-jilat. Batas umur manusia pada umumnya dapat ditetapkan tujuh puluh tahun, tanpa mencakup masa kanak-kanak dan masa tua-renta.

Usia tujuh puluh tahun itu dibuang percuma oleh orang-orang kafir durjana dalam jerat godaan dunia dan dalam pemuasan ajakan hawa nafsunya. Ia tidak berusaha membebaskan diri dari ikatan rantai nafsu, dan karena itu di akhirat, rantai nafsu yang selama tujuh puluh tahun ia bergelimang di dalamnya, akan diwujudkan rantai sepanjang tujuh puluh hasta, setiap hasta menampilkan satu tahun, yang dengan itu si jahat itu akan dibelenggu.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah At Talaq

Isi Kandungan Surah Al Haqqah Ruku Ke 2, Ayat: 39-53

Isi kandungan Surah Al Haqqah ruku kedua diantaranya yaitu, hal-hal yang nampak kepada kita bekerja di alam dunia jasmani ini, yakni kenyataan-kenyataan hidup yang dapat dilihat dan hal-hal yang tersembunyi dari pandangan mata, yaitu akal dan kata-hati manusia, telah disinggung dalam ayat-ayat 39 dan 40 sebagai kesaksian-kesaksian guna membuktikan Al-Qur’an berasal dari Allah.

Atau ayat-ayat itu dapat berarti bahwa tanda-tanda agung yang disaksikan oleh orang-orang kafir di zaman Rasulullah saw dengan mata kepala mereka sendiri dan nubuatan-nubuatan tentang hari depan Islam yang gilang gemilang dan masih menunggu penyempurnaannya, merupakan dalil yang tidak dapat ditolak bahwa Al-Qur’an itu firman Allah Sendiri yang telah diturunkan oleh-Nya kepada Nabi Agung, Muhammad Musthafa saw.

Al-Qur’an membahas kenyataan kenyataan hidup lagi pasti dan bukan impian-impian gila seorang penyair, bukan pula rekayasa dan terka-terkaan seorang juru nujum di dalam kegelapan.

Hukuman Bagi Para Nabi Palsu

Dalam Surah Al Haqqah ayat 45-48: Di dalam ayat-ayat itu telah ditolak pandangan-pandangan yang merusak bahwa orang yang mengaku-ngaku mendapat wahyu dari Allah Ta’ala dapat diselamatkan oleh kekuatan duniawi.

Pada kenyataannya adalah bahwa di belakang para pendakwa yang dusta pasti ada kekuatan duniawi, meski demikian mereka dan para penolongnya dihancurkan.

Jadi ini merupakan bukti agung bagi kebenaran Rasulullah saw, sebab setelah pendakwaan beliau seluruh Arab telah memusuhi beliau.

Jika seluruh Arab tidak memusuhi beliau saw, bahkan berdiri membela beliau tetap saja beliau tidak dapat selamat dari hukuman Allah Ta’ala, walaupun seandainya beliau hanya berkata dusta sedikit saja terhadap Allah Ta’ala.

Keterangan-keterangan telah diberikan bahwa bila Rasulullah saw itu pendusta, maka “tangan” perkasa Allah swt pasti menangkap dan memutuskan urat pada leher beliau dan pasti beliau telah menemui ajal pedih, dan seluruh pekerjaan dan misi beliau pasti telah hancur berantakan, sebab memang demikianlah nasib seorang nabi palsu.

Demikianlah tafsir singkat dan isi kandungan surah Al Haqqah, semoga bermanfaat.

Baca juga: Tafsir Singkat Dan Isi Kandungan Surah Al Jumuah

(Visited 411 times, 1 visits today)

7 pemikiran pada “Surah Al Haqqah: Tafsir Dan Isi Kandungannya”

Tinggalkan Balasan