Surah Al Baqarah Ayat: 1-5, Terjemah Dan Tafsir Singkat

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

surah-al-baqarah-ayat-1-5

Surah Al Baqarah dimulai setelah Surah Al Fatihah. Di dalam surah Al Fatihah diajarkan doa memohon hidayah. Dan ayat-ayat pertama Surah Al Baqarah mengarah kepada doa tersebutut. Berikut ini terjemah dan tafsir singkat dari Surah Al Baqarah ayat: 1-5.

Surah Al Baqarah Ayat: 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1 Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.

Penjelasan

Penjelasan mengani ayat bismillah bisa dibaca di sini:  Surah Al Fatihah Lengkap Dengan Terjemah Dan Tafsirnya.

Surah Al Baqarah Ayat: 2

الٓمٓ

2 Aku Allah Yang Maha Mengetahui.

Penjelasannya

Singkatan seperti Alif Lam Mim dikenal sebagai Al Muqaththa’at (huruf-huruf yang dipakai dan dilisankan secara mandiri) terdapat pada permulaan Surah-surah yang jumlahnya tidak kurang dari 28 surah dan terbentuk dari satu huruf atau lebih, paling banyak lima huruf abjad Arab.

Huruf-huruf yang membentuk singkatan itu ada empat belas jumlahnya: Alif, lam, mim, shad, ra, kaf, ha, 1), ya, ain, tha, sin, ha2), qaf, dan nun. Dari huruf-huruf itu qaf dan nun berdiri sendiri pada permulaan Surah Qaf dan Qalam. Sisanya ada dalam paduan dua atau lebih pada permulaan Surah-surah tertentu.

Muqaththa’at lazim dipakai di kalangan orang-orang Arab. Mereka memakainya dalam syair-syair dan percakapan. Seorang ahli syair Arab mengatakan, Qulna qifi lana, faqalat qaf, artinya, ” Kami katakan kepada perempuan itu, `Berhentilah sejenak untuk kami` dan ia (perempuan) berkata bahwa, ia (perempuan) sedang berhenti.” Di sini    huruf qaf menampilkan kata waqaftu (aku berhenti).

Ada pula sabda Rasulullahsaw seperti diriwayatkan oleh Qurtubi demikian: Kafa bis saifi sya, artinya, cukuplah pedang sebagai obat penyembuh. Sya menampilkan syafiyan.

Di dunia barat modern dan juga di negeri-negeri timur, juga peniruan singkatan itu telah menjadi umum dan luas. Tiap kamus memuat daftar singkatan-singkatan itu.

Muqaththa’at itu singkatan-singkatan untuk sifat-sifat Tuhan tertentu. Pokok masalah suatu Surah yang pada permulaannya ditempatkan singkatan itu, mempunya perhubungan yang mendalam dengan sifat Tuhan yang ditampilkannya.

Huruf-huruf itu tidak ditempatkan serampangan saja, pada permulaan berbagai Surah, tidak pula huruf-huruf itu digabungkan semaunya saja. Ada perhubungan  yang mendalam dan jauh jangkauannya antara berbagai pasangan. Huruf-huruf yang membentuknya pun, mempunyai tujuan tertentu. Pokok masalah Surah-surah yang tidak mempunyai huruf-huruf singkatan bernaung di bawah dan mengikuti pokok masalah Surah-surah yang memilikinya.

Mengenai arti yang dikenakan pada muqaththa’at itu, ada dua yang nampak lebih beralasan :

(a) Bahwa tiap-tiap huruf mempunyai nilai angka tertentu (Jarir). Huruf-huruf alif lam mim mempunyai nilai 71 (alif bernilai 1 lam 30 dan mim 40), jadi, penenmpatan alif lam mim pada permulaan Surah dapat berarti bahwa,, pokok masalahnya ialah, tegak berdirinya islam secara istimewa di masa permulaan akan memakan waktu 71 tahun untuk berkembang selengkapnya.

(b) Huruf-huruf itu seperti dinyatakan di atas, adalah singkatan dari sifat-sifat khusus Tuhan, dan surah yang pada permulaannya muqaththa’at itu ditempatkan dalam pokok masalahnya, mempunyai hubungan dengan sifat-sifat Ilahi yang ditampilkan oleh huruf muqaththa’at yang khas itu.

Jadi, singkatan Alif Lam Mim yang dicantumkan di sini dan pada permulaan Surah-surah ke-3, 29, 30, 31, dan 32 berarti, “Aku Allah Yang Lebih Mengatahui,” Arti itu dikuatkan oleh Ibn’ Abbas dan Ibn Mas’ud, Alif singkatan dari Ana, Lam singkatan dari Allahswt, dan Mim singkatan dari a’lamu.

Atau menurut beberapa sumber lain Alif singkatan dari Allahswt, Lam singkatan dari Jibril dan Mim singkatan dari Muhammad, mengisyaratkan bahwa inti Surah ini adalah, makrifat Ilahi yang dianugerakan kepada Rasulullahsaw oleh Allahswt dengan perantaraan malaikat Jibrail. Huruf-huruf singkatan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari wahyu Al Quran.

Baca juga: Ayat Kursi, Penjelasan Dan Manfaatnya

Surah Al Baqarah Ayat: 3

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ  فِيهِ  هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

3 Inilah Kitab yang sempurna; tiada keraguan di dalam-nya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.

Penjelasan

Dzalika terutama dipakai dalam arti “itu”. terapi kadang-kadang digunakan juga dalam arti “ini”. Kadang-kadang dipakai untuk menyatakan pangkat tinggi dan kemuliaan wujud yang dimaksud. Di sini, kata itu mempunyai arti bahwa Kitab itu seolah-olah jauh dari pembaca, ditilik dari segi faedahnya yang luar biasa dan agung.

Al dipakai untuk menyatakan suatu tujuan pasti yang diketahui oleh pembaca. Dalam arti ini kata dzalikal Kitab akan berarti, Inilah kitab atau Inilah Kitab itu — Kitab yang dijanjikan itu. Kata al dipakai juga untuk menyatakan gabungan semua sifat yang mungkin ada pada seseorang.

Jadi, ungkapan itu berarti, inilah Kitab yang memiliki segala sifat sifat luhur yang seyogianya dimiliki oleh suatu Kitab yang sempurna, atau, dapat juga ungkapan itu berarti, hanya inilah Kitab yang sempurna.

Raib berarti kegelisahan atau tidak tenteraman hati; keraguan; malapetaka atau bencana atau pendapat jahat; tuduhan palsu atau fitnah.

Ayat ini tak berarti bahwa, tidak akan ada yang merasa ragu-ragu mengenai Al Quran. Ayat ini hanya mengandung arti bahwa, ajarannya begitu masuk akal sehingga orang yang berpikir sehat yang menelaahnya dengan pikiran tidak berat sebelah dan tampa purbasangka akan mendapatkannya sebagai petunjuk yang aman dan pasti.

Mutaqi diserap dari kata waqa yang mempunyai pengertian menjaga diri terhadap apa-apa yang merugikan dan memudaratkan. Wiqayah berarti perisai dan Ittaqa bihi (Muttaqi itu bentuk ism fa’il dari Ittaqa) berarti, ia menganggap dia atau sesuatu sebagai perisai.

Ubayy bin Ka’ab, sahabat Rasulullahsaw yang kenamaan, tepat benar menerangkan kata taqwa dengan memisahkan muttaqi sebagai seorang yang berjalan melalui semak-semak berduri, Dengan segala ikhtiar yang mungkin ia menjaga agar pekaiannya tidak tersangkut dan sobek oleh duri-durinya.

Maka seorang muttaqi ialah orang yang senantiasa berjaga-jaga terhadap dosa dan menganggap Tuhan sebagai perisainya atau pelingdungnya dan sangat hati-hati dalam tugas kewajibannya.

Kata-kata, “petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa” berarti bahwa petunjuk yang termuat dalam Al Quran tidak terbatas. Al Quran membantu manusia mencapai taraf kesempurnaan rohani dan menjadikannya semakin layak mendapat rahmat Tuhan.

Baca juga: Surah Al Fatihah Lengkap Dengan Terjemah Dan Tafsirnya

Surah Al Baqarah Ayat: 4

ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

4 Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, dan tetap mendirikan shalat dan dari apa-apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka membelanjakan.

Al-ghaib berarti, sesuatu yang tersembunyi atau tidak nampak; sesuatu yang tak terlihat, tidak hadir, atau jauh sekali. Tuhan, para malaikat dan Hari Kiamat, semuanya al-ghaib. Lagi pula, kata yang digunakan dalam Al Quran tidak berarti hal-hal yang hayali dan tidak nyata, melainkan hal-hal yang nyata dan telah dibenarkan adanya, meskipun tak nampak (32:7 ; 49:19).

Maka, keliru sekali menyangka, seperti dikira oleh beberapa kritikus Al Quran dari Barat, bahwa Islam memaksakan kepada para mengikutnya beberapa kepercayaan aneh yang tidak dapat dipahami dan mengajak mereka mempercayainya dengen membabi buta. Kata itu berarti hal-hal yang, meskipun di luar jangkauan indera manusia, dapat dibuktikan oleh akal atau pengalaman.

Yang tidak tertangkap oleh pancaindera tidak senantiasa tak dapat diterima oleh akal. Tiada dari hal-hal “ghaib” yang orang Muslim diminta agar beriman kepadanya itu, diluar jangkauan akal. Banyak benda-benda di dunia yang, meskipun tak tampak, terbukti adanya dengan ketetangan-keterangan dan dalil-dalil yang kuat dan tiada seorang pun dapat menolak kehadiran benda-benda itu.

Anak kalimat, mendirikan shalat berarti, mereka melakukan shalat dengan segala syarat yang telah ditetapkan; agama berarti, ia menempatkan benda atau perkara itu pada keadaan yang tepat. Beribadah itu ungkapan lahiriah dari perhubungan bathin manusia dengan Tuhan.

Tambahan pula, karunia Tuhan meliputi baik badan maupun ruh. Maka ibadah yang sempurna itu ialah saat jasmani dan rohani keduanya sama-sama berperan. Tanpa keduanya, jiwa sejati ibadah itu tidak dapat diperlihara, sebab meskipun pemujaan oleh hati itu merupakan isinya dan pemujaan badan itu hanya kulitnya saja, namun isi, tidak dapat dipelihara tanpa kulit. Jika kulitnya binasa, isinya pun pasti mengalami nasib yang sama.

Rizq berarti sesuatu yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia, baik anugerah itu, bersifat kebendaan atau selain itu. Ayat itu menentukan tidak petunjuk dan menjelaskan tiga tingkat kesejahteraan rohani manusia;

(1) Ia harus beriman kepada kebenaran yang tersembunyi dari pandangan mata dan diluar jangkauan pancaindera, sebab kepercayaan demikian yang menunjukkan bahwa ia mempunyai ketakwaan yang sejati.

(2) Bila ia merenungkan keajaiban alam semesta dan tertib serta rancangan menakjubkan yang terdapat di dalamnya dan bila, sebagai hasil dari renungan itu, ia menjadi yakin akan adanya Dzat Yang menjadikan, maka suatu hasrat yang tidak dapat ditahan untuk mempunyai perhubungan nyata dan benar dengan Dzat itu menguasai dirinya. Hasrat itu terpenuhi dengan mendirikan shalat.

(3) Akhirnya, ketika orang beriman itu berhasil menegakkan perhubungan yang hidup dengan Khalik-nya ia merasakan adanya dorongan bathin, untuk berbakti kepada sesama manusia.

Baca juga: Gerakan Dan Doa-doa Shalat Lengkap

Surah Al Baqarah Ayat: 6

وَٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِٱلْءَاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

5 Dan mereka yang beriman kepada engkau  dan kepada apa yang telah  diturunkan sebelum engkau dan kepada apa-apa yang telah dijanjikan akan datang, mereka pun  yakin.

Penjelasan

Imam kepada Rasulullahsaw merupakan inti sejauh menyangkut hubungan iman kepada Rasul-rasul Tuhan. (2: 286; 4: 66, 137)

Islam mewajibkan para pengikutnya beriman bahwa ajaran semua nabi yang terdahulu bersumber dari Tuhan, sebab Tuhan mengutus utusan-utusan-Nya kepada semua kaum (13: 8; 35: 25).

Al-akhirah (akhirat) berarti: (a) tempat tinggal ukhrawi, ialah, kehidupan di hari kemudian; (b) al-akhirah dapat juga berarti wahyu yang akan datang. Arti kedua kata itu lebih lanjut diuraikan dalam 62:3, 4; di sana Alquran menyebut dua kebangkitan Rasulullahsaw. Kedatangan beliau untuk pertama kali terjadi di tengah orang-orang Arab dalamm abad ke-7 Masehi, ketika Al Quran diwahyukan kepada beliau; dan yang kedua terjadi di akhir zaman dalam wujud seorang dari antara para pengikut beliausaw, yang kemudian dikenal sebagai Imam Mahdi atau Almasih yang Kedua.

Demikian penjelasan singkat dari Surah Al Baqarah ayat 1-5, yang bersumber dari Al Quran Dengan Terjemah Dan Tafsir Singkat Editor Malik Ghulam Farid. Semoga bermanfaat.

Baca juga: Wajib Diketahui, Dasar-dasar Kewajiban Medirikan Shalat


0 Komentar

Tinggalkan Balasan