Surah Al Fatihah Lengkap Dengan Terjemah Dan Tafsirnya

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

surah-al-fatihah-bewaramulia

Surah Al Fatihah adalah surah pertama atau surah pembuka yang terdapat dalam Al Quran. Apa arti dan makna yang terkandung dalam Al Fatihah? Berikut penjelasan lengkapnya yang dikutip dari Al Quran Dengan Terjemah Dan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid.

Ikhtisar Surah Al Fatihah

Surah Al Fatihah diwahyukan di Mekkah dan sejak awal menjadi bacaan dalam sholat.

Namun beberapa riwayat menyebutkan bahwa surah ini diwahyukan juga untuk kedua kalinya di Madinah.

Surah Al Fatihah ini disinggung dalam ayat Al Quran, “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada engkau tujuh ayat selalu diulang-ulang, dan Al Quran yang agung” (15:88).

Surah ini merupakan intisari seluruh ajaran Al Quran. Meliputi semua masalah yang di uraikan dengan panjang lebar dalam seluruh Al Quran.

Surah Al Fatihah mulai dengan uraian tentang Sifat-sifat Allah yang pokok dan menjadi poros beredarnya Sifat-sifat Tuhan lainnya, dan merupakan dasar bekerjanya alam semesta, serta dasar perhubungan antara Tuhan dengan manusia.

Keempat sifat Tuhan yang pokok tersebut yaitu, Rabb (Pencipta, yang memelihara dan Mengembangkan), Rahman ( Maha Pemurah ), Rahim (Maha Penyayang ) dan Maliki Yaumid Din (Pemilik Hari Pembalasan) mengandung arti bahwa, sesudah menjadikan manusia, Tuhan menganugerahinya kemampuan-kemampuan tabi (alami) yang terbaik, dan melengkapinya dengan bahan-bahan yang diperlukan untuk kemajuan jasmani, kemasyarakatan, akhlak, dan rohani.

Selanjutnya Dia memberikan jaminan bahwa usaha dan upaya manusia itu akan diganjar sepenuhnya.

Kemudian Surah itu mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah, yakni menyembah Tuhan dan mencapai qurb (kedekatan)-Nya dan bahwa, ia senantiasa memerlukan pertolongan-Nya untuk melaksanakan tujuannya yang agung itu.

Disebutkannya keempat Sifat Tuhan itu diikuti oleh doa lengkap yang didalamnya terungkap sepenuhnya segala dorongan ruh manusia. Doa itu mengajarkan bahwa, manusia senantiasa harus mencari dan memohon pertolongan Tuhan, agar Dia melengkapinya dengan sarana-sarana yang diperlukan olehnya, untuk mencapai kebahagian dalam kehidupan di dunia dan akhirat.

Tetapi karena manusia cenderung memperoleh kekuatan dan semangat dari teladan baik wujud-wujud mulia dan agung dari zaman lampau yang telah mencapai tujuan hidup mereka, maka ia diajari untuk mendoa, agar Tuhan membuka pula baginya jalan- jalan kemajuan akhlak dan rohani yang tak terbatas, seperti telah dibukakan bagi mereka itu.

Akhirnya, doa itu mengandung peringatan bahwa, jangan-jangan sesudah ia dibimbing kepada jalan lurus ia sesat dari jalan itu, lalu kehilangan tujuannya dan menjadi asing terhadap khalik-Nya.

Ia diajari untuk selalu mawas diri dan senantiasa mencari perlindungan Tuhan, terhadap kemungkinan jadi asing terhadap Tuhan, itulah masalah yang dituangkan dalam beberapa ayat Al Fatihah dan itulah masalah yang dibahas dengan sepenuhnya dan seluas-luasnya oleh Alquran, sambil menyebut contoh-contoh yang tiada tepermanai banyaknya, sebagai petunjuk bagi siapa yang membacanya.

Surah ini seakan-akan merupakan penghantar kepada Alquran. Sesungguhnya Surah ini adalah Alquran dalam bentuk miniatur. Dengan demikian pembaca semenjak ia mulai mempelajarinya, telah diperkenalkan dalam garis besarnya kepada masalah-masalah yang akan di jumpainya dalam Kitab Suci itu. Diriwayatkan, Rasulullahsaw pernah bersabda bahwa, Surah Al Fatihah itu Surah Al Quran yang terpenting (Bukhari).

Baca juga: Mengapa Ketika Shalat Harus Menghadap Kabah?

Nama-nama Lain Dari Surah Al Fatihah

Nama terkenal untuk Surah pendek ini ialah Fathihatul Kitab (Surah Pembukaan Al-Kitab). Kemudian, nama itu disingkat menjadi Surah Al Fatihah atau Al Fatihah yang artinya pembuka .

Terdapat 9 nama lain dari Al Fatihah, yaitu: Ash Shalat, Al Hamd, Ummul Quran, Alquranul Azhim, As Sab’al Matsani, Umm ul Kitab, Asy Syifa, Ar Ruqyah, dan Al Kanz. Nama-nama ini menerangkan betapa luasnya isi Surah ini, berikut penjelasan singkatnya:

Fatihahul Kitab (Surah pembukaan Al-Kitab) berarti bahwa, karena Surah itu telah diletakkan pada permulaan, ia merupakan kunci pembuka seluruh pokok masalah Alquran.

Ash Shalat (Sholat) berarti bahwa Al Fatihah merupakan dia yang lengkap lagi sempurna dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari shalat Islam yang suda melembaga.

Al Hamd (puji-pujian) berarti bahwa Surah ini menjelaskan tujuan agungkejadian manusia dan mengajarkan bahwa hubungan Tuhan dengan manusia adalah, hubungan berdasarkan kemurahan dan kasih sayang.

Ummul Quran (Ibu Alquran) berarti surah ini merupakan intisari seluruh Al Quran, yang dengan ringkas mengemukakan semua pengetahuan yang menyangkut perkembangan akhlak dan kerohanian manusia. Alquran-ul-Kitab dan Umm-ul-Quran, namun tetap merupakan bagian Kitab Suci itu dan bukan seperti anggapan salah sementara orang, bahwa ia terpisah darinya.

As Sabul Matsani (Tujuh Ayat yang Seringkali Diulang) berarti, Ketujuh Ayat pendek Surah Al Fatihah ini, sungguh-sungguh memenuhi segala keperluan rohani manusia. Nama itu berarti pula bahwa, Surah ini harus diulang dalam tiap-tiap rakaat shalat.

Ummul Kitab (Ibu Kitab) berarti bahwa doa dalam surah ini, menjadi sebab diwahyukannya ajaran Alquran.

Asy Syifa (Penyembuh) berarti Surah ini, memberi pengobatan terhadap segala keraguan dan syak yang biasa timbul dalam hati manusia.

Ar Ruqyah (Jimat atau Mantera) berarti bahwa, Surah ini bukan hanya doa untuk menghindarkan penyakit, tetapi juga memberi perlindungan terhadap syaitan dan pengikut-pengikutnya, dan menguatkan hati manusia untuk melawan mereka.

Al Kanz (Khazanah) mengandung arti bahwa Surah ini suatu khazanah ilmu yang tiada habis-habisnya.

Baca juga: Doa Dan Dzikir Setelah Shalat

Arti Dan Penjelasan Ayat-ayat Surah Al Fatihah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1. Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang

Penjelasan

Ar Rahman (Maha Pemurah) dan Ar Rahim (Maha Penyayang) keduanya berasal dari akar yang sama. Rahima artinya, ia telah menampakan kasih-sayang; ia ramah dan baik; ia memaafkan, mengampuni. kata Rahmah menggabungkan arti riqqah, ialah ” kehalusan” dan ihsan, “kebaikan”.

Ar-Rahman dalam wazan (timbangan) fa’lan, dan Ar-Rahim dalam ukuran fa’il. Menurut kaedah tatabahasa Arab, makin banyak jumlah ditambahkan pada akar kata, makin luas dan mendalam pula artinya.

Ukuran fa’lan membawa arti kepenuhan dan keluasan, sedang ukuran fa’il menunjuk kepada arti ulangan dan pemberian ganjaran dengan kemurahan hati kepada mereka yang layak menerimanya.

Jadi, di mana kata Ar-Rahman menunjukan “kasih sayang meliputi alam semesta”, kata Ar-Rahim berarti “kasih sayang yang ruang lingkupnya terbatas, tetapi berulang-ulang ditampakkan.”

Menggingat arti-arti di atas, Ar Rahman itu Dzat Yang Menampakkan kasih sayang dengan cuma-cuma dan meluas kepada semua makhluk tanpa pertimbangan usaha atau amal; dan Ar Rahim itu Dzat Yang menampakkan kasih sayang sebagai imbalan atas amal perbuatan manusia, tetapi menampakkannya dengan murah dan berulang-ulang.

Kata Ar Rahman Hanya dipakai untuk Tuhan, sedang Ar Rahim dipakai pula untuk manusia. Ar Rahman tidak hanya meliputi orang-orang mukmin dan kafir saja, tetapi juga seluruh makhluk.

Ar Rahim terutama tertuju pada mukmin saja. Menurut Sabda Rasulullahsaw, sifat Ar Rahman umumnya bertalian dengan kehidupan di dunia ini, sedang sifat Ar Rahim umumnya bertalian dengan kehidupan yang akan datang.

Artinya, karena dunia ini pada umumnya adalah dunia perbuatan, dan karena alam akhirat itu suatu alam tempat perbuatan manusia akan diganjar dengan cara istimewa, maka sifat Tuhan Ar Rahman menganugerahi manusia alat dan bahan, untuk melaksanakan pekerjaannya dalam kehidupan di dunia ini, dan Sifat Tuhan Ar Rahim mendatangkan hasil dalam kehidupan yang akan datang.

Segala benda yang kita perlukan dan atas itu kehidupan kita bergantung adalah semata-mata karunia Ilahi dan sudah tersedia untuk kita, sebelum kita berbuat sesuatu yang menyebabkan kita layak menerumahnya, atau bahkan sebelum kita dilahirkan; sedang karunia yang tersedia untuk kita dalam kehidupan yang-akan-datang, akan dianugerahkan kepada kita sebagai ganjaran atas amal perbuatan kita.

Hal itu menunjukkan bahwa Ar-Rahman itu pemberi Karunia yang mendahului kelahiran kita, sedang Ar-Rahim itu pemberi Nikmat-nikmat yang mengikuti amal perbuatan kita sebagai ganjaran.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

2. Segala puji  hanya bagi Allah , Tuhan semesta alam

Penjelasan

Al pada kata Al Hamd dalam Bahasa Arab lebih-kurang sama artinya dengan  kata “the” dalam Bahasa Inggiris. Kata al dipergunakan untuk menunjukan keluasan yang berarti, meliputi semua segi atau jenis sesuatu pokok, atau untuk melukiskan kesempurnaan, yang pula suatu segi segi keluasa oleh karena meliputi semua tingkat dan derajat, Al dipakai juga untuk menyatakan sesuatu yang telah disebut atau suatu pengertian atau konsep yang ada dalam pikiran.

Kata kerja rabba berarti, ia mengolah urusan itu; ia memperbanyak, mengembangkan, memperbaiki, dan melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan menjaga.

Jadi, rabb berarti, (a) Tuhan, Yang Dipertuan, Khalik (Yang menciptakan), (b) Wujud Yang memelihara dan mengembangkan  (c) Wujud Yang menyempurnakan, dengan cara setingkat demi setingkat. Dan jika dipakai dalam rangkaian dengan kata lain, kata itu dapat dipakai untuk orang atau wujud selain Tuhan.

Al alamin itu jamak dari al-alam berasal dari kata ilm yang berarti “mengetahui.” Kata itu bukan saja telah dikenakan kepada semua wujud atau benda yang dengan sarana itu, orang dapat mengetahui Sang Pencipta.

Kata itu dikenakan bukan saja kepada segala macam wujud atau benda yang dijadikan, tetapi pula kepada golongan-golongannya secara kolektif, sehingga orang berkata ‘alamul-ins, artinya:alam manusia atau ‘alam-ul-hayawan, ialah, alam binatang.

Kata al alamin tidak hanya dipakai untuk menyebut wujud-wujud berakal – manusia dan malaikat – saja. Al Quran mengenakannya kepada semua benda yang diciptakan (26: 24 – 29 dan 41:10).

Akan tetapi, tentu saja kadang-kadang kata itu, dipakai dalam arti yang terbatas (2:123). Di sini kata itu dipakai dalam arti yang seluas-luasnya dan mengandung arti “segala sesuatu yang ada selain Allah” ialah, benda-benda berjiwa dan tidak berjiwa dan mencakup juga benda-benda langit seperti matahari, bulan, bintang, dan sebagainya.

Ungkapan “Segala puji bagi Allah” adalah lebih luas dan lebih mendalam artinya daripada “Aku memuji Allah”, sebab manusia hanya dapat memuji Tuhan menurut pengetahuannya; tetapi, anak kalimat “Segala puji bagi Allah” meliputi bukan hanya sebagai puji-pujian yang di ketahui manusia, tetapi pula puji-pujian yang tidak diketahuinya.

Tuhan layak mendapat puji-pujian setiap waktu, terlepas dari pengetahuan atau kesadaran manusia yang tidak sempurna. Tambahan pula, kata al hamd itu masdar  dan karena itu dapat di artikan kedua-duanya, sebagai pokok kalimat atau sebagai tujuan kalimat.

Diartikan sebagai pokok, Al hamdu lilahi  berarti, hanyalah Tuhan memberikan pujian sejati dan tiap macam pujian yang sempurna hanya layak bagi Tuhan semata.

Ayat ini menunjuk kepada hukum evolusi di dunia, artinya bahwa segala sesuatu mengalami perkembangan dan bahwa perkembangan itu terus-menerus dan terlaksana secara bertahap. Rabb itu Wujud Yang membuat segala sesuatu tumbuh dan berkembang, setingkat demi setingkat.

Ayat itu menjelaskan pula bahwa prinsip evolusi itu tidak bertantangan dengan dengan kepercayaan kepada Tuhan. Tetapi proses evolusi yang disebut di sini, tidak sama dengan teori evolusi sebagai biasanya di artikan. Kata-kata itu dipergunakan dalam arti umum.

Selanjutnya, ayat ini menunjuk kepada kenyataan bahwa, manusia di jadikan untuk kemajuan takterbatas, sebab ungkapan Rabbul alamin itu mengandung arti bahwa, Tuhan mengembangkan segala sesuatu dari tingkatan rendah kepada yang lebih  tinggi dan hal itu hanya mungkin jika tiap-tiap tingkatan itu diikuti oleh tingkatan lain, dalam proses yang tiada henti-hentinya.

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

3. Maha Pemurah, Maha Penyayang

Penjelasan

Sebelumnya telah dijelaskan pada ayat bismillah. -sifat itu disebut di sini memenuhi satu tujuan tambahan, sebagai mata rantai antara Sifat Rabbul alamin dan Maliki yaumid din.

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

4. Pemilik Hari Pembalasan.

Penjelasan

Kata Yaum dalam ayat ini berarti: waktu mutlak, hari mulai matahari terbit hingga terbenamnya; masa sekarang. Sedang kata Din berarti: pembalasan atau ganjaran; peradilan atau perhitungan; kekuasaan atau pemerintahan; kepatuhan; agama, dan sebagainya.

Keempat sifat Tuhan, ialah, “Tuhan sekalian alam,” “Pemurah,” “Penyayang” dan “Pemilik Hari Pembalasan,” adalah sifat-sifat pokok. Sifat-sifat lain hanya menjelaskan dan merupakan semacam tafsiran, tentang keempat sifat tadi yang laksana empat buah tiang di atasnya terletak singgasana Tuhan Yang Maha Kuasa.

Urutan keempat sifat itu seperti dituturkan di atas memberikan penjelasan, bagaimana Tuhan menampakkan sifat-sifatNya kepada manusia.

Sifat Rabbul alamin (Tuhan sekalian alam) mengandung arti bahwa, seiring dengan dijadikannya manusia, Tuhan menjadikan lingkungan yang diperlukan untuk kemajuan dan perkembangan rohaninya.

Sifat Ar Rahman (Pemurah) mulai berlaku sesudah itu dengan perantaraan itu, Tuhan seolah-olah menyerahkan kepada manusia sarana-sarana dan bahan-bahan yang diperlukan untuk kemajuan akhlak dan rohaninya. Dan jika Ar Rahim mulai berlaku untuk mengganjar amalnya.

Yang terakhir sekali, sifat Maliki yaumid din (Pemilik Hari Pembalasan) mempertunjukan hasil terakhir dan kolektif amal perbuatan manusia. Dengan demikian pelaksanaan pembalasan mencapai kesempurnaan.

Sungguh pun perhitungan terakhir dan sempurna akan terjadi pada Hari Pembalasan, proses pembalasan itu terus berlaku, bahkan dalam kehidupan ini juga dengan perbedaan bahwa dalam kehidupan ini perbuatan manusia, seringkali diadili dan diganjar oleh orang lain, para raja, para penguasa, dan sebagainya.

Oleh karena itu, senantiasa ada kemungkinan adanya kekeliruan. Tetapi, pada Hari Pembalasan, kedaulatan Tuhan itu mandiri dan mutlak dan tindakan pembalasan itu seluruhnya ada dalam kekuasaan-Nya.

Ketika itu tidak akan terdapat kesalahan, tiada hukuman yang tidak tepat, tiada ganjaran yang tidak adil.

Pemakaian kata Malik (Pemilik) dimaksudkan pula untuk menunjuk kepada kenyataan bahwa, Tuhan tidak seperti seorang hakim yang harus menjatuhkan keputusan benar sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan.

Selaku Maliki (Pemilik), Dia dapat mengampuni dan menampakkan kasih-sayang-Nya, kapan saja dan dengan cara apa pun sesuai dengan kehendak-Nya.

Dengan mengambil din dalam arti “agama,” maka kata-kata “Yang mempunyai waktu agama” akan berarti bahwa, bila suatu agama sejati diturunkan, umat manusia menyaksikan suatu penjelmaan kekuasaan dan takdir Ilahi yang luar biasa, dan bila agama itu mundur, maka nampaknya seolah-olah sekalian alam berjalan secara mekanis, tanpa pengawasan atau pengaturan Sang Pencipta dan Al Malik.

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

5. Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.

Penjelasannya

Ibadah berarti, merendahkan diri, penyerahan diri, ketaatan, dan berbakti sepenuhnya. Ibadah mengandung pula arti, iman kepada Tauhid Ilahi dan pernyataan iman itu dengan perbuatan. Kata itu berarti pula, penerimaan kesan atau cap dari sesuatu. Dalam arti ini ibadah akan berarti, menerima kesan atau cap dari sifat-sifat Ilahi dan meresapkan serta mencerminkan sifat-sifat itu dalam dirinya sendiri.

Kata-kata “Hanya kepada Engkau kami menyembah”, telah ditempatkan sebelum kata-kata, “hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan”, untuk menunjukkan bahwa sesudah orang mengetahui kebesaran sifat-sifat Tuhan, maka dorongan pertama yang timbul dalam hatinya adalah beribadah kepada Dia.

Pikirin untuk mohon pertolongan Tuhan, datang sesudah adanya dorongan untuk beribadah. Orang ingin beribadah kepada Tuhan, tetapi ia menyadari bahwa untuk berbuat demikian, ia memerlukan pertolongan Tuhan. Pemakaian huruf jamak dalam ayat ini mengarahan perhatian kita kepada dua pokok yang sangat penting:

Pertama, manusia tidak hidup seorang diri di bumi ini, melainkan ia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat di sekitarnya. Maka ia hendaknya berusaha jangan berjalan sendiri, tetapi harus menarik orang-orang lain juga bersama dia, melangkah di jalan Tuhan. Kedua, selama menusia tidak mengubah lingkungannya, ia belum aman.

Layak dicatat pula, Allahswt dalam keempat ayat pertama disebut sebagai orang ketiga, tetapi dalam ayat ini tiba-tiba Dia dipanggil dalam bentuk orang kedua.

Renungan atas keempat sifat-sifat Ilahi itu, membangkitkan dalam diri manusa keinginan yang begitu tak tertahankan untuk dapat melihat Khalik-nya, dan begitu mendalam serta kuat hasratnya, untuk mempersembahkan pengabdian sepenuh hati kepada-Nya, sehingga untuk memenuhi hasrat jiwanya itu bentuk orang ketiga yang dipakai pada keempat ayat permulaan, telah diubah menjadi bentuk orang kedua dalam ayat ini.

اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ

6. Tunjukilah kami pada jalan yang lurus;

Doa ini meliputi seluruh keperluan manusia – kebendaan dan rohani, untuk masa ini dan masa yang akan datang. Orang mukmin berdoa agar kepadanya ditunjukkan jalan lurus, jalan terpendek.

Kadang-kadang kepada manusia diperlihatkan jalan yang benar dan lurus itu, tetapi ia tidak dipimpin kepadanya, atau, jika ia dibimbing ke sana, ia tidak bersitetap pada jalan itu dan tidak mengikutinya hingga akhir.

Doa itu mengehandaki, agar orang beriman tidak merasa puas dengan hanya diperlihatkan kepadanya suatu jalan, atau juga dengan dibimbing ke jalan itu, tetapi ia harus senantiasa terus menerus mengikutinya hingga mencapai tujuannya, inilah makna Hidayah, yang berarti, menunjukkan jalan yang lurus (90:11), membimbing ke jalan lurus (29:70) dan membuat orang mengikuti halan yang lurus (7:44 ).

Pada hakikatnya, manusia memerlukan pertolongan Tuhan pada tiap-tiap langkah dan pada setiap saat, dan sangat perlu sekali baginya, agar ia senantiasa mengajukan kepada Tuhan permohonan yang terkandung dalam ayat ini. Maka oleh karena itu, doa terus-menerus itu memang sangat perlu. Selama kita mempunyai keperluan-keperluan yang belum kesampaian dan keperluan-keperluan yang belum terpenuhi dan tujuan-tujuan yang belum tercapai, kita selamanya memerlukan doa.

صِرَاطَ الَّذِيۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ ۙ غَيۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا الضَّآلِّيۡنَ

7. Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, bukan atas mereka  yang dimurkai dan bukan pula yang sesat.

Penjelasan

“Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka” maksudnya ialah, orang mukmin sejati tidak akan merasa puas hanya dengan dipimpin ke jalan yang lurus atau dengan melakukan beberapa amal saleh tertentu saja. Ia menempatkan tujuannya jauh lebih tinggi dan berusaha mancapai kedudukan saat Tuhan mulai menganugerakan karunia-karunia istimewa kepada hamba-hambaNya.

Ia malahan tidak berhenti sampai di situ saja, tetapi ia berusaha keras dan mendoa supaya digolongkan di antara “orang-orang yang telah mendapat nikmat itu, yang telah disebut dalam Surah An Nisa, 4:70:

“Dan, barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang yang kepada mereka Allah memberikan nikmat, yakni : nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang saleh. Dan, mereka itulah sahabat yang sejati.”

Doa yang terdapat di ayat 6 diatas itu umum dan tidak untuk sesuatu karunia tertentu. Orang mukmin bermohon kepada Tuhan agar menganugerakan karunia rohani yang tertinggi kepadanya dan terserah kepada Tuhan untuk menganugerahkan kepadanya karunia yang dianggap-Nya pantas dan layak bagi orang mukmin itu menerimanya.

Surah Al Fatihah membuka suatu tertib indah dalam susunan kata-katanya dan kalimat-kalimatnya. Surah Al Fatihah ini dapat dibagi dalam dua bagian yang sama. Separuhnya yang pertama bertalian dengan Tuhan, separuhnya yang kedua dengan manusia, dan tiap bagian bertalian satu sama lain dengan cara yang sangat menarik.

Baca juga: Mengapa Ketika Shalat Harus Menghadap Kabah?


0 Komentar

Tinggalkan Balasan