Surah Al Baqarah Ruku Terakhir, Ayat: 285-287

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

al-quran-surah-ali-imran

Al Quran Surah Al Baqarah Ruku Terakhir, tepatnya yaitu ayat 285-287 adalah tiga ayat terakhir dalam Surah Al Baqarah yang penting, yang sarat dengan makna dan faedah-faedah. Berikut ini tafsir atau penjelasannya:

Surah Al Baqarah Ayat: 285

لِّلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ وَإِن تُبْدُوا۟ مَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ ٱللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَن يَشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa in tubdụ mā fī anfusikum au tukhfụhu yuḥāsibkum bihillāh, fa yagfiru limay yasyā`u wa yu’ażżibu may yasyā`, wallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīr

“Kepunyaan Allah segala apa yang ada di seluruh langit dan yang di bumi; dan jika kamu menzahirkan apa yang terdapat di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, Allah akan menghisabmu mengenainya. Kemudian Dia akan mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan akan menjatuhkan siksaan kepada siapa yang Dia  kehendai; dan Allah.  Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Penjelasan

Kata bihi  berarti : (a) Dengan jalan atau atas dasar. (b) Untuk atau karena dan anak kalimat itu akan berarti, “Allah akan menuntut kamu atas dasar itu atau karena itu” ialah, tiada pikiran atau perbuatan manusia akan lepas dari tuntutan, bagaimana pun tersembunyinya perbuatan itu, adan akan dihukum atau dimaafkan menurut kehendak Ilahi.

Ungkapan “kehendak Tuhan” agaknya menunjukkan adanya hukum alam (7: 157) akan tetapi, karena kehendak Allah-lah yang menjadi hukum-Nya, maka Al Quran telah mempergunakan ungkapan itu untuk menunjukkan bahwa:

(1) Tuhan itu Pemegang wewenang terakhir di alam semesta, (2) Kehendak-Nya itu hukum, (3) Kehendak-Nya, dizahirkan dengan cara yang adil serta murah hati, sebab Dia Pemilik sifat-sifat yang sempurna (17: 111).

Baca juga: Surah Al Fatihah Lengkap Dengan Terjemah Dan Tafsirnya

Al Quran Surah Al Baqarah Ayat: 286

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِۦ ۚ وَقَالُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ

Aamanar-rasụlu bimā unzila ilaihi mir rabbihī wal-mu`minụn, kullun āmana billāhi wa malā`ikatihī wa kutubihī wa rusulih, lā nufarriqu baina aḥadim mir rusulih, wa qālụ sami’nā wa aṭa’nā gufrānaka rabbanā wa ilaikal-maṣīr

“Rasul ini beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhan-nya, dan begitu pula orang-orang mukmin; semuanya beriman kepada Allah dan Malaikat-malaikat-Nya, dan Kitab-kitab-Nya, Dan Rasul-rasul-Nya, mereka mengatakan, ‘Kami tidak membeda- bedakan di antara seorang pun dari Rasul-rasul-Nya yang satu terhadap yang lainnya;’ dan mereka berkata,’Kami dengar dan kami taat. Ya Tuhan kami, kami mohon ampunan Engkau dan kepada Engkau kami akan kembali.’”

Amal-amal baik memang merupakan cara utama mencapai kesucian rohani, tetapi amal-amal baik itu bersumber pada kesucian hati yang dapat dicapai hanya dengan berpegang pada itikad-itikad yang benar.

Dari itu, ayat ini merinci dasar-dasar kepercayaan yang telah diajarkan oleh Alquran, ialah, beriman kepada Tuhan, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya menurut urutan atau tertib yang wajar.

Al Quran Surah Al Baqarah Ayat: 287

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

Lā yukallifullāhu nafsan illā wus’ahā, lahā mā kasabat wa ‘alaihā maktasabat, rabbanā lā tu`ākhiżnā in nasīnā au akhṭa`nā, rabbanā wa lā taḥmil ‘alainā iṣrang kamā ḥamaltahụ ‘alallażīna ming qablinā, rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih, wa’fu ‘annā, wagfir lanā, war-ḥamnā, anta maulānā fanṣurnā ‘alal-qaumil-kāfirīn

Allah tidak membebani seorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya. Dan mereka berkata,  ‘Ya Tuhan kami, janganlah engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami berbuat salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti telah Engkau bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami apa yang kami tidak kuat menanggungnya; dan maafkanlah kami dan ampunilah kami serta kasihanilah kami karena Engkau-lah Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.'”

Baca juga: Ayat Kursi, Penjelasan Dan Manfaatnya

Penjelasan

“Allah tidak membebani seorang kecuali sesuai dengan kemampuannya” anak kalimat ini merupakan sanggahan yang kuat sekali terhadap itikad penebusan dosa dan mengandung dua asas penting :

Pertama, perintah-perintah Ilahi senantiasa diberikan dengan memberi perhatian yang sepenuhnya kepada kemampuan manusia dan batas-batas kodratnya.

Kedua, kesucian akhlak di dunia ini tidak seharusnya berarti bebas sepenuhnya dari segala macam kelemahan dan kekurangan.

Apa yang diharapkan untuk dilakukan manusia ialah berjuang dengan sungguh-sungguh untuk meraih kebaikan dan menjauhi dosa dengan sekuat tenaga; dan selebihnya Tuhan Yang Maha Pemurah akan memaafkannya. Maka, penebusan dosa sama sekali tidak diperlukan.

Kata kasabat  pada umumnya berarti melakukan amal saleh, dan iktasaba  melakukan perbuatan jahat. Kedua kata itu berasal dari akar kata yang sama, tetapi iktasaba  berarti usaha yang lebih keras dari pihak pelakunya.

Setiap orang akan diberi ganjaran untuk perbuatan baik, sekalipun perbuatan itu dilakukan sambil lalu saja dan tanpa usaha secara sadar; sedang ia akan dihukum atas perbuatan jahatnya hanya bila perbuatan itu dilakukan dengan sengaja dan dengan usaha yang dilakukan secara sadar.

Dalam keadaan biasa nis-yan dan khati’ah  tidak akan mendapat hukuman, sebab kedua kata itu menunjukkan tidak adanya niat atau motif yang mengharuskan dijatuhkannya hukuman. Tetapi, di sini kata-kata itu berarti kealpaan atau kekeliruan yang dapat dihindari seandainya segala ikhtiar ditempuh untuk menghindarinya.

Ishr إِصْرًا berarti: (1) beban yang menahan seseorang untuk bergerak, (2) pertanggung jawaban berat bila dilanggar menyebabkan seseorang layak mendapat hukuman, (3) dosa atau pelanggaran, (4) siksaan yang pedih atas suatu dosa.

Ungkapan “janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti telah Engkau bebankan atas orang-orang sebelum kami” tidak berarti bahwa beban yang akan diletakkan di atas kita hendaknya lebih ringan daripada yang telah dibebankan atas orang-orang sebelum kita.

Melainkan artinya, semoga kita dilindungi dari pelanggaran terhadap perjanjian kepada Engkau dan dengan demikian dapat diselamatkan dari menanggung tanggung jawab besar atas pembangkangan seperti telah dilakukan oleh orang-orang sebelum kita.

Doa ini merupakan doa kolektif untuk pemeliharaan dan perlindungan terhadap agama Islam dan penjagaan kaum Muslim dan kemurkaan Tuhan.

Cara yang paling tepat untuk meraih kesucian dan kebersihan adalah: 1. Mengikuti sifat-sifat Allah Ta’ala, 2. Beriman pada kalam Ilahi, menelaah dan merenungkannya, dan 3. Do’a para anbiya dan solihin serta orang-orang yang ada kaitannya dengan  hal ini.

Demikian penjelasan singkat dari Surah Al Baqarah ruku terakhir ayat 285-287, yang bersumber dari Al Quran Dengan Terjemah Dan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid. Semoga bermanfaat.

Baca juga: Surah Al Baqarah Ayat: 1-5, Terjemah Dan Tafsir Singkat


0 Komentar

Tinggalkan Balasan